Bram memijat kening ketika sampai di apartemen. Rasa pusing tidak juga hilang, bukan karena sakit, tapi pikiran tentang hari itu yang memporak- porandakan kedamaian yang baru saja dia rasakan setelah melupakan sedikit soal Tisha. Namun, kenapa riak terjadi ketika air mulai tenang. Dia menghempaskan tubuh ke ranjang. Dingin malam itu tidak mampu membuatnya tertidur. Segala bayang tentang Tisha, melayang di kepalanya.
Sementara itu, Liam mengantarkan Tisha sampai di depan rumah.
“Besok kamu boleh libur,” ucapnya merasa kasihan pada Tisha yang telah menemaninya seharian ini.
“Memang jadwalku libur,” sahut Tisha lirih dengan sedikit kesal karena keotoriteran pria itu, tak terdengar oleh Liam. Sebagai pekerja freelance, sebenarnya dia tidak terikat oleh jadwal, tapi kehadiran Liam mengganggu jadwalnya yang telah ada selama ini. Segalanya menjadi kacau hari ini, tapi dia agak bersyukur karena adanya Liam, dia bisa terbebas dari Bram.
“Eh, soal Bram. Kenapa orang itu bisa datang ke kota ini?” tanya Liam, teringat dengan teman SMUnya itu sebelum Tisha masuk ke dalam rumah.
Tisha menghela napas. Ruwet sekali pikirannya. Memejamkan kedua sejenak dan menarik napas panjang lalu mengembuskannya. Terbayang lagi saat tadi dia melihat di layar ponsel Kayla dipangku oleh Bram dan menghubunginya dengan nomor Bram. Itu cukup mengganggunya. Sekarang Liam menanyakan soal Bram. Tisha menatap Liam dengan pandangan lelah.
“Memangnya aku ibunya? Mana aku tau?” tukas Tisha.
Liam memutar kedua bola matanya mendengar ucapan Tisha barusan. Ada nada tidak suka ketika pertanyaan itu meluncur dari mulut Liam. Liam tersenyum tipis mendengar jawaban yang menohok dari mulut Tisha, wanita yang masih tampak cantik di matanya, bahkan sekarang makin cantik dan dewasa penampilannya.
“Oke, tapi aku juga nggak suka kalo cowok itu mengganggu pekerjaanmu.”
Tisha mengerutkan dahi. Dia heran sekali dengan Liam. Kenapa pria yang tidak menyukainya sejak duduk di bangku sekolah itu sekarang perduli padanya. Apalagi soal Bram.
“Mungkin nggak akan. Aku berusaha menjaga professionalisme.”
Tisha masuk ke dalam rumah usai mengatakan hal itu dan membiarkan Liam masih berdiri di belakangnya. Liam menyunggingkan senyum tipis lagi, lalu kembali masuk ke mobil usai Tisha masuk dan menutup pintu rumah. Waktu telah menunjukkan pukul dua belas malam dan dia harus pulang kembali ke apartemennya.
“Tisha, baru pulang?” tanya Ranti, bibinya yang tinggal di rumah itu, bersamaan dengan suara deru mobil Liam menjauh dari depan rumah.
Tisha merasa bersalah karena membuat Ranti menunggunya selama beberapa jam, tidak seperti biasanya.
“Iya, Bi.”
“Siapa tadi yang nganterin kamu?” tanya Ranti. Rasanya dia bertanggung jawab dengan adanya Tisha di rumahnya. Ranti tidak memiliki siapa-siapa, maka keberadaan Tisha menjadi teman untuknya. Dia sebenarnya senang dengan adanya Tisha, dan dengan itu dia selalu memproteksi Tisha.
“Itu manager baru Tisha, Bi. Dia mau Tisha temeni di rumah makan. Dia belum ngerti seluk beluk kota ini. Jadi dia minta Tisha nemenin. Ya, tadi makan sebentar juga sih.”
Ranti mengerutkan dahinya.
“Bibi nggak suka walau dia manager, tapi kalo bawa perempuan sampe jam segini, itu nggak bagus juga. Kamu perempuan dan itu berbeda kalo laki-laki yang keluar sampe jam segini.”
Tisha tersenyum dengan wajah haru, memeluk bibinya. Dia mengerti, kekhawatiran bibinya itu, melebihi rasa khawatir seorang ibu. Apalagi, Tisha pernah melakukan sesuatu yang tabu, hingga harus melahirkan tanpa seorang suami. Itupun merupakan faktor ketidakpercayaan Ranti padanya. Tisha tidak merasa kesal karena bibinya melakukan itu karena sayang padanya.
“Iya, Bibi sayang. Tisha nggak akan lagi pulang larut malam. Ini, Tisha bawakan lauk kesukaan Bibi.”
Tisha mengulurkan satu kantong berisi kotak foam pada bibinya. Memeluk bibinya untuk mengajak ke ruang makan.
“Udah Bibi bilang kamu nggak usah repot-repot bawain macam-macam, Tisha. Kamu sama Kayla di sini aja, Bibi udah senang. Sayang, Kayla udah sama kakek neneknya,” ucap Ranti mendesah melihat kelakuan Tisha yang seringkali memanjakannya menggunakan uang gaji Tisha.
Rasanya rindu ketika mengingat anak yang sedari kecil Ranti asuh. Dia yang hanya sepupu dari Astrid, hanya mendesah, melapangkan dadanya untuk bersikap legowo. Karena pada akhirnya apa yang dia rawat seperti cucu sendiri akan kembali pada keluarganya sendiri. Ranti yang hidup sendiri merasa kesepian, tapi terhibur dengan adanya Tisha dengan anak perempuannya, Kayla.
Sekarang tinggal Tisha yang menemaninya. Bagaimana dia akan membiarkan Tisha kembali terjerumus ke lubang yang sama seperti dulu?
“Bibi udah kenyang malam ini. Mendingan, ini Bibi kasihkan ke kulkas, ya?”
“Sini, Bi. Aku yang masukkan ke kulkas.”
Tisha meraih plastik itu dan memasukkannya ke dalam lemari es.
“Ayo, Bi. Sekarang kita bobok. Tisha ngantuk. Besok kita ke pasar, Tisha libur,” ujar Tisha menghibur bibinya yang tampak mengantuk itu. Selama bersama bibinya, Tisha merasakan kasih sayang yang sama dari seorang ibu. Ratih tidak pernah sekalipun berkata kasar pada Tisha maupun Kayla.
Karena itu, Tisha sangat menyayangi bibinya.
***
Bram meraih ponselnya. Dia teringat dengan riwayat panggilan telepon yang tadi dilakukan oleh Kayla. Bram menggulirkan layar benda pipih kesayangannya itu dan menemukan sebuah nomor baru di daftar panggilan keluar.
Bram menyimpan nomor itu dengan nama Kayla. Dia mencari di daftar nama aplikasi hijaunya. Benar saja, wajah Tisha dengan Kayla muncul di sana. Bram menatap dua wajah itu.
“Tisha.”
Usai puas melihat foto profil, Bram mengetikkan sejumlah kalimat yang niatnya dia kirim pada Tisha. Namun, berkali-kali jemarinya itu menghapusnya, mengetik lagi lalu berakhir dengan menghapusnya kembali. Bram tidak jadi mengirimkan pesan. Dia hanya menerawang ke langit-langit ruang apartemen. Warna putih yang biasanya tidak menarik perhatiannya itu, sekarang dia pandangi untuk menggambarkan wajah Tisha di sana.
Sebuah notifikasi pesan singkat, membuatnya terkejut. Bram mengangkat kembali ponsel yang baru dia genggam. Laras mengiriminya pesan baru.
Laras: Belum bobok?
Bram: Ini, udah mau tidur.
Laras: Oh, oke. Met malem, Sayang. Met tidur.
Bram: Met malem juga, Sayang. Met tidur.
Terlalu singkat, tapi Bram memang ingin mengakhiri chat itu dengan memejamkan mata. Biasanya mereka menghabiskan waktu dengan chatting, tapi Bram merasa enggan dan seolah memperlihatkan bahwa dia sedang sibuk sekali. Ini waktu yang tepat untuk menghindar karena dia memang sedang merombak perusahaan baru milik ayahnya. Bram kembali ke angan-angan sampai terpejamnya kedua mata.
“Tisha!”
Bram terbangun dengan terengah-engah, terduduk di tempat tidurnya. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulit ketika terbangun dari mimpi. Bram meraup wajah. Masih terasa degub jantungnya yang dulu pernah dia rasakan setiap hari ketika kehilangan Tisha. Kali ini, rasa itu kembali lagi. Bram turun dari tempat tidur dengan terhuyung dan membuka lemari es, mengambil sebotol air dingin lalu meneguknya.
“Sial.”
Mimpi buruk itu membayanginya lagi. Mimpi yang telah lama tidak menghantuinya, kali ini datang lagi seiring kehadiran Tisha dalam hidupnya. Bram meletakkan botol kosong ke dalam tong sampah, lalu menarik napas panjang dengan menekan sisi meja.
“Tuhan, apa yang harus aku lakukan?” desis Bram.
Rasanya tertekan sekali. Bayang Tisha, Kayla, Laras menari-nari di benaknya. Bram kembali ke tempat tidurnya. Dia mengambil ponsel, lalu kembali mencoba menghubungi Tisha.
Bram: Tisha, nanti siang aku ingin bertemu denganmu. Di mana aku bisa jemput?
Nekat saja pagi buta itu Bram mengetikkan pesan untuk wanita yang menghantuinya. Dia ingin sekali berbincang lama dengan Tisha. Mengorek kisah lama, apa yang terjadi pada Tisha selama enam tahun setelah kejadian satu malam itu.
Gelisah.
Bram merasa tidak tenang cukup lama, lalu memejamkan kedua matanya karena lelah.
***
Decak keluar dari mulut Tisha ketika melihat pesan dari nomor yang kemarin digunakan oleh Kayla untuk melakukan video call dengannya. Pesan itu, dia hapus begitu saja.
“Mengganggu, apa yang mau dia lakukan,” sungutnya ketika bangun di pagi harinya.
Segalanya telah rapi. Selimut serta tempat tidur telah dia bersihkan. Tisha bersemangat mengajak bibinya untuk berbelanja pagi itu. Namun, sebuah ketukan di pintu membuatnya menunda untuk menemui bibinya di dapur.
“Siapa, Sha?” tanya Ranti.
“Sebentar, Bi. Aku juga nggak tau.”
Tisha berjalan ke arah pintu. Sepagi itu, dia tidak pernah menerima seorang tamu. Mungkin tetangga atau siapa entahlah. Yang jelas sekarang Tisha terperanjat melihat Liam telah berada di depan rumah dengan rapi dan menenteng sebuah kantong plastik.
“Bubur ayam buat makan pagi,” ujarnya tanpa menunggu sambutan dari Tisha.
“Emmm,” sahut Tisha tidak dapat berkata-kata.
“Nih,” ujar Liam, menyodorkan plastik itu ke tangan Tisha setengah memaksa.
“Aku antre selama satu jam untuk bubur yang katanya paling lezat sekota ini. Buat sarapan kamu dan bibimu. Aku kerja dulu,” pamit Liam setelah Tisha menerima bungkusan itu tanpa berbicara.
“Makasih!” teriak Tisha setelah tersadar.
Liam menaiki mobilnya dan menutup pintu mobil dan kemudian menekan klakson mobilnya. Tisha menatap mobil hitam itu berlalu dari pandangannya.
“Siapa, Sha?” tanya Ranti lagi.
“Temen, Bi. Nganterin bubur ayam. Bibi mau?” tawar Tisha, mengendus bubur itu. Tiba-tiba dia ragu. Masih lekat di dalam pikirannya tentang kejahatan Liam. Mungkin saja dia menaburkan bubuk racun ke dalamnya.
Tisha menatap tong sampah di dapur. Dia masih bimbang antara percaya dengan kebaikan Liam atau tidak. Tisha memilih untuk membuangnya ke sampah. Ya, semua yang Liam lakukan membekas hangat di kepala. Masih ada bekas luka di tangan akibat terperosok ke selokan karena dorongan tangan pria itu.
“Dia pasti punya dendam padaku.”
“Apa, Sha?”
Ranti mendatangi Tisha dari dapur. Namun, Tisha membatalkan tawarannya.
“Nggak jadi, Bi.”
Ranti hanya mengerutkan dahi melihat kelakuan Tisha. Kemudian matanya menangkap plastik yang teronggok di tong sampah. Bau gurih tercium dari tong yang selalu bersih itu. Ranti menarik sedikit plastik putih yang kelihatannya masih baru dibuang. Ranti yang curiga dengan bungkusan baru itu, mengintip sedikit isi di dalamnya. Dia terkejut melihat makanan putih pekat dengan irirsan daging yang mengeluarkan asap tipis dan rterasa hangat di punggung tangannya.
“Astaga, ini bubur masih anget.”
Ranti hanya menggelengkan kepala tidak mengerti dengan apa maksud Tisha.