Nomor Tak Dikenal

1709 Kata
Laras telah berdandan rapi menyambut kedatangan Bram petang itu, tapi nyatanya Bram belum juga datang. Bram telah bilang bahwa dia akan selalu pulang dari bekerja di luar kota. Laras berdecak ketika melihat jam di tangan. Ini sudah pukul 21.00 malam dan sudah tiga jam dia menunggu. Ponsel Bram pun tidak dapat dihubungi, padahal puluhan kali dia mencoba menghubungi Bram. “Kamu bilang, kamu nggak akan betah LDR-an sama aku,” sungut Laras, bicara sendiri sambil menatap ponsel yang tidak dapat menghubungi tunangannya itu. Seolah ponsel itu sekarang tiada berguna, hampir dia lempar ke ranjang. Namun, diurungkan niatnya ketika teringat ponsel itu adalah pemberian Bram juga. Suara ketukan di pintu kamar membuat Laras turun dari tempat tidur sambil menempelkan benda pipih kesayangannya itu di telinga, berharap Bram akan mengangkat panggilannya. Namun, ketika sampai dan membuka pintu, panggilannya masih saja diabaikan. Ibunya telah berdiri di depan pintu kamar. “Ma, kenapa?” tanya Laras. “Kamu bisa antar Ibu jalan-jalan? Kayla nangis, kangen sama mamanya,” tutur Astrid, mengharap Laras mau mengantar mereka mengitari pusat kota malam itu agar bisa mengalihkan perhatian Kayla. Laras mendesah. Rasanya agak kecewa pada Bram. Dia akhirnya mengangguk, meletakkan ponselnya di ranjang, lalu meraih kunci mobil dan menyanggupi permintaan ibunya untuk mengajak Kayla keluar malam itu. “Kenapa Kak Tisha nggak mau kerja di sini aja sih?” tanya Laras bersungut. “Nyari pekerjaan di kota ini susah, Ras. Apalagi, Tisha Cuma lulusan SMA. Dia mungkin sudah nyaman di luar kota yang mudah cari kerja. Lagian kamu tahu kan soal kakakmu? Dia bisa kerja dengan gaji cukup aja udah bagus banget.” ujar Astrid, teringat betapa beruntung Tisha mendapatkan pekerjaan meski freelance dengan gaji lumayan, tapi dengan status yang disembunyikan. “Udah hubungi Kak Tisha?” tanya Laras. “Udah, tapi belum diangkat. Kayaknya lagi sibuk,” ujar Astrid. Rasa bersalahnya pada Tisha karena dulu mengusir anak pertamanya dari rumah, membuatnya mengerti keadaan Tisha yang mati-matian mencari rejeki sendiri dan membesarkan anaknya sendiri dengan usahanya. “Oh,” sahut Laras karena dia melihat seorang bocah kecil mengerucutkan bibir, mendekap sebuah boneka dan guling yang selalu dia dekap saat tidur. Wajahnya tampak begitu kuyu, tapi sepertinya anak itu berupaya melebarkan kedua matanya demi menunggu sang ibu. Tidak seperti yang dia katakan sewaktu pagi, bersemangat sanggup ditinggal oleh ibunya, dia tampak menyerah sekarang menunggu sang ibu yang biasa ada ketika masa tidur tiba. “Kay, mau jalan-jalan?” tanya Laras, duduk di sebelah bocah yang masih menahan tangisnya itu dengan wajah ditekuk-tekuk. “Kayla mau Mama,” rengek anak lima tahun itu, mengusap kedua matanya yang basah dan memerah karena mengantuk. Masih sesenggukan, sepertinya dia baru saja menangis tersedu. Laras menghela napas. Dia baru saja merasa kesal pada Bram, sekarang keponakannya membuat masalah. Laras nyaris meninggalkan Kayla jika Astrid tidak menegurnya. “Ras, dia masih kecil. Kita harus mengalah.” “Iya, tapi dia udah janji—“ “Ras, anak seusia Kayla mana tau pegang janji kalo perasaan yang mendominasi?” ucap Astrid. Laras mengangkat kedua bahu, lalu berjalan ke carport sambil menekan remote untuk membuka pintu mobil.Astrid membuat Kayla mau masuk ke mobil, lalu Laras baru menyalakan mesin ketika mereka sudah siap. Kayla menatap keluar dengan sedih karena masih merindukan ibunya. “Ras, Bram nggak pulang? Katanya setiap hari dia akan pulang.” Astrid memahami sikap Laras yang kesal karena Bram tidak datang ke rumah. Petang tadi, sepulang kerja, Laras langsung mandi dan berdandan. Astrid menanyai kenapa dia seriang itu. Ternyata, Bram akan pulang dan membawanya jalan-jalan. Namun, sampai jam sembilan malam, Bram belum menampakkan hidungnya. “Kayaknya nggak, Ma.” Astrid tidak berkomentar lagi ketika Laras mulai melajukan mobil keluar dari gerbang. Sayang Sekali Rahman sedang ada urusan dengan teman-temannya selarut itu. Jadi, dia hanya bisa berkeluh pada Laras.Baru saja akan beranjak, Bram tampak datang dengan sepeda motornya dari arah utara. Meski kesal, tapi Laras terbelalak dan menyunggingkan senyum melihat pria itu. “Bram!” teriaknya, mengeluarkan kepala dan melambaikan tangan agar pria itu berhenti. Bram berhenti di sebelah mobil lalu memperlihatkan wajah menyesal. “Maaf, Sayang. Tadi ada banyak urusan. Ternyata, hari pertama banyak sekali yang harus dilakukan,” kilah Bram. Padahal, dia menunggu Tisha keluar dari kantor. Setelah tahu Tisha bersama Liam, dia langsung tancap gas pulang. “Oh, nggak apa-apa. Bram, kamu parkir motor dulu. Trus gantiin aku nyetir. Kayla kangen sama mamanya. Kita ajak jalan-jalan biar dia lupa,” tutur Laras, berpindah ke belakang. Bram mengangguk, lalu melakukan perintah Laras dan masuk ke belakang kemudi. Di samping, Astrid memangku Kayla yang masih terisak perlahan. Astrid lalu sibuk mengelap ingus Kayla menggunakan tissue. Bram segera menyalakan mobil dan melajukan kendaraan keluarga Laras untuk mengitari kota. “Nenek, kapan kira-kira Mama pulang? Apa Mama nggak bisa pulang malam ini juga?” isak Kayla. Meski sudah lima kali mereka mengitari alun-alun kota, tapi Kayla belum juga bisa memejamkan kedua matanya. Dia masih menatap ke depan dengan pandangan sayu. “Kayla, Kayla kan udah dengar tadi Mama bilang kalo Mama mau pulang seminggu lagi?” ucap Astrid mengingatkan Kayla. “Iya, tapi apa nggak bisa kalo suruh pulang sekarang? Kayla mau bobok sama Mama,” rengeknya. Astrid sudah habis akal. Dekapan dan elusan tangan di dahi Kayla pun tidak mampu membuat cucunya itu tertidur. “Kayla mau telepon Mama,” pinta gadis kecil itu. Astrid menghela napas pendek. Saking cemas dengan cucunya, dia kelupaan tidak membawa ponsel. Begitu juga Laras yang tadi kesal dan meletakkan ponselnya begitu saja di atas tempat tidur saat Astrid memintanya untuk membawa Kayla jalan-jalan. Mereka berdua saling berpandangan. Astrid lalu kembali menghela napas. Dia harus menjelaskan pada Kayla bahwa mereka tidak membawa ponsel. “Kay, Nenek sama Tante nggak bawa HP, karena tadi terburu mau aja Kayla jalan-jalan. Kayla mau beli harum manis yang di ujung jalan sana aja, ya? Mau?” bujuk Astrid. Namun, gadis kecil itu tidak terbujuk dengan makanan manis. Dia hanya menginginkan ibunya saat ini. Dia menggeleng lalu kembali menatap ke depan, sedangkan waktu terus berlalu. “Gimana ini? Kalo Kayla nggak mau bobok, besok nggak bisa sekolah,” bujuk Laras dari belakang. “Kayla mau telepon Mama dulu,” sahut anak berambut lurus itu. “Gimana? Kita pulang dulu?” tanya Laras menengok ke samping untuk melihat jalan. Cukup jauh jarak mobil dari rumah. Bram pun berinisiatif mengeluarkan ponselnya dari saku. “Kayla hapal nomor Mama? Kayla bisa pake HP Om Bram,” ujarnya, menyerahkan benda pipih bermerk apel itu. Kayla tampak semringah. Namun, sejurus kemudian, dia merengut. “Om, Kayla nggak bisa ngetiknya.” Ponsel yang berbeda membuat Kayla tidak paham cara mengetikkan nomor ibunya. Astrid membujuk anak itu supaya tidak macam-macam. “Udah, Kay. Mendingan nanti aja.” Namun, Bram tersenyum sambil melambatkan jalannya mobil. “Sini, Om pangku. Nanti Kayla ngetik nomor mama, ya?” Bram menepikan mobil, lalu menerima tubuh kecil gadis dari tangan Astrid itu di pangkuannya. Memandu Kayla untuk mengetikkan nomor ibunya lalu melakukan panggilan video call. *** Tisha merasa lega ketika Liam membelokkan mobilnya ke sebuah restoran seafood usai mengitari kota malam itu selama kurang lebih satu setengah jam. Sungguh bagai menaikkan perasaan Tisha ke atas roller coaster. Beragam pikiran buruk memenuhi benaknya. Tisha masih trauma dengan apa yang dilakukan oleh Liam saat mereka duduk di bangku sekolah dulu. Makanya, Tisha tadi ketakutan saat Liam tidak mengikuti arahannya untuk berbelok ke gang menuju rumahnya. Pria itu sepertinya agak miring otaknya, karena membawa Tisha mengitari kota tidak jelas arahnya sambil sesekali bertanya pada Tisha tentang jalan yang mereka lewati. Tisha sempat menyesal rasanya menerima tawaran Liam karena memang berita kriminal malam yang beredar baru-baru ini cukup meresahkan. Sekarang, mereka telah duduk di sudut ruangan sambil melihat keremangan luar. Melihat kota yang tidak pernah mati, pagi hingga pagi lagi, akan selalu ada gebyar lampu dengan aktivitas orang-orang di jalan. “Aku pengen jalan-jalan aja sambil mengenal kota ini. Aku baru ingat di jalan ini, pernah diajak temen makan di sini. Kebetulan aku lapar. Kamu nggak usah berpikiran aneh-aneh. Aku Cuma mau aja kamu makan malam. Tadi kamu kerja lembur, kan? Jadi, kupikir kamu belum makan. Olahan udang di sini enak.” Ponsel Tisha bergetar. Dia melihat sebuah nomor asing yang menghubunginya. Tisha mengernyitkan dahi ketika melihat jam. Sudah pukul sepuluh malam dan ada orang yang menghubungi. Dia merasa curiga, tapi sekaligus penasaran karena setelah dia biarkan, ponsel itu terus berbunyi. “Kamu mau makan apa?” tanya Liam. Tisha mendadak gugup karena getaran ponsel itu. Dia meringis di hadapan Liam. “Terserah,” sahut Tisha, berpikir bagaimana dia bisa menghindar dari situ dan mengangkat panggilan yang cukup mengganggu itu. Liam memutar kedua bola matanya usai Tisha mengatakan ‘terserah’. “Ternyata, cewek memang seperti itu.” Gerutuan Liam tidak membuat Tisha tetap berada di tempatnya. Dia lalu berdiri dan memasang wajah aneh. “Aku mau ke toilet. Aku kebelet pipis,” ujar Tisha meninggalkan Liam yang terbengong dengan daftar menu. Dia lalu mengendikkan kedua bahunya ketika Tisha berlari ke toilet. Tisha mengangkat panggilan video call saat berada di toilet. “Mama! Mama kenapa lama angkatnya?” serbu Kayla di ujung sana. Dia tampak merengut, membuat Tisha ingin memeluk anak kesayangannya itu. Sayang sekali, mereka terpisahkan oleh jarak. “Kay, kenapa belum bobok?” tanya Tisha heran. Sepertinya seseorang sedang memangku anaknya. “Kayla mau sama Mama, Kayla kangen sama Mama. Mama kapan pulangnya?” desak Kayla yang merengek-rengek. Tisha meraup wajah dan menyugar rambutnya mendengar rengekan gadis kecilnya. Dia sungguh tidak tega, tapi mau bagaimana lagi? “Kayla, Kayla tadi pagi kan udah janji sama Mama? Kayla nggak bakal rewel kalo mau sama nenek dan kakek? Minggu besok Mama pulang, Kayla. Besok Mama mau kerja, kalo Kayla nggak bobok, Mama juga nggak bisa kerja tenang.” “Iya, Ma. Kayla janji kok, abis ini pulang trus bobok.” Gadis kecil itu mengangkat dua jarinya ke atas, tanda janji pada ibunya. Dia merasa agak lega ketika telah bertemu dengan ibunya meski hanya lewat panggilan telepon. “Lho? Pulang? Kayla lagi di mana sih? Sama siapa?” berondong Tisha. “Diajak jalan-jalan sama Tante Laras, Nenek, sama Om Bram. Ini Kayla pake Hpnya Om Bram buat nelepon Mama, abisnya ... Nenek sama Tante nggak bawa HP,” sungut gadis kecil itu. Hati Tisha mencelos mendengarnya. Bram? Lagi-lagi, Bram? Tisha menyugar lagi rambutnya. Kayla, menghubunginya menggunakan ponsel Bram? Bagus! Tisha menggeram dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN