Kakek Park menatap Presdir Han sinis. Mereka duduk berhadapan di batasi dengan sebuah meja kecil. Presdir Han bahkan tak sempat berganti pakaian. Paman dari Woojin itu masih memakai jas pengantinnya.
"Awalnya aku bahkan tak turun tangan dalam masalah ini. Aku membiarkanmu melakukan apapun yang kau lakukan karena aku menghargaimu sebagai keluarga dari mendiang menantuku," Kakek Park memejamkan matanya sebentar, lalu menatap Presdir Han angkuh, "Bila aku menginginkannya, aku bahkan bisa membuatmu jatuh hingga tak bisa bangkit lagi mengingat apa yang kau lakukan pada cucuku. Tapi aku kasihan padamu, jadi hanya perusahaan mendiang anakku yang kau curi yang kurebut darimu. Aku tak menyangka kau bisa begitu tamak dan malah melibatkan orang lain dalam masalah ini."
"Menghargaiku sebagai keluarga mendiang menantumu? Hah! Jangan bercanda! Kau membuang kakakku dan juga anakmu karena tak sudi melihat anakmu menikah dengan gadis dari keluarga biasa-biasa saja. Apa kau tahu? Saat awal melihat kakakku bersama anakmu, aku pikir ia akan menjadi penyelamat bagi keluarga kami yang terlilit hutang. Tapi saat kau membuangnya, beban di keluarga kami malah semakin bertambah karenanya." ucap Presdir Han.
Terdengar sekali suara Presdir Han terdengar bergetar. Ia tahu siapa yang ada di depannya ini. Mertua dari mendiang kakaknya adalah seorang pengusaha yang berpengaruh di Korea. Ia tahu setelah keluar dari ruangan ini, hidupnya takkan sama lagi. Dengan kekuasaan dari Kakek Park, mungkin ia dan keluarganya akan menjadi gelandangan.
"Tapi pada akhirnya, anakku juga bekerja keras dan membayar hutang-hutang kalian bukan? Bagaimana bisa kau begitu tega pada anaknya, cucuku Park Woojin? Ia bahkan tak tahu apa-apa tapi mengapa ... Kalian hampir membuatnya menjadi seorang gelandangan! Cucuku! Anak dari kakakmu!" marah Kakek Park.
Kakek Park menghela nafas. Ia ingin menenangkan emosinya dulu. Kalau ia emosi, tekanan darahnya akan naik. Kalau tekanan darahnya naik, ia bisa cepat mati. Ia tak ingin mati dulu sebelum menikmati barang rampasannya dari Yeonsoo(?).
"Mulai dari sekarang, orang-orang akan mengenalmu sebagai orang yang bermasalah denganku," Kakek Park tersenyum, "Mereka takkan mau lagi bekerja sama dengan perusahaanmu. Aku takkan turun langsung. Aku hanya akan menonton dari jauh. Melihat bagaimana kau jatuh bangkrut dan hidup sama seperti keluarga sahabat cucuku yang kau manfaatkan untuk mengusik cucuku."
Presdir Han menatap Kakek Park bengis. Kakek Park terkekeh merendahkan. Ia berdiri dan melambaikan tangannya pada para bodyguardnya. Ia tahu Presdir Han sudah hampir di batas pertahananny. Sebentar lagi pria itu mungkin akan kehilangan kewarasannya dan menyerang kakek Park.
"Ingatlah hal ini, sebaiknya kau pikirlah terlebih dahulu apa akibat dari perbuatan yang kau lakukan. Bila kau berani menyentuh cucuku atau orang-orang terdekatnya maka aku takkan segan-segan membunuhmu."
Kakek Park melangkah meninggalkan Presdir Han yang terdiam dengan tubuh gemetaran di kursinya. Ya, tubuhnya gemetaran menahan emosi.
Brak!
Meja yang ada di depannya dibantingnya dengan kasar untuk mengeluarkan emosinya.
***
Yeonsoo menatap album-album yang ada di depannya. Memeluknya sebentar lalu menatapnya lagi. Memeluknya, lalu menatapnya lagi. Begitu seterusnya. Ia akan melakukan itu terus menerus hingga ia puas. Album-album ini sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Dan anaknya akan diadopsi oleh orang lain. Walau ia tahu kakek Park akan merawat anak-anaknya ini dengan baik, tapi tetap saja Yeonsoo tidak rela.
"Jadi ini perjanjianmu dengan Kakek?" Woojin dan Yebin tertawa terpingkal-pingkal.
"Padahal kukira Kakek sangat keren karena membantuku. Tapi ternyata ... Astaga pandanganku padanya menurun drastis. Kakek memang tak berubah sama sekali." ucap Yebin.
"Diamlah! Aku harus mengorbankan album berhargaku karena kau! Dan ini semua salah dia!" Yeonsoo menunjuk tepat ke depan wajah Woojin, "Kakek Park bilang kau membuang semua albumnya saat kau tinggal bersamanya dulu. Karena albumku selengkap miliknya, ia jadi menginginkan albumku!"
Woojin membalasnya, "Mana aku tahu kau membuat perjanjian konyol itu dengannya? Lagipula aku masih sulit menerima bahwa ia adalah fanboy—Ah, tidak! Fansenior, fans manula. Bagaimana bisa aku lupa kalau Kakekku adalah seorang kakek-kakek?"
Yebin segera menengahi sebelum Woojin dan Yeonsoo mulai bertengkar.
"Hei, kalian ini kan pasangan kekasih? Bila kalian sering bertengkar seperti ini, hubungan kalian takkan bertahan lama." nasihat Yebin.
"Pasangan kekasih?" Yeonsoo dan Woojin berpandangan.
Yeonsoo menunjuk dirinya sendiri, "Aku?" ia beralih menunjuk Woojin, "Dia? Ha! Jangan bercanda!"
"Hei Kang Yeonsoo, mengapa kau seolah mengatakan kau tidak akan mungkin menjadi kekasihku? Yebin-ah, biar kuralat sedikit. Kami memang belum menjadi kekasih. Belum." protes Woojin.
Yebin melongo. Ia menatap Woojin dan Yeonsoo bergantian.
"Kalian sudah sampai ke tahap 'gigit-gigitan' tapi kalian bukan sepasang kekasih? Hebat! Kang Yeonsoo, apa aku pernah mengajarkan padamu untuk melakukan hal aneh dengan orang yang bukan pasanganmu?" marah Yebin.
"Kami sudah akan menjadi pasangan kekasih jika seseorang tidak menunda dan langsung menerima perasaanku." sindir Woojin.
"A-aku—"
"Benar juga! Kalian terlihat mesra dan saling mencintai. Mengapa kau tak menerima perasaannya?" Yebin menatap Yeonsoo menuntut.
"I-itu—"
"Benarkan? Kami saling mencintai bukan? Ia sangat bodoh karena menggantung perasaanku. Bagaimana kalau aku direbut wanita lain? Kan dia sendiri yang rugi!"
Yeonsoo merasa disudutkan. Ia mengambil albumnya dan berdiri.
"Ah, terserah! Aku sedang menghabiskan saat-saat terakhir bersama album-albumku! Mengapa kalian malah merusaknya dengan menyudutkanku? Aishh!" desis Yeonsoo.
"Hei, kau mau kemana?" tanya Woojin.
"Mengantarkan album-album ini ke Kakek!"
Yebin dan Woojin saling berpandangan. Mereka pun tertawa geli. Menggoda Yeonsoo memang menyenangkan.
***
Karena pernikahannya batal, Yebin jadi bisa kembali berkuliah. Woojin tersenyum. Walau Yebin terlihat mengeluh di sebelahnya karena ia ketinggalan materi, tapi Woojin tahu gadis itu sangat senang bisa kembali seperti sedia kala.
"Yebin-ssi tidak jadi menikah kemarin. Aku benar-benar kasihan padanya. Adiknya sendiri menghancurkan pesta pernikahannya." suara Seungwan terdengar ke telinga Woojin saat ia melewati koridor menuju kafetaria.
Woojin sontak menoleh ke belakang dan mendapati wajah culas Seungwan yang sedang bergosip dengan teman-temannya. Yebin sendiri hanya diam tanpa mau menoleh. Woojin tahu Seungwan datang di pesta kemarin untuk mewakili ayahnya. Tapi Woojin tak tahu Seungwan akan sejahat itu untuk menyebarkan masalah ini di kampus.
Setelah terdiam beberapa saat, Yebin akhirnya berbalik dengan senyum secerah matahari.
"Kalau calonnya seperti calon suamiku kemarin ... Kurasa aku takkan marah kau ejek karena gagal menikah," Yebin tertawa, "Sebaliknya aku bahagia."
Seungwan tersenyum, "Benarkah?"
Yebin melangkah maju dan mendekati Seungwan. Membuat tubuh mereka berhadap-hadapan.
"Dulu kau tak bisa mendekati Woojin karena aku selalu ada di sampingnya. Kau tentu tak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung mendekatinya saat aku menghilang beberapa bulan yang lalu. Sudah mendapatkan kesempatan langka begitu tapi ternyata kau tidak berhasil? Menyedihkan!" ejek Yebin.
Jika saja tidak ada teman-temannya, Seungwan mungkin sudah maju dan mencakar wajah Yebin. Tapi hal itu tidak ia lakukan karena takut imagenya sebagai primadona kampus hancur.
"Kau harus berhati-hati. Sekarang aku sudah kembali dan akan selalu ada untuk mengawasimu. Takkan kubiarkan kau merebut milik adikku. Mata dibalas mata, nyawa dibalas nyawa. Kau hancurkan cinta pertamaku dan kuhancurkan cinta pertamamu."
Yebin menggandeng Woojin meninggalkan Seungwan yang berusaha keras untuk menahan emosinya.
'Sialan!'
***
Karena ada Yebin di apartemen mereka, bagian masak-memasak dikerjakan olehnya. Padahal Yeonsoo lebih suka masakan Woojin. Tapi apa boleh buat? Kalau ia mengutarakan kalau ia tak suka secara langsung, Woojin bisa besar kepala dan kembali menggodanya.
"Yeonsoo-ya, Ayah dan Ibu menanyai tentangmu saat aku mengunjungi mereka di rumah tadi. Ia ingin kau tinggal bersama mereka kembali."
Tubuh Yeonsoo dan Woojin sontak menegang. Yeonsoo berdehem.
"Hanya aku? Kakak bagaimana?" Yeonsoo diam-diam mengetuk-ngetukkan sumpitnya ke mangkuk nasinya. Gugup.
"Aku akan tetap disini hingga aku mendapatkan apartemen yang baru. Bukannya sudah biasa bagiku untuk tinggal di luar rumah?"
Yeonsoo mengumpat dalam hati. Ia akan kembali terpenjara di tempat sepi yang bernama 'rumah' itu sementara Yebin bisa bebas di sini bersama Woojin?
Puk ...
Sebuah tangan hangat mengacak-acak rambut Yeonsoo. Membuat gadis itu menoleh.
"Kau tak usah pindah bila kau tak ingin. Urusan dengan ayahmu, biar aku saja yang membujuknya." ucap Woojin lembut.
Wajah Yeonsoo merah merona. Ia memakan nasinya dengan cepat.
"Ini untuk Yeonsoo, dan ini untuk Woojin." Yebin menaruh dua piring masakan berbeda di depan Woojin dan Yeonsoo.
"Mengapa dipisah?" tanya Yeonsoo.
Yebin hanya tersenyum dan kembali ke dapur. Bukan haknya untuk menjelaskan hal ini bukan?
"Tadi kau bilang pada Yebin kalau kau ingin makan makanan laut bukan? Aku alergi pada beberapa makanan laut. Karena itu aku tak bisa makan lauk yang sama denganmu hari ini." jelas Woojin.
Seulgi manggut-manggut mengerti. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Ada apa?" tanya Woojin. Ia menyadari perubahan ekspresi Yeonsoo.
"Tidak, itu ...," Yeonsoo terdiam sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Padahal aku juga tinggal bersamamu, tapi kurasa Kak Yebin lebih tahu banyak tentangmu." ucap Yeonsoo lirih.
Woojin terdiam, melongo. Lalu terdengar dengusan geli darinya. Yeonsoo menatapnya sengit. Di saat seperti ini pria itu masih bisa tertawa?
"Maaf, aku hanya sedikit terkejut," Woojin terkekeh, "Aku senang kau menunjukkan perasaan cemburumu, tapi tak kusangka kau akan cemburu pada Yebin."
"Apa maksudmu? Aku tidak cemburu! Tidak sama sekali!" Yeonsoo bersikeras.
Woojin makin melebarkan senyumannya. Ia meletakkan sumpitnya dan bertopang dagu sambil menatap Yeonsoo dengan lekat.
"Walaupun kau tak tahu apa-apa tentangku, aku hanya mencintaimu."
"B-bodoh! Mengapa tiba-tiba mengatakan hal memalukan seperti itu?"
Ucapan Woojin, pandangan matanya, dan juga senyuman hangatnya berhasil membuat Yeonsoo gugup setengah mati. Yebin sendiri hanya bisa menatap mereka sambil terkekeh.
Yebin mendesah, "Ah, indahnya masa muda. Sayang sekali aku harus jatuh cinta pada amoeba. Kalau begini aku juga akan menjadi amoeba karena tak bisa mencintai orang lain."
****
Makassar, 16 Oktober 2016