H-2 sebelum Liga Rookie dimulai, Noah menyelesaikan makan siangnya di kantin hanya bersama dengan Said dan David. Zikri dan sisa anggota geng makan siang lainnya tak punya waktu, bahkan untuk makan di kantin. Mereka sedang berjuang mempelajari kisi-kisi ujian yang diberikan, demi mendapatkan nilai yang sesuai standar.
Meski tidak ikut dalam skuad, jika anggota klub mendapat nilai di bawah rata-rata, maka mereka bahkan tak akan diizinkan untuk berada di arena pertandingan, walaupun hanya untuk menonton. Itu sebabnya tak hanya Zikri, tapi Bayu, Muklis dan Hamid pun harus ikut memperbaiki nilai pelajaran mereka jika ingin berada di dalam bus yang sama dengan skuad tim basket Cendana untuk pertandingan Liga Rookie.
Waktu pengumuman skuad di aula hari itu, Coach Adam menyebutkan 11 nama. Padahal Cendana hanya akan mengirimkan 10 orang di dalam skuad. Katanya, ia tak bisa memilih di antara beberapa nama karena merasa kemampuan mereka memiliki potensi yang sama. Itu sebabnya ia memutuskan bahwa ia akan menggunakan nilai akademis untuk menentukan satu nama yang harus keluar dari skuad.
Tak ada alasan lagi bagi para anggota klub untuk bermalas-malasan di dalam kelas karena menganggap bahwa kemampuan olahraga saja sudah bisa menjamin masa depan mereka. Coach Adam bertekad untuk memastikan bahwa anak didiknya tidak akan menghadapi kesulitan meskipun jika nanti mereka gagal di dunia basket.
“Aku rasa Zikri yang bakal tersingkir dari skuad Liga Rookie,” kata David saat mereka baru saja menyelesaikan makan siang dan sama-sama beranjak dari meja di kantin itu. “Kak Dirga dan anggota kelas 11 lainnya bertekad untuk meloloskan Kak Evan ke dalam skuad. Sementara menurut Said, Zikri sama sekali nggak ada perkembangan.”
“Di kelas, dia masih aja suka ketiduran pas jam pelajaran. Ngejawab soal juga masih suka kebingungan,” timpal Said menyetujui informasi dari David.
“Aku juga udah nyerah ngajarin dia,” sahut Noah tepat saat matanya menangkap sosok seseorang yang ia kenal baru saja memasuki kantin. “Aku nggak tahu dia yang lamban atau aku yang memang nggak bakat ngajarin orang,” tambah Noah sambil masih mengamati sosok teman sekelasnya itu. Rihan.
“Udah nggak usah buang-buang tenaga ngebantuin dia,” Said terkekeh di sela kalimatnya, “nggak ada Zikri juga kayaknya tim basket kalian tetap hebat kok.”
David kembali mengatakan sesuatu untuk menyambung obrolan, tapi Noah sudah tak terlalu mendengarkan mereka lagi. Matanya masih mengikuti pergerakan Rihan yang sedang mengantri di counter makanan. Saat posisi mereka semakin dekat karena counter makanan yang letaknya tepat di sisi kiri pintu masuk, Rihan menyadari keberadaan Noah, tapi ia langsung berpaling ke arah lain untuk menghindari mereka bertemu mata.
Noah pun sama sekali tak menghentikan langkahnya. Seolah tak saling kenal, ia tetap berjalan meninggalkan kantin bersama dengan Said dan David.
Sejak kejadian waktu itu, Noah dan Rihan jadi tak saling bertegur sapa. Noah tak tahu bagaimana harus bersikap di hadapan Rihan, sementara Rihan juga sebenarnya merasa tidak enak hati kepada Noah.
Walau bagaimanapun, Rihan sangat paham bahwa Noah bermaksud baik untuk membantunya. Hanya saja … itu tidak cukup, tapi Rihan juga tahu bahwa tidak mungkin ia meminta Noah untuk membantunya lebih dari itu.
Jika diamati lagi, sebenarnya Noah sudah hampir tak pernah lagi melihat Rihan membawa-bawa bungkusan makan siang untuk para seniornya. Tapi, sepertinya Andi masih punya cara lain untuk membuat hidup teman sekelasnya itu jadi susah.
Contohnya saat ini, ketika Noah melintasi Asrama Falcon untuk menuju ke gedung Asrama Raven. Ia menemukan Rihan yang sedang duduk sendirian di bawah pohon dekat pembuangan sampah.
Noah tahu ada yang tidak beres dengan Rihan, tapi sayangnya, Noah bukanlah orang yang supel. Ia tak tahu bagaimana harus bersikap seolah tak terjadi apa-apa dan memulai obrolan lagi dengan Rihan.
Bermaksud ingin mengabaikan Rihan, Noah meneruskan langkahnya untuk meninggalkan area Asrama Falcon. Namun, hatinya terasa sangat berat.
Jika ia tak melakukan apa-apa, itu berarti tak ada yang berubah dari diri Noah, bahkan setelah kepergian Fajar. Sebagaimana ia mengabaikan Abi saat teman baiknya itu di-bully dulu, ia juga melakukan hal yang sama kepada Rihan saat ini.
Noah memutar langkahnya dan langsung menghampiri Rihan yang masih belum menyadari keberadaan Noah. Saat sudah semakin dekat, getaran di pundak Rihan mulai terlihat jelas.
Ia sedang mendekap raketnya sambil sekuat tenaga menahan suara tangisan agar tak lolos dari bibirnya. Meski begitu, air matanya terlihat jelas menetes dan membuat wajahnya berkilat basah.
Raket itu sudah penyok pada bagian lingkaran kepalanya, dan Rihan hanya bisa memeluk benda itu sambil menangis tersedu sedan.
Rasanya Noah ingin marah. Tak hanya kepada para bully, tapi juga kepada Rihan. Diperlakukan seperti itu, kenapa dia hanya bisa menangis? Ingin sekali Noah menarik tangan Rihan dan menyeretnya ke hadapan Andi, menyuruhnya berhadapan langsung, lalu berteriak kepada Andi dan menanyakan ada masalah apa sebenarnya dengan Rihan? Apa kesalahan yang sudah ia perbuat sehingga membuatnya pantas diperlakukan seperti ini?
Tapi tentu saja. Hal itu tak akan menghasilkan apa-apa. Itu semua akan sia-sia. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tak akan berpengaruh terhadap mereka.
Umumnya, orang seperti Andi jika sudah menemukan target, maka ia akan terus menerus menjadikannya objek untuk ditindas secara bersama-sama. Biasanya hal itu dilakukan hanya untuk menambah efek ilusi bahwa ia memiliki kuasa, bahwa ia jauh lebih baik dan lebih tinggi kedudukannya.
Kali ini, Noah bertekad untuk tak mengabaikan Rihan.
Ia tak bisa membayangkan jika esok – entah bagaimana – secara tiba-tiba ia harus mendengar kabar buruk lagi tentang seseorang yang ia kenal, melompat dari atap dan ditemukan sudah tak bernyawa di pagi hari, lalu membuatnya harus menghadiri pemakaman dengan rasa bersalah yang seolah menggeroti dirinya dari dalam.
“Rihan …,” panggil Noah akhirnya.
Rihan agak tersentak mendengar suara Noah yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya. Ia buru-buru mengelap air mata lalu menatap rumput di sampingnya sambil menjawab, “No-Noah … sedang apa di sini?”
Rihan masih tak berani bertatapan langsung dengan Noah.
“Apa kamu mau terus seperti ini selama tiga tahun di Cendana?” tanya Noah dengan suara datar yang terdengar dingin.
Alih-alih mengatakan sesuatu untuk membalas Noah, Rihan tak berhasil menyuarakan satu kata pun dari mulutnya. Yang terdengar hanya suara sengau tarikan napas yang perlahan mulai tak terkendali.
Rihan hanya bisa kembali mendekap erat raketnya ke d**a, mencoba menahan luapan emosi dari dalam dirinya, seolah ingin mengatakan bahwa ia juga tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Meski kesal, tapi Noah juga sadar bahwa situasi yang sedang dihadapi Rihan saat ini memang tidak mudah. Jika hanya membantu setengah-setengah, maka tak akan ada yang berubah.
“Dengar …,” Noah mempertegas intonasi suaranya, “aku akan melakukan sesuatu untuk mengekspos bullying yang dilakukan Andi.”
Noah mengambil jeda untuk menunggu reaksi dari Rihan. Tapi Rihan tak memberi komentar apapun. Walau begitu, tangisnya mereda karena ia tampak sedang berpikir meski sesekali masih terisak.
“Kamu nggak perlu mikirin gimana aku bakal ngelakuinnya,” sambung Noah lagi. “Pokoknya, kalau aku gagal dan kamu dikeluarkan dari sekolah, aku juga akan ikut keluar.”
“Jangan main-main! Masalah ini …”
“Aku serius,” tukas Noah cepat. “Aku serius mau berjuang bersama-sama denganmu. Aku nggak bakal biarin kamu ngelewatin ini sendirian. Masalahnya sekarang, kamu mau melawan atau nggak? Karena percuma aja aku berusaha, kalau kamu sendiri memilih untuk tetap jadi keset kaki Andi.”
Mata Rihan terpaku pada akar pohon di hadapannya, tapi pikirannya bukan di situ. Pikirannya saat ini sedang beragumen satu sama lain, mempertimbangkan segala konsekuensi yang harus dihadapinya jika ternyata ia memilih langkah yang salah.
“Pilih,” Noah terus mendesak dan tak memberikannya waktu untuk ragu, “kamu mau terus ditindas atau melawan?”
Rihan menghempas napas, memantapkan hati. Ia bangkit sambil mengeratkan genggaman pada grip raket penyok yang ia dekap tadi, lalu berdiri di hadapan Noah setelah mengelap wajahnya yang basah dengan lengan seragam sekolahnya.
Sepasang mata di hadapan Noah itu tampak lebih hidup. Di dalam hati, Rihan mencoba memberi dorongan kepada dirinya sendiri. Ia mulai kembali percaya, bahwa sejak awal, ini bukan salahnya. Jadi, tak ada alasan bagi Rihan untuk menahan diri dan tidak melawan ketika mendapatkan perlakuan buruk dari para senior.
“Noah …,” suara Rihan bergetar, “aku nggak salah apa-apa.” Ia nyaris tersedak di ujung kalimatnya.
“Aku cuma mau main badminton … aku juga punya cita-cita. Aku juga mau jadi atlet pro.” Rihan mulai mengeluarkan keluh kesah yang sudah lama ia pendam. Segala beban yang selama ini menumpuk di dadanya, mengalir deras hingga membuatnya kesulitan mengatur napas di sela kata-katanya.
“Aku nggak suka ngurangin jatah makanku cuma supaya aku bisa nalangin kekurangan uang mereka. Aku kesal mereka selalu mencari-cari kesalahanku setiap latihan. Aku marah mereka merusak tas dan sepatuku, aku marah mereka membanting raket pemberian kakekku … dia menggunakan semua uang tabungannya untuk membelikanku raket ini … aku marah … aku nggak salah apa-apa … aku mau mereka semua dihukum dan dikeluarkan dari sekolah …”
Sebuah senyum tipis muncul di wajah Noah, menyaksikan Rihan yang mulai kembali terlihat bernyawa. Meski matanya basah, tapi ada api yang membara di baliknya.
Rihan baru saja berhasil mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, membeberkan semua kekesalan dan keinginannya.
Ini merupakan sebuah kemajuan yang harus diapresiasi.
Noah meletakkan tangannya di kedua pundak Rihan, mencengkramnya erat seolah ingin mentransfer tekad dan semangat juang ke sekujur tubuh teman pertamanya di SMA itu.
“Let's kick some asses,” pungkas Noah mantap.