Part 15 - Sesak

1253 Kata
Yeonsoo merasa benar-benar sesak. Tubuhnya tak bisa digerakkan. Ia merasa seperti ada yang menindih tubuhnya. Matanya juga sulit sekali untuk terbuka. 'Kak Yebin, tolong aku!' batinnya. Akhirnya hingga beberapa kali mencoba ia pun berhasil membuka matanya. Ia terkejut melihat ada tangan dan kaki yang menindih tubuhnya. Ia segera menoleh ke belakang dan lega saat melihat itu adalah kaki dan tangan Woojin. "Aisshh orang ini benar-benar!" gerutu Yeonsoo. Seingat Yeonsoo, ia dan Woojin ketiduran di atas karpet kamar Yeonsoo karena berbincang-bincang hingga larut malam. Mungkin Woojin yang memindahkannya ke atas ranjang. "Kak Woojin, bangunlah ini sudah pagi!" Yeonsoo mengguncangkan lengan Woojin. "Hmm." Emosi Yeonsoo naik ke ubun-ubun. Apa-apaan pria ini?! Apa Woojin tidak tahu apa tubuhnya itu berat sekali? Kalau Woojin tidak segera bangun, Yeonsoo yakin tubuhnya akan gepeng sebentar lagi. "Kak Woojin, bangunlah! Kau berat tahu!" Yeonsoo meronta. Woojin akhirnya melepaskan pelukannya pada tubuh Yeonsoo. Yeonsoo segera bangun dari ranjang dan berkacak pinggang. "Sekarang keluarlah dari kamarku. Aku mau mandi." ucapnya. "Mandi saja." gumam Woojin. "Aku selalu ganti baju di kamar, Kak! Kalau kau ada di sini bagaimana aku ganti baju?" omel Yeonsoo. "Aku kan sudah pernah melihatmu telanjang. Mengapa kau harus malu berganti baju di depanku?" Astaga pria ini benar-benar ingin balas dendam ya? Dulu Woojin yang selalu naik darah karena Yeonsoo, sekarang Yeonsoo yang selalu emosi karena Woojin. Gadis itu mengambil jam wekernya dan melempari Woojin. "Dasar m***m!" *** Yeonsoo hanya bisa duduk pasrah membelakangi Woojin yang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Yeonsoo tahu sahabat dari kakaknya ini menyukainya. Lagipula Woojin juga sudah mengungkapkan perasaannya. Tapi Yeonsoo merasa sedikit terbebani dengan perasaan Woojin. Entahlah ... Ia jadi merasa semua perlakuan baik Woojin padanya hanyalah untuk membuat Yeonsoo menerima perasaannya. Yeonsoo tak mengatakan itu hal yang salah. Hanya saja Yeonsoo takut pada akhirnya ia tak bisa membalas perasaan Woojin. "Sudah." ucap Woojin sambil menepuk-nepuk kepala Yeonsoo. "Karena hari ini hari minggu ... Bagaimana kalau kita pergi berkencan?" ajak Woojin. Kencan? Yeonsoo menoleh dengan cepat pada Woojin. "Tidak mau!" "Kalau begitu jalan-jalan biasa? Aku akan mentraktirmu makan daging sebanyak-banyaknya. Bagaimana?" Yeonsoo mengangguk dengan cepat. Kalau masalah daging bagaimana ia bisa menolak? Walaupun ia tahu ajakan Woojin itu ajakan kencan berkedok jalan-jalan biasa. "Tunggu dulu." Woojin mengambil ponselnya dan mengangkat telpon. Sudah ia duga yang menelponnya adalah Jaehoon. Lagipula siapa yang cukup tidak tahu malu untuk mengganggunya pagi-pagi begini? "Halo?" "Halo? Ada apa kau menelpon pagi-pagi begini Jaehoon-ah?" "Park Woojin ... Yebin ... astaga sulit menjelaskannya! Datanglah ke rumahku sekarang juga!" ucap Jaehoon dari ujung telpon. "Masalah Yebin? Baiklah aku akan segera kesana." Klik ... Sepertinya ini adalah masalah yang serius. Jaehoon langsung mematikan telponnya begitu dan bukannya menggodanya seperti biasa itu berarti ada masalah yang gawat. Jangan-jangan Yebin sudah kembali dan berniat membawa Yeonsoo pergi bersamanya? "Ada apa Kak?" tanya Yeonsoo "Sepertinya kita tidak jadi berkencan hari ini. Kita harus segera ke rumah Jaehoon. Ada kabar tentang kakakmu." *** Yeonsoo menatap pintu rumah di depannya dengan kagum. Astaga ia tak menyangka Jaehoon adalah orang kaya. Bahkan rumah pria itu lebih besar dan lebih mewah dari rumahnya dulu. "Jangan terlihat kampungan begitu. Jaehoon pasti mengejekmu bila kau menemuinya dengan wajah yang seperti itu." ejek Woojin. "Maaf-maaf saja bila aku kampungan." gerutu Yeonsoo. Woojin terkekeh dan mengacak-acak rambut Yeonsoo. Ia takkan membiarkan Yebin membawa Yeonsoo. Ia akan melakukan segalanya agar Yeonsoo bisa tetap bersamanya. Bahkan bila diminta, berlutut di depan Yebin pun ia mau. Eh, tidak jadi deh! Yebin bisa besar kepala nantinya bila Woojin berlutut di depan gadis itu. Lebih baik ia menculik Yeonsoo saja dan mengurungnya di menara rapunzel agar tidak dibawa pergi oleh Yebin. Ting ... tong ... Woojin menekan bel pintu rumah Jaehoon. Tak lama kemudian pintu pun terbuka. "Tuan muda Park," Pelayan itu membungkuk pada Woojin, "Silahkan masuk. Tuan muda Byun sudah menunggu di kamarnya." Woojin mengangguk dan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Yeonsoo. Mereka langsung menuju ke kamar Jaehoon. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Woojin langsung membuka pintu kamar Jaehoon. "Kyaaaa!" Yeonsoo berteriak saat melihat apa yang dilakukan Jaehoon. Woojin segera menutup mata Yeonsoo walau sudah terlambat. Ia menatap Jaehoon dengan marah. Sahabatnya itu memanggil ia dan Yeonsoo ke rumahnya tapi ternyata ia sedang bersenang-senang dengan salah satu gadis yang berkencan dengannya. Setelah menguatkan dirinya akhirnya Yeonsoo menepis tangan Woojin dari matanya. Ia melangkah sambil menghentak-hentakkan kakinya mendekati ranjang Jaehoon dan mendorong gadis yang ada di pangkuan Jaehoon hingga gadis itu jatuh terjungkal ke lantai. Untungnya Jaehoon dan gadis itu baru sampai di adegan ciuman dan mereka masih memakai bajunya. Yeonsoo menampar Jaehoon dengan keras. "Kak Jaehoon! Beraninya kau bermain dengan gadis lain di belakang Kak Woojin!" bentak Yeonsoo. "Apa maksudmu! Mengapa kau mengganggu kami! Jangan-jangan kau salah satu kekasih Kak Jaehoon? Kau tak tahu aturan berkencan dengan Kak Jaehoon, ya? Hari ini giliranku!" protes gadis itu. Yeonsoo beralih pada gadis itu, "Bukan aku yang berkencan dengan pria ini. Lagipula untuk apa aku berkencan dengan seorang gay? Kau lihat pria yang ada di sana itu? itu adalah kekasih Kak Jaehoon yang sebenarnya!" "Apa?!" Plak ... Setelah mendapatkan tamparan dari Yeonsoo, lagi-lagi pipi Jaehoon harus memerah karena tamparan gadis tadi. "Astaga tak kusangka kau seorang gay! Aku jijik padamu!" Gadis itu pun berlari keluar dari kamar Jaehoon dengan penuh amarah. Yeonsoo tertawa puas. Tapi tawanya terhenti saat melihat wajah Jaehoon yang suram dan mata pria itu yang terlihat kosong. "Kak Jaehoon, kau tak apa? Astaga apa aku keterlaluan tadi?" tanya Yeonsoo merasa bersalah. Jaehoon tak mengatakan apapun. Woojin yang tak sabar pun segera menghampiri Yeonsoo dan menariknya keluar kamar. Tapi sebelumnya ia sempat menoleh pada Jaehoon. "Byun Jaehoon kalau kau tak segera keluar dari kamarmu dan menemuiku dalam lima menit di perpustakaan, akan kukebiri 'itumu'!" ancam Woojin sebelum menutup pintu kamar Jaehoon dengan kasar. *** Jaehoon benar-benar menemui Woojin di perpustakaannya. Pria itu masih terlihat kacau. "Baiklah, ada apa dengan Yebin hingga kau terlihat kacau begitu?" tanya Woojin. "Yebin? Ada apa dengan kakakku?" tanya Yeonsoo heran. Jaehoon menghela nafas. Ia menatap Yeonsoo dan Woojin bergantian. "Yebin tadi menelponku." Tunggu! Bukannya menelpon Woojin atau Yeonsoo, gadis itu malah menelpon Jaehoon? Astaga gadis itu benar-benar! "Yebim menelponmu? Ada apa? Apa ia akan kembali?" tanya Jaehoon. Jaehoon mengangguk. Ia menatap ke arah jendela. "Ia berhasil menemukan cara agar perusahaan ayah dan ibunya bisa kembali. Tapi ada harga yang harus dibayar untuk itu." Tunggu! Mengapa perasaan Yeonsoo tiba-tiba terasa tidak enak, ya? Ia tahu kakaknya itu sangat bodoh. Yebin akan melakukan apapun untuk membuat ayah dan ibu mereka merasa bangga. Jangan bilang Yebin melakukan hal yang nekat hanya untuk merebut perusahaan ayah mereka kembali? "Apa maksudmu? Kakakku tak melakukan hal yang bodoh bukan? Ia tak merampok bank atau semacamnya kan?" Yeonsoo mencengkram kedua bahu Jaehoon. "Tidak," Jaehoon terkekeh miris, "Ia tak sebodoh itu untuk melakukan tindak kriminal. Walau kuakui ia bodoh karena mengorbankan dirinya seperti ini." "Jangan terlalu berbelit-belit. Katakan hal bodoh apa yang akan ia lakukan?" tanya Woojib tak sabar. "Ia akan menikah. Ia menerima lamaran dari seorang pria yang telah membeli perusahaan ayahnya." Yeonsoo menggebrak meja membuat minuman yang ada di atas meja itu sedikit tumpah. "Tidak mungkin! Ia tak mungkin menerima lamaran dari Presdir Han sialan itu!" "Tunggu! Han? Maksudmu yang akan menikah dengan Yebin adalah Presdir dari LCI Corp?" Woojin tak tahu bagaimana takdir mempermainkannya. Ia tahu dunia itu sempit. Tapi ia tak menyangka sesempit ini. Woojin memegangi kepalanya yang terasa sakit. Apa ini alasan pamannya meminta Gyoseok untuk menemuinya kemarin? Untuk memberitahukan kabar ini? Kabar bahwa pamannya akan menikah dengan Yebin? *** Makassar, 02 Oktober 2016
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN