“Aku udah nggak bisa kerja part time,” bisik Igris pelan sambil melangkah keluar dari kamar mandi. Karena suasana tengah malam di asrama yang sangat sunyi, Noah bisa mendengar setiap kata yang dibisikkan Igris kepada seseorang melalui panggilan telepon itu.
“Asrama tutup jam 9, ada kegiatan klub sampai sore, nggak ada waktu. Aku biayain semua kebutuhanku sendiri, aku bahkan nggak ingat kapan terakhir kali aku minta sama Mama.”
Igris jeda sejenak setelah mengatakan itu, sepertinya lawan bicaranya sedang membalasnya dengan menyampaikan rentetan kalimat yang penuh emosi.
“Mana mungkin aku nggak ikut klub,” kata Igris lagi. “Itu satu-satunya alasan aku bisa lanjut sekolah, bahkan bisa makan dan tidur gratis di sini … Bukannya kita udah janji akan mengurus diri masing-masing? Apa Mama nggak malu menyuruhku bekerja dan meminta uang? Di sini aku sedang berusaha keras untuk masa depanku.”
Igris mulai kehilangan kendali pada intonasi suaranya. Ia mengerling Noah sekilas, berharap Noah tidak terbangun dari tidurnya. Padahal, tanpa ia ketahui, Noah sudah mendengarkan pembicaraannya sejak tadi.
Meski tak bermaksud menguping, tapi Noah merasa suasana akan semakin canggung kalau ia bangun. Itu sebabnya, mau tak mau, ia tetap berpura-pura tidur.
“Nggak tahu …,” Igris kembali memelankan suaranya, “aku nggak tahu kapan bisa pulang. Lagipula untuk apa? Mama juga udah lupa sama janji Mama, kan? Berapa kali kubilang, aku nggak suka kalau tamu Mama dibawa ke rumah. Aku nggak suka kalau bangun pagi tiba-tiba ada om-om yang nggak kukenal di dalam rumah.”
Noah tak bisa menahan diri untuk tak menggaruk pinggangnya yang terasa gatal, gerakannya membuat Igris ingat kembali bahwa saat ini ia tidak sedang sendirian di kamar itu.
“Pokoknya …,” bisik Igris lebih pelan dari sebelumnya, “aku akan lulus dari Cendana dan mendapatkan kontrak di klub profesional. Aku nggak perlu kuliah, targetku cuma menjadi atlet pro. Itu satu-satunya cara supaya hidup kita jadi lebih baik. Kalau itu udah terjadi, aku mau Mama berhenti melakukan pekerjaan Mama yang sekarang.”
Igris tak langsung mengakhiri panggilan telepon setelah ia menyelesaikan kalimatnya. Sepertinya orang yang ia panggil Mama itu juga sedang mengatakan sesuatu di seberang sana, dan Igris hanya mendengarkan tanpa menyela.
Beberapa saat setelahnya, telepon pun ditutup. Igris meletakkan hp-nya di atas meja sambil menghela napas. Matanya menatap punggung Noah yang tidur menyamping menghadap tembok, mengira-ngira apakah tadi Noah sempat terbangun dan mendengarkan ia yang sedang bicara dengan mamanya.
Tapi, melihat tak ada gerakan susulan lagi dari Noah, Igris pun menganggap bahwa mungkin Noah memang benar-benar sudah tidur nyenyak. Jadi, tak mungkin ia mendengar obrolan di telepon tadi.
Dengan pikiran seperti itu, Igris merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan mulai memejamkan mata agar bisa mengistirahatkan diri, berusaha melupakan permasalahan-permasalahan yang mengganggu fokusnya untuk mewujudkan rencana yang sudah ia susun, demi masa depannya dan mamanya.
* * *
“Noah,” panggil satu-satunya cewek yang ada di tim basket putra Cendana, suaranya terdengar agak bergema karena aula masih cukup kosong pagi ini, di hari pertama Noah kembali setelah menjalani hukuman skorsingnya selama seminggu.
Saat Noah menoleh, ia menemukan Luna berada di antara beberapa pemain dari tim putri. Ia masih sempat mengatakan sesuatu kepada mereka sebelum akhirnya beranjak untuk menghampiri Noah.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya saat ia sudah berada di hadapan Noah.
“Ha?” Noah benar-benar bingung dengan pertanyaan random yang dilontarkan Luna itu.
“Maksudku … aku nggak tahu kenapa cuma kamu yang harus dihukum. Padahal kamu kan juga korban. Jadi, kupikir kamu bakalan down banget, makanya aku agak khawatir.”
“Oh … nggak apa-apa kok. Udah biasa.”
“Udah biasa? Kamu udah biasa kena skorsing?”
“Bukan.” Sudut mata Noah menangkap para anggota tim basket putri tampak sedang saling berbisik sambil menatapnya dan Luna. Tapi ia memutuskan untuk tetap melanjutkan kalimatnya, “Maksudku, aku udah biasa disalahpahami orang. Kebanyakan memang bakal percaya kalau yang bandel itu aku.”
Luna tak tahu harus berkomentar apa setelah mendengar lanjutan kalimat Noah. Ekspresi wajahnya pun tampak beragam, antara prihatin sekaligus paham kenapa orang-orang selalu mempunyai kesan yang buruk tentang Noah.
“Kakak akrab sama tim basket putri?” tanya Noah lagi.
“Iya, aku kan juga sempat main basket.”
“Oh … kenapa berhenti?”
“Aku nggak bakat,” sahut Luna sambil menggaruk-garuk kepalanya salah tingkah.
Noah tak memberi tanggapan untuk jawaban itu. Mungkin memang bagi sebagian orang, basket hanya sekadar hobi saja, yang bisa ditinggalkan kalau ia sudah mulai merasa bosan. Tapi Noah tak ingin menghakimi apapun yang melatarbelakangi orang meninggalkan olahraga yang ia sukai itu.
“Tadi habis ngomongin apa?” Noah bermaksud menjadikan ini sebagai pertanyaan terakhirnya, karena ia harus segera ke ruang ganti untuk bersiap-siap sebelum pelatih dan para senior datang.
“Itu … mereka tadi nanya-nanya sedikit tentang kenapa kamu kena hukuman skorsing. Mereka mengira kamu berantem sama anggota yang lain. Ya biasa lah, persis yang kamu bilang, yang gak kenal kamu pasti ngiranya kamu anak badung.”
Luna mengambil jeda sejenak untuk menyingkirkan daun kering yang menyangkut di sela-sela rambut Noah.
Sontak beberapa pasang mata di sekitar mereka pun melebar, dibarengi dengan tarikan napas yang tertahan. Di mata yang lainnya, Luna dan Noah terlihat sangat mesra.
Tapi, dua orang yang merasa bahwa mereka hanya sedang mengobrol biasa itu, sama sekali tak menyadari kesan yang mereka tinggalkan terhadap mata yang memandang mereka.
“Kemarin kamu ditungguin nggak muncul-muncul,” terang Luna lagi, “banyak yang ngira kamu sakit hati sama management tim dan mungkin kamu bakal pindah sekolah.”
Rahang Noah seolah akan jatuh ke lantai saking kagetnya ia mendengar penjelasan absurd dari Luna. “Kok? Kenapa bisa sampai mikir ke situ sih?” tanyanya bingung.
“Ya habisnya kan kemarin kamu harusnya masuk, tapi kamu malah bolos dan baru muncul sekarang.”
“Bukannya aku di-skors seminggu? Berarti pas dong kalo aku masuk hari ini.”
“Kamu nggak hitung hari Minggu?”
“Hari Minggu kan nggak ada latihan.”
“Ada. Menjelang Liga Rookie, kita bakal latihan tujuh hari seminggu. Lagian, namanya skorsing seminggu itu ya tujuh hari, ngapain kamu malah skip hari Minggu?”
“Ya mana aku tahu. Coach cuma bilang skorsing seminggu, nggak ngejelasin hari apa aku harus masuk. Kupikir seminggu itu hitungannya ya tujuh hari latihan.”
“Ampun deh, nih bocah kaku amat hidupnya.” Luna menepuk keningnya sambil menggeleng tak habis pikir. “Udah sana ganti baju,” katanya lagi sembari mendorong punggung Noah ke arah ruang ganti, menyuruhnya segera pergi ke sana.
Saat pintu ruang ganti dibuka, sudah ada beberapa orang di dalam. Termasuk komplotan Heru dan salah seorang dari dua anggota tim basket yang waktu itu pernah bicara tentang keinginan mereka untuk keluar dari klub.
Heru setengah membanting pintu lokernya sambil lalu berjalan keluar ruangan, diikuti Steven dan satu orang lagi yang namanya tak diketahui Noah. Igris masih sempat mengumbar senyum pada Noah sebelum kemudian mengikuti langkah mereka.
“Ha-hai Noah …,” sapa si calon quitter[1] yang ternyata masih bertahan di klub meski ia bilang ingin keluar beberapa hari yang lalu. Meskipun masih seangkatan dengan Noah, tapi entah kenapa ia jadi gugup dan terbata bak sedang berhadapan dengan senior.
“Hai,” sahut Noah sambil mengangguk kecil dan berjalan menuju ke lokernya. “Sendirian? Temanmu yang waktu itu mana?” tanya Noah kemudian.
“Oh … Fery, dia udah berhenti dua hari lalu. Katanya mau gabung ke klub voli.”
Noah tak langsung berkomentar dan masih sibuk berberes-beres di depan lokernya. “Kamu nggak ikut?” Ia berusaha sebaik mungkin untuk mengatur intonasi suaranya agar tak terdengar sinis.
“Aku masih mau lihat sampai akhir semester dulu,” jawab rekan seangkatan Noah itu sambil menggaruk lehernya dan menghindari bertatapan langsung dengan Noah, “kalau memang kira-kira nggak ada kemungkinan bisa berkembang, aku akan cari klub lain yang lebih sesuai dengan bakatku.”
Terdengar suara pintu loker Noah yang tertutup, membuat lawan bicara Noah itu pun sontak mengangkat wajahnya hingga bertemu mata dengan Noah.
“Namaku Noah.” Tanpa diduga Noah malah memperkenalkan diri. “Kamu?” tanya Noah lagi.
“Ah … oh, aku Andre. Sorry, aku telat ngenalin diri,” jawab siswa kelas 10 yang ternyata bernama Andre itu.
Noah mengangguk-angguk sambil masih mengamati Andre dari atas ke bawah. “Nggak pa-pa,” katanya, “aku juga telat ngenalin diri.”
“Eh? Tapi kamu emang nggak perlu ngenalin diri sih. Siapa yang nggak kenal sama kamu?” sahut Andre sambil tertawa canggung.
“Ya nggak lah, kalau ngajak ngobrol itu harusnya ngenalin diri dulu, kan.”
“Haha ….” Andre masih cengengesan salah tingkah, ia bingung bagaimana harus melanjutkan obrolan canggung itu, tapi juga tak tahu bagaimana cara mengakhirinya.
Noah menjinjing Air Jordan putih miliknya dan mulai melangkah menuju pintu keluar dengan bertelanjang kaki – dia memang lebih suka memakai sepatu basketnya di dalam hall.
“Good luck,” ujarnya saat lewat di sebelah Andre, “semoga kamu betah dan lebih milih basket.”
Andre menoleh menatap Noah, dan itu adalah pertama kalinya ia melihat wajah ramah seorang Noah. Padahal, sejak awal masuk klub basket, belum pernah satu kalipun ia melihat Noah tersenyum.
Selama ini, kesan yang ditinggalkan Noah kepada para anggota baru tim basket Cendana adalah: "Aku berbeda dengan kalian. Dasar commonners[2], jangan dekat-dekat."
Tapi siapa yang menyangka kalau ternyata Noah juga bisa menunjukkan ekspresi ramah, bahkan menyemangati rekan satu timnya sambil tersenyum tulus seperti ini?
“Y-ya … semoga aku bisa bertahan di sini,” balas Andre kikuk, dihadapkan dengan kehangatan Noah yang tak disangka-sangka.
Andre baru saja membuka mulut lagi untuk mengatakan terima kasih, tapi pintu ruangan itu tiba-tiba menjeblak terbuka dan Zikri langsung menghambur masuk diikuti Bayu dan yang lainnya.
“Noah!” seru Zikri sambil melompat, bermaksud untuk memeluk Noah.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Quitter adalah istilah asing yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mudah menyerah atau tidak memiliki keberanian atau tekad untuk menyelesaikan tugas.
[2] Commoner, secara harfiah berarti orang biasa atau rakyat jelata.