Woojin itu membingungkan. Sungguh, Yeonsoo benar-benar tak bisa menebak apa yang ada di otak pria itu. Ia bisa menjadi sangat agresif, tapi beberapa detik kemudian ia kembali bersikap acuh. Yeonsoo jadi curiga sahabat kakaknya itu mengidap bipollar disorder.
"Yeonsoo-ya aku akan mencuci. Kau benar-benar sudah menaruh pakaian kotormu di keranjang bukan?" teriak Woojin.
"Eh—tunggu!"
Yeonsoo mengambil jaket yang ada di gantungan pakaian dan berlari keluar.
"Aku titip ini juga, Kak!"
Woojin mengambil jaket di tangan Yeonsoo Dahinya mengernyit melihat jaket itu.
"Ini bukannya jaket pria?" tanya Woojin menyelidik.
"Ya, ini milik Senior Jungmyeong. Ia meminjamkan jaketnya padaku kemarin." ucap Yeonsoo sambil menaruhnya ke keranjang cucian Woojin.
Woojin berdecih, ia membuang jaket itu ke tong sampah. Yeonsoo membelalakkan matanya dan segera mengambil jaket itu.
"Kak, ini jaket pinjaman! Mengapa kau membuangnya begitu?"
"Nanti akan kuganti." ucap Woojin acuh.
Gigi Yeonsoo bergemeletuk menahan emosi.
"Kau ini kenapa sih? Kalau tidak ingin mencucinya katakan saja! Tidak usah membuangnya begitu!" marah Yeonsoo.
"Aku bukannya tidak mau, aku hanya ... Tidak suka." Woojin memalingkan wajahnya.
"Tidak suka apanya? Tidak suka mencucinya?"
"Tidak, aku tidak suka kau memakai jaket pria lain." ucap Woojin tanpa tahu malu.
Astaga! Bisa-bisanya Woojin dengan santainya mengatakan hal yang membuatnya malu begitu! Yeonsoo mengacak-acak rambutnya kesal.
"Kak Woojin, kau benar-benar ... Aishh!"
Yeonsoo berdecak dan melangkah kembali ke kamarnya sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"Hei, jangan peluk jaket itu! Aku tidak suka!"
"Aku tak peduli!"
***
"Maaf,"
Seungwan menatap Woojin dengan tatapan kosong. Woojin menggaruk tengkuknya gugup.
"Apa ada gadis lain yang kau sukai? Atau gosip yang sempat beredar mengenai kau dan Jaehoon itu benar adanya? Gosip yang mengatakan kau gay?" Seungwan berucap pelan.
"Sebenarnya ... Ada gadis lain yang kusukai."
"Siapa? Kang Yeonsoo?"
Mata Woojin membelalak. Bagaimana Seungwan bisa tahu hal ini?
"Bagaimana kau tahu?"
"Seseorang sudah memperingatkanku sejak awal mengenai Yeonsoo," ucap Seungwan datar, "Belum lagi ... saat aku membantumu mengerjakan skripsimu, kau pernah salah mengetik nama gadis itu bukan? Juga ekspresimu saat melihat ia bersama pria lain, jelas sekali kau cemburu."
"Karena itu kau terburu-buru menyatakan cinta padaku?" Woojin menatap Seungwan tak percaya.
"Begitulah. Ah, seharusnya aku tak mengabaikan peringatan itu." Seungwan terkekeh miris.
"Apa maksudmu?"
Seungwan tersenyum sinis dan mendekati Woojin. Ia berjinjit dan memegang dagu Woojin. Membuat pria itu mengernyit.
"Kurasa akan lebih menyenangkan bila kau mencari tahu hal ini sendiri. Oh iya, apa Yeonsoo sudah memberitahumu? Aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Sebaiknya kau dan Yeonsoo bersiap-siap untuk itu."
Seungwan mengelus rahang Woojin dengan telunjuknya. Woojin menepis tangan Seungwan.
"Aku takkan membiarkannya."
"Baguslah. Karena akan membosankan bila kau membiarkanku."
Seungwan kembali tersenyum. Ia berbalik dan melangkah meninggalkan Woojin sendiri. Jaehoon yang sejak tadi bersembunyi pun keluar dari tempat persembunyiannya.
"Aku tak tahu Seungwan bisa menjadi sangat menyeramkan." komentar Jaehoon.
"Yeonsoo sudah memperingatkanku jadi aku tak terlalu terkejut mengenai perubahan sikapnya. Lagipula Yeonsoo selalu memanggilnya Kakak Bermuka Dua." ucap Woojin.
"Jadi sekarang bagaimana?" tanya Jaehoon.
Woojin terdiam sebentar, ia menghela nafas.
"Aku takkan membiarkannya mengganggu Yeonsoo. Aku akan melindungi Yeonsoo bagaimanapun caranya."
***
"Aku pulang!"
Woojin memasuki apartemennya. Tunggu! Mengapa disini ribut sekali? Apa sedang ada tamu? Woojin segera masuk ke ruang tamunya. Matanya membola saat melihat siapa yang sedang berbicara dengan Yeonsoo. Orang itu ... Orang yang hampir membuatnya menjadi seorang gelandangan ...
"Kak Woojin, kau sudah datang?"
Senyum di wajah Yeonsoo menghilang saat melihat ekspresi Woojin. Pria itu seperti sedang menekan amarahnya.
"Kang Yeonsoo, mengapa kau membiarkan orang ini masuk ke apartemenku?"
"Eh? Kak Gyoseok bilang dia itu sepupumu. Apa aku salah?" tanya Yeonsoo tak mengerti.
Han Gyoseok tersenyum pada Woojin.
"Lama tak berjumpa Woojin-ah!"
Woojin memasang ekspresi datar. Tangannya terkepal dengan erat. Ia ingin sekali melayangkan kepalan tangannya untuk menghilangkan senyuman menjijikkan Gyoseok.
"Kang Yeonsoo, masuk ke kamarmu!"
"Ha? Tapi kenapa?"
"Kubilang masuk ke kamarmu!" bentak Woojin.
Mata Yeonsoo membola. Ia terkejut dengan bentakan Woojin. Yeonsoo pun segera berlari masuk ke kamarnya dan menguncinya.
"Kau seharusnya tidak boleh membentak seorang gadis seperti itu Woojin-ah~" ucap Gyoseok sambil menyenderkan bahunya ke senderan sofa Woojin.
"Mau apa kau kesini?" tanya Woojin dingin.
"Bukannya kita adalah sepupu? Mengapa kau marah begitu?" cibir Gyoseok.
"Setelah membuangku dan mengusirku dari rumahku sendiri kau masih berani berkata seperti itu?" Woojin masih menahan amarahnya.
"Wuaa, kau pendendam rupanya." ejek Gyoseok.
"Terserah kau mau bilang apa! Sekarang keluar dari rumahku!"
Gyoseok terkekeh sinis. Ia melangkah mendekati Woojin hingga mereka berhadap-hadapan.
"Eh? Kau sudah menjadi lebih tinggi dariku ya?" Gyoseok tertawa kecil lagi, "Sebenarnya aku kemari untuk menyampaikan pesan dari ayahku. Ia ingin menemuimu."
"Kau pikir aku sudi untuk menemuinya? Kalian sama saja. Sama-sama licik dan hanya menjadi sumber masalah bagiku."
"Oh jangan terlalu kasar begitu," Gyoseok menepuk bahu Woojin, "Walau bagaimanapun kami adalah keluarga dari almarhum ibumu. Well, sebenarnya aku nyaman disini tapi sepertinya kau sangat tidak menyukai kehadiranku. Akan kuberitahu pada ayahku bahwa kau tak ingin menemuinya."
Gyoseok melangkah dengan santai keluar dari apartemen Woojin. Woojin menghela nafas lega. Mengapa orang itu tiba-tiba muncul di hadapan Woojin? Padahal ia sudah hidup tenang selama ini, mengapa pengganggu itu tiba-tiba datang lagi?
***
Yeonsoo memeluk gulingnya sambil melamun. Sebenarnya siapa orang yang mengaku sepupu Woojin itu? Mengapa Woojin terlihat sangat membencinya?
Tok ... Tok ... Tok ...
Yeonsoo menoleh pada pintu kamarnya. Ia turun dari ranjang dan melangkah ke arah pintu kamarnya untuk membuka pintu.
Ceklek ... Bruk ...
"K-Kak?"
Tubuh Woojin menimpa Yeonsoo sehingga keduanya jatuh ke atas karpet. Yeonsoo berusaha bangun tapi Woojin menahannya. Pria itu memeluknya erat. Sangat erat hingga terasa sesak. Yeonsoo terdiam menyadari tubuh Woojin gemetaran.
"Maaf membentakmu." bisik Woojin.
Yeonsoo tak tahu harus mengatakan apa. Karena itu ia hanya berdehem.
"Ya, tak apa. Salahku karena membiarkan orang asing masuk ke apartemenmu." ucap Yeonsoo.
"Kumohon, bila kau bertemu dengannya lagi ... Tolong hindari dia. Pria itu sudah merebut banyak hal dariku. Aku bisa mati bila ia juga merebutmu dari sisiku." ucap Woojin lemah.
"Sebenarnya siapa pria tadi?"
"Jika aku menceritakannya bisakah kau berjanji untuk menjauhinya?"
Yeonsoo mengangguk. Woojin melepaskan pelukannya dari Yeonsoo dan berbaring di sebelah gadis itu. Mereka masih berbaring di atas karpet sambil memandangi langit-langit kamar Yeonsoo. Woojin menghela nafas untuk menenangkan emosinya yang masih campur aduk. Ia mulai bercerita,
"Orang tuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat saat aku masih SMP. Karena dianggap masih terlalu kecil untuk tinggal sendiri, pamanku yang merupakan ayahnya Gyoseok pun tinggal di rumahku untuk menjadi waliku. Mereka adalah keluarga dari pihak ibuku. Awalnya mereka selalu bersikap baik padaku, hingga suatu hari saat aku pulang sekolah ...,"
#flashback
"Apa maksudmu? Ini rumahku! Mengapa kau mengusirku dari sini?" Woojin terus saja berusaha masuk ke rumahnya.
"Rumah ini telah dijual padaku! Itu berarti rumah ini milikku! Jika kau terus saja bersikeras, aku akan menelpon polisi!"
Bruk!
Pintu rumah itu dibanting dengan keras oleh sang pemilik barunya. Woojin terdiam. Tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Pamannya tak mungkin melakukan hal ini padanya.
"Sial!" umpatnya.
Woojin segera menelpon pamannya. Tidak diangkat. Ia pun mencoba menelpon pengacara ayahnya. Tidak diangkat juga. Jangan bilang pengacara ayahnya juga bersekongkol dengan pamannya?
"Sial! Sial! Sial!"
Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia melaporkan hal ini ke kantor polisi? Tapi memangnya laporannya akan ditanggapi dengan serius oleh mereka?
"Berengsek!"
Ini salahnya karena terlalu mempercayai pamannya dan keluarganya. Salahnya karena ia masih anak kecil. Salahnya karena ia terlalu mudah dibohongi.
#flashback off
"Pamanku kabur bersama Gyoseok dan istrinya. Pengacara ayahku pun begitu. Itulah awal mula bagaimana aku bisa tinggal bersama Yebin. Dan akhirnya beberapa tahun setelah itu Kakek Park datang dan mengaku sebagai ayah dari ayahku. Ayahku memang kabur dari rumah untuk menikahi ibuku, karena itu aku tak mengenal keluarga dari pihak ayahku." jelas Woojin.
"Jahat sekali!"
Yeonsoo mendengus marah. Woojin terkekeh. Suasana hatinya sedikit membaik. Bebannya seperti terangkat karena bercerita pada Yeonsoo. Bahkan Yebin sekalipun tak tahu mengenai hal ini. Tapi Woojin dengan mudahnya menceritakan hal ini pada Yeonsoo.
"Kak Woojin, bila aku bertemu dengan pria itu lagi akan kucincang-cincang dia!" ucap Yeonsoo berapi-api.
"Tidak boleh. Kau sudah berjanji padaku. Bila kau bertemu dengannya larilah secepat yang kau bisa, mengerti?"
Yeonsoo mengangguk tak rela. Woojin tertawa dan mengambil kesempatan ini untuk mengecup kening Yeonsoo. Membuat gadis itu melotot.
"Kak Woojin! Kau ini suka sekali mencari kesempatan dalam kesempitan!"
Woojin tertawa lagi dan memeluk Yeonsoo.
"Bukan pria namanya bila melewatkan kesempatan seperti ini."
Yeonsoo mendengus. Tapi ia tak mengatakan apapun. Ya, hanya untuk hari ini saja. Ia takkan melarang Woojin hanya untuk hari ini saja. Mata Woojin yang memancarkan kesedihan saat menceritakan masa lalunya ... Yeonsoo tak ingin melihat mata itu lagi. Yeonsoo ingin melihat mata Woojin yang berbinar bahagia seperti biasanya. Dan ia akan menjaga kebahagiaan Woojin untuk bisa terus melihat binar itu.
***
Makassar, 30 September 2016