Kecup Balas

1308 Kata
Astrid menatap Bram tersenyum saat dia mengemudi sambil memeluk tubuh kecil Kayla yang memeluknya erat dengan kedua mata terpejam. Laras yang duduk di belakang juga merasa lega karena Kayla bisa tidur nyenyak lima menit usai dia menghubungi ibunya. “Dari tadi dia harusnya telepon. Jadi kita nggak usah muter-muter gini,” gerutu Laras yang tentu saja kehilangan waktunya dengan Bram. Astrid melihat wajah nyenyak cucunya di pangkuan Bram. Dia merasa lega setelah melihat Kayla bisa senyenyak itu di pelukan calon menantunya. Bram pun tidak tampak terganggu. Malah, sesekali dia mengelus kepala Kayla yang agak basah karena keringat. Sepertinya, Bram tidak risih dengan keringat Kayla. Malah, dia menyapu dahi gadis kecil itu dengan telapak tangannya. “Ras, lihat aja dari sini. Kayla kayak nyaman gitu di pelukan Bram. Bram, apa kamu nggak capek nyetir pake satu tangan? Bisa digantiin Laras kalo pegel,” saran Astrid melihat tangan kiri Bram memeluk Kayla dan tangan kanannya memutar kemudi. Bram meletakkan kepalanya di leher Kayla, mendengar embusan napas halus gadis kecil yang tampaknya sudah kelelahan itu, sampai tertidur di pelukannya. “Nggak apa-apa, Tante. Lagian, Kayla anteng kok.” Astrid tersenyum. Dia sangat bersyukur karena Bram bisa membuat Kayla tidur dengan nyaman. Dia merasa trenyuh ketika melihat wajah Kayla. Pasti anak itu sangat merindukan seorang ayah. Andai saja dulu Tisha tidak melakukan kesalahan di masa mudanya dulu? Ah, Astrid bahkan tidak tahu dengan siapa Tisha melakukan kesalahan itu. “Makasih ya, Bram.” Mobil sampai di car pot rumah lagi usai mereka membuat Kayla telah terlelap. Rasanya, Bram sungguh sayang ingin melepaskan pelukan Kayla. Entah kenapa rasanya begitu sayang pada anak perempuan itu. Anak dari seorang wanita yang dulu dia renggut keperawanannya di malam perpisahan. Ah, mengingat itu kepala Bram berdenyut. Rasanya, Bram tidak ingin melepaskan pelukan Kayla. Ada rasa yang tidak bisa dia gambarkan saat memeluk gadis kecil yang cantik itu. Kembali angan Bram melayang ke ibu Kayla. Kenapa dia dipertemukan dengan Tisha dengan cara seperti ini? “Biar saya gendong ke kamarnya, Bu,” sahut Bram yang tidak tega memberikan tubuh Kayla yang telah lemas tertidur di pelukannya. Pikirnya, sekalian saja dia yang membawa Kayla masuk ke kamar daripada mengulurkan tubuh gadis kecil itu hingga membuatnya terbangun. Ini sudah hampir tengah malam. Bram menatap kedua wanita yang turun dari mobil. Mereka akan lelah menuruti Kayla jika anak itu terbangun. Namun, anehnya gadis kecil yang cantik itu tampak nyenyak dalam pelukan Bram. “Baik sekali kamu, Bram. Maaf, kami merepotkan.” Astrid tidak enak sekali. Tentu saja sepulang kerja, Bram lelah. Namun, dia tidak mendapati wajah lelah dari pria itu ketika ikut mengurusi Kayla yang rewel. Dia sangat senang melihat Bram sudah sangat kebapakan, dari sikapnya ke Kayla. “Nggak apa-apa, Tante.” Laras juga hanya diam dan mengikuti Bram dari belakang, sementara Astrid membukakan pintu kamar Kayla. Bram membaringkan tubuh Kayla di atas tempat tidur single bed dengan nuansa princess kesukaan gadis itu. Siang tadi, Astrid telah mengganti sprei putih menjadi sprei kesukaan Kayla agar betah di rumah. Nyatanya, malam ini dia tetap merindukan ibunya. “Papa ....” rengek Kayla, membuat Bram menunda untuk melepaskan pelukan saat dirinya membaringkan gadis itu. Pria itu terpaksa membungkuk sementara waktu agar Kayla tetap terlelap, masih dengan posisi dia peluk dan tidak jadi terbangun. Usahanya sukses membuat Kayla tertidur pulas di dalam selimut yang sekarang Bram tarik untuk menutupi tubuh kecil yang tampak sedikit kurus itu. Bram menatapnya sebentar dengan trenyuh. Tangannya hendak terulur untuk mengelus pipi halus Kayla. Namun, sentuhan tangan lembut di lengannya membuat Bram tersadar. “Ayo, minum dulu.” Laras mengajaknya ke ruang tamu. Bram menghela napas menatap Kayla untuk dia tinggalkan, lalu mengikuti Laras dan menutup pintu kamar Kayla. Dia duduk di sofa ruang tamu dan minum teh hangat buatan Astrid, lalu Laras mengajaknya berbincang. “Gimana suasana kerja di perusahaan baru, Sayang? Apa nyaman buatmu?” tanya Laras dengan sedikit mendekat pada pria itu. Entah, Bram merasa ada sesuatu yang selama ini dia rasa, agak menghilang pada Laras saat ini. Tidak ada gejolak seperti biasanya. Aneh sekali. Mungkin aku kelelahan. “Biasa saja, tapi aku memang harus banyak berbenah, Sayang. Jadi, aku sepertinya harus tinggal di sana beberapa waktu. Mungkin, aku tidak bisa memegang janji untuk pulang setiap hari, Yang. Maaf, ya?” ucap Bram. Nekat saja, tapi Bram sendiri tahu. Dia bicara seperti itu karena ada sesuatu yang ingin dia tuju. Bukan pekerjaannya, dan dia sendiri tidak paham ketika melihat Latisha telah bersama dengan Liam, tapi Bram masih inginkan berdekatan. “Yaah.” Ada raut kecewa di wajah Laras. Dia baru saja merasakan jatuh cinta pada seorang lelaki yang benar-benar serius padanya, tapi mereka harus terpisahkan oleh jarak dan waktu. Laras harus melapangkan hatinya untuk itu. Dia menatap Bram yang kembali menyeruput tehnya, tidak seperti biasa pria itu tidak balas menatapnya. “Sayang ....” Laras meletakkan tangannya di atas tangan Bram. Pria itu menoleh pada Laras. “Aku takut kalo LDR. Kamu akan berpaling,” ucapnya lirih, merintihkan perasaan yang sedang dia rasakan saat ini. Bram menarik napas perlahan. Berpaling? Apakah memang kata itu yang sedang dia lakukan? Pria itu tersenyum pada Laras, lalu memegang tangannya dan menggenggamnya. “Nggak akan,” sahutnya, mengacak rambut Laras. Rasanya tidak tega untuk menyakiti wanita yang mengingatkannya pada Tisha sewaktu pertama kali bertemu. Ya, jujur saja, Bram menyukai Laras karena wajahnya mirip dengan Tisha. Ternyata wajah yang mirip itu adalah adik Tisha, pantas saja. “Oke.” Laras memaksakan diri untuk tersenyum. Masih ada keraguan di wajahnya. “Eh, itu ... mmm, aku mau tanya sesuatu. Ayah Kayla di mana? Kenapa Kayla nggak tinggal sama ayahnya? Dari awal aku datang, aku belum berkenalan,” tanya Bram, sebenarnya ingin menelisik tentang apa yang mengganggu pikirannya. Laras menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tentang itu, dia harus menutup aib yang sudah hampir sempurna ditutup oleh keluarganya. Cerita tentang Tisha saja, dia sembunyikan dari Bram dan memang maksudnya mengatakan bahwa dia memiliki seorang kakak saat bertunangan. Jadi, Bram baru tahu Laras memiliki kaka bernama Tisha ketika mereka telah bertunangan. Laras harus mengatakan apa yang seringkali dikatakan orang tuanya jika orang-orang bertanya tentang ayah Kayla. “Papanya pergi begitu saja waktu Kak Tisha melahirkan. Jadi, Kayla belum pernah melihat papanya.” Bram menunduk usai mendengarnya. Jadi benar, Tisha telah menikah dan berpisah dengan seorang pria lain. Tentang Kayla, mungkin Bram harus menepis tebakannya sendiri. Mungkin Bram harus percaya, tidak semua hubungan badan yang pertama, bisa menghasilkan benih seorang anak. Malam itu telah sunyi. Laras menatap Bram dengan mesra. Tidak ada siapapun di rumah. Astrid telah tidur dan Rahman belum kembali dari urusannya dengan saudara di luar. Dipandangi seperti itu, Bram rasanya tidak seperti biasa. Dia jengah, beringsut lalu bergerak dengan tidak nyaman. “Sayang, ini udah malem banget. Aku mau pulang dulu. Besok aku harus berangkat pagi-pagi,” ucapnya, menatap sebentar pada Laras yang tentu saja kecewa. Malam itu memang terlalu larut untuk Bram bertandang. Biasanya satu jam yang lalu dia sudah pulang, tapi sekarang dia harus pamit. Sebenarnya bukan karena waktu, tapi Bram merasa ingin segera pulang. “Oke. Besok hati-hati ya, Sayang?” ucap Laras, mendaratkan kecupannya di pipi kiri Bram. “Iya.” Kecupan yang sekarang tidak lagi terasa hangat. Bram merasa bersalah menatap wajah Laras yang mengharapkan kecupan balasan seperti biasa. “Kamu kenapa sih, Sayang? Kok aneh lama-lama?” tanya Laras mengerutkan dahi. “Nggak tau, mungkin aku agak pusing.” Bram meletakkan tangannya ke dahi. Lalu berlagak sakit kepala. “Ini pasti gara-gara tadi ngurusin Kayla, ya? Maaf ya, Sayang?” sesal Laras. “Nggak, bukan itu. Aku Cuma pengen istirahat. Boleh aku pulang sekarang?” tanya Bram, menutup mulutnya seolah menguap tanda kantuk datang. Laras hanya mengangguk dan menyimpan tanya dalam benaknya melihat Bram segera beranjak tanpa mengecup balas keningnya. Dia menatap punggung kekasihnya itu yang beranjak begitu saja dari sofa. Mungkin dia lelah. Laras hanya mencari penenangan diri dan mengantarkan pria itu ke depan pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN