Part 17 - Perjanjian

1732 Kata
"Aku tidak mau menikah!" Teriakan Yebin yang nyaring cukup mengganggu para pengunjung yang lain. Yeonsoo meringis melihat kelakuan kakaknya yang bahkan lebih mengerikan dari Woojin saat mabuk. Yebin menuangkan soju ke gelasnya lalu meminumnya dalam satu tegukan. Woojin awalnya mengajak Yebin dan Yeonsoo makan di restoran bersama karena ingin menghibur Yebin yang masih saja bersedih. Tinggal beberapa hari lagi Yebin akan melepas status lajangnya. Dan sialnya, ia harus menikah dengan paman Woojin yang merupakan pria tua. Yeonsoo saja yakin setelah menikah dengan Yebin, Presdir Han hanya akan menjadikan Yebin sebagai bahan pajangan. Pria tua bau tanah seperti pamannya Woojinkan pelurunya sudah habis, sudah tak bisa menembak lagi(?). "Mengapa kau menerima lamarannya kalau kau tidak mau menikah dengannya?" Yeonsoo mendengus, "Dasar Kakak bodoh!" "Yebin-ah, sudah jangan minum lagi. Kau itu berat. Kalau kau pingsan pasti aku yang harus menggendongmu." cibir Woojin. "Dasar calon adik ipar durhaka!" Yebin menunjuk tepat ke depan wajah Woojin. Tapi tiba-tiba gadis itu menurunkan tangannya dan mengerutkan dahinya, "Tunggu, kau itu calon adik iparku atau calon keponakanku?" Yeonsoo menepuk dahinya melihat kelakuan kakaknya. Orang dewasa itu memang benar-benar merepotkan ya? Yeonsoo merebut botol soju yang dipegang Yebin. "Kau tak boleh mi—" Drrtt ... Drrt ... Yeonsoo berhenti bicara dan melirik ke arah ponselnya yang tergeletak di meja. Ia melotot saat melihat nama kontak orang yang menelponnya. Ia segera meletakkan botol soju yang dipegangnya tadi ke atas meja dan mengangkat telponnya. "Halo Senior?" "Halo, Yeonsoo-ya? Akhirnya aku bisa mendengar suaramu! Mengapa kau tak mengabariku kalau kau mengganti nomormu?"  suara Jongchan terdengar cemas. "Maaf Senior, aku tak hapal nomormu," Yeonsoo melirik tajam pada Woojin, "Ponselku dicuri oleh seseorang." "Astaga seharusnya kau lebih berhati-hati!" "Ya, aku akan mulai berhati-hati sekarang," Yeonsoo melirik Woojin lagi, "Kau mendapatkan nomorku dari mana?" "Ah itu ... Dari Kak Heejoo. Aku ke toko buku dan tak menemukanmu di sana. Jadi aku meminta kontak barumu pada Kak Heejoo." "Aku memang untuk sementara ini tak bekerja, Senior. Aku—" Yeonsoo pun asik berbincang-bincang dengan Jongchan dalam telpon. Woojin mendengus sebal. Percuma ia membelikan Yeonsoo ponsel baru dan mengganti nomornya. Ternyata Jongchan masih punya cara lain untuk menghubungi Yeonsoo. Woojin mengalihkan pandangannya pada Yebin. Gadis itu kembali meminum sojunya lagi. Belakangan ini Jaehoon tak pernah lagi datang ke apartemen Woojin. Apa Jaehoon masih marah pada Yebin karena keputusan gadis itu? "Kau!" Yebin kembali menunjuk ke arah Woojin. Woojin terlalu malas untuk meladeni orang mabuk, "Apa?" "Beritahu pada temanmu itu aku tak butuh rasa kasihan darinya! Dia tak perlu merasa bersalah! Tak perlu menjaga jarak denganku! Itu membuatku sakit hati kau tahu?" Kepala Yebin ambruk ke atas meja. Yeonsoo berdecak dan menutup telponnya. Woojin melongo. Apa ini alasan mengapa Yebin bersedih belakangan ini? Apa karena Jaehoon menolak Yebin? "Sudah kukatakan untuk tidak minum lagi!" Yeonsoo menoleh pada Woojin dan menangkap ekspresi yang tidak biasa di wajag pria itu. "Ada apa?" "Ha? T-tidak. Tidak apa-apa." *** Woojin melangkah masuk ke ruangan Presdir Han. Ia telah memantapkan hatinya. Bahkan jika pamannya ingin ia berlutut dan mencium kakinya, maka ia akan melakukannya. Ia tidak bisa melihat sahabatnya tersiksa seperti ini. Woojin akan meminta pamannya menghentikan pernikahan ini. "Woojin-ah," Presdir Han tersenyum lebar untuk menyambut keponakannya. Woojin menahan dirinya untuk tidak muntah. Tidak anak, tidak ayah sama saja. Senyum mereka palsu dan memuakkan. Predir Han melangkah mendekati Woojin. Namun Woojin mengangkat tangannya, meminta Presdir Han tetap di situ saja. Lagipula ia mana mau dekat-dekat dengan pamannya yang licik itu. Bisa-bisa aura kelicikan pamannya berpindah pada dirinya lagi. Hiiii ... Senyuman Presdir Han masih belum luntur walau tahu Woojin jijik padanya, "Sudah kuduga kau akan datang." "Jangan basa-basi. Aku yakin Paman tahu maksudku berada di sini. Apa yang kau inginkan hingga harus menggunakan sahabatku sebagai umpanmu?" cibir Woojin. "Kau orang yang to the point, aku suka itu." Presdir Han duduk di kursinya, "Aku hanya ingin milikku kembali." "Milikmu?" "Perusahaan yang berhasil Kakekmu rebut dariku," suara Presdir Han terdengar dingin, "Aku menginginkannya kembali." Woojin tertawa sinis. Orang di depannnya ini benar-benar tak tahu malu. "Kau gila?" Woojin membentak, "Sejak awal itu adalah perusahaan ayahku yang kau curi dariku!" Presdir Han tersenyum miring. Kalau Woojin senyum miring mah tampan, tapi kalau Presdir Han ... wassalam. "Pikirkanlah baik-baik. Perusahaan itu atau sahabatmu tercinta? Ia pasti akan tersiksa bila menikah denganku. Aku menjamin hal itu. Aku tak perlu mengotori tanganku untuk menyiksanya, aku yakin bibimu akan dengan senang hati melakukan hal itu untukku." ancam Presdir Han. Woojin tak bisa menahan dirinya lagi, ia maju dan menerjang Presdir Han dengan pukulan. Jika saja tidak ada Keamanan yang menahannya, mungkin Presdir Han sudah mati di tangan Woojin. Sepertinya pria tua licik itu sudah memperhitungkan hal ini dengan baik. "Buatlah keputusan yang bijak Woojin-ah," Presdir Han tertawa, "Perusahaan itu atau orang yang sudah banyak menolongmu." *** Yeonsoo menatap foto gaun yang dikirimkan oleh kakaknya dengan malas. Jujur, menurut Yeonsoo itu gaun yang manis. Tapi dengan gaun itu Yeonsoo akan terlihat cantik. Memperlihatkan kecantikannya di hari pernikahan Yebin dan Presdir tua bangkotan itu? Yang benar saja! Nanti si tua itu malah beralih ingin menikahinya lagi. Lebih baik Yeonsoo pakai piyama dan sendal jepit saja ke pesta pernikahan Yebin. "Ada apa denganmu?" tanya Minkyu yang melihat ekspresi jijik Yeonsoo. "Tidak. Aku tak apa." "Kudengar Kak Yebin sudah kembali," Jungmyeong menatap Yeonsoo malas, "Mengapa aku harus mengetahui hal ini dari Kak Woojin dan bukannya darimu?" Yeonsoo terdiam sambil menggaruk tengkuknya gugup. Jungmyeong itu ... Bagaimana menjelaskannya ya? Pemuda itu sama dengan Jungwoon, sama-sama menyukai Yebin. Yeonsoo tak ingin Jungmyeong sakit hati bila tahu Yebin akan menikah dengan Presdir Han. Dan lagi, Jungmyeong akan makin sedih bila tahu yang dicintai Yebin adalah Jaehoon. "I-itu ...," Minkyu yang paham situasi Yeonsoo pun segera mengalihkan pembicaraan, "Lalu bagaimana sekarang?" "Bagaimana apanya?" tanya Yeonsoo heran. "Karena Kak Yebin sudah kembali, bukankah kalian akan tinggal bersama dan mencari apartemen baru?" Minkyu menyenderkan punggungnya ke senderan kursi kantin, "Kau tidak berpikir untuk tetap tinggal bersama Kak Woojin, kan?" Yeonsoo terdiam lagi. Entahlah, rasanya tidak rela. Ia memang sudah memikirkan hal ini. Ia pasti pindah dari apartemen Woojin setelah Yebin menikah. Yeonsoo akan tinggal bersama orang tuanya. Dan untuk itu, ia tak memiliki alasan apapun lagi untuk bertemu Woojin. Tunggu! Mengapa ia terdengar selalu ingin bertemu Woojin begini? Tidak! Tak boleh Kang Yeonsoo! Ini tidak boleh! Eh? Tapi sekarang kan tidak ada apapun yang menahannya. Woojin sudah terbukti normal seratus persen. Jadi tak apa-apa jika ia menyukai Woojin. Toh, Woojin juga menyukainya. Eh? Eh? Mengapa ia berpikir seperti ini? Sadarlah Kang Yeonsoo! Sadarlah! *** "Aku pu—" Yeonsoo segera bersembunyi di balik tembok saat melihat kakaknya dan Woojin berpelukan. Tunggu! Yebin dan Park Woojin ... Berpelukan? "Maaf, aku tak berguna. Aku bahkan tak bisa melakukan apapun untukmu." Woojin mengeratkan pelukannya pada tubuh Yebin. Yebin menepuk-nepuk pundak Woojin. Yeonsoo tak tahu apa yang dibicarakan oleh kakaknya dan Woojin hingga ada adegan peluk-pelukan begitu. Mereka bahkan tidak menyadari kalau Yeonsoo sudah pulang. "Tak apa, kau sudah banyak menolongku. Tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Kau dan kakekmu bekerja keras untuk merebut kembali perusahaan mendiang ayahmu, kau tak boleh melepaskannya begitu saja." ucap Yebin. "Tapi bagaimana denganmu?" Woojin melepaskan pelukannya. "Tak usah memikirkanku. Dengan melihat keluargaku bahagia saja adalah sebuah anugerah untukku. Walau sesulit apapun hidupku nantinya, aku pasti bisa melewatinya," Yebin terdiam, "Lagipula kau mengenaliku dengan baik bukan? Aku adalah Yebin, aku wanita paling pendendam yang pernah ada di dunia ini. Aku akan membalas ribuan kali lipat mereka yang berani berbuat jahat padaku." Woojin terkekeh sambil mengacak-acak rambut Yebin. Walau begitu ekspresi sedih masih terpancar di wajahnya. Melihat kedekatan Yebin dan Woojin membuat Yeonsoo merasakan hal aneh di hatinya. Ia merasa ... Marah? Ia tak suka Woojin dan kakaknya dekat begitu. Yeonsoo menatap dua orang itu dengan kesal. Yeonsoo tak mengerti mengapa ia marah begini. "Aku pulang." Yebin dan Woojin menoleh pada Yeonsoo. Yeonsoo memasang wajah datar. Ia lalu masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu kamarnya. Woojin dan Yebin saling berpandangan. Ada apa dengan anak itu? Di dalam kamarnya, Yeonsoo melempar tasnya ke ranjang. Ia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Halo?" *** Acara pernikahan Yebin dihadiri oleh kolega-kolega dari Presdir Han. Woojin sebenarnya tak ingin datang. Hanya saja Yebin memaksanya. Gadis itu bahkan mengancam akan menjauhkan Yeonsoo darinya bila ia tidak datang. "Aku tak melihat Yeonsoo dimanapun." Jaehoon mengernyit heran. "Dia takkan datang." ucap Woojin malas. "Tapi ini kan acara pernikahan kakaknya!" protes Jaehoon. "Ya ya ya, seperti Yeonsoo perduli saja. Kau tahu anak itu bukan? Ia masih menentang pernikahan ini." Acara ini sangat membosankan bagi Woojin, dan tentu saja bagi Jaehoon juga. Mereka menguap bersamaan. Yebin terlihat cantik saat berjalan di altar. Sayang sekali pengantin prianya sangatlah tidak cocok dengan Yebin. Mereka seperti 'Beauty and the Beast'. Oh bahkan Presdir Han berwajah lebih buruk dari Beast. Yebin dan Presdir Han berdiri menghadap sang pendeta. "Kau yakin kau takkan menyesal Byun Jaehoon?" bisik Woojin. "Menyesal, tentu saja aku akan menyesal. Tapi pada akhirnya Yebin yang menentukan segalanya. Walau kukatakan padanya aku akan berusaha mencintainya tapi gadis itu tak ingin aku memaksakan diriku." ucap Jaehoon sambil terus memandangi Yebin. Tiba-tiba terdengar keributan dari pintu masuk gedung. Jaehoon dan Woojin menoleh ke arah keributan itu. Sumber keributan itu adalah Kang Yeonsoo, gadis itu akhirnya datang. Dan yang mengejutkan adalah gadis itu datang bersama Kakek Park. Di belakang mereka, ada puluhan pria bertubuh besar dan berpakaian serba hitam. Yeonsoo tersenyum miring. "Aku datang, Kakak." ucap Yeonsoo saat semua menatapnya heran. Yeonsoo beralih pada sekumpulan pria di belakangnya. "Hancurkan acara ini!" "Baik!" *** Woojin berlari menghampiri Yeonsoo. Acara pernikahan Yebin sedang diacak-acak sekarang. Yebin dibawa kabur oleh Jaehoon. Kakek Park sedang berhadapan langsung dengan Presdir Han. Ia melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekiknya. Astaga, pantas saja Yeonsoo selalu terlihat tenang disaat mereka semua panik dengan acara pernikahan Yebin. Ternyata gadis itu sudah memiliki rencana lain. "Kau! Mengapa kau tak mendiskusikan hal ini dulu denganku?" marah Woojin. "Sebenarnya Kakek Park sudah menawarkan sebuah perjanjian denganku beberapa bulan sebelum pernikahan Yebin. Tapi aku baru menyetujuinya kemarin." "Perjanjian apa? Jangan bilang Perjanjian yang sama dengan Yebin? Jangan katakan kau akan menikah dengan kakekku dan menjadi nenekku?" Woojin mencengkram bahu Yeonsoo. Yeonsoo meringis dan menepis lengan Woojin, "Bukan itu! Kakak pikir aku sudah gila apa?" "Kau memang gila sejak dulu, jadi hal itu mungkin terjadi." Woojin masih menatap tajam Yeonsoo menuntut penjelasan. "Aisshh, terserahlah! Aku lebih baik pulang daripada harus mendengar ocehanmu!" Yeonsoo melangkah sambil menghentak-hentakkan kakinya menjauhi Woojin. Woojin mengejarnya. Ia masih penasaran. "Hei, perjanjian apa? Beritahu padaku! Hei Kang Yeonsoo!" *** Sementara itu, Kakek Park menatap Presdir Han dengan pandangan merendahkan. Ia bersorak dalam hati. 'Apapun akan kulakukan demi album bertandatangan SNSD sejak awal mereka debut hingga sekarang! Kang Yeonsoo, akan kurebut album itu darimu dengan ini!' Oh jadi perjanjiannya Yeonsoo akan memberikan album SNSD miliknya pada Kakek Park asalkan Kakek Park membantunya membatalkan pernikahan Yebin. Astaga ... Kakek nyentrik kita ini memang sesuatu ya? =.=a **** Makassar, 11 Oktober 2016
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN