Meski cozy, suasana cafe itu terasa tidak nyaman bagi Tisha. Sebenarnya dalah hati gelisah. Dia memutar tutup botol dengan tergesa, lalu menyeruput air putih yang sebenarnya bukan untuk menghilangkan dahaga, melainkan hanya untuk mengalihkan ‘mati gaya’nya karena ditanya oleh Bram seperti itu. Pandangan Tisha mengarah ke luar. Untuk menutupi kegelisahannya.
“Aku permisi.”
Tidak tahan lagi dengan pandangan lekat Bram menunggu jawaban yang tidak dapat Tisha lontarkan, wanita itu berdiri setelah membuka tasnya sebentar. Dia meletakkan selembar uang biru di atas meja.
“Untuk sebotol air putihku. Aku bisa bayar sendiri,” ujarnya, lalu mengalungkan tas dan meninggalkan Bram yang terhenyak karena sikapnya.
“Kamu belum jawab pertanyaanku.”
Tisha berdiri sambil menghela napas dengan susah payah karena degup jantung yang tidak dapat dikendalikan. Namun, dia harus bisa berusaha agar tidak tampak gugup. Dia menyeringai tipis, menengok ke belakang. Di sana, di meja mereka tadi, pria itu berdiri menatapnya.
“Itu bukan urusanmu.”
Langkah kaki Tisha tak mampu ditahan oleh Bram. Dia tahu, jika menahan wanita itu, pasti dia akan makin marah. Bram tidak menyangka perubahan besar dalam diri Tisha selama enam tahun belakangan ini. Berbeda sekali dengan Tisha yang pemalu dan pendiam kala itu, kala duduk di bangku sekolah.
Bram hanya menyunggingkan senyum, meski pertemuan itu tidak bisa disebut dengan kencan manis, tapi hatinya agak terobati bisa bertemu dan berbincang dengan Tisha. Bram segera membayar pesanan mereka, lalu meninggalkan selembar uang biru itu untuk tip pelayan.
***
Tisha berjalan cepat ke arah yang sekiranya tidak dilalui mobil Bram. Nyaris berlari, dia tidak kuat lagi untuk menahan sesak di dadanya. Kesal, kecewa, marah, sekaligus sedih. Rasa yang bercampur itu, mempercepat langkahnya.
“Sialan. Kenapa aku terjebak dalam pertanyaannya?” gerutu Tisha yang tadi mati kutu karena tidak bisa menjawab ucapan Bram.
Menghadirkan ayah Kayla?
Senyum miris Tisha terbentuk sembari langkahnya menelusuri trotoar. Gemuruh di hatinya sekarang agak reda. Dia hanya tertawa kering dengan ucapan Bram tadi.
“Mustahil sekali aku menghadirkan ayah Kayla,” ucapnya sendu, menatap sepasang suami istri dengan anaknya yang seusia dengan Kayla.
Anak perempuan seusia enam tahun itu tergelak ketika digendong dan diciumi oleh ayahnya. Rasa iri menelusup dalam hati Tisha. Dia sangat teringat dengan Kayla. Mungkin, anak itu merasakan apa yang dia rasa saat ini. Rindu akan keluarga utuh yang membahagiakan.
Terdengar bunyi klakson mobil.
Tisha terperanjat dari lamunannya saat melihat Bram sudah membuka kaca mobil dan menepi di depannya, menghentikan mobilnya.
“Aarrgh! Kenapa dia, dia, dia,” gerutu Tisha, merengut melihat mobil Bram yang membuatnya muak.
Rasanya, Tisha sudah memilih jalan sepi yang dirasa tidak dilalui mobil, tapi ternyata Bram bisa mengendus kemana arah kakinya melangkah. Pria itu mulai turun dari mobil dan kemudian membukakan pintu mobil sebelah kiri agar Tisha naik. Namun, wanita itu malah membalikkan tubuhnya dan berjalan berbalik arah. Terdengar suara pintu mobil ditutup saat Tisha mempercepat langkah. Dia menyesal kenapa harus menemui pria b******k yang telah menghancurkan hidupnya itu.
“Sha, aku antar ke rumah. Tadi aku yang ajak kamu ketemu. Jadi, kumohon kamu mau masuk ke mobil untuk kuantar.”
Bram menyusul langkah Tisha, menarik tangan wanita itu hingga menyentak, membuatnya berbalik. Wajah Tisha geram sekali dengan sikap Bram.
“Lepasin!” bentak Tisha, menatap benci ke tangan Bram yang telah memegang tangannya.
Bram mengalah. Dia melepaskan tangan Tisha dan menelangkupkan kedua tangannya, memohon pada Tisha.
“Ayo, aku antar. Apa jadinya kalo ada apa-apa sama kamu di jalan? Aku akan menyesal seumur hidup.”
“Denger, Bram. Aku udah dewasa untuk pulang ke rumah dari cafe yang jaraknya nggak begitu jauh itu. Jangan perlakukan aku seperti anak kecil.”
“Sha—“
“Cukup! Aku mau, mulai kali ini, jangan ganggu aku dan Kayla! Kamu boleh jadi bagian dalam keluargaku, tapi jangan sampai kamu mengganggu kehidupanku dan anakku, Bram! Kami punya kehidupan sendiri. Kayla punya ayah dan kamu tidak perlu tahu urusan itu! Sekarang, biarkan aku pulang sendiri!” jerit Tisha, tak perduli dengan pandangan beberapa orang yang lewat menatap mereka.
Mereka hanya menduga bahwa Tisha dan Bram adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
“Sha, iya aku janji nggak akan ganggu kamu, tapi ijinkan aku untuk mengantarmu pulang. Aku nggak akan tega membiarkanmu sendiri pulang.”
Tisha membuang pandang ke arah jalan. Kedua bola matanya berputar mendengar ucapan Bram.
“Bram, nggak usah berlebihan. Minggir,” ujar Tisha ketus, menerobos bagian samping Bram yang menghalanginya.
Tangan Bram malah direntangkan ke tembok hingga Tisha harus menghentikan langkah dan memejamkan kedua mata. Untung saja tidak sempat menyentuh tangan Bram yang bersandar di tembok.
“Jangan kurang ajar, Bram.”
Sorot mata tajam Tisha menatap pada Bram dengan penuh kebencian. Sklera matanya memerah, tangis yang dia tahan mulai tak bisa dibendung. Dia ingin sekali pergi dari situ, tapi Bram menatapnya dengan lekat dan mendekatkan wajahnya ke arah Tisha.
“Sha, please.”
Tisha tidak kuat lagi, mendorong Bram sekuatnya, tapi Bram malah memeluk tubuh Tisha yang bergetar hebat meronta ingin lepas dari pelukan pria itu.
“Lepasin, Bram! Atau aku teriak!” ujar Tisha dengan melotot pada Bram seperti kesetanan.
Bram perlahan melepaskan pelukannya. Dia meraup wajah, tidak mengerti dengan dirinya sendiri kenapa melihat Tisha sebegitu ingin merengkuhnya ke pelukan. Apalagi, melihat Tisha hendak menangis seperti itu, Bram tidak tega.
“”Enyahlah!” teriak Tisha, meninggalkan Bram yang mematung di tempatnya tadi, sambil terisak.
Bram tidak dapat lagi mengejar Tisha. Dia hanya bisa menatap wanita yang sedang dikuasai amarah itu dengan merana hingga sebuah mobil putih yang dia kenal berhenti di belakang mobilnya.
Bram masih bergeming di tempat. Dia melihat Liam turun dari mobil dan berjalan ke arahnya. Tentu saja dengan wajah yang tidak ramah.
***
Liam menatap Bram, usai memesan minuman di sebuah bar. Dia menyandarkan punggung ke kursi VIP yang dipesan oleh Bram malam itu.
“Ada apa, Liam?” tanya Bram yang masih tidak mengerti ajakan Liam untuk minum bersamanya.
“Aku Cuma ingin minum bersamamu, Bram. Udah lama sejak lulus sekolah dulu, kita tidak menghabiskan waktu di bar.”
Bram mendengkus, mengingat masa lalunya seperti sebuah lelucon yang kelam penuh dengan kebisingan hura-hura remaja yang menurutnya tidak pantas dilakukan itu, Bram merasa jengah sendiri. Dia menggulirkan pandangannya ke arah Liam.
“Setua ini, kamu masih mau minum?” tanya Bram. Dia memang hanya memesan mocktail dan sepiring kentang goreng karena perutnya belum diisi sejak siang tadi waktunya habis menunggu Tisha.
“Sedikit, bukan banyak seperti kekonyolan waktu muda dulu,” balas Liam, melirik ke arah pelayan yang telah membawakan satu botol soju dan segelas mocktail pesanan Bram.
Agaknya, Liam menyeringai dengan pesanan Bram. Pria yang paling bandel di sekolahan itu, nyatanya sekarang hanya memesan satu minuman tanpa alkohol.
Bram terkekeh mendengarnya. Namun, sejurus kemudian dia terdiam karena menyadari di depannya adalah seorang rival yang sekarang mungkin telah mendekati Tisha lagi. Bram tidak percaya jika rivalnya masih saja seorang Liam. Padahal sudah enam tahun berlalu dan dia kira itu semua akan berakhir. Namun, detik ini dia masih dihadapkan pada mereka.
“Tadi ... kulihat Tisha di jalan. Wajahnya marah. Apa kalian barusan ketemuan?” tanya Liam, meneguk satu sloki Soju-nya.
Bram menggigit bibir dan tersenyum tipis. Dia menyesap mocktailnya dengan perlahan, memikirkan jawaban yang tepat.
“Ya, aku Cuma pengen antar dia pulang. Aku lihat dia sendirian,” sahutnya berkilah.
“Dia nggak mau?” tanya Liam, ada rasa puas menyelinap dalam hatinya dengan penolakan Tisha pada Bram.
Bram meletakkan gelas mocktailnya sembari menggelengkan kepala. Sadar bahwa jawabannya adalah jawaban yang diharapkan oleh Liam.
“Jadi, maksudmu murni ingin mengantarnya aja, atau ada maksud lain, Bram?” desak Liam.
“Cuma ngantar.”
Bram menangkap rasa tidak rela dari nada bicara Liam. Dia tahu, Liam akan cemburu padanya jika tahu memang dia memiliki maksud lain.
“Bagus, kurasa lebih baik kamu nggak deketin Tisha lagi, Bram. Kamu tau, kan? Dulu dia jadi crush-ku. Bahkan rumor bahwa kami berpacaran udah santer terdengar di mana-mana. Sekarang, aku menemukan dia, Bram. Kamu mestinya tau maksudku.”
Bram menarik napas. Ya, enam tahun yang lalu, Liam tidak pernah tau bahwa Bram telah meniduri Tisha. Sedangkan Liam sudah bilang padanya bahwa dia menyukai Tisha sejak lama dan lebih dulu sebelum Bram melihat seorang Tisha. Sejak itu, Bram baru mengenal Tisha. Tak disangka, karena Bram seringkali kepo dengan Tisha, kenapa gadis itu disukai Liam, Bram malah jatuh cinta pada Tisha.
“Ya, aku tau. Kamu lebih dulu mencintainya.”
Sayang, waktu itu Bram sering kepergok menatap Tisha. Jadi, Liam pun menaruh curiga padanya hingga menyebabkan hubungan mereka agak renggang saat itu. Baru sekarang ini, mereka bisa duduk berdua di sebuah bar.
“Trus, gimana kabar kamu, Bram? Masih sendiri sampe sekarang?” desak Liam. Dia ingin Bram memberikan jawaban yang memuaskan. Dia tidak ingin bertarung lagi untuk mendapatkan seorang Tisha. Sayang sekali waktunya, enam tahun dia menunggu dan sekarang dia telah menemukan bidadarinya.
“Aku ... sebenarnya aku udah tunangan.”
Mendengar itu Liam terbelalak, kaget. Nyaris gelas sloki yang telah kosong di tangannya meluncur jatuh. Namun, Liam menarik napas lega. Ya, jawaban yang cukup membuatnya puas karena lima puluh persen Bram tidak akan mendekati Tisha lagi karena telah memiliki seorang tunangan.