Varina duduk dengan tubuh kaku. Sejak tadi, pandangannya tampak tidak fokus. Namun, sebisa mungkin ia berusaha untuk tidak saling beradu tatap dengan pria di sampingnya.
“Ada apa? Apa kamu merasa gugup?” tanya Eden, ketika ia menyadari pergerakan jemari tangan Varina yang tampak tidak biasa.
“Ap- apa? Gugup kenapa? Enak saja,” protes Varina tidak terima.
Eden mengakhiri kegiatannya mengoles salep di pipi Varina. Saat gadis itu akan menyentuh pipinya, Eden pun menahan tangannya sehingga kedua tatapan itu pada akhirnya bertemu juga.
Varina lebih dulu menarik tangannya dari genggaman Eden. Lalu, ia kembali mengalihkan tatapannya ke arah lain.
“Jangan disentuh dulu! Biarkan salepnya meresap. Itu akan mempercepat penyembuhannya dan meminimalisir risiko membekas,” ucap Eden. Varina mengangguk paham. Namun, mulutnya seolah terkunci, tak mampu menjawab apapun.
“Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?” tagih Eden.
Varina mengernyitkan keningnya sambil menatap Eden penuh tanya. “Apa? Bukannya kamu yang mau membahas sesuatu denganku?”
Eden berdehem. “Setelah apa yang aku lakukan untukmu - mulai dari menyelamatkanmu dari saudarimu, aku yang menjemputmu pulang dan aku yang mengobati lukamu-”
“O- oh itu … itu … terima kasih,” potong Varina, akhirnya mengerti apa yang diinginkan suaminya.
Eden tersenyum tipis. Sangat tipis hingga Varina pun tidak yakin jika itu adalah sebuah senyuman. “Kamu tadi bilang kalau ada sesuatu yang perlu kita bahas. Apa?”
Wajah Eden seketika menegang. Varina mengernyit tidak mengerti. Apa dia mengatakan sesuatu yang salah? Namun, ia merasa hanya mengatakan apa yang memang sebelumnya dikatakan oleh Eden. Hatinya pun mulai was-was.
“Soal kejadian di rumahmu tadi, apa luka di pipimu ini juga berasal dari saudarimu?” tanya Eden.
“Namanya Jocelyn, Eden,” ralat Varina.
“Cukup jawab pertanyaanku dengan jelas, Varina!” tegas Eden, membuat Varina menelan salivanya dengan kasar. Aura Eden tampak seperti seekor binatang buas yang baru saja merasa ada yang mengganggu wilayah teritorialnya. Dan Varina yang tidak terbiasa dengan hal itu, tentu saja merasa takut.
“I- iya. Dia sempat menamparku sekali. Lalu kamu datang saat dia akan kembali menamparku untuk yang kedua kalinya,” jawab Varina pada akhirnya.
“Sialan!” umpat Eden. “Apa yang kamu ingin aku lakukan untuk membalasnya? Bagaimana kalau-”
“Tidak!” potong Varina cepat. “Ini hanya sebuah tamparan, dan aku cukup puas dengan apa yang aku lakukan padanya hari ini.”
Eden menatap Varina tidak terima. “Hanya? Kamu bilang hanya tamparan?”
Varina mengangguk. “Kenyataannya memang seperti itu. Dan aku tidak ingin masalah ini menjadi panjang, Eden. Aku hanya merasakan sakit dan sedikit panas di pipiku yang akan menghilang dalam beberapa jam. Tapi dia … dia akan mengingat ucapanku dan tidak akan bisa tertidur nyenyak selama beberapa hari ke depan.”
Varina mengembangkan senyum licik di bibirnya. Ia merasa senang mengingat kejadian saat di rumah tadi. Ia merasa puas melihat ekspresi kesal Jocelyn yang terprovokasi dengan kalimat-kalimatnya.
Baginya, tamparan di pipinya itu bukan apa-apa dibanding apa yang Jocelyn rasakan kali ini.
Eden menatap Varina dalam. Tangannya mengepal kuat. “Aku tetap tidak akan tinggal diam. Dia telah berani menyakiti orangku, itu artinya dia harus merasakan akibatnya.”
Pupil mata besar Varina membesar. “Apa yang akan kamu lakukan?”
“Sedikit menegurnya, agar dia tahu kalau dia sudah berbuat salah,” jawab Eden datar.
Varina menatap Eden dengan takut. Sepertinya, bukan tanpa alasan Jocelyn menyebut Eden sebagai tiran. Sepertinya, pria itu memang memiliki sisi mengerikan yang belum sempat Varina lihat sebelumnya.
***
Varina sedang asyik berbaring sambil memainkan ponselnya. Untung saja, cara menggunakan ponsel di tempat ini sama seperti di dunianya saat menjadi Dira. Ia bahkan pernah iseng mencoba menghubungi nomornya di dunia nyata, hanya saja, nomor itu tidak aktif.
Varina mengernyit saat melihat sebuah notifikasi pesan baru dari nomor tak dikenal.
01xxxx
[Aku akan pulang larut. Kamu bisa makan malam duluan, tidak perlu menungguku.]
Kening Varina mengernyit. “Dih, siapa?”
Varina
[Maaf ini siapa ya? Memang kita kenal?]
01xxxx
[Jadi, kamu tidak menyimpan nomor ponselku?]
Varina
[???]
01xxxx
[Dasar gadis kecil yang nakal!]
Pupil mata Varina membulat. Namun, belum sempat Varina membalas pesan itu, sebuah panggilan video sudah lebih dulu masuk ke ponselnya. Ia pun segera menolaknya, takut jika yang meneleponnya itu adalah orang yang punya niat jahat terhadapnya.
01xxx
[Angkat atau aku akan menghukummu setelah aku pulang nanti!]
Varina merasa deja vu. Ia seperti mengenal karakter itu. “Eden?” tebaknya.
Di waktu bersamaan, layar ponselnya kembali menyala menampakkan sebuah notifikasi panggilan masuk dari nomor yang sama. Ragu, Varina pun segera mengangkatnya. Dan ternyata benar. Sosok Eden langsung muncul di depan kamera.
Varina menggigit bibir bawahnya karena gugup. Bisa-bisanya ia lupa jika saat ini ia tinggal dengan seorang lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu.
“Jadi, sekarang sudah tahu siapa aku?” tanya Eden dengan raut wajah datarnya.
Varina mendecak sebal. “Iya. Jadi, sekarang boleh aku matikan panggilannya?”
“Simpan nomorku! Lain kali, tidak ada lagi kejadian seperti tadi!”
“Iya, aku tahu. Lagi pula, sejak kapan kamu punya nomor ponselku? Mana aku tahu kalau kamu juga akan menghubungiku?”
“Ada yang aneh dengan seorang suami menghubungi istrinya?” Tatapan Eden tampak lebih tajam dari sebelumnya, membuat nyali Varina menciut. Sebagai reaksi, Varina hanya menggeleng lemah.
“Sekarang sudah jam makan malam. Makanlah!”
Varina diam sejenak. Ia tidak langsung mengakhiri panggilan, karena ada sesuatu yang berhasil menyita perhatiannya. “Kamu lagi di mana? Kok kayak berantakan gitu tempatnya?”
Eden menoleh ke belakang. Pria itu menghela napas panjang, sebelum akhirnya mengakhiri panggilan secara sepihak.
“Dih, aneh,” gerutu Varina.
Tak mau ikut campur dalam urusan pria misterius itu, Varina pun memilih untuk segera ke lantai satu. Ada untungnya juga dia menikah dengan Eden. Meski dikatakan sebagai cucu yang terbuang, tapi Eden tetap memiliki kekayaan di atas rata-rata. Dia masih mampu untuk memberikan makanan yang lebih dari sekadar layak untuk Varina. Varina juga bisa hidup dengan nyaman dan dilayani oleh beberapa pelayan, serta memiliki kamar yang luas meski nuansanya sedikit kuno.
Sementara itu di tempat lain …
“Siapa kalian? Apa kalian tidak tahu siapa aku, hah?” sentak seorang gadis berambut kecokelatan yang diikat dengan posisi terduduk di tengah sebuah gedung tua.
Plakkk
Bukannya jawaban yang ia dapatkan, melainkan sebuah tamparan dari pria bermasker hitam di depannya.
“Arrgh! Sialan! Lancang sekali kalian!”
Suara tamparan kembali terdengar untuk kedua kalinya.
Gadis itu mulai menangis histeris. “Sebenarnya apa mau kalian? Kenapa kalian melakukan ini padaku?”
“Apa yang kau tanam, maka itu lah yang akan kamu dapatkan.”
Gadis itu - Jocelyn Cottonbriss mengepalkan kedua tangannya yang terikat. “Oh … kalian suruhan gadis sialan itu?!”
Plakkk
Satu lagi suara tamparan terdengar. Pipi Jocelyn memerah di kedua sisinya, bahkan, ada titik darah di sudut bibirnya. “Sekali lagi kami mendengar kamu mengumpati Nona Varina, maka kamu akan mendapatkan lebih dari ini!”
Jocelyn menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan diri untuk tidak melempar umpatan kembali. Hatinya terasa panas, lebih panas dari pipinya saat ini.
“Jika kamu berani sekali saja melukai Nona Varina, maka kami akan membuatmu sadar, dengan siapa kamu akan berhadapan nantinya. Camkan itu!”
Jocelyn hanya bisa menangis sambil terus berusaha untuk tidak bersuara. Ia hanya diam, tak melawan saat tali di tangannya dilepaskan oleh para penculik itu. Dan begitu mereka pergi, barulah Jocelyn menangis meraung-raung meluapkan segala emosinya.
“Kalian pikir aku akan diam saja? Varina … lihat saja nanti! Aku pasti akan membalasmu lebih dari ini. Akan aku pastikan kamu menyesal pernah macam-macam denganku!” geram Jocelyn sambil mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku jarinya tampak memutih.