Varina membuka kacamatanya begitu ia turun dari mobil. Matanya menatap datar rumah megah yang didominasi warna putih di hadapannya. Ia pun melangkah pasti ke arah teras, lalu membuka pintu utama kediaman itu.
“Nona Varina?” kaget seorang pelayan mendapati keberadaan Varina di sana.
Varina menatap pelayan itu dengan wajah datar. “Aku harus mengemasi barang-barangku untuk dipindahkan ke rumah suamiku. Bisa kamu membantuku?”
Pelayan itu mengangguk dengan wajah sendu. “Saya juga akan meminta bantuan yang lain untuk mengemasi barang Anda. Tapi, Nona …” Dia tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
“Ada apa? Apakah ada masalah?”
“Itu … apa itu artinya Anda benar-benar akan meninggalkan rumah ini?” tanya pelayan itu. Seingat Varina, namanya adalah Nia. Dan dia selalu bersikap baik pada Varina sejak saat Varina datang ke dunia ini.
“Aku sudah menikah. Jadi, aku harus tinggal di rumah suamiku. Lagi pula, kamu tahu sendiri, aku tidak mungkin bisa terus bertahan tinggal bersama mereka,” jawab Varina.
“Tapi bagaimana dengan kami? Sejak awal, kami bekerja di sini untuk mengabdi pada Keluarga Cottonbriss. Kami dipekerjakan oleh ibu Anda untuk merawat rumah dan juga Anda. Jika Anda sudah tidak ada-”
“Nia, dengar!” Varina menjeda. Ia menoleh ke sekeliling, memastikan jika tidak ada seorang pun yang mendengar percakapan mereka. “Selamanya, ini adalah kediaman milik Keluarga Cottonbriss. Dan aku lah satu-satunya keturunan Keluarga Cottonbriss yang tersisa. Aku janji, suatu hari nanti, aku akan mengambil alih kembali semua yang seharusnya menjadi milikku, termasuk kediaman ini beserta isinya. Jadi, bisakah kalian menunggu?”
Nia membalas genggaman tangan Varina dengan tidak kalah erat. Matanya tampak berkaca-kaca. Butuh jeda beberapa saat hingga akhirnya pelayan yang sudah mengabdi tujuh belas tahun di Keluarga Cottonbriss itu mengangguk.
“Oke, sekarang, bisa bantu aku mengemasi barang-barangku?” pinta Varina.
Nia menghapus air matanya, sebelum ia mengangguk kembali. “Tentu, Nona. Mari!”
***
Suara gesekan sepatu yang bertemu dengan lantai berhasil menyita perhatian Varina. Namun, mengingat bagaimana hubungannya dengan penghuni-penghuni di rumah ini, Varina berusaha untuk tetap acuh meski suara itu terdengar semakin mendekat.
"Wah wah wah ... siapa ini?" Varina ingat jelas. Itu adalah suara Jocelyn.
"Oh ... bukankah kamu istrinya anak terbuang itu? Bagaimana kabarmu setelah dua hari tinggal di kastil tiran itu, Varina?"
Varina mengernyitkan alisnya. Ia tahu, yang dimaksud Jocelyn pastilah Eden. Hanya saja ... "Tiran?"
Tawa Jocelyn pecah. Ia berjalan lebih dekat ke arah Varina. "Tentu saja suamimu, Eden Havart yang sebenarnya sudah tidak layak menggunakan nama Havart di belakangnya itu."
Varina berbalik untuk menatap ke arah Jocelyn. Ia tersenyum paksa menatap kakak tirinya itu. "Seperti yang kamu lihat. Kabarku baik-baik saja. Jauh lebih baik daripada jika aku masih tinggal di rumah ini."
"Benarkah? Sepertinya hubunganmu dengan pria itu cukup baik juga, ya? Aku masih tidak menyangka dia akan datang hari itu untuk menjadi mempelai priamu. Apalagi ... saat aku masih bisa melihat kamu masih baik-baik saja sampai hari ini," pancing Jocelyn.
Varina mengangkat kedua bahunya tidak peduli. Ia lanjut membereskan barang-barangnya. Namun, hal itu tentu membuat Jocelyn kesal karena merasa gagal memancing kekesalan adik tirinya itu.
"Jangan berpura-pura lagi, Varina! Aku tahu kamu tidak bahagia dengan tiran itu! Bagaimana rasanya disiksa olehnya? Apa kamu sudah pernah merasakan pukulannya? Atau ... dikurung di gudang yang penuh tikus?"
Tawa Varina pecah. "Kenapa kamu ingin tahu sekali kelihatannya? Atau jangan-jangan kamu yang kurang bahagia dengan pria bekasku itu?"
Jocelyn mendorong bahu Varina hingga Varina terjatuh. Ia mencengkram erat rahang Varina dan menatapnya tajam. Para pelayan di sana tidak ada yang berani menolong. Mereka berpura-pura tidak melihat lalu pergi.
"Kamu sudah berani padaku rupanya?" geram Jocelyn.
Varina menatap remeh kakak tiriku itu. "Memangnya kenapa juga aku harus takut?"
Tak tahan melihat tatapan Varina padanya, Jocylun pun melayangkan tamparan keras ke wajah adik tirinya itu.
"Sialan! Aku akan memberi perhitungan padamu!" sentak Jocelyn.
"Kenapa kamu sangat marah, Jocelyn? Apa yang aku katakan semuanya benar? Apa Kevin tidak memperlakukanmu sebaik yang kamu harapkan?" pancing Varina. Ia merasa terhibur melihat kemarahan Jocelyn.
"Jaga ucapanmu! Kamu bicara seperti itu karena kamu iri, kan, Kevin lebih memilihku daripada kamu?!"
Varina tertawa remeh. "Tidak sama sekali. Justru aku ingin berterima kasih padamu karena sudah bersedia memungut sampah itu. Tanpa bantuanmu, aku pasti sudah menikah dengan lelaki berengsek mata keranjang itu."
"Varina ... awas saja kau-" Jocelyn hendak melayangkan tangannya lagi untuk menampar Varina. Namun, sebuah tangan menahannya. Tangan itu meremat pergelangan Jocelyn dengan erat, membuat Jocelyn memekik kesakitan. "Aarrgh! Sial! Lepas!"
Tatapan Varina sontak beralih pada pemilik tangan itu. "Eden?"
Eden membalas tatapan Varina. Ia hempas pergelangan tangan Jocelyn dengan kasar. Kemudian, ia fokus pada Varina. "Apa yang terjadi dengan wajahmu? Apa dia juga yang sudah memukulmu?"
"Eden? Kamu berani sekali masuk ke rumahku? Kamu pikir, kamu layak masuk ke sini? Kamu-"
"Aku masih cucu pertama Marquess Havart kalau kamu lupa. Lagi pula, ini adalah rumah keluarga istriku. Apa yang salah dengan itu?" potong Eden. Ia menatap tajam Jocelyn.
Mental Jocelyn mendadak jatuh. Pria di hadapannya itu memang terkenal misterius dan bengis. Tak sembarang orang yang berani sekadar bicara padanya. Mendapat tatapan setajam itu dari seorang Eden Havart, tentu Jocelyn merasa terancam.
"B- baiklah. Terserah kalian saja," ujar Jocelyn dengan nada bergetar. Wanita itu lalu berbalik, berniat untuk pergi.
"Tunggu dulu!" Namun, sepertinya Eden tidak ingin membiarkan Jocelyn pergi begitu saja. "Apa kamu yang sudah membuat pipi istriku memerah?"
Jocelyn menelan salivanya dengan kasar. "I- itu tadi cuma salah paham. Lagi pula lukanya tidak parah. Jadi-"
"Eden, bisa bantu aku angkat ini dan bawa ke mobil?" potong Varina.
Eden menoleh ke arah Varina. Tatapan gadis itu seolah bicara jika ia hanya ingin cepat-cepat pergi dari sini. Setelah menghela napas panjang, akhirnya Eden mengangguk setuju. "Oke."
Varina pulang dengan naik mobil Eden. Sementara barang-barangnya diangkut oleh mobil lain.
Di sepanjang perjalanan, Varina bisa merasakan hawa tak bersahabat dari pria di sampingnya. Aura Eden tampak begitu suram. Varina tidak tahu kenapa.
"Apa kamu tidak punya pekerjaan, sampai bisa meluangkan waktu untuk mencariku ke rumah?" tanya Varina. Ia hanya ingin mencairkan suasana yang tidak nyaman itu.
Eden menoleh sebentar. Pria itu menghela napas panjang tanpa mau repot-repot menjawab pertanyaan Varina.
"Apa ada masalah dengan pekerjaanmu? Suram sekali wajahmu," komentar Varina. Namun, lagi dan lagi, Eden tidak menjawabnya.
Varina pun mendengus sebal. Ia lalu menolehkan kepalanya ke samping, menatap jalanan yang mereka lalui.
Setibanya di kastil, Varina langsung turun dari mobil. Ia menatap para pelayan yang sedang mengangkut barang-barangnya untuk dibawa ke kamar. Saat ia ingin menyusul dan membantu mereka, tangannya ditahan oleh Eden.
"Ada apa? Aku pikir kamu lagi malas bicara," kesal Varina.
Eden menoleh ke arah seorang pelayan di dekat mereka. "Ambil kotak obat dan bawa ke kamarku!"
"Baik, Tuan."
Varina mengernyit tidak mengerti. "Memang siapa yang sakit?"
Alih-alih menjawab, Eden malah menarik lengan Varina begitu saja. Ia membawa Varina ke lantai tiga, tepatnya, ke kamarnya.
"Kenapa bawa aku ke sini? Bukannya kamu bilang aku nggak boleh berkeliaran di lantai ini?" protes Varina.
"Duduk!" titah Eden.
Varina mendecak. "Bicara yang jelas! Jangan sepotong-sepotong! Jawab dulu pertanyaanku! Kenapa-"
"Duduk, Varina. Kita perlu bicara setelah aku mengobati pipimu," potong Eden dengan nada yang sedikit melunak.
Varina menyentuh pipi kirinya. Ia hampir saja lupa, jika ia sempat mendapat tamparan Jocelyn di sana.
Penasaran dengan apa yang akan Eden katakan padanya, Varina pun segera duduk. Ia membiarkan Eden duduk di sampingnya, sembari membasuh pipinya dengan air dingin.