Merasa Dipermainkan

1401 Kata
Bram mundur. Dia memberikan jalan untuk Tisha yang berjalan di depannya bersama dengan Liam. Dia hanya bisa menatap kosong ke arah keduanya yang masuk ke dalam mobil. Hingga mobil itu berlalu dari hadapan Bram dan berlalu begitu saja. Pria itu merogoh sesuatu dari saku. Sebuah tali rambut yang dia temukan lalu dia simpan. Bram menarik napas, hanya menghirup parfum Tisha dari tali rambut berwarna hitam itu, membuatnya makin merasa bersalah. Ingatannya melayang ke enam tahun yang lalu saat dia merangkul seorang perempuan yang dia sukai semenjak masa orientasi siswa hingga saat itu mereka semua merayakan pesta perpisahan. Pesta yang sebenarnya diadakan oleh dua kelompok dan kelompoknya adalah kelompok lelaki yang bisa dibilang nakal di masanya, tapi merupakan anak-anak dari pengusaha-pengusaha kaya dan sering melakuan pesta dengan alkohol seperti itu, sedangkan kelompok lain adalah para siswa dan siswi yang tergolong pintar di kelas unggulan. Bram yang sudah mabuk, menarik paksa seorang gadis ke dalam kamar hotel yang dia tempati. Meski perempuan itu meronta, tapi Bram tidak perduli dan tidak ada orang di sana yang memergoki kelakuannya. Bram yang memanggil nama Tisha, merajai tubuh gadis itu, melihatnya seperti Tisha dan jika bisa dibilang, betapa beruntungnya Bram saat itu bahwa gadis yang dia tiduri dengan paksa benar-benar adalah Tisha yang dia sukai! Entah setan apa yang membuat Bram menggagahi Tisha di malam itu dalam keadaan mabuk berat. Rasa lelah Tisha membuatnya tidak mampu untuk meronta lagi. Dia hanya bisa menangis dan merutuki Bram. “Kamu juga suka sama aku kan, Tisha? Katakan!” desak Bram yang mendengar bahwa Tisha pernah menggambar wajahnya di kertas kanvas. Namun, waktu itu Tisha berkelit bahwa dia hanya menggambar asal. Tidak ada jawaban dari mulut Tisha. Dia hanya terisak ketika Bram melesakkan sesuatu ke area bawahnya. Sakit. Darah mengalir dari bawah dan Tisha makin merintih, meratapi kehormatannya yang telah robek karena ulah Bram. Benci, ya, rasa cinta itu berubah menjadi kebencian. Cinta pertamanya, pada Bram menjadi lebur oleh malam itu. “b*****t,” rintih Tisha. Namun, dia hanya bisa lemah di atas pembaringan, merasakan perih ketika Bram mengeluarkan pelepasan di dalam rahimnya. Teman-teman Tisha, mencarinya dan tidak menemukannya. Tisha pamit ke toilet kala malam itu, dan satu jam kemudian ketika pesta sudah akan berakhir, mereka tidak menemukan Tisha di sana. Akhirnya, mereka mengira Tisha sudah dijemput oleh ayahnya. Padahal, Tisha pulang larut malam dengan lemas, mencari taksi untuk mengantarnya pulang. Bram menyadari bahwa itu benar-benar Tisha ketika dia menemukan kartu anggota kesiswaan di lantai. Dengan meraup wajah usai tidak menemukan Tisha paginya, Bram menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Bram meraup wajah saat menyadari ini tahun keenam dia bisa bertemu dengan Tisha lagi. “Kenapa waktu itu aku begitu bodoh?” rutuknya. Dia berjalan kembali ke mobilnya. Mengingat kebersamaan Tisha dengan Liam, pria yang dulu menghalanginya untuk menemui Tisha di sekolah. “Mungkin lebih aman dia bersama dengan Liam, seperti yang dia katakan waktu itu. Mereka adalah sepasang kekasih,” pungkas Bram, meski rasanya nyeri ketika mengakui hal itu. “Tapi, siapa suami Tisha?” gumam Bram dengan beribu pertanyaan di benaknya. Apalagi, sosok Kayla menari di benaknya. *** Liam mendengkus ketika melihat ke spion. Dia tidak menyangka akan bisa melihat Bram lagi, meski di kota yang berbeda. “Kenapa dunia ini sempit?” gerutu Liam. “Apa?” tanya Tisha menatap pada pria yang menggerutu sendiri di belakang kemudi. “Dunia ini sempit. Kamu juga ngerasa kayak gitu, kan?” tanya Liam, yakin dengan pertanyaannya. Tisha hanya mendesah dan membenarkan perkataan Liam dalam hatinya. Bagaimana tidak? Dia bisa bertemu dengan Bram dan Liam di kota yang sama dalam satu hari. Seolah malaikat sengaja menurunkan dua pria yang membuat luka di masa lalu itu bersamaan di hadapannya. “Di mana rumah kamu?” tanya Liam, membuyarkan pikiran Tisha. “Masih jauh, di dekat Pasar Taruma,” sahut Tisha. “Pasar apa?” tanya Liam, memperlihatkan betapa dia masih buta dengan kota itu. “Oh, maaf, Pasar Taruma, itu ada di belakang Pecinan. Pecinan itu lurus abis jalan ini,” jelas Tisha, paham dengan Liam yang mungkin belum mengerti kota itu. “Oke. Dengan siapa kamu tinggal di sana? Bram tau kalo kamu tinggal di sana?” berondong Liam. Tisha mengerutkan dahi tidak mengerti. Kenapa pria itu malah menanyakan dirinya dan apa hubungannya dengan Bram? Padahal, setahu Tisha, Liam hanyalah pria yang suka mengganggunya saja sampai detik ini. “Aku tinggal sama bibiku. Nggak, Bram belum tahu,” sahut Tisha, pendek. Tidak ingin membeberkan tentangnya lebih banyak. Dia sudah merasa nyaman saat tinggal damai dengan bibinya dan Kayla enam tahun belakangan ini. Namun, sepertinya kenyamanan itu akan berubah total dengan keberadaan dua lelaki trouble maker yang datang dalam hidupnya secara tiba-tiba. “Apa hubunganmu dengan Bram?” tanya Liam lagi, seolah itu adalah urusannya. Tisha melirik tajam lagi, pertanyaan yang mengganggu sekali. “Nggak ada,” sahutnya malas. “Bagus.” Entah apa maksud Liam, dan Tisha juga merasa lebih baik untuk tidak memberitahukan pada Bram di mana dia tinggal. Luka itu, semakin tidak akan mengering dengan keberadaan Bram. “Iya. Eh, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Tisha, memberanikan diri pada Liam. Liam mengernyit. Dia tidak dapat menebak arah pembicaraan Tisha, apa yang dia ingin tanyakan. Jadi, Liam hanya mengangguk saja. “Kenapa dulu kamu sering bully aku, bahkan sampai kakiku terluka?” tanya Tisha, teringat saat itu, Liam membuang tasnya ke selokan dan dia terpaksa mengambilnya sampai kakinya terkena pecahan kaca. Liam menutup mulutnya lalu menyembunyikan tawa dalam hati. Dia merasa dulu menjadi seorang psikopat yang ingin sekali menyiksa Tisha yang cantik, pintar, tapi sangat pendiam. “Aku nggak tau kakimu sampai berdarah, tapi aku suka melihatmu menangis” sahutnya tanpa merasa bersalah. Kedua mata Tisha terbelalak mendengar kata-kata Liam. Dia sampai memutar tubuhnya empat puluh lima derajat ke arah Liam agar bisa melihat wajah seriusnya, tapi Liam benar-benar seorang aktor yang menunjukkan keseriusan wajah saat mengatakan hal itu. “Kamu serius suka lihat aku nangis?” tanya Tisha. “Iya,” sahutnya yakin. Tisha kembali menyandarkan punggungnya di sandaran jok mobil dengan perasaan ngeri. “Jangan bilang kamu psikopat,” sahut Tisha, membuat Liam tertawa dengan keras. “Bukan. Aku Cuma ingin menyiksamu agar kamu menangis dan nggak lagi menjadi pendiam. Kamu terlalu kutu buku, trus kelihatannya nggak pernah menikmati hidup. Hidup itu seru, tau? Apalagi, kamu nggak pernah mau membalasku. Kenapa? Kalo kamu balas, itu bakal lebih seru lagi,” papar Liam dan memang itulah alasan dia membully Tisha waktu itu. Selain perasaannya ingin dekat dengan Tisha, dia merasa ingin menarik perhatian gadis itu, tapi caranya saja yang keliru. Namun, bagi Liam, tidak ada yang keliru. Buktinya, Tisha masih mengingatnya sampai sekarang. “Aku nggak suka balas kejahatan dengan kejahatan. Mendingan aku doain kamu biar dibalas sama Tuhan,” sahut Tisha, membuat Liam sekarang ganti terbelalak. “Kamu kejam bener,” ucap Liam, terkekeh. Tisha menatap kesal pada lelaki yang tertawa itu. Sepertinya memang bagi Liam, dia hanyalah boneka yang dimainkan di masa lampau. Dia masih belum yakin dengan sikap baik Liam yang mau mengantarnya pulang. Kalau dia baik, kenapa dia menyanderanya di kantor tadi sampai sepetang itu? “Biar aja,” sahut Tisha, melipat kedua tangannya. Dering ponsel membuat Tisha harus merogoh benda pipih itu. Dia lalu mendesah ketika melihat nama anaknya yang menghubungi. Selama ini, dia menyembunyikan keberadaan Kayla karena dia takut anak itu akan menerima ujaran tidak baik tentang anak haram. Tisha mematikan ponselnya. “Siapa? Kenapa kamu matikan?” tanya Liam. “Adikku. Dia pasti Cuma mau tanya mainan doang,” sahut Tisha, berharap semoga Liam percaya dengan kata-katanya. “Oh. Adikmu? Baru tau kalo kamu punya adik?” tanya Liam. “Iya, apa sih yang kamu tau dari aku selain mengerjaiku?” gerutu Tisha. Kembali Liam terkekeh. Tisha merasa bahwa pria itu sekarang banyak tertawa dibanding pagi tadi ketika pertama dia datang. Mungkin Liam bagai es balok yang mulai mencair suhunya semakin malam. “Ini udah sampai Pecinan. Nanti di pertigaan itu, belok kiri,” celetuk Tisha sebelum Liam puas tertawa. Namun, mobil malah melaju lurus dan tidak mengindahkan arahan Tisha. Raut Liam serius, tidak sedikitpun tersenyum. Tisha menjadi panik dibuatnya. Saat itu, Liam menatap lurus ke depan. Berkali menoleh, Tisha dibuatnya ketakutan dan panik karena laju mobil tidak membelok. Malah mempercepat lurus di jalan, jauh melewati belokan yang ditunjuk oleh Tisha. “Kubilang belok, Liam.” Tisha melotot pada lelaki yang seolah tuli pada arahannya dan masih saja menyetir melaju ke arah lurus. “Liam!” bentak Tisha, merasa dipermainkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN