Part 13 - OMG!

1384 Kata
Yeonsoo menatap lukisan yang ia buat sambil tersenyum. Hal yang ia tonjolkan di lukisan itu adalah cara Woojin memandangnya. Pandangan hangat itu ... Sudah jelas itu adalah pandangan penuh cinta. "Hohoho bukannya ini Kak Woojin?" Yeonsoo tersentak kala lengan seseorang melingkari pundaknya. Ia menoleh dan berdesis. "Bisa kau singkirkan tanganmu yang kotor itu dariku, Tuan?" Jungmyeong yang berada di belakang Minkyu terkekeh. Minkyu menggerutu dan melepaskan rangkulannya dari Yeonsoo. "Eh? Iya itu benar Kak Woojin! Dan bukankah wanita yang dipeluk olehnya itu dirimu?" Jungmyeong melotot, "Mengakulah pada ayahmu ini nak, apa yang terjadi antara dirimu dan dirinya?" "I-ini hanya karena dia terlihat bagus untuk menjadi objek lukisanku. Dan lagi temanya adalah cinta m-makanya aku membuat lukisannya seperti ini." Yeonsoo berucap kikuk. "Oh jadi begitu~" ejek Minkyu. "Benar-benar begitu!" ucap Yeonsoo bersikeras. "Baik-baik, anggap saja begitu." goda Jungmyeong. Yeonsoo mengerucutkan bibirnya. Minkyu sudah akan mengacak-acak rambutnya tapi ia berhasil menghindar. "Eits! Tidak kena~" Minkyu berdesis dan menjitak kepala Yeonsoo yang kali ini tidak berhasil dihindarinya. Pemuda itu duduk di sebelah Yeonsoo bersama Jungmyeong. "Sakit! Aishh! Kalau aku jadi bodoh bagaimana?" "Kau memang bodoh sejak dulu, tidak usah menyalahkanku mengenai hal itu." ejek Minkyu. Yeonsoo menggerutu. Ia tiba-tiba sadar ada yang harus ia tanyakan pada Minkyu. "Minkyu-ya," "Hm?" "Apa alasanmu menyukaiku?" Aura Minkyu berubah suram. Jungmyeong yang mendengar pertanyaan Yeonsoo pun tertawa terbahak-bahak. "Entah kau ini kurang peka atau bodoh. Pertanyaanmu itu membuat luka yang belum sembuh semakin berdarah tahu." ejek Jungmyeong. "Aku hanya bertanya," Yeonsoo menatap lukisannya sekali lagi, "Kurasa aku bukanlah wanita yang menarik. Tapi mengapa banyak pria yang menyatakan cinta mereka padaku?" Jungmyeong bersedekap, "Benar juga, kau itu aneh, pencinta hal-hal berbau gay dan tidak peka sama sekali. Lalu mengapa para pria itu jatuh cinta padamu, ya?" "Tolong jangan terlalu jujur, Senior," dengus Yeonsoo. "Ah aku tak mengerti mengapa kalian terus saja memanggilku senior padahal kita semua sama-sama kelas dua belas," keluh Jungmyeong. "Jangan tanyakan padaku, tanyakan pada Minkyu. Dia yang lebih dulu memanggilmu senior." Yeonsoo menyengir. "Ah iya! Itu karena dulu kau tak memakai atribut saat masa orientasi karena itu aku mengira kau adalah senior." ucap Minkyu. "Baiklah cukup untuk mengalihkan topiknya! Sekarang kembali ke pertanyaanku tadi. Apa alasanmu hingga kau menyukaiku?" Jungmyeong terkekeh, Minkyu berdecih. Ah mereka ketahuan. "Karena kau gadis yang unik, kau lucu dan menyebalkan di waktu yang sama membuat orang lain gemas padamu dan lama-lama perasaan itu berubah menjadi rasa suka." ucap Minkyu sambil menggaruk tengkuknya gugup. Ah itu dia! Pasti karena alasan itu juga Woojin menyukainya. Ia harus menjadi gadis baik dan membosankan agar Woojin kembali menjadi Woojin yang biasanya. "Aku mengerti," Yeonsoo mengangguk-angguk, "Ah iya! Karena Kak Woojin dan Kak Jaehoon positif normal ... Kalian akan kembali menjadi model dalam blogku. Persiapkan diri kalian." Yeonsoo membereskan barang-barangnya dan melangkah meninggalkan kedua sahabatnya yang melongo. "Bagaimana ini!" jerit Jungmyeong. "Aishh kenapa Kak Jaehoon dan Kak Woojin tidak gay saja, sih! Sekarang kita harus kembali menjadi model pasangan gay Yeonsoo!" gerutu Minkyu. Nasib ya nasib~ *** Jaehoon melongo. "Kau langsung menyatakan perasaanmu padanya?" Woojin mengangguk. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri dengan gugup. Apa ia melakukan hal yang salah hingga Jaehoon berekspresi seperti ini? Jaehoon bertepuk tangan, "Hebat! Bahkan dengan Seungwan sekalipun kau harus menunggu bertahun-tahun. Tapi dengan Yeonsoo ... Begitu kau tahu kau menyukainya kau langsung memintanya menjadi kekasihmu?" Woojin bersandar di senderan kursi kafetaria, "Entahlah, seperti ada yang mendorongku untuk melakukannya. Lagipula aku takkan membiarkan si senior-senior itu mendapatkan Yeonsoo. Sekarang aku satu langkah di depannya." ucap Woojin bangga. Jaehoon berdecak, "Kau terlalu terburu-buru." "Ha?" "Apa kau sudah memikirkan akibatnya? Kau dan Yeonsoo akan berada dalam situasi yang canggung. Belum lagi, apa kau sudah memberitahu Seungwan bahwa kau menyukai orang lain? Ia akan merasa sangat tersakiti bila tahu kau menyatakan cinta pada gadis lain di hari yang sama dengan ia menyatakan perasaannya padamu." ucap Jaehoon. Benar juga, Yeonsoo juga sudah memperingatkan Woojn mengenai Seungwan dan Heejoo yang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Heejoo mungkin tak akan melakukan apapun karena gadis yang Woojin sukai adalah Yeonsoo. Tapi Seungwan? "Kau benar." Woojin mendesah lelah. "Kau harus memberitahu Seungwan bahwa kau tidak memiliki perasaan padanya," Jaehoon menyeringai, "Lalu setelah itu kau bisa menggunakan taktik ini pada Yeonsoo." "Taktik apa?" Jaehoon terkekeh seperti paman-paman m***m, "Aku menamainya taktik maju mundur." "T-taktik maju ... Mundur?" *** "Aku pulang!" Yeonsoo melongokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari Woojin. Aman? Ok aman! Yeonsoo menyengir dan melangkah ke arah kamarnya. Ceklek ... Tiba-tiba Woojin keluar dari kamarnya. Yeonsoo membelalakkan matanya saat Woojin keluar hanya memakai handuk di pinggangnya. Kotak-kotak di perut Woojin itu ... Yeonsoo sudah biasa melihatnya di komik atau drama gay. Tapi sensasi saat melihatnya secara langsung ternyata berbeda. Yang asli memang lebih enak! (Eh?) "Kau sudah pulang?" Woojin mengambil handuk kecil dan menggosokkannya di rambutnya, "Hei, tutup mulutmu itu. Air liurmu nanti jatuh ke lantai." "Eh? Itu ... Hm." Yeonsoo memalingkan wajahnya dan melap air liurnya walau sesekali masih melirik ke arah Woojin. "Malam ini kau ingin makan apa?" tanya Woojin. 'Tidak usah repot-repot, Kak! Melihat roti sobekmu saja aku kenyang!' Inginnya sih Yeonsoo mengatakan itu. Tapi kalau ia benar-benar mengatakan hal itu sih berarti ia cari mati namanya. "Terserah." "Aku tak tahu ada makanan yang namanya 'terserah'." "Maksudku terserah padamu, Kak." Woojin terkekeh. Ia melangkah mendekati Yeonsoo. Yeonsoo berbalik dan hendak kabur tapi terlambat, tangannya berhasil di tahan oleh Woojin. Yeonsoo terdiam dengan posisi membelakangi Woojin. Pemuda itu menunduk dan berbisik di telinganya. "Bukankah menahan diri itu sangat sulit?" Yeonsoo membulatkan bibirnya. Ia berbalik menghadap ke arah Woojin. "Kau ini ingin balas dendam ya?" Yeonsoo melotot. "Begitulah." Woojin mengendikkan bahunya. "Kak Woojin benar-benar—" Cup ... Seluruh omelan Yeonsoo tertelan kembali saat Woojin mengecup pipinya. "Aku pakai baju dulu. Setelah itu aku akan memasakkan sesuatu yang enak untukmu." Woojin meninggalkan Yeonsoo dengan senyum kemenangan di bibirnya. Yeonsoo sendiri langsung jatuh terduduk sambil memegangi pipinya. "Arrrgghhhh!!!" *** Yeonsoo memainkan pulpen di tangannya dengan gelisah. Astaga kalau Woojin terus bersikap seperti ini padanya lama kelamaan ia bisa jatuh juga. Ia harus melakukan sesuatu. "Ada apa?" tanya seseorang. Yeonsoo mendongak dan mendapatiHeejoo yang menatapnya heran. Yeonsoo menatap Heejoo nanar. Padahal Heejoo yang menyukai Woojin, tapi mengapa Woojin malah jatuh cinta pada dirinya? Yeonsoo jadi merasa bersalah pada Heejoo. "Kak Heejoo~" Yeonsoo berdiri dan memeluk Heejoo. Heejoo mengernyit, "Eh? Ada apa?" "Maafkan aku!" "Ha? Mengapa kau tiba-tiba minta maaf begitu?" Yeonsoo pun menceritakan semuanya pada Heejoo. Heejoo hanya diam tanpa ekspresi saat Yeonsoo selesai bercerita. "Kak Heejoo, maaf! Kalau kau memintaku untuk pindah dari apartemen Kak Woojin, maka akan kulakukan! Bahkan bila kau memintaku menghilang pun akan kulakukan!" Heejoo tersenyum simpul. Ia mengelus kepala Yeonsoo dengan lembut. "Dari awal aku tahu ini akan terjadi. Tak usah merasa bersalah. Jika itu dirimu maka aku akan menerimanya." ucap Heejoo. "Kak Heejoo!" Yeonsoo kembali memeluk Heejoo. Heejoo pun membalas pelukannya. Mereka berpelukan sambil menangis bersama. Sementara itu di meja kasir ... "Apa mereka takkan membiarkanku ikut berpelukan bersama mereka?" Jungwoon bertopang dagu sambil menatap dua karyawannya itu. Merasa diabaikan dan ditinggalkan. *** Woojin tahu suatu hari ini akan terjadi juga. Ia dan Jongchan saling menatap dengan tajam. Mereka berdua berada di parkiran toko buku tempat Yeonsoo bekerja. "Aku yang akan mengantarnya pulang. Jadi kau enyahlah!" ucap Woojin. "Aku sedang ada urusan dengannya. Lebih baik kau saja yang enyah dari sini!" "Urusan apa? Ha? Ah! Kau ingin melanjutkan pendekatanmu padanya?" Woojin terkekeh sinis. "Kalaupun iya memangnya apa urusannya denganmu?" balas Jongchan tak kalah sinisnya. Bersamaan dengan itu, Yeonsoo keluar dari toko buku. Kali ini ia sendirian. "Yeonsoo-ya!" kedua pria itu memanggil Yeonsoo dengan kompak. Tapi setelah itu mereka kembali saling memandang sinis. "O-ow!" Yeonsoo berniat masuk kembali ke toko. Ia tak suka ini. Benar-benar tak suka. Bagaimana ini? Ia baru tahu diperebutkan oleh dua pria itu tidak semenyenangkan yang terlihat di drama. "Kak Heejoo!" "Ada apa?" tanya Joy. "Kau ingin pulang bukan? Aku ikut denganmu! Tapi bisakah kita lewat pintu belakang saja?" pinta Yeonsoo. "Kedua pria itu menjemputmu?" Heejoo tersenyum jahil, "Baiklah ayo." Dan Yeonsoo pun pulang duluan meninggalkan Jongchan dan Woojin yang malah berdebat di parkiran. *** Heejoo memandangi Yeonsoo yang tertidur di bus sambil bersender padanya. Ia mengambil ponsel dari tasnya. Tangannya dengan lincah mencari kontak seseorang dan menelponnya. Tut ... Tut ... Klik "Halo, Yebin-ah?" *** Makassar, 26 September 2016
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN