Noah tiba di asrama tepat beberapa saat sebelum gerbang ditutup. Padahal, untuk jaga-jaga, ia sudah mempersiapkan diri dengan membawa sekantong cemilan dan minuman kaleng untuk security yang menjaga gerbang asrama dan Mbah Marwan, si Penjaga Asrama Raven. Siapa tahu ia telat sampai dan harus “membujuk” mereka untuk membukakan gerbang.
Tapi, meskipun ‘sogokan’ itu pada akhirnya tidak diperlukan, Noah tetap memutuskan untuk memberikan makanan dan minuman yang sudah terlanjur ia beli itu. Biar bagaimanapun, meninggalkan kesan baik kepada security dan penjaga asrama itu penting.
Saat Noah baru saja melangkah menuju gedung Asrama Raven, ia mendengar suara keributan dari belakangnya. Noah berbalik dan menemukan seseorang yang ia kenal sedang berdebat dengan security yang menjaga gerbang depan.
“Ah! Noah! Noah!” panggil teman sekamar Noah itu, Igris. “Pak, saya barengan dia tadi. Iya, kan Noah? Kita sama-sama, kan?” Igris meminta konfirmasi Noah di ujung kalimatnya.
Dua orang security yang menjaga gerbang pun ikut melihat ke arah Noah, menunggu tanggapannya.
“Kami keluar dan kembali sama-sama, Pak. Aku cuma agak telat dikit tadi gara-gara hp-ku ketinggalan di mini market. Iya kan, Noah?” Lagi-lagi Igris meminta Noah bekerja sama dengannya. Wajahnya terlihat memelas di balik jeruji gerbang.
Noah akhirnya menghela napas sebelum menjawab, “Iya, Pak. Tadi kami barengan, dia teman sekamar saya.”
Wajah Igris langsung berseri bahagia, ia pun segera mengambil langkah mundur menjauhi pagar yang akan dibuka oleh security asrama itu. Igris lalu mengangguk sopan ketika melangkah melewati mereka, kemudian setengah berlari menyusul Noah yang sudah kembali melanjutkan langkahnya menuju ke Asrama Raven.
“Kamu nggak mau nanya aku dari mana?” Igris langsung mengajak Noah ngobrol saat ia sudah berhasil menyamakan langkah di sebelah Noah.
“Nggak tertarik,” jawab Noah ketus.
Igris tertawa menanggapi Noah, terlihat sama sekali tak tersinggung. “Iya sih,” ujarnya kemudian. “Kalau gitu aku yang nanya, boleh? Kamu abis dari mana? Hari ini kamu kan nggak ikut kegiatan klub, latihan di mana?”
Igris mengerling duffel bag yang dibawa Noah, baju training yang ia kenakan, dan sepatu Adidas D Rose yang tampak lebih modis dibandingkan Air Jordan Jumpman putih yang biasanya selalu ia kenakan kalau latihan di klub.
Noah melempar tatapan ke Igris melalui ekor matanya, ia bahkan tak menoleh untuk menatap teman sekamarnya itu. “Nggak usah nanya-nanya. Kita nggak seakrab itu,” ketus Noah lagi.
Senyum Igris berubah menjadi cengiran meringis. Selama perjalanan mereka dari pintu masuk asrama hingga sampai di koridor lantai 2 menuju ke kamar Raven-27, Igris mampu menahan diri untuk tak mengatakan apa-apa. Tapi saat melewati mulut pintu kamar, Igris langsung bersuara kembali.
“Hhh … hari yang melelahkan,” keluhnya sambil melempar diri ke atas tempat tidur. “Hari ini latihannya gila-gilaan. Tim Cendana udah dapat menu latihan khusus untuk persiapan Liga Rookie. Semuanya mulai fokus ke turnament itu.”
Igris bercerita tanpa diminta. Matanya mengikuti pergerakan Noah yang langsung menyeberangi ruangan menuju ke meja belajarnya untuk mengisi daya hp, sambil lalu mendorong duffel bag-nya masuk ke bawah kolong tempat tidur, membuka jaket training yang ia kenakan sebelum kemudian menyambar handuknya, bersiap untuk mandi.
“Kamu …,” Igris memutuskan untuk nekat mengajak Noah ngobrol lagi, “habis nangis, ya?” Dengan cueknya Igris menyinggung soal mata Noah yang tampak sembab dan sudah membuatnya penasaran sejak tadi.
Noah langsung melempar tatapan kesal kepada Igris, seolah ada hewan buas yang akan meloncat dari matanya untuk menerkam rekan satu tim-nya itu.
“Dengar, ya …”
“Sorry,” sela Igris cepat. Ia tahu apa yang akan dikatakan Noah selanjutnya. Pasti Noah mau bilang sesuatu soal Igris yang sok akrab. “Aku nggak bermaksud ikut campur. Tapi kupikir, kamu nggak bakal terlalu kepikiran soal skorsing dari klub. Nggak nyangka ternyata kamu sesedih itu cuma karena dilarang ikut latihan selama seminggu.”
“Jangan sok tahu.”
“Iya … kalau bukan gara-gara itu, apa dong?”
“Ngapain aku harus cerita ke kamu? Kita teman aja bukan.”
Igris menggaruk-garuk tengkuknya sambil memikirkan sesuatu. Sementara Noah memutuskan untuk menyudahi interaksinya dengan Igris dan langsung melangkah masuk ke kamar mandi. Tapi kalimat Igris membuat Noah menunda niatnya menutup pintu.
“Kenapa kamu benci banget sih sama aku? Padahal kan kita satu tim, kita harus kompak.”
“Bukan benci. Aku cuma nggak suka. Pokoknya kalau di lapangan kita memang satu tim, tapi di luar itu anggap aja kita nggak kenal,” balas Noah lagi.
“Apa aku ada buat kesalahan sama kamu?”
“Udah kubilang aku nggak suka lihat kamu. Kamu terlalu palsu.”
“Palsu gimana? Aku nggak ngerti.”
“Senyum kesana kemari, berlagak jadi anak baik. Padahal kamu juga pasti kesal kan sama aku? Kalau nggak suka bilang nggak suka, ngapain sok akrab? Permainan basketmu juga copycat[1]. Kamu nggak original. Palsu.”
Igris terperangah beberapa saat, sebelum akhirnya ia tertawa sendiri. “Jadi kamu masih kesal karena waktu itu aku niruin gaya mainmu, atau kesal karena aku berhasil jadi anak baik di mata semua orang?”
“Dua-duanya,” tegas Noah singkat sambil lalu melangkah masuk ke kamar mandi dan menutup pintu tanpa menunggu apapun lagi.
Cengiran di wajah Igris menyusut drastis saat Noah sudah hilang di balik pintu. Matanya lalu berpindah ke sesuatu di dalam tasnya.
Sebuah suntikan isi ulang tinta printer, berisikan sisa-sisa noda berwarna sama dengan cairan yang disemprotkan ke dalam loker Noah di ruang ganti klub basket.
Untuk mengotori barang-barang di dalam loker, hanya bisa melalui tiga baris celah kecil yang ada di bagian atas dan bawah pintu loker. Itu sebabnya, Heru berinisiatif menggunakan suntikan tinta printer yang ia temukan di tempat sampah ruang serbaguna asrama. Lalu meminta Igris untuk menyimpannya sementara, karena setelah kejadian itu Heru langsung menjadi tersangka utama.
Benda itu masih ada di dalam tas Igris sampai sekarang, Heru memintanya untuk menyingkirkannya, tapi Igris tak tahu bagaimana caranya. Ia tak mungkin membuang barang bukti itu ke tempat sampah dalam kamar asrama, Noah pasti akan melihatnya.
Ia juga merasa cukup gelisah, khawatir seseorang akan menemukannya jika dibuang sembarangan di dalam lingkungan Cendana. CCTV ada di mana-mana, jika ada seseorang yang menyelidiki permasalahan ini dan ia terlihat sedang membawa benda itu, maka semua tuduhan akan mengarah padanya.
Itulah sebabnya suntikan spuit itu masih ada di dalam tas Igris, sementara ia mencari lokasi dan waktu yang tepat untuk menyingkirkannya.
Igris menggapai benda itu dan mendorongnya masuk lebih dalam ke dasar tas agar tak mudah terlihat, lalu menggantung tas itu ke dinding di samping tempat tidurnya. Hampir di saat yang bersamaan, hp-nya berdering dan nama Heru tertera di layar.
“Jadi dibuang di mana?” tanya Heru langsung saat Igris menerima panggilan telepon itu.
“Belum,” jawab Igris singkat.
“Ha? Kamu masih nyimpan barangnya? Gimana kalau kepergok sama dia?”
“Kamu tenang aja, tadi aku habis dari luar dan aku udah nemuin tempat yang pas buat membuangnya.”
“Kenapa nggak langsung dibawa aja barangnya sekalian, terus langsung dibuang?”
“Tadi pas aku mau keluar, di gerbang asrama lagi ada razia, semua yang keluar-masuk tasnya diperiksa.”
“Ya bawa aja sih. Itu kan cuma spuit suntik biasa. Bukan pisau berlumuran darah juga.”
“Tetap aja aku khawatir. Gimana kalau aku ditanyain itu benda untuk apa? Salah-salah nanti malah orang curiga aku pakai obat-obatan.”
“Bilang aja untuk isi ulang tinta printer. Susah amat.”
“Siapa yang bawa printer ke asrama? Itu malah jadi makin aneh, kan?”
Kekhawatiran Igris bukan tak beralasan. Membawa printer pribadi ke kamar asrama memang tergolong aneh karena asrama sudah menyediakan semuanya di ruang serbaguna. Selain laptop, tiap penghuni asrama tidak diperkenankan memiliki benda elektronik lainnya di dalam kamar, seperti printer, TV, rice cooker, kulkas pribadi dan sejenisnya.
Semua yang bisa digunakan bersama, biasanya sudah tersedia di ruang serbaguna masing-masing asrama. Jika ada penghuni asrama yang ingin memiliki benda elektronik pribadi di kamarnya, maka ia harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari Ketua Asrama.
“Pokoknya besok benda itu harus udah disingkirkan. Zikri dan teman-temannya mulai bikin kesal, main detektif-detektifan di sekitarku buat nyari barang bukti.”
“Ok. Gampang lah,” pungkas Igris tepat beberapa saat sebelum Noah keluar dari kamar mandi untuk mengambil sesuatu di dalam lemarinya.
Igris cemas Noah menguping pembicaraannya di telepon. Dengan hp yang masih berada di telinganya, ia mengamati pergerakan Noah yang sudah kembali masuk ke kamar mandi bahkan tanpa menatap Igris sama sekali.
“Tapi … yang kemarin kamu janjiin itu, bisa kan?” tanya Igris lagi kepada Heru.
“Aman. Itu urusan kecil,” balas Heru tanpa beban. “Besok kita bicarain lagi pas jam makan siang, ya.”
“Ok. Tolong ya,” sahut Igris sebelum kemudian mengakhiri pembicaraan via telepon itu.
.
Pukul 00:35.
Sudah lewat tengah malam. Tapi Noah belum bisa tertidur nyenyak. Ia masih selalu terbangun hanya karena suara-suara kecil.
Ketika ia baru saja membalikkan tubuh menghadap dinding, terdengar suara flush toilet dari dalam kamar mandi. Sesaat setelahnya, Igris keluar sambil bicara dengan seseorang melalui hp di tangannya.
“Aku udah nggak bisa kerja part time,” bisiknya pelan. Meski begitu, suaranya masih bisa didengar oleh Noah; karena heningnya suasana malam di kamar asrama itu.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Copycat adalah peniru, seseorang yang suka mengikuti hal yang sama dengan orang lain. Kebiasaannya memang menyamakan dirinya agar bisa terlihat seperti orang yang ditirunya.