Let Go But Never Forget

1848 Kata
Gilang mengambil posisi duduk tepat di sebelah Noah. “Siapa yang tenggelam sendiri?” tanyanya kemudian. “Kak Fajar.” Noah menjawab lirih. “Si bodoh itu,” Gilang menghempas napasnya sebelum melanjutkan, “aku ngerasa udah capek banget nangisin dia. Tapi mau marah juga gimana? Dia udah nggak ada di sini. Walaupun kita pengen banget, satu kali aja ketemu dia lagi, pengen ngomong sebentar aja, satu menit aja. Tapi percuma, kan? Kita udah nggak punya kesempatan itu lagi.” Setelah perkataan Gilang, dua orang dengan selisih usia yang terpaut 5 tahun itu hanya melewatkan waktu tanpa mengatakan apapun lagi. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Dan meskipun saat ini mereka duduk bersebelahan, tapi Gilang menatap jauh ke langit temaram sementara Noah sejak tadi terlihat seperti sangat tertarik dengan lantai halte. “Taksi online-nya udah dipesan?” tanya Gilang memecah keheningan. Noah mengangguk sambil melirik aplikasi taksi online di layar hp-nya. “Sekitar 10 menit lagi sampai,” ujarnya kemudian. Lalu, lagi-lagi mereka kehilangan bahan obrolan. Gilang sedang menimbang-nimbang, bagaimana seharusnya ia memulai pembicaraan dengan Noah. “Teman sekelasku di Cendana ….” Tak diduga, Noah malah menjadi pihak yang lebih dulu membuka obrolan. Gilang tak mau memberi kesan seolah ia tidak tertarik. Tak hanya wajahnya, ia bahkan memutar tubuhnya menghadap ke arah Noah, mengisyaratkan bahwa ia siap mendengar lanjutan cerita Noah. “Kenapa teman sekelasmu di Cendana?” tanya Gilang kemudian. “Dia dibully sama seniornya di klub olahraga,” Noah memulai penjelasannya, “aku bermaksud membantunya … tapi kayaknya aku malah semakin memperburuk keadaan.” Gilang tak akan pernah bisa menjadi seperti Fajar. Dalam situasi seperti ini, ia tak tahu bagaimana harus menanggapi cerita Noah. “Gimana?” tanya Gilang menuntut penjelasan lebih. Tak mau terburu-buru, Gilang ingin memberi nasihat yang paling tepat untuk situasi Noah, makanya ia sangat berhati-hati. Tapi Noah malah menjadi enggan. Ia merasa tak boleh terlalu banyak mengeluh lagi di hadapan rekan-rekan Red Phantom-nya. “Bukan apa-apa sih, cuma masalah sepele. Biar nanti aku coba selesaikan sendiri,” tutup Noah akhirnya. Gilang tertegun sejenak, merasa bahwa ia telah kehilangan momen yang tepat untuk menjadi teman curhat Noah, seperti yang selama ini selalu dilakukan Fajar. Sayangnya, memang sejak kepergian Fajar, Noah berubah menjadi semakin tertutup. Bukannya merasa tidak nyaman menceritakan masalahnya kepada orang, tapi sebenarnya ia khawatir orang lain yang akan merasa tidak nyaman mendengar ceritanya. Intinya, Noah takut curhatannya akan membebani dan ia percaya bahwa tak mungkin ada yang mau mendengarkan keluhan-keluhannya. Akibatnya, Noah lebih memilih untuk melindungi diri di dalam cangkang. Terlihat keras dari luar tapi sebenarnya sangat lembut di dalam. Seperti moluska, yang tak boleh ditarik paksa untuk keluar dari cangkangnya. Jika ingin melihatnya menampakkan diri, orang harus cenderung bersabar menunggu, membuatnya merasa aman hingga akhirnya ia keluar dengan sendirinya. Itu sebabnya Gilang memutuskan untuk memancing Noah dengan sedikit mengulur pembicaraan lagi. “Kamu ingat gimana dulu kamu sering diam-diam ngikutin Fajar, kayak stalker[1]?” Gilang pun memulai topik baru dengan atmosfer yang lebih ringan. “Aku nggak diam-diam ngikutin kok,” bantah Noah cepat. “Iya, tapi sejak pertemuan di lounge GOR abis pertandingan hari itu, kamu langsung ninggalin lapangan FISIP dan gantian malah sering muncul di lapangan anak Teknik,” kata Gilang sambil agak menahan tawa. “Curi-curi mengamati Fajar, hampir tiap sore. Untungnya Fajar selalu nyapa kamu dan ngajak kamu main bareng. Kalau nggak, kami udah panggil security supaya kamu diusir.” “Eh? Serius? Memangnya aku waktu itu ganggu banget, ya?” “Itu sebelum kami tahu kalau kamu ternyata anaknya yang punya kampus.” Gilang tertawa lebih lepas kali ini. Tapi Noah tidak terkesan dan hanya pasang tampang merengut. Ketika tawa Gilang mereda, ia kembali menghela napas sebelum melanjutkan, “Fajar juga yang mengajarkan banyak hal ke kamu, kan? Wajar kalau kamu kagum banget sama dia. Aku juga … selalu kagum dan merasa bangga punya teman kayak dia.” Noah tak membantah. Memang benar, setelah pertemuan pertamanya dengan Fajar, Noah menjadi sangat tertarik padanya, apalagi setelah melihat permainan basketnya. Kadang Gilang dan Wisnu sampai protes karena Noah nempel terus, dan Fajar tak pernah terlihat keberatan. Seiring berjalannya waktu, mereka pun menjadi sangat akrab. Noah menceritakan semuanya kepada Fajar, tentang keluhannya di tim basket sekolah, tentang ayahnya yang tak menyukai cita-citanya, tentang Raka yang selalu cuek, tentang ibunya yang sering berlagak peduli padahal sebenarnya ia hanya bertanya untuk basa-basi. Dan Fajar pun menampung semua cerita Noah. Tak pernah satu kalipun Noah mendengarnya mengeluh. Itu sebabnya, Noah selalu merasa nyaman berada di dekatnya. Hingga kabar hari itu sampai ke telinga Noah. Mendadak semua yang ada di sekitar Noah seperti kehilangan warna. Cahaya Fajar menghilang terlalu tiba-tiba. Antara percaya dan tak percaya, langit seakan runtuh menimpa Noah. Sedih saja tak cukup untuk menggambarkan bagaimana perasaan Noah saat itu, rasa sakit yang menyerang dari balik rongga dadanya seolah melelehkan tiap sendi di tubuh Noah dan membuat sekujur tubuhnya lemas. “Sedikit banyak, kita mungkin memikirkan hal yang sama,” gumam Gilang pelan, “aku pernah berpikir kalau Fajar mungkin membenciku. Mungkin dia melompat sambil memendam perasaan marah kepada orang-orang di sekitarnya, termasuk aku. Mungkin aja, Fajar memilih untuk pergi dengan cara itu karena ia juga mau menghukumku, supaya aku merasakan rasa bersalah yang nggak berujung, karena aku nggak bisa membantunya apa-apa.” Tatapan sendu Gilang yang sejak tadi masih menerawang jauh, kini beralih kepada Noah. “Apa kamu juga merasa begitu?” tanyanya kemudian. Lagi-lagi kalimat Gilang tepat sasaran. Noah memang selalu berandai-andai seperti itu. Makanya, ia tak pernah merasa tenang setiap kali nama Fajar disebut. “Tapi Noah…,” sambung Gilang lagi, “gimana kalau ini cuma prasangka kita aja? Coba ingat lagi wajah Fajar, apa mungkin dia punya pemikiran sejahat itu ke kita, ke kamu? Kalau orang dewasa kayak dia aja kesulitan menghadapi permasalahannya, masa’ iya dia mengharapkan seorang anak SMP sepertimu bisa membantunya?” Seketika, sosok mahasiswa luar biasa bernama Fajar itu kembali berkelebat di benak Noah. Wajah dan senyuman cerahnya, suaranya yang ramah, tepuk tangannya yang selalu memberi semangat, kata-kata motivasinya yang terdengar sangat meyakinkan, caranya tertawa … caranya bergurau … menggema dan membawa kembali semua kenangan hangat yang sempat tertimbun akibat berita terakhir yang didengar Noah tentangnya. Ingatan-ingatan itu seolah menyengat mata Noah, menimbulkan genangan air yang perlahan mulai mengaburkan pandangannya. Benar ... tak mungkin sosok sebaik itu mengakhiri hidup untuk menghukum orang-orang yang menyayanginya. “Aku juga sempat memiliki pikiran-pikiran jahat seperti itu tentangnya,” lirih Gilang. “Padahal harusnya aku yang paling tau, dia bukan tipe orang yang suka melempar kesalahan kesana kemari. Tapi aku dengan teganya berprasangka buruk tentang dia, saat dia udah nggak bisa lagi menjelaskan dirinya. Dia udah pergi, kan? Kalau kita menuduhnya macam-macam, gimana caranya dia membela diri?” Sesuatu berdesir di balik pembuluh darah Noah, terasa hangat tapi juga terasa dingin. Bagaimana menjelaskannya? Noah merasa tiap sel darahnya sedang menusuk-nusuknya dari dalam, hingga membuat sekujur tubuhnya terasa ngilu. Noah menekuk wajahnya dan menunduk dalam, berusaha menyembunyikan air yang sudah berkubang di kelopak matanya. Tapi, itu malah membuat bulir air matanya tampak jelas saat jatuh menetes ke lantai. “Anggap aja Fajar cuma lelah,” Gilang kembali melanjutkan kalimatnya, “dia menemukan jalan buntu dan dia pengen istirahat. Hanya dengan menanamkan itu ke dalam pikiranku, rasanya bebanku bisa terasa sedikit lebih ringan. Aku ingin kamu juga mempercayai hal itu. Orang sebaik dia, harusnya dikenang dengan cara yang indah. Tapi kenapa setiap kali namanya disebut malah membuat jantung terasa remuk? Kenapa setiap kali mengenang masa lalu bersamanya malah membuat hati terasa sakit? Sayang banget, kan?” Gilang menoleh ke sampingnya untuk mengintip reaksi Noah. Detik berikutnya, ia pun tersenyum sambil meraih kepala Noah dan menariknya ke dalam dekapan. “Nggak apa-apa … jangan takut kelihatan lemah cuma karena kamu pengen nangis. Siapa bilang cowok nggak boleh nangis? Nggak boleh curhat?” Gilang memindahkan tangannya ke bahu Noah, merangkulnya erat sambil menepuk-nepuk pelan lengan anak SMA yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu. “Kalau kamu punya masalah, dan beban di pundakmu ini terasa berat banget sampai kamu nyaris ambruk. Nggak apa-apa, cerita aja,” tuturnya lagi di sela suara isakan yang sesekali mulai lolos dari bibir Noah. Gilang bisa merasakan tangannya yang sedang merangkul pundak Noah ikut bergetar, karena anak itu sedang berusaha keras untuk meredam suara tangisnya, meskipun sebenarnya percuma, Gilang sudah terlanjur menyaksikan semuanya. Tapi Gilang tersenyum lega melihat tangisan itu. Noah tidak menangis saat pemakaman Fajar, ia sama sekali tak meneteskan air mata. Ia bahkan tak ingin melihat jenazahnya dan hanya mengantar Fajar ke tempat peristirahatan terakhirnya sambil berdiri di kejauhan. Mungkin ia ingin mengingkari peristiwa itu, ingin menganggapnya tidak nyata. Atau, mungkin Noah merasa sangat kesal kepada Fajar yang memilih untuk meninggalkannya dengan cara itu. Apapun alasannya, Noah yang terlihat sangat sedih tapi tak menangis, bukanlah suatu hal yang baik. Bahkan itu adalah hal yang sangat mengkhawatirkan. Itu sebabnya, Gilang tersenyum lega ketika melihat Noah akhirnya meneteskan air mata dan menangis di hadapannya malam ini. Perlahan Gilang mengulurkan handuk putih milik Noah yang sejak tadi masih berada di tangannya. “Keluarin aja semuanya, bicarakan sama kami atau siapapun yang kamu anggap nyaman,” ujarnya lagi. “Lebih baik aku, Wisnu dan Taufik melihatmu menangis cengeng kayak gini, mengeluh dan curhat macam-macam, daripada melihatmu memendam semuanya sendirian. Lalu tiba-tiba kami harus mendengar kabar buruk atau bahkan menghadiri pemakamanmu sehari setelahnya.” Noah tahu, kata-kata yang diucapkan Gilang itu bukan hanya tentangnya, tapi juga tentang sahabatnya yang telah lebih dulu meninggalkannya. “Maksudku bicara seperti ini adalah … Noah, aku pengen kamu berhenti menyalahkan diri sendiri untuk suatu hal yang memang sejak awal bukan tanggung jawabmu. Kamu masih sangat muda. Percayalah, Fajar nggak ngelakuin ini karena membenci kita. Dia juga pasti nggak mau waktu kita ikut terhenti bersamaan dengan kepergiannya.” Gilang kembali mendongakkan wajahnya menatap langit. Setetes air juga bergulir dari sudut mata Gilang, tapi ia tak berusaha menyembunyikannya. “Aku bukan menyuruhmu melupakannya …,” sambungnya kemudian. “Kamu boleh merelakannya, tapi jangan dilupakan. Jujur, bahkan jika aku bisa mengulang waktu kembali, aku tetap nggak yakin bisa menyelamatkan Fajar. Jadi, mungkin memang nggak ada yang bisa kita lakukan selain menjadikan semua ini sebagai bagian dari pelajaran hidup yang telah diberikan oleh Fajar, untuk kita.” Lampu-lampu penerangan kampus sudah dinyalakan, bulan separuh yang tadinya masih terlihat pucat di langit, kini sudah mulai tampak kontras dengan warna malam yang pekat. Tak ada lagi yang bicara setelah Gilang menyelesaikan kalimatnya. Selama beberapa saat hanya diisi dengan suara hembusan angin, diiringi suara gelak tawa beberapa mahasiswa Arajaya dari kejauhan. Noah mengelap wajah dengan handuk putih yang sudah basah karena keringat bercampur air matanya itu, sambil berusaha menata kembali hati setelah selesai menuangkan segala kegundahan yang menggelayutinya. Gilang benar, Noah tak harus melupakannya, ia hanya perlu merelakannya. Sayang sekali jika Fajar harus diingat dengan hati yang terluka. Kenangan tentang Fajar harusnya tidak menyakiti, kenangan tentangnya harusnya membawa kehangatan. Dan Noah berjanji, mulai sekarang, ia hanya akan mengenang semua hal baik tentang sosok seorang pemain basket muda yang genius dan ramah, bernama Eka Fajar Pamungkas. ___ ___ ___ ___ ___ [1] Stalker atau penguntit, secara harfiah diartikan sebagai orang yang diam-diam mengikuti dan mengamati seseorang, dalam jangka waktu tertentu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN