Tunjukkan Ayahnya

2021 Kata
Sebuah notifikasi pesan kembali sampai di ponsel Tisha. Wanita itu meraih benda pipih yang menganggur sedari tadi, satu jam yang lalu di atas meja, menemani sang pemiliknya menerawang jauh ke luar jendela usai melihat pesan Bram yang tadi. Bram : Tisha, aku akan menunggumu di sini sampai kamu datang. Ada hal penting yang mau aku bicarakan. Ini soal Kayla. Selesai membaca pesan singkat itu, Tisha menghela napas. Kenapa Bram membicarakan tentang Kayla? Apa setelah meminjaminya ponsel pada Kayla, Bram bisa leluasa dengan dirinya? “Urusan apa sama Kayla? Kenapa dia begitu berisik? Bukankah melangsungkan pernikahan dengan adikku juga tidak mengangguku?” gumam Tisha, meski nadanya miris, terasa ada sesuatu yang tersayat di dalam hatinya. Tisha terkekeh tanpa alasan. Dia menertawakan dirinya sendiri. Namun, seperti bagaimanapun, seorang ibu yang teringat anaknya ketika jauh, tidak bisa mengelak dengan pikirannya. Dia pun memencet nomor Astrid, ibunya di rumah. Tepat siang itu, pukul dua, biasanya sekolah TK telah usai beberapa jam yang lalu. Tisha merasa rindu pada anaknya dan ingin mengetahui sedang apa Kayla saat ini dan melupakan Bram yang masih duduk menantinya. “Ma, Kayla udah pulang?” tanya Tisha saat ibunya mengangkat panggilan. “Udah, dia lagi di kamar. Tadi Kayla makan sedikit, Sha. Makanan apa sih yang Kayla suka? Udang goreng tepung, Cuma dicomot satu. Ayam goreng crispy, ya Cuma dimakan sekali, habis itu dia nggak mau lagi. Sampe Mama masakkin sup brokoli, masak bening bayam juga sup jagung sampe meja makan udah kayak restoran, tapi Kayla nggak mau makan banyak.” Tisha memijat pangkal hidungnya. Tidak biasanya Kayla mogok makan seperti itu. Bahkan, ayan goreng yang biasa dia suka tidak mau dia makan lagi. Apa mungkin tidak enak? Ah, tidak mungkin. Astrid pasti membelikannya di gerai makanan yang paling enak. Tisha tau itu. Meski semula Astrid tidak suka dengan kesalahan Tisha, tapi dia tahu Astrid tidak akan bersikap yang buruk pada Kayla yang tidak mengerti semua ini. “Apa dia kepengen sate ayam kesukaannya, Ma?” tutur Tisha memberikan ide. Terdengar helaan nafas di ujung sana. Sepertinya Astrid sudah pasrah. “Tadi juga udah Mama tawari sate di ujung gang, tapi baru selangkah ke teras, Kayla menarik tangan Mama, bilang nggak jadi.” Tisha sekarang yang menghela napas, bingung sekali dengan anaknya. Apalagi, sekarang dia jauh dengan sang anak. Mau membujuk bagaimana caranya? Dia baru merasa sesulit ini rasanya seorang ibu yang terpisah dari anaknya. “Coba aku bicara sama Kayla, Ma.” Astrid beranjak sambil meminta Tisha untuk menunggu sebentar. Dia lalu membawa ponselnya yang masih menghubungkan dengan Tisha itu, ke kamar Kayla dengan berjalan agak cepat. Dia lalu tersenyum melihat Kayla di dalam sana dan mengulurkan benda pipih itu ke tangan kecil sang gadis, cucunya yang dia sayangi sedang memainkan boneka barbie kesukaannya. “Kayla, ini Mama nelepon, mau ngomong sama Kayla.” Dengan wajah semringah, gadis kecil itu meletakkan boneka-boneka, lalu menerima ponsel neneknya dan dengan lihai mengganti mode telepon dengan mode video call. Astrid menggelengkan kepala, memuji ketangkasan anak sekarang dalam hal teknologi. Dia sudah kalah banyak saat ini. “Halo Mama,” sambutnya riang melihat wajah ibunya di layar. Tangannya terlambai cepat di layar. Rambut dibiarkan tergerai dengan keringat di dahi. “Kamu kok keringetan? Nggak dikuncir kayak sekolah tadi rambutnya?” tanya Tisha, melihat anaknya. “Nggak,” sahut Kayla cepat seraya tersenyum, mengibaskan rambutnya. Senyum Tisha terbit kala melihat Kayla yang sehat dengan semringah di ujung sana. Matanya menghangat karena kerinduan, tapi dikedipkannya agar tidak membuat Kayla rewel melihatnya menangis. Hatinya rapuh melihat sang anak berjarak jauh darinya. “Ya udah, Kayla Sayang, lagi ngapain?” tanya Tisha. Rasa rindu yang tadi menyeruak di hatinya, terasa sesak di d**a. Baru dua hari rasanya sudah setahun tidak bertemu dengan gadis kecilnya itu. “Mainan sama Princess Queensya, Princess Olivia dan Princess Diana.” Tiga nama boneka yang dihapal oleh Tisha. Boneka yang menjadi favorit Kayla. Tisha tersenyum mendengarnya dan melihat suasana kamar. Astrid menyunggingkan senyum melihat cucunya ceria. “Oh, pasti keasyikan kalo udah maen sama mereka bertiga, kan? Kayla udah maem?” tanyaTisha. Wajah anak itu berubah murung dengan bibir mengerucut, seperti enggan menjawab apa yang ditanyakan ibunya. “Udah,” sahutnya lirih. “Tapi dikit,” imbuh Astrid, seperti mengingatkan Kayla bahwa tadi dia hanya makan tiga sendok nasi saja. Sisanya hanya makan daging ayam, itupun tidak habis. Kebetulan ada ibunya, Astrid menggunakan kesempatan itu agar Tisha bisa membujuk. Siapa tahu dengan nasihat ibunya, Kayla bisa menurut. “Kay, makan yang banyak, biar nggak gampang sakit. Kamu kenapa sih nggak mau makan? Ayam crispy yang dibelikan Nenek pasti enak, kan?” tanya Tisha gemas. Kayla masih mengerucutkan bibir lagi sambil mengerutkan dahi. “Enak, tapi Kayla males maem.” Astrid dan Tisha menghela napas, meski di tempat yang berbeda. Tisha tak hentinya membujuk Kayla. Dia tahu, anaknya itu pasti ada unek-unek yang membuat selera makannya terkikis. “Kayla kenapa males maem? Lidahnya pahit? Kayla sakit?” tanya Tisha memberondong kemungkinan-kemungkinan kenapa anaknya tidak mau makan. Tampak hanya dinding yang terlihat di layar. Sepertinya Kayla meletakkan benda pipih milik neneknya itu di karpet. Namun, dia masih mau bicara. Jadi Tisha hanya mendengar suara Kayla saja, bukan lagi dengan melihat wajahnya. “Nggak sakit.” “Jadi kenapa?” Tisha merasa resah dan jengkel agaknya, karena dia hanya bisa melihat langit-langit kamar yang berwarna putih dengan sebagian lampu gantung yang menghiasinya. Apa gadis kecil itu tidak tahu rindu Tisha sudah menggunung? “Tadi kan, Om Bram nganter Kayla sampe ruang kelas. Di sekolah temen-temen pada lihat trus nanyain Om Bram. Mereka bilang kalo Om Bram itu pasti ayahnya Kayla, tapi Kayla bilang bukan. Eh, kata mereka Kayla pembohong,” ucap gadis kecil itu, agak menahan tangis. Tisha memejamkan kedua matanya, menahan sesak. Dia merasa gemas sekali dengan anak-anak yang menanyakan soal Bram pada Kayla. Kalau bisa, dia ingin sekali menjewer telinga-telinga anak-anak yang telah mengatai Kayla pembohong. Eh, tapi tunggu, kenapa anak-anak itu tahu soal Bram? “Kok Om Bram? Memangnya tadi dianter Om Bram masuk?” tanya Tisha kaget dan menduga-duga. “Iya, Sha, tadi Om Bram ikut masuk ke sekolahan.” Sahutan ibunya membuat Tisha menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Kenapa jadi begini? Kenapa Kayla sampai meminta Bram untuk mengantarnya masuk ke dalam sekolahan? Mengantarnya ke sekolah saja sudah membuat pusing, apalagi sekarang jadi masalah ketika Bram masuk hingga kelas Kayla. Sekarang, Astrid yang memegang ponsel, lalu dia mengarahkan layarnya ke Kayla yang sedang duduk di tepian tempat tidur. “Kayla, apa Kayla yang minta dianterin masuk ke sekolahan?” tanya Tisha, meminta penjelasan pada anaknya. Di layar, tampak Kayla diam, tidak membantah dan tidak juga membenarkan pertanyaan itu. Tisha menghela napas berat. Sungguh, dia tidak ingin keduanya berdekatan. Dia menyesali kenapa Kayla harus minta Bram untuk mengantarkan ke sekolah. “Kayla, Kayla harusnya tadi nggak boleh kayak gitu! Om Bram kan punya urusan penting. Jadi Kayla harusnya ngerti dong. Harusnya tadi pagi bisa dianterin Kakek.” Wajah Kayla tak tampak lagi. hanya terdengar tangis gadis kecilnya. Tidak keras, tapi Tisha bisa mendengarnya. Lalu, Astrid meraih ponsel di atas karpet itu. “Tadi Bram juga nggak keberatan, Sha.” “Nggak gitu, Ma! Nggak boleh, Kayla nggak boleh ngerepotin calon Omnya! Sekarang jadi masalah, kan?” Tiba-tiba rasa sesak di d**a Tisha. Dia tidak sadar bisa mengeluarkan kalimat yang cukup keras, akibat dorongan dari dadanya. Dia sungguh tidak ingin anak perempuannya dekat dengan Bram. Bagaimana bisa setelah malam itu, waktu Kayla meminjam ponsel Bram dan Tisha tidak tahu apa yang terjadi, Kayla bisa dengan seenaknya meminta Bram mengantarkannya sekolah hingga teman-temannya menyangka yang tidak-tidak. Dia tidak habis pikir jika para guru juga melihat pria itu. Apa mereka ngobrol, apa mereka akan bertanya-tanya Ah, Tisha menyugar rambutnya dengan kesal. “Bram nggak ngerasa repot, tadi Mama juga udah bilang, Sha. Ya mungkin dia nggak tega buat lihat Kayla jalan sendiri masuk ke kelasnya.” “Tapi, Ma—“ “Kayla pusing! Kayla pengen punya ayah! Tadi waktu di sekolah, temen-temen Kayla nyangka Om Bram itu papanya Kayla karena mirip, tapi waktu Kayla sangkal, mereka malah bilang Kayla pembohong dan minta Kayla buat nunjukkin papa Kayla yang asli!” Gadis kecil itu tak kalah berteriak dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia menelungkup dan menangis meraung. Astrid merasa bingung dengan cucunya itu. Sedangkan Tisha kembali memijat keningnya, tak kalah pusing dengan Astrid. “Sha, udah tutup dulu, ya? Biar Mama bujuk Kayla. Ada papa juga kok. Nanti biar Kayla tenang dulu.” Tisha hanya mengangguk dan menutup sambungan teleponnya. Dia berdecak dengan apa yang barusan dia lihat. Kayla tidak mau makan, tidak selera karena teman-temannya bilang dia pembohong, lalu memintanya untuk menunjukkan sosok papa asli karena Bram mengantarkannya ke sekolah dan Kayla bilang itu adalah omnya. “Sinting.” Segala macam pikiran berkecamuk di otaknya. Dia duduk di kursi, lalu meletakkan kedua siku di atas meja dan meraup rambut yang tergerai di samping ke belakang, menahannya sambil berpikir. “Benar kan, ini jadi masalah? Harusnya tadi pagi aku bisa bujuk Kayla biar nggak dianter Bram.” Masalah kecil, jadi begitu besar kali ini. Hanya karena celotehan anak-anak yang melihat Bram, menjadikan Kayla mendapatkan tekanan. Tisha beranjak dengan jengkel, lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian casual, mengikat rambut seadanya seolah tidak ada yang penting yang akan dia temui. Dia beranjak menyambar tasnya. *** Sorot mata nanar sekarang menatap lurus ke arah Bram. Pukul tiga sore, tiga jam sudah Bram duduk di restoran itu dan sekarang wanita yang dia tunggu baru muncul. Itupun dengan wajah yang masam. “Jangan lagi kamu dekati Kayla.” Ucapan itu membuat Bram harus tersedak saat menyeruput kopinya. Sedangkan, Tisha hanya meminta satu botol air mineral dan Cuma dia putar-putar saja sedari tadi. “Kenapa?” tanya Bram, usai mengelap bibirnya yang basah karena kopi latte yang dia seruput tadi. Tisha membuang pandang karena sempat melihat bibir itu. Bibir yang pernah menelusuri bagian tubuhnya di saat dia menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita. Ingatan itu kembali melintas. Masih terasa sakit hatinya mengingat peristiwa malam itu. Pemaksaan, berakhir dengan malu yang keluarganya tanggung hingga dia harus membawa aibnya ke luar kota demi menyelamatkan nama baik keluarga. “Aku ibunya dan aku berhak menentukan dengan siapa dia bergaul. Jangan lagi kamu temui Kayla, Bram.” “Tapi aku Omnya, Tisha. Jadi apa salahnya kalo aku temui dia?” tukas Bram, menatap puas wajah yang selama ini dirindukannya. Degup jantungnya sudah agak terkendali ketika menghadapi Tisha dengan kemarahannya. “Salah! Aku bilang salah! Kamu bisa membawa masalah untuknya.” “Apa masalahnya kalo aku hanya Omnya?” desak Bram yang tidak mengerti dengan pembicaraan Tisha. Tisha berdecak. Dia sungguh benci dengan pria yang ada di hadapannya itu. Ingin rasanya tidak menemui pria ini, tapi karena kondisi Kayla yang mendesak, dia harus menemui Bram. Apa yang tidak seorang ibu lakukan untuk anaknya? Tisha tidak bisa menjawab. Ya, apa masalahnya? Dia menghela napas dan melipat tangan. Membiarkan botol berisi air mineral utuh yang tidak dia minum sama sekali. “Gara-gara kamu, Kayla mogok makan. Teman-temannya mengira kamu ayahnya, padahal tidak dan dia dibilang pembohong karena menyangkal!” ucap Tisha terpaksa jujur. Bram hanya tersenyum mendengarnya. “Ya, kalo gitu, bawa ayahnya menemui Kayla untuk membuktikan pada teman-teman Kayla bahwa dia punya ayah dan aku tidak akan lagi mendekati Kayla. Beres, kan?” ujar Bram. Tisha menyandarkan punggungnya mendengar ucapan Bram. Sesimple itu, tapi sangat sulit. Dia tidak membalas ucapan Bram. “Kamu pikir itu mudah? Itu nggak semudah membalikkan tangan, Bram!” “Lalu apa kesulitanmu? Aku akan bantu carikan ayah kandungnya. Tinggal kamu bilang siapa papa Kayla, identitasnya. Aku akan hubungi pihak-pihak yang bisa membantu.” Tisha Cuma berdecih, membuang pandang ke jendela. Semudah itukah? Apa pria di depannya itu tidak mabuk saat bicara? “Kayla tertekan—“ “Iya, kasihan Kayla. Solusinya Cuma bawa ayahnya kepada Kayla agar senyumnya kembali.” Bram menghentikan kalimatnya, lalu bergerak mencondongkan tubuh untuk menatap Tisha dengan melanjutkan ucapannya. “Atau ... memang ada yang kamu sembunyikan dari Kayla tentang ayah kandungnya?” imbuh Bram, menatap lekat pada Tisha yang terhenyak dengan pertanyaan itu. Wajah Tisha sontak memucat. Pias terasa usai mendengar Bram bertanya. Dia bersikap salah tingkah kali ini. Tangannya bergetar, meremas kedua sisi kausnya karena gugup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN