“Benar, kan? Kubilang juga apa,” seru seorang mahasiswa bertopi baseball tepat di sebelah Noah hari itu; beberapa saat setelah pertandingan semifinal antar SMP tingkat provinsi baru saja selesai dengan kemenangan tim SMP Pelita.
Noah – yang sejak tadi masih gagal memasukkan uangnya ke vending machine untuk membeli minuman – menoleh dan menemukan dua orang mahasiswa bertubuh tinggi besar tiba-tiba saja sudah berada di sebelahnya.
“Siapa?” tanyanya refleks dengan dahi yang mengernyit.
Salah seorang dari mahasiwa itu membuka topinya dan memperkenalkan diri.
“Namaku Fajar, barusan kami lihat pertandingan kalian, dan kamu luar biasa,” tutur mahasiswa berwajah ramah itu.
“Kamu yang sering kudeta lapangan basketnya anak FISIP, kan?” sahut rekan Fajar yang belum menyebutkan namanya.
“Maksudnya?” Noah masih belum mengerti arah pembicaraan mereka.
“Kami mahasiswa tahun pertama di Arajaya, kami dengar lapangan basket FISIP sering dikuasai anak SMP. Itu kamu, kan?” kata Fajar lagi. “Anak yang sering nguasain lapangan basket orang, terus kalau diusir malah nantangin 1 on 1.”
“Padahal kalau nantangin juga dia sering kalah sih, ya. Tapi tetap aja besoknya dia balik dan nantangin lagi.” Rekan Fajar tertawa di ujung kalimatnya.
“Tapi biar gimanapun dia tetap sportif, kalau kalah dia bakal langsung ninggalin lapangan tanpa banyak protes.”
“Katanya ngalahin dia juga nggak mudah, beberapa kali dia malah berhasil menang.”
“Makanya anak-anak basket FISIP banyak yang salut sama dia. Kan dia jadi terkenal di kampus.”
“Oi! Yang diomongin ada di depan kalian nih.” Noah menyela obrolan mereka yang asyik bicara tentangnya, seolah ia sedang tak berada di situ.
Kedua mahasiswa itu pun tertawa menghadapi kekesalan Noah.
“Kenalin, ini temanku Gilang, kami mahasiswa Fakultas Teknik di Arajaya. Kami juga main basket.” Fajar akhirnya memperkenalkan rekan di sebelahnya.
“Kamu hebat banget,” Fajar kembali tersenyum lebar, “kamu pasti bisa jadi pemain pro yang luar biasa.”
“Dari 65 score kemenangan tadi, 47 pts dia sendiri yang ngumpulin. Bocah ini lebih monster dari kamu, Jar,” celetuk Gilang. “Tapi kamu dipuji sama Fajar loh, kamu harusnya senang, Nak. Kamu tahu dia ini siapa?”
“Ck!” Fajar berdecak kesal sambil memukul kepala Gilang dengan topinya. “Gak usah koar-koar yang nggak penting, bikin malu aja,” gerutunya.
Alis Noah kembali berkerut bingung. Memang sejak tadi wajah Fajar tampak cukup familiar. Seperti sering melihatnya tapi entah di mana, Noah tak bisa mengingat detailnya dengan jelas.
“Dia ini Eka Fajar Pamungkas, tahu? Semua orang yang main basket pasti kenal dia. Pemain termuda sepanjang sejarah yang direkrut tim basket nasional. Masa kamu nggak kenal?” Gilang yang sejak tadi sudah tak sabar ingin mengungkapkan identitas temannya itu, akhirnya kembali memperkenalkan Fajar dengan penuh kebanggaan.
Kedua belah bibir Noah pun merenggang setengah tak percaya. Benar. Ia ingat sekarang, ia sering melihat wajah itu di majalah dan berita-berita olahraga. Prodigy, genius, harapan masa depan basket nasional. Eka Fajar Pamungkas, seorang pemain basket muda yang sering disebut-sebut sebagai mesin pencetak skor untuk timnya.
Saking kagetnya, selembar uang lecek yang sejak tadi ditolak vending machine itu pun terpeleset dari tangan Noah, dan melayang jatuh hingga masuk ke kolong mesin penjual minuman otomatis itu.
“Hahaha … kan? Dia kaget, kan?” Gilang tertawa puas sambil memukul-mukul lengan Fajar dengan antusias. “Makanya aku bilang kamu harus ngenalin diri, biar dia jangan sok jago di Arajaya.”
“Si-siapa yang sok jago?!” Noah langsung salah tingkah dan tak ingin Fajar salah paham terhadapnya.
“Woi! Pastiin nggak ada yang ketinggalan.”
Tiba-tiba saja terdengar suara keras yang menyela dari arah koridor di belakang Noah. Saat ini Noah, Fajar dan Gilang sedang berada di lounge Gelanggang Olahraga yang sudah mulai sepi; karena pertandingan sudah selesai sejak tadi.
Di sisi kiri dan kanan lounge itu adalah koridor yang mengarah ke ruang ganti pemain. Sedangkan koridor yang berada di belakang Noah adalah koridor di mana ruang ganti timnya berada selama pertandingan tadi.
Noah mengenali suara seruan keras yang barusan. Itu adalah suara salah seorang rekan satu tim Noah di SMP Pelita. Sepertinya mereka baru selesai mengosongkan ruang ganti dan bersiap-siap menuju ke bus untuk kembali ke sekolah.
“Ah! Gila! Sampai udah mau naik kelas 9 kita masih nggak kebagian posisi di tim reguler. Tiap pertandingan cuma jadi tukang angkut barang doang,” keluh suara lainnya.
“Kudengar, si Noah itu bahkan sejak kelas 7 belum pernah disuruh-suruh kayak kita gini, kan ya?” Kali ini komentar dari suara yang berbeda.
Ada beberapa orang yang masih berkutat di depan pintu ruang ganti pemain SMP Pelita, menunggu rekan lainnya yang sedang beres-beres di dalam ruangan itu. Tak disangka mereka malah melakukan kegiatan itu sambil saling bertukar pendapat tentang Noah.
“Ya mau gimana lagi? Dia jago sih. Sebaik masuk langsung jadi anak emas. Boro-boro disuruh-suruh, ikut beres-beres tiap abis pertandingan kayak gini aja nggak pernah. Dibelain pelatih terus. Alasannya, dibandingkan kita yang nggak ikut tanding, Noah pasti capek. Takut Noah cedera kalau terlalu dipaksain, makanya kita yang harus bantu-bantu.”
“Apa-apaan dia itu?! Bikin kesal aja.”
Suara keras itu terdengar semakin jelas ketika pemiliknya mulai meninggalkan ruang ganti pemain. Sepertinya mereka sudah selesai beres-beres dan kini sedang berjalan menyusuri koridor, menuju ke arah lounge tempat Noah dan dua mahasiswa Arajaya itu sedang berada.
Tapi, obrolan tentang Noah masih berlanjut seiring dengan langkah kaki mereka.
“Eh, kalian juga ngerasa nggak? Kalau ada Noah, rasanya nggak bisa menikmati basket,” ujar salah seorang dari tim SMP Pelita itu lagi.
“Iya, aku juga ngerasa gitu.”
“Entah kenapa suasananya jadi berat. Dia juga nggak ramah.”
“Mana cewek-cewek taunya Noah doang lagi.”
“Iya, dikira main basket cuma satu orang apa?”
“Nggak peduli sehebat apa yang lainnya, kalau ada Noah, semuanya nggak bakal kepandang.”
“Apa-apa pasti Noah. Foto poster, promosi event, wawancara, media lokal tahunya cuma blow up Noah. Kalau udah jalan bareng dia, aku ngerasa jadi kayak acar nasi goreng yang ujung-ujungnya cuma dipinggirin doang.”
“Sumpah ya, kalo bareng dia tuh aku ngerasa kayak kecil banget, nggak ada harganya.”
“Kasihan kakak senior yang harus tersingkir dari starting lineup[1] gara-gara dia. Padahal ini kan kejuaraan terakhir mereka di SMP, tahun depan mereka udah lulus. Harusnya posisi pemain inti itu untuk para senior ...”
Seketika kalimat yang meluncur dari mulut mereka terhenti, bersamaan dengan langkah yang membeku ketika mereka keluar dari koridor dan tiba di lounge.
Mata Noah bertemu langsung dengan mata mereka. Tapi tak ada satu pun yang bersuara. Aliran waktu di lounge itu seakan membeku bersama dengan membekunya langkah dan ekspresi wajah para anggota tim SMP Pelita.
Beberapa dari mereka mulai berbisik satu sama lain, “Mampus. Dia dengar nggak tadi?”
“Kita dengar semua loh …,” sahut Gilang renyah. “Kalian punya nyali juga ngomongin orang dari belakang.”
Anggota SMP Pelita yang suaranya terdengar paling keras tadi namanya Raguel, dia adalah rekan seangkatan Noah yang paling sering memuji Noah kalau sedang latihan.
“Noah … dari tadi di situ?” Raguel memberanikan diri untuk bertanya sambil menggaruk-garuk pipi dengan jari telunjuknya.
“Nggak, baru datang,” jawab Noah datar. “Kalian kelamaan, busnya udah nungguin dari tadi. Apa masih banyak barang yang mau diangkat?”
Noah meninggalkan tempatnya berdiri dan berniat untuk ikut membantu mereka mengangkat barang-barang tim yang tersisa.
“Eh … nggak usah, nggak usah. Nggak pa-pa, kok. Biar kami aja.” Raguel buru-buru mencegah Noah dan memberi kode kepada rekan-rekan lainnya untuk segera meninggalkan tempat itu. “Yuk, cepat,” serunya sambil lalu tergesa-gesa menuju ke pintu keluar.
Noah hanya bisa terpaku di tempatnya berdiri, memandangi punggung rekan-rekan satu timnya yang berlalu pergi tanpa menoleh lagi.
“Uwah … keras juga dunia basket anak SMP,” gumam Gilang takjub.
Noah nggak tahu kenapa waktu itu dia terdiam. Padahal, argumen mereka sangat mudah dibantah. Posisi pemain inti tidak harus diisi senior. Ini bukan tentang siapa yang lebih dulu bergabung di tim, ini tentang siapa yang punya kemampuan lebih baik di antara yang lainnya.
Kompetisi diadakan bukan untuk sekadar bermain-main demi menciptakan kenangan. Kompetisi itu diadakan untuk mencari pemenang, untuk bertanding dan saling mengungguli. Jika di dalam proses itu nantinya menghasilkan kenangan, maka itu adalah bonus dari sebuah kompetisi.
Dan kalau mereka merasa kecil saat berada di dekat Noah, bukankah itu masalahnya ada di kepercayaan diri mereka masing-masing? Kenapa jadi Noah yang harus disalahkan?
Tapi, waktu itu tak satu kata pun keluar dari mulut Noah untuk membalas mereka. Ia cukup terpukul. Makanya ia tak mengatakan apa-apa. Ia mengira – walaupun sedikit – tapi setidaknya dirinya cukup disukai di tim basket SMP Pelita. Namun ternyata, bahkan orang yang selalu tersenyum dan memasang wajah ramah padanya pun sebenarnya tak begitu menyukainya.
Tiba-tiba, sebuah rangkulan melingkar di pundak Noah. Ia menoleh sambil agak mengangkat wajahnya untuk menemukan si pemilik tangan.
Pemandangan yang ada di hadapan Noah saat itu masih terpatri jelas di ingatannya. Senyuman Fajar berlatarkan sinar senja yang menembus dinding kaca lounge Gelanggang Olahraga … terasa begitu hangat dan menenangkan.
Fajar terlihat sangat terang, sangat menginspirasi, bak seorang pahlawan yang bahkan bertemu mata dengannya saja sudah membuat mata Noah berkaca-kaca.
“Kamu tahu, nggak?” Fajar mulai bicara sambil mengeratkan rangkulannya, “kapal laut itu selalu dikelilingi air yang berlimpah tapi tetap bisa mengapung dan nggak tenggelam, kan?”
Noah tahu kalimat Fajar tak akan berhenti di situ, itu sebabnya ia tak menyela. Meskipun sebenarnya ia cukup bingung kenapa Fajar tiba-tiba bicara soal kapal laut.
“Kapal itu nggak tenggelam karena nggak ada air yang merembes masuk,” sambung Fajar lagi. “Kalau sedikit aja ada celah bocor yang membuat air berhasil masuk, maka hanya tinggal menunggu waktu kapal itu akan tenggelam.”
Fajar menepuk-nepuk pelan bahu Noah, seolah ingin men-transfer semangatnya. “Jangan biarkan air itu masuk dan menenggelamkanmu. Supaya kamu bisa tetap berlayar sejauh yang kamu mau.”
Saat mendengar kalimat motivasi Fajar sore itu, hati Noah terasa sangat lapang. Semua rasa sesak yang menekan jantungnya seakan sirna tersapu kehangatan senyum dan kata-kata Fajar.
… … …
Tapi jika Noah mengingat itu lagi sekarang, ia hanya bisa tersenyum sinis sambil berusaha mencegah hatinya agar tak mengutuk sosok yang dikaguminya itu.
“Padahal dia yang ngebiarin air masuk dan tenggelam sendiri,” gumam Noah setengah menggerutu.
“Siapa?”
Sebuah suara membantu Noah untuk keluar dari lamunan masa lalu, tentang pertemuan pertamanya dengan Fajar hari itu. Noah yang sedang duduk di halte kampus itu pun menoleh untuk menemukan si pemilik suara.
Ia menemukan Gilang sedang berjalan santai menghampirinya, di tangannya ada handuk putih milik Noah yang tertinggal di lapangan basket tadi.
“Siapa yang tenggelam sendiri?” tanya Gilang lagi sambil mengambil posisi duduk tepat di sebelah Noah.
Tak ada siapa-siapa di halte itu. Hari memang sudah gelap, sebagian besar mahasiswa Arajaya yang menggunakan kendaraan umum sudah tak ada lagi di area kampus.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Starting Lineup adalah Susunan Pemain Awal, atau daftar resmi pemain yang akan berpartisipasi pada babak awal dimulainya pertandingan.