Liga Rookie: Preparation

1794 Kata
Pintu ruang ganti tiba-tiba menjeblak terbuka dan Zikri langsung menghambur masuk diikuti Bayu dan yang lainnya. “Noah!” seru Zikri sambil melompat untuk memeluk Noah. Tapi tentu saja Noah dengan sigap menghindar, membiarkan Zikri memeluk udara. Zikri baru saja mau protes, tapi Hamid yang menyusul di belakangnya sudah lebih dulu menyapa Noah dengan cara yang lebih normal. "Kukira kamu udah males latihan di klub ini lagi,” kata Hamid dengan senyum lebar di wajahnya. “Padahal kalau Noah mau pindah sekolah aja, aku rasa banyak yang mau nampung dia,” sambung Bayu. “Belum juga satu semester, masa’ udah mau pindah,” sahut Noah tepat saat matanya menangkap tangan Bayu yang terangkat untuk menginisiasikan high five. Agak ragu, Noah pun menyambutnya. Namun saat telapak tangan mereka saling bertepuk, Bayu tak melepaskan tangan Noah dan mengubah tos itu menjadi sebuah genggaman erat sambil lalu menabrakkan bahunya dengan bahu Noah. Itu adalah cara menyapa yang belakangan ini mulai biasa ia lakukan bersama Zikri dan yang lainnya. Di belakang Bayu, Hamid, David dan Muklis pun bergiliran melakukan tos yang diakhiri dengan saling menabrakkan bahu itu. Zikri tak mau ketinggalan, ia bahkan menambahkan dengan gerakan menepuk-nepuk punggung Noah. Dulu, beberapa kali Noah melihat teman-temannya di SMP melakukan hal yang sama antar teman se-geng. Mereka terlihat sangat akrab, seolah memiliki kode tersendiri untuk menyapa satu sama lain. Noah selalu ingin memliki kode seperti itu juga dengan teman satu circle-nya, tapi ia tak pernah mendapatkan kesempatan itu. Jangankan punya circle[1], saling tos dengan rekan satu timnya saja hampir tidak pernah. Baru kali ini … Baru kali ini Noah merasa kalau rekan-rekan satu timnya juga bisa disebut sebagai teman. Membuatnya perlahan mulai lupa tentang bagaimana dulu Raguel selalu memuji dan tersenyum ramah di hadapannya, tapi ternyata bicara buruk di belakangnya. “Yo! Andre, kamu masih di sini? Aku kira bakal ngikutin Fery juga.” Zikri menyapa Andre yang tadi tak sempat meninggalkan ruangan gara-gara kedatangan rombongan Zikri. “Haha … aku mau coba basket dulu,” balas Andre getir. “Gitu dong … pantang menyerah.” Zikri merangkul Andre sok akrab. Dengan postur tubuh yang jauh lebih tinggi dari Andre, ia jadi terlihat seperti sedang mengintimidasi rekan satu timnya itu. “Tapi aku juga belum tahu, mungkin akhir semester nanti bisa jadi aku pindah klub juga,” balas Andre lagi. “Kan … benar, kan?!” Zikri akan memulai keluhannya, “Kamu mau nyusul yang lainnya juga ninggalin klub basket? Anggota baru udah berkurang lebih dari separuhnya. Padahal kita baru sampai tahap persiapan Liga Rookie, latihannya belum bisa dibilang berat, tapi kalian udah pada nyerah. Kalian sebenarnya niat nggak sih? Jadi orang itu harus punya komitmen, dong.” “Oi!” sela Noah agak jengkel. Ia merasa seperti sedang melihat dirinya sendiri di dalam diri Zikri; menghakimi orang-orang yang berhenti basket. “Ke-kenapa? Ada yang salah?” Zikri mulai memikirkan kembali apa yang barusan dikatakannya. “Gini, ya,” Noah menatap Zikri serius, “kalau kamu beli sepatu dan ternyata ukurannya kebesaran, apa kamu bakal nunggu kakimu tumbuh sampai akhirnya muat pakai sepatu itu? Atau, kalau sepatu yang kamu beli kekecilan, apa kamu bakal potong tumitmu supaya sepatunya muat?” “Kenapa kita jadi ngomongin sepatu?” tanya Zikri bingung. “Jawab aja, o’on.” Muklis menggeplak tengkuk Zikri. “Ya tukar ukuran sepatunya dong, cari yang muat,” jawab Zikri akhirnya. “Itu kamu paham,” sambar Noah sambil mulai melangkah melewati mulut pintu menuju ke hall, “jangan sembarangan menuduh orang macam-macam. Semuanya pasti punya pertimbangan masing-masing.” Sebenarnya Noah mengatakan itu juga untuk dirinya sendiri. Sebelumnya ia juga cenderung menghakimi orang yang suka menyerah di tengah jalan, menganggap mereka cuma ikut-ikutan dan tidak serius. Padahal, siapa yang tahu apa saja yang harus mereka lalui untuk sampai ke tahap itu. Walaupun mungkin sebagian dari mereka memang cuma kaum bandwagon[2], tapi pasti ada beberapa dari mereka yang awalnya memang ingin serius, namun terbentur dengan satu dan lain hal yang membuat mereka akhirnya tak punya pilihan, selain menyerah dan mencari jalan lain. “Aku nggak ngerti. Hubungannya sama sepatu apa?” Zikri setengah berbisik kepada David di sebelahnya, ketika kelompok siswa kelas 10 itu satu per satu mulai mengikuti langkah Noah untuk meninggalkan ruang ganti. “Zikri …,” Bayu menepuk pundaknya prihatin, “nanti habis latihan kamu coba buka kamus Bahasa Indonesia dan lihat arti kata ‘analogi’, ya?” Di belakangnya, Andre sudah tak bisa lagi menahan tawa, lalu tawa itu pun menular pada Hamid dan yang lainnya. Hari ini, mereka memasuki hall basket dengan tawa dan obrolan ceria. Sesuatu yang baru bagi Noah. . “Seperti yang kalian ketahui,” Coach Adam membuka sesi latihan pagi ini dengan mengumpulkan semua anggota tim basket putra, “Liga Rookie sudah di depan mata.” Ia menatap wajah-wajah anak didiknya yang tampak sedang memperhatikan papan tulis putih di hadapan mereka. Di permukaan papan tulis itu tertempel sebuah bagan hasil drawing Liga Rookie yang sudah terisi dengan nama-nama tim basket SMA se-provinsi. “Kita sudah menjuarai Liga Rookie selama empat tahun berturut-turut dan target kita adalah mempertahankan gelar itu,” sambung Coach Adam sambil mengetuk papan tulis pada bagian di mana nama Cendana berada. “Kita ada di grup A, jika berpedoman pada Liga Rookie sebelumnya, di grup kita tidak ada sekolah yang cukup kuat. Kita hanya perlu menang terus sampai ke final. Ingat, target kita bukan cuma Liga Rookie, tapi Kejurnas. Kita akan melepas gelar "Specialist Runner Up" yang mereka sematkankan ke kita, sekaligus mencegah Bima Sakti meraih hatrick – 3 kali juara berturut-turut.” Setelah Coach Adam tiba di akhir kalimatnya, langsung terdengar suara kasak-kusuk para anggota basket yang saling membisikkan pendapat mereka satu sama lain. “‘Specialist Runner Up' memang terdengar seperti sebuah ejekan," Coach Adam meninggikan suara untuk menandingi suara anak didiknya, "tapi sebenarnya, menjadi Runner Up itu juga nggak gampang. Jangan kira kalian bisa melenggang dengan santai ke partai final hanya karena kalian menyandang gelar itu.” Para senior kelas 12 terlihat lebih tegang dibandingkan anggota lainnya. Wajah Ahsan yang biasanya ramah, kini tampak serius menatap lurus ke bagan hasil drawing di hadapannya. Ini adalah kesempatan terakhir bagi Ahsan, Dewa dan Juan, untuk meneruskan mimpi para alumni; mengangkat trofi Kejuaraan Nasional Basket SMA. "Aku tahu kalian sudah tidak sabar ingin menang di Kejurnas," lanjut Coach Adam, "tapi jangan meremehkan Liga Rookie. Jangan terlena dan jangan kehilangan fokus. Salah-salah nanti malah kita terjegal di Liga Rookie dan gagal ikut Kejurnas. Itu pasti akan menjadi kekalahan yang sangat memalukan. Kalian paham kan maksudku?" "Paham, Coach!" sahut Ahsan dan anggota yang lainnya tak begitu serempak. Tapi Coach Adam tak mempermasalahkan hal itu. Ia lalu mengangguk tegas, mengakui tekad anak-anak didiknya. “Kita akan mengirim 10 orang yang akan diturunkan untuk Liga Rookie, Coach Reza juga sudah setuju dengan formasinya. Tapi, masalahnya …,” Coach Adam mengambil jeda di tengah kalimatnya, “Kepala Sekolah nggak mau anak yang gagal di ujian tengah semester tergabung dalam skuad.” “Haa …?!” Nyaris semua anggota baru, yang terdiri dari siswa kelas 10, berseru tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. “Here we go again,” gumam Dewa sambil memutar bola matanya. Ia lalu mengisi penuh paru-parunya untuk menghardik, “Kalian pikir ini di mana? Ini sekolah, tahu?! Nilai akademis tetap jadi prioritas!” Suara berisik yang berisi protes dan keluhan para anggota baru itu pun langsung berubah jadi hening. “Nggak usah banyak protes. Kalian nggak dituntut jadi top student, asalkan nilai kalian memenuhi standar, itu udah cukup,” sambung Dewa lagi. “Terima kasih, Dewa.” Coach Adam tersenyum bangga pada anggota senior klub basketnya itu, seolah Dewa memang sudah biasa melakukan itu setiap tahun. “Aku tahu kalian memang sibuk latihan di klub, tapi bukan berarti kalian harus lupa kalau kewajiban utama kalian di sini memang untuk belajar,” tambahnya. “Kak Dewa ngomongnya enteng banget, emang nilai-nilainya selama ini bagus?” bisik Zikri pada Bayu di sebelahnya. “Dia yang nilainya paling bagus, di antara anak kelas 12 di klub ini,” sahut Evan yang kebetulan ada di depan mereka. Evan lalu sedikit menoleh sebelum melanjutkan kalimatnya, “Tahun lalu dia juara umum di antara semua siswa kelas 11 di Cendana.” “Eeh?!” Zikri cukup kaget mendengar fakta tersebut, sampai-sampai ia lupa menahan suaranya. Untung saja Coach Adam tak memedulikannya karena sedang sibuk tanya jawab dengan anggota kelas 10 yang lain. “Aku kira di antara senior kelas 12 di klub kita, kak Ahsan yang paling pintar,” bisik Zikri lagi. “Kelihatannya gitu kan, ya,” timpal Hamid menyetujui. “Di antara mereka bertiga, malah nilai kak Ahsan yang paling jeblok.” Evan kembali mengungkapkan fakta yang tak terduga. Zikri baru saja membuka mulut untuk berkomentar lagi, tapi ia melihat Dewa sudah menoleh nyaris memutar lehernya demi melotot pada Zikri. Zikri pun mengirim cengiran sambil menggerakkan bibirnya, mengucapkan maaf tanpa suara. Detik berikutnya, Steven mengangkat tangan dari barisan belakang, “Coach, gimana dengan anak-anak Kelas S?” tanyanya, bahkan sebelum Coach Adam menyuruhnya bicara. “Tentu saja siswa Kelas S punya pengecualian,” jawab Coach Adam santai. Sontak semua mata langsung tertuju pada Noah dan Igris. “Enaknya jadi siswa Kelas S …,” keluh Zikri iri. “Baiklah, aku akan mengumumkan anggota skuad kita untuk Liga Rookie, sekalian menyerahkan seragam baru kalian.” Coach Adam memberi kode kepada Luna yang langsung paham; bahwa ia ingin Luna menyiapkan seragam untuk dibagikan saat Coach Adam memanggil nama pemainnya. “Starter kita masih seperti biasa. Kapten Ahsan, Juan, Dewa, Yuda dan Wahyu. Lima pemain lainnya adalah Noah, Dirga …” Tepat setelah nama Dirga disebut, pundak siswa kelas 11 itu langsung turun saking leganya. Seolah ia tak bisa bernapas sebelum Coach Adam menyebutkan namanya. “… Ello,” lanjut Coach Adam lagi, “Igris, Evan dan Zikri.” “YES!” Zikri meninju udara sambil berseru penuh semangat. “Tapi …,” Coach Adam tak membiarkannya berlama-lama merasa puas, “untuk dua nama yang kusebutkan terakhir tadi, Evan dan Zikri, aku mendapat laporan dari wali kelas kalian masing-masing. Katanya, nilai akademis kalian cukup memprihatinkan dan aku sudah diwanti-wanti untuk tak membiarkan kalian ikut pertandingan kalau nilai ujian tengah semester kalian nanti tidak cukup memuaskan.” Mulut Zikri langsung merenggang lebar seolah ia telah kehilangan kendali terhadap sensor motorik tubuhnya. Seketika ia menoleh kepada Noah dengan wajah memelas. “Noah … tolong aku,” pintanya memohon belas kasihan. ___ ___ ___ ___ ___  [1] Circle, secara harfiah diterjemahkan sebagai lingkaran. Biasanya, kata ini sering digunakan untuk menandakan kelompok pertemanan. Selain itu, kata circle juga bisa didefinisikan untuk komunitas atau kelompok yang cenderung memiliki hobi yang sama. [2] Efek bandwagon, atau efek ikut-ikutan adalah kecenderungan individu untuk memperoleh gaya, perilaku, atau sikap tertentu karena semua orang melakukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN