Part 12 - What Is Love?

1525 Kata
Woojin tak tahu harus melakukan apa saat ini. Pikirannya terasa kosong. Ia hanya melongo sambil menatap Seungwan. Gadis itu sendiri masih tersenyum malu-malu sambil menatapnya. "Kau serius?" Woojin masih tak percaya. "Ya, aku serius," Seungwan menggigit bibirnya untuk menahan rasa gugupnya, "Aku menyukaimu. Kumohon berkencanlah denganku." Woojin tahu Seungwan menyukainya. Tapi Woojin tak tahu Seungwan akan secepat ini menyatakan perasaan padanya. Tapi ada yang aneh. Bahkan saat Seungwan menyatakan cintanya pada Woojin ... Woojin tak merasakan apapun. Apa ini karena ia sudah tahu sifat asli Seungwan? Tapi apa cintanya semudah itu berubah? Woojin baru tahu bahwa dirinya adalah orang yang plin plan. "B-begini ...," Woojin menggaruk tengkuknya. Tertular oleh kegugupan Seungwan, "Jujur aku tak tahu harus menjawab apa saat ini. Aku tak tahu harus menerima atau menolakmu. Kau adalah orang yang baik Seungwan-ah. Aku ingin menerimamu, tapi jujur aku tak merasakan apa-apa saat kau menyatakan perasaanmu padaku." Ekspresi wajah Seungwan berubah. Senyumannya tak secerah tadi. Tapi gadis itu masih tetap tersenyum. "Baiklah, kalau begitu bisa kau pertimbangkan baik-baik mengenai perasaanku padamu ini Woojin-ah?" pinta Seungwan. Woojin mengangguk. Ia membalas senyum Seungwan. "Eum, aku akan memikirkannya." *** Yeonsoo menggigiti ujung pensilnya. Berusaha fokus pada penjelasan Guru Nam. Saat ini pelajaran kesenian. Guru Nam sedang menerangkan mengenai tugas melukis yang akan ia berikan pada anak muridnya. "Tema kali ini adalah cinta." ucap Guru Nam yang mengundang sorakan riuh dari murid-muridnya. "Tenang-tenang! Biar Guru jelaskan dulu," Guru Nam tersenyum melihat antusiasme dari murid-muridnya, "Guru mengangkat tema ini karena Guru merasa kalian sudah dewasa dan sudah pastinya mengerti mengenai apa itu 'cinta'. Guru ingin kalian menjelaskan apa itu cinta melalui lukisan kalian." Yeonsoo langsung tersenyum manis. Cinta ya? Yeonsoo langsung memiliki konsep untuk lukisannya kali ini. "Dan peringatan untukmu Kang Yeonsoo," Guru Nam menunjuk ke arah Yeonsoo dengan spidol di tangannya. "Aku?" Yeonsoo menunjuk dirinya sendiri. Guru Nam mengangguk, "Cinta yang Guru inginkan adalah cinta antara laki-laki dan perempuan. Bukannya antara laki-laki dan laki-laki. Jika kau berani mengumpulkan lukisan mengenai gay maka ...," Guru Nam mengambil daftar nilainya, "Aku akan mencoret namamu!" Yeonsoo mengerucutkan bibirnya. Teman-teman kelasnya terkikik geli. Guru Nam memang dekat dengan Yeonsoo, tapi bila masalah nilai gurunya itu selalu pelit pada Yeonsoo. "Baiklah. Aku mengerti!" jawab Yeonsoo terpaksa Guru Nam tersenyum lalu kembali menjelaskan mengenai detail tugas itu. Yeonsoo tak terlalu memperhatikan penjelasannya lagi. Ia terlarut dalam lamunannya. Konsep yang ia pikirkan tadi sudah tak bisa digunakan lagi karena langsung dilarang oleh Guru Nam tadi. Ia menghela nafas, "Cinta antara pria dan wanita, ya?" Yeonsoo bergumam. Akan lebih mudah bagi Yeonsoo untuk melukis cinta antara laki-laki dan laki-laki. Ah, mengapa tugas kali ini sulit sekali? Yeonsoo memang sudah pernah jatuh cinta. Perasaannya pada Jongchan itu cinta, kan? Sebenarnya Yeonsoo sendiri belum terlalu mengerti, definisi cinta yang sebenarnya itu apa? *** "Kau membuang kesempatanmu begitu saja? Aku tak tahu kau itu sebenarnya bodoh atau i***t?" teriak Jaehoon histeris. Woojin menutupi telinganya. Ishh, sahabatnya itu berisik sekali. Lama-lama Woojin bisa tuli kalau terus mendengar teriakannya yang nyaring itu. "Hei, mengapa kau memusingkan hal ini? Ah apa karena aku menolakmu dulu?" ejek Woojin. "Aku memintamu menjadi kekasihku hanya karena aku sedang terdesak oleh kakakku! Jangan terlalu percaya diri kau! Aku tak suka pada mahluk yang tak punya sesuatu yang empuk di bagian dada." balas Jaehoon. Woojin terkekeh. Ah apa kalian ingat saat Jaehoon meminta Woojin menjadi kekasihnya? Permintaan itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Woojin. Lagipula Jaehoon melakukan itu juga hanya agar ia bisa selamat dari Jaehwa yang diam-diam menguping pembicaraannya dan Woojin. "Apa ini karena perlakuannya pada Yebin di masa lalu? Kuakui ia memang jahat. Tapi bukannya Yebin juga sudah membalasnya dengan sama jahatnya? Atau karena ia mengkhianati Heejoo? Tapi bukannya wajar untuk berlaku begitu? Ia tak bisa mengatur pada siapa ia jatuh cinta." ucap Jaehoon. "Kurasa bukan karena itu." ucap Woojin sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di bibir cangkir kopinya. "Lalu apa?" tanya Jaehoon. Woojin terdiam. Ia sendiri tak tahu karena apa perasaannya berubah. Padahal sebelumnya ia sangat yakin mengenai perasaannya pada Seungwan. Cukup yakin hingga nekad berguru pada Jaehoon dan bahkan digosipkan gay. Tapi mengapa sekarang semua berubah? Woojin mengalihkan pandangannya pada pintu masuk kafe. Seorang gadis baru saja masuk. Gadis itu terlihat bingung dan sedang mencari sesuatu. Woojin segera mengangkat tangannya dan melambai memanggil gadis itu ke kursinya dan Jaehoon. Jaehoon menoleh dan ikut melambai pada gadis itu. Yeonsoo tertawa melihat pandangan iri para gadis yang ada di kafe itu karena melihat dirinya dipanggil oleh dua pemuda tampan. Yeonsoo segera menghampiri kedua pemuda itu dan duduk di sebelah Woojin. "Mengapa kalian memilih kafe yang jauh dari sekolahku? Aku lelah tahu! Ha-ah laparnya!" rajuk Yeonsoo sambil memegangi perutnya. "Salah sendiri tak ingin dijemput! Pesan makanan sana." cibir Woojin. Yeonsoo menyengir, "Teman-temanku akan merengek meminta dikenalkan pada kalian jika kalian menjemputku." "Kau mulai memiliki banyak teman sekarang? Anak pintar~" Jaehoon mengacak-acak rambut Yeonsoo. Woojin mendengus. Yeonsoo tertawa dan segera memanggil pelayan untuk mencatat pesanannya. "Oh iya, apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Yeonsoo. "Seungwan tadi me—mmbfftt!" mulut Jaehoon langsung dibekap oleh Woojin. "Ah, aku tahu. Pasti Kak Seungwan menyatakan cintanya padamu bukan? Seperti yang diharapkan, dia memang agresif!" Yeonsoo bersedekap, "Kau menerimanya?" "Aku masih memikirkannya." jawab Woojin. "Ha-ah seperti yang kukatakan dulu Kak, jika kau menerimanya maka akan terjadi perang. Tapi jika kau benar-benar mencintainya aku tak bisa melarangmu." ucap Yeonsoo. Saat pesanan Yeonsoo datang, mereka makan dengan tenang. Walau beberapa kali Jaehoon membuka percakapan dan berakhir dengan perdebatan antara dirinya dengan Yeonsoo. Woojin jadi merasa dirinya sedang mengasuh dua bayi besar sekarang. Woojin melirik ke arah Yeonsoo. Ia tersenyum melihat tawa gadis itu. Dulu Woojin mengira Yeonsoo hanya akan menggantikan tempat Yebin untuk sementara dalam persahabatannya dengan Jaehoon. Tapi ternyata ia salah. Gadis itu memiliki tempat yang baru diantara dirinya, Yebin dan juga Jaehoon. Gadis itu pun sudah memiliki tempat lain di hati dan hidup Woojin. Eh? Tunggu! Itu berarti ... "Ada apa denganmu, Kak?" Yeonsoo tiba-tiba menoleh padanya. Heran karena Woojin terus menatapnya tanpa suara. "Ha? T-tidak." Woojin segera mengalihkan pandangannya. Jaehoon yang melihat kelakuan Woojin yang aneh pun tersenyum. Sekarang ia tahu mengapa perasaan Woojin berubah pada Seungwan. "Sepertinya ini akan seru~" ucap Jaehoon riang. "Apanya?" tanya Yeonsoo. "Ra-ha-sia ...," Jaehoon mengedipkan sebelah matanya pada Yeonsoo, "Cukup tunggu dan lihat saja. Semua akan semakin seru pada akhirnya." *** Walau sikapnya pada Woojin acuh seperti biasa, tapi Yeonsoo masih berhati-hati saat bersama pria itu. Bekas tanda ciuman di lehernya mulai menghilang, tapi ingatan mengenai apa yang membuat tanda ciuman itu ada tak pernah hilang dan menghantui Yeonsoo. Woojin boleh bersikap santai karena pemuda itu masih belum ingat mengenai apa yang terjadi diantara mereka berdua. Tapi tentu saja Yeonsoo tidak bisa. Yeonsoo menatap Woojin yang sedang menyetir di sebelahnya. Ia masih penasaran. Apa Woojin akan menerima perasaan Seungwan? Yeonsoo mendesah, mengapa rasanya tidak rela ya? Maksud Yeonsoo, ia sudah kehilangan ciuman pertamanya karena Woojin, ia juga sudah pernah hampir melakukan yang 'iya-iya' dengan pemuda itu. Tapi pada akhirnya Woojin malah bersama Seungwan. Ha-ah ... Eh tunggu! Apa yang ia pikirkan ini? Yeonsoo memukuli kepalanya sendiri. "Ada apa? Mengapa kau memukuli kepalamu begitu?" tanya Woojin. "Ha? Eh a-aku bukan memukulinya tapi ... Eumm menggaruknya! Astaga ini gatal sekali!" Yeonsoo mengubah gerakannya menjadi menggaruk kepalanya. "Dasar aneh!" cibir Woojin. Yeonsoo mengerucutkan bibirnya. Woojin terkekeh dan mencubit bibir Yeonsoo dengan tangan kirinya. "Sakit! Sakit! Kak Woojin lepaskan!" jerit Yeonsoo. "Tidak mau~ siapa suruh mengerucutkan bibir begitu? Kau jadi mirip bebek tahu!" ejek Woojin. Yeonsoo meronta hingga akhirnya Woojin melepaskan bibirnya. "Aishh kalau kau cubit begitu bibirku makin mirip bebek tahu!" protes Yeonsoo. Woojin terkekeh dan mengacak-acak rambut Yeonsoo. Yeonsoo menggerutu. Mengapa orang-orang gemar sekali mengacak-acak rambutnya, sih? "Ah, iya!" Yeonsoo berbalik ke arah Woojin, "Kak, menurutmu cinta itu apa?" "Ada apa? Mengapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanya Woojin. "Aku diminta melukis dengan tema cinta. Guru Nam meminta kami menjelaskan apa itu cinta melalui lukisan." jelas Yeonsoo. "Aku akan menjawab pertanyaanmu saat kita sudah sampai." Mereka telah sampai di parkiran apartemen Woojin. Woojin memarkirkan mobilnya. Yeonsoo masih menunggu jawaban Woojin. "Dibanding menjelaskan apa itu cinta ... Bukannya lebih mudah jika aku memberikanmu inspirasi mengenai apa yang seharusnya kau lukis?" tawar Woojin. Yeonsoo mengangguk. Merasa bersemangat. Woojin tersenyum. "Lepas sabuk pengamanmu dan mendekatlah." perintah Woojin. Yeonsoo melakukan perintah Woojin. "Lebih dekat." Yeonsoo mengendik dan mendekatkan tubuhnya lebih dekat dengan Woojin. Grep ... Yeonsoo melotot saat Woojin memeluk pinggangnya. Wajah pemuda itu sangat dekat dengannya. Pemuda itu menggenggam salah satu tangan Yeonsoo dan menaruhnya di dadanya. Hal itu kontan membuat wajah Yeonsoo merona dan jantungnya berdebar kencang. Matanya bertatapan langsung dengan Woojin. "Kau merasakannya? Jantungku ... Debarannya sangat kencang bukan?" tanya Woojin. "I-itu ...." "Aku telah menemukan jawaban mengapa aku bimbang mengenai perasaanku. Kaulah jawabannya. Awalnya mungkin aku hanya merasa tertarik padamu, tapi lama-kelamaan rasa itu malah menutupi rasa cintaku pada Seungwan. Membuat rasa cintaku padanya mulai menghilang. Kau akan bertanggung jawab mengenai hal itu. Walau saat ini kau belum mencintaiku, tapi aku yakin kau tertarik padaku. Akan kuubah rasa tertarik itu menjadi cinta. Rasa cintamu pada seniormu itu ... Akan kubuat rasa itu menghilang." *** Makassar, 21 September 2016
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN