Part 16 - Tidak Kau, Tidak Juga Gadis Lain

1761 Kata
Yeonsoo melirik ke arah jam tangannya. Woojin dan Jaehoon sendiri mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk mengusir kebosanan. "Eh? Itu dia!" Yeonsoo segera melambai-lambaikan spanduk yang telah ia buat untuk menyambut kedatangan kakaknya. Jaehoon dan Woojin agak menjauh dari Yeonsoo. Berpura-pura tidak kenal dengan anak itu. Yebin tertawa saat melihat mereka. Tapi dahinya berkerut saat melihat pakaian yang dikenakan Yeonsoo. Ia segera menghampiri mereka. Pletak ... "Sakit!" Yeonsoo memegangi kepalanya yang dijitak Yebin. Membuat spanduk yang dipegangnya jatuh ke lantai. "Hei! Kau bolos sekolah karena menjemputku?" marah Yebin. "Aku sudah izin! Izin! Setelah ini juga aku kembali ke sekolah!" protes Yeonsoo. "Awas saja bila kau bolos! Aku takkan memberimu oleh-oleh bagianmu!" ancam Yebin. Yebin beralih pada Jaehoon dan Woojin. Ia memeluk sahabatnya itu satu persatu. Ia tersenyum makum walaupun Jaehoon bahkan tak menoleh sekalipun padanya atau membalas pelukannya. "Tak kusangka kau bersembunyi di Jepang." ejek Woojin. "Kak Yebin, oleh-olehnya apa? Apa kau menculikkan salah satu pasangan gay disana untukku? Ada dimana mereka?" Yeonsoo merebut koper Yebin. Berniat mencari oleh-oleh pasangan gay yang ia inginkan di dalam koper. "Jangan mencibirku. Kelakuanku lebih baik daripada seseorang yang diberi tanggung jawab untuk menjaga adikku tapi ia malah menjadikan tanggung jawab itu sebagai alat untuk menggodanya." ejek Yebin. Wajah Yeonsoo dan Woojin memerah. Woojin berdehem untuk menghilangkan rasa malunya. "Darimana kau tahu hal itu?" tanya Woojin. Yebin menggaruk tengkuknya, "Heejoo menceritakannya padaku. Err, sebenarnya aku punya tujuan lain membiarkan Yeonsoo tinggal bersamamu." "Tujuan apa?" "Aku tahu Yeonsoo bisa menarik perhatian para pria baik itu pria lurus, biseks bahkan gay. Karena itu aku menggunakannya agar kau jatuh cinta padanya dan melupakan Jaehoon. Lalu setelah itu Seungwan dan Heejoo pasti akan sakit hati karena yang medapatkan cintamu itu adikku. Lagipula aku ingin balas dendam pada mereka. Bukankah ideku hebat?" ucap Yebin bangga, "Sekali tepuk dua lalat mati, sekali timpuk Heejoo dan Seungwan tersakiti." Woojin melirik ke arah Yeonsoo. Tubuh gadis itu gemetaran. O-ow sepertinya gadis itu akan meledak. "Dasar Kakak durhaka! Mati saja kau sana!" *** Yeonsoo sudah diantar kembali ke sekolahnya. Sekarang hanya ada Yebin, Jaehoon dan Woojin. "Untuk sementara kau tinggal di apartemenku saja." ucap Woojin. Yebin menyeringai, "Kau baik sekali. Tanpa kau tawarkan pun aku akan tinggal di sana." Hening untuk beberapa saat. Yebin beberapa kali melirik ke arah Jaehoon yang sedang menyetir di depannya. Sedikit sedih karena pria itu belum mau berbicara padanya satu kata pun. "Bibi, mengapa kau tiba-tiba diam begitu? Biasanya kau takkan bisa berhenti bicara sampai aku menyumpalkan tisu ke mulutmu?" ucap Woojin berusaha membuat suasananya tidak canggung. Ia tahu kedua sahabatnya sedang tidak berada dalam hubungan yang baik. "Apa? Bibi? Kau memanggilku Bibi? Kau mau mati ya?" ancam Yebin. "Kau menerima lamaran pamanku. Itu berarti kau adalah Bibiku." ejek Woojin. Yebin menoleh pada Woojin dengan cepat, "Tunggu! Pamanmu? Presdir Han itu pamanmu?" Woojin mengangguk santai, "Selamat Yebin-ah, mendapatkan menantu tampan sepertiku merupakan sebuah anugerah yang luar biasa." "Anugerah bukan, musibah iya." cibir Yebin. "Lantas mengapa kau menerima lamaran pamanku bila kau tak ingin memiliki keponakan sepertiku?" Woojin mulai serius. "Kalau aku tak menerimanya, Yeonsoo yang akan menikah dengan Presdir Han." ucap Yebin dengan nada datar.. "Baiklah-baiklah silahkan menikah dengan pamanku! Aku ikhlas dengan sepenuh hati! Yeonsoo biar jadi istriku saja!" seru Woojin. Yebin terkekeh. Ia menepuk-nepuk kepala Woojin. Yebin terkekeh, "Anak pintar. Lagipula Presdir Han itu sudah tua dan bangkotan. Aku pasti hanya tersiksa beberapa tahun dan setelah itu akan kunikmati hidupku sebagai janda kaya hohoho." "Hentikan!" Bentakan Jaehoon membuat suasana di dalam mobil itu tiba-tiba hening. Jaehoon mencengkram kemudi mobilnya. "Jangan menyembunyikan perasaanmu. Kalau kau takut dan sedih katakan saja. Seharusnya kau tak seenaknya mengambil keputusan begitu!" bentak Jaehoon lagi. "Jangan menghakimiku! Kau memangnya tahu apa? Kau pikir aku dan keluargaku hidup bahagia selama kami di Jepang? Tidak! Ayah dan Ibuku yang biasanya selalu hidup mewah harus dipaksa hidup seadanya. Mereka tak bahagia! Aku tak mungkin membiarkan mereka seperti itu!" balas Yebin. Jaehoon menepikan mobilnya. Ia mendorong senderan jok mobilnya dan mencengkram kerah kemeja Yebin. "Lalu apa gunanya ada aku dan Woojin? Kau memilih menderita seumur hidup dibandingkan meminta bantuan kami?" marah Jaehoon. "Aku tak ingin terus bergantung pada kalian. Kumohon mengertilah Jaehoon-ah, ya?" pinta Yebin lembut. Melihat air mata yang mengalir di pelupuk mata Yebin membuat Jaehoon luluh. Pria itu melepaskan cengkramannya. "Kau orang yang keras kepala. Kau dan harga dirimu yang tinggi itu, kau pikir kau tak dicap buruk karena menikah dengan pria tua? Menikah dengan pria yang seharusnya menjadi ayahmu, kau pikir orang-orang tak jijik padamu? Mereka mengira kau melakukannya hanya untuk mendapatkan uang pria itu." Jaehoon kembali duduk di kursinya. "Tapi bukannya itu memang benar? Aku menikah dengan Presdir Han hanya agar perusahaan ayahku kembali bukan?" Yebin menunduk. Woojin sendiri hanya bisa menjadi penonton. Yang dikatakan oleh Jaehoon memang benar, tapi ia tak bisa menyalahkan Yebin. Akhirnya mereka hanya bisa terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. *** Yeonsoo mengambil tasnya dan segera berlari keluar kamarnya. Saatnya pergi ke toko buku untuk bekerja. "Kau mau kemana?" Astaga ia lupa kalau sekarang ia tinggal bersama kakaknya. Yeonsoo menoleh pada Yebin dengan cengirannya. "Ke perpustakaan. Aku ada kuis matematika besok." bohong Yeonsoo. "Malam-malam begini?" Yebin melirik ke arah jam dinding. "Eumm." Woojin baru saja selesai mandi. Kali ini ia berpakaian lengkap ya. Ia mana berani bertingkah macam-macam kalau ada Yebin di apartemennya? Bisa mati duluan dia nanti. "Kak Woojin akan mengantarku!" Yeonsoo langsung memeluk lengan Woojin. Woojin mengernyit. Yeonsoo menyikut perutnya. "Ah iya, aku akan mengantarnya. Kami sudah biasa begini. Aku selalu mengantar jemputnya ke perpustakaan." ucap Woojin. Yebin terlihat curiga. Tapi gadis itu tak mengatakan apapun. "Baiklah." "Aku ambil jaket dulu." Woojin masuk kembali ke kamarnya. Yebin menyikut lengan Yeonsoo. Ia menaik turunkan alisnya. "Aku tak menyangka kau akan menaklukkan Woojin. Sudah sejauh mana hubungan kalian?" goda Yebin. Yeonsoo tahu kakaknya ini akan terus menggodanya kalau ia menjawab dengan malu-malu. Jadi ia tersenyum angkuh. "Kami sudah sampai di gigit menggigit." Yebin melongo. Saat Woojin keluar dari kamarnya, Yebin langsung menyerangnya dengan tinjuan tepat di perut. Membuat pria itu sukses tersungkur. "Kau apakan adikku?!" *** Yebin mendapatkan pesan dari Jaehoon. Pria itu meminta Yebin menemuinya di taman tempat mereka pertama kali bertemu. Taman SMP mereka dulu. Yebin pergi sendiri dengan taksi. Jujur Yebin masih kesal pada Woojin. Ia tak menyangka sahabatnya yang ia kira polos itu ternyata seorang serigala. Serigala yang sudah berani melakukan hal yang aneh-aneh pada adiknya yang semanis domba. "Jaehoon-ah!" Jaehoon menoleh. Pria itu berdiri di depan pohon buah persik. Tempat ia, Woojin dan pria itu biasa bermain bersama. "Kau sudah lama?" tanya Yebin. Jaehoon melirik ke arah leher Yebin yang terbuka. Terlebih gadis itu menguncir rambutnya. Jaehoon menghela nafas dan melepas syal yang dipakainya lalu memakaikannya pada Yebin. "Eh?" Yebin terkejut dengan perlakuan Jaehoon. Setelah itu pria itu malah mengabaikannya dan kembali menatap ke arah pohon persik. "Yebin-ah," Yebin gugup karena Jaehoon tak pernah memanggilnya selembut itu, "I-iya?" "Aku pernah mengatakan aku takkan berkencan dengan sahabatku padamu bukan?" tanya Jaehoon. Tatapan Yebin berubah jahil, "Tapi kau mengingkarinya karena berkencan dengan Woojin." Jaehoon tak menjawab. Pria itu malah tersenyum tipis. "Kalau begitu, tak apa bukan bila aku mengingkarinya lagi?" "Apa maksudmu?" Jaehoon menarik syal Yebin sehingga gadis itu jadi lebih dekat dengannya. Tangannya bergerak untuk memegang dagu Yebin. Ia mendekatkan bibirnya pada bibir Yebin. Mengecupnya pelan, lalu melepaskannya beberapa detik kemudian. Yebin melotot. Berusaha meronta tapi Jaehoon kembali mengklaim bibirnya. Kali ini lebih dalam. Pria itu melumat-lumat kecil bibirnya. Tatapannya berubah sayu. Dicium seperti ini oleh pria yang ia sukai ... Jantungnya seperti ingin meledak. Saat pria itu melepaskan ciuman mereka, Yebin merasa tubuhnya hampir meluruh ke lantai jika saja Jaehoon tak memegangi kedua bahunya. Yebin menunduk, ia terlalu malu untuk menatap wajah Jaehoon sekarang. "Mengapa kau lakukan ini?" bisiknya pelan. "Kau masih belum mengerti juga? Aku ingin berkencan denganmu." Yebin menepis tangan Jaehoon. Gadis itu mundur beberapa langkah. Menjauh dari Jaehoon. "Aku tak ingin berkencan dengan pria yang tak mencintaiku." "Tapi kau tahu keadaanku Yebin-ah. Aku tak bisa mencintai siapapun. Tidak kau, tidak gadis mana pun." Jaehoon menggenggam tangan Yebin. "Kau selalu mengatakan hal yang tak pernah kumengerti. Kau tak bisa mencintai gadis manapun, apa maksudnya itu? Karena itu dulu aku mengira kau gay." ucap Yebin dengan suara bergetar. Jaehoon berucap penuh emosi, "Aku bahkan tak bisa mencintai pria. Kau tak mengerti? Aku aseksual! Aku tak bisa mencintai wanita atau pria! Bagian mana lagi yang tak kau mengerti?" "Lalu mengapa kau berkencan dengan banyak gadis?" Jaehoon menggeleng, "Aku mencoba untuk membalas perasaan mereka. Mencoba dan terus mencoba dengan harapan aku bisa mencintai mereka. Walau yang kurasakan hanya hampa." Yebin menepis tangan Jaehoon. "Lalu bagaimana denganku? Kau tak bisa jatuh cinta padaku. Lalu untuk apa kau memintaku menjadi kekasihmu? Kau ingin membuatku menjadi mainanmu seperti yang lainnya?" "Bukan begitu! Aku merasa nyaman denganmu." "Jaehoon-ah, kita hentikan saja pembicaraan ini, ya? Kumohon." pinta Yebin. Yebin menarik nafas, mencoba terdengar tegas, "Walau kau mencintaiku pun percuma. Aku sudah terlanjur menerima lamaran Presdir Han. Jadi ayo kita hentikan pembicaraan ini. Ah, apa kau sudah makan malam? Ayo pergi makan!" Yebin mengalihkan pembicaraan. Jaehoon kembali menarik Yebin ke dalam pelukannya. Pria itu memejamkan matanya. "Maaf." bisiknya lembut. Yebin hanya terdiam. Menikmati hangatnya pelukan Jaehoon sebelum ia kehilangan kehangatan ini untuk selamanya. Air matanya menetes. Cinta itu ... Menyakitkan ya? *** Yeonsoo merasa khawatir. Sejak ia pulang hingga sekarang, Yebin belum keluar dari kamarnya. Saat pulang pun Yebin terlihat sangat sedih. Yeonsoo yang tak tahan pun mengetuk pintu kamar Woojin. Tok ... Tok ... Tok ... Ceklek ... "Ada apa?" "Kak Yebim mengurung diri di kamarnya sejak tadi. Apa yang terjadi? Apa ini karena aku memberitahunya mengenai apa yang kau lakukan padaku tadi?" tanya Yeonsoo. Woojin tersenyum simpul. Ia menatap ke arah pintu kamar Yebin. "Walau kau tahu apa masalahnya pun kau tak bisa membantu. Jadi kali ini abaikan saja, ya? Biarkan kakakmu sendiri dulu," pinta Woojin, "Tapi bicara tentang tadi, kita sudah sampai di gigit menggigit ya?" Wuoo, Yeonsoo merasa ia telah salah karena mengetuk pintu kandang macan. Yeonsoo menunduk sebelum kembali mendongak menatap Woojin. "Ah itu ...," Cup ... Woojin menunduk dan mengecup lehernya. Yeonsoo membelalakkan matanya. "Kita tak bisa bemesraan secara terang-terangan karena Yebin tinggal disini. Jadi setiap ada kesempatan aku takkan pernah melewatkannya. Aku sudah memperingatkanmu jadi jangan pernah marah karena hal itu." ucap Woojin. "Tapi—" Cup ... Kali ini kening Yeojsoo yang menjadi sasaran ciuman Woojin. Wajah Yeonsoo yang tadinya merah kali ini semakin memerah. "Selemat malam." Woojin menutup pintu kamarnya. Yeonsoo hanya bisa melongo di depan pintu kamar Woojin. "Oh Tuhan! Aku bisa mati kalau begini terus!" *** Makassar, 06 Oktober 2016
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN