The Questions With No Answers (2)

1692 Kata
Noah menatap kosong ke arah rumput hijau di dekat sepatunya. “Kak …” Suara Noah terdengar lirih. “Sampai sekarang pun aku masih nggak bisa terima.”. “Soal apa?” tanya Wisnu sambil sedikit beringsut ke dekat Noah agar bisa mendengar suaranya lebih jelas. “Soal polisi menghentikan penyelidikan Kak Fajar dan dengan gampang menyatakan dia bunuh diri.” Alih-alih merasa kaget mendengar lanjutan kalimat Noah, ekspresi Gilang dan teman-temannya terlihat seolah sudah biasa dihadapkan dengan situasi itu. Karena memang sejak kepergian Fajar – meski keluarga dan teman-teman perlahan mulai bisa merelakannya – Noah masih kesulitan untuk menerima kenyataan itu. Terdengar suara Gilang yang mengosongkan udara dari paru-parunya, dengan helaan napas yang seolah menyiratkan: ya ampun … obrolan tentang ini lagi. “Noah …” “Aku tahu,” sela Noah cepat. Padahal Gilang bahkan belum memulai kalimatnya. “Aku tahu dia ninggalin catatan terakhirnya, aku tahu kamarnya terkunci dari dalam, aku tahu semua bukti-bukti memang mengarah bahwa ia cuma sendirian sampai saat terakhirnya. Tapi …” Lagi-lagi Noah merasakan sesuatu seolah menghimpit jantungnya. Ia sampai harus mendekap dadanya untuk meredakan rasa sesak yang kembali datang tiba-tiba, setiap kali ia mengingat Fajar. “Kalau memikirkan bagaimana Kak Fajar melewati hari-hari terakhirnya, aku malah semakin nggak bisa terima … rasanya aku masih nggak percaya,” lanjut Noah lagi. “Kupikir dia baik-baik aja … tapi sepertinya memang aku nggak tahu apa-apa ….” Satu tahun lebih sudah berlalu, tapi Noah masih saja memiliki banyak pertanyaan yang entah kapan dan entah siapa yang bisa menjawabnya. Sebenarnya apa yang dipikirkan Fajar hari itu? Sehancur apa dia saat itu? Apa mungkin rasa sakitnya benar-benar tak tertahankan, hingga ia menyimpulkan bahwa lebih baik mengakhiri semuanya? Bukankah Fajar bilang, ia sudah menganggap Noah sebagai saudaranya sendiri? Tapi kenapa dia tak memberitahu apapun kepada Noah? Terlalu banyak hal yang tak bisa dimengerti dan membuat Noah jadi diliputi rasa bersalah. Rasa bersalah itu yang membuatnya kini menjadi pribadi yang enggan mengungkapkan apa yang sedang ia rasakan kepada siapapun. Kepergian Fajar sangat mempengaruhi Noah. Membuatnya menjadi takut mengeluh dan selalu merasa kalau, mungkin saja, permasalahan yang dihadapi Noah sebenarnya tidak terlalu penting, keluhan Noah bukan masalah yang serius. Mungkin saja, Noah hanya terlalu cengeng dan manja. Noah sering berpikir bahwa sebenarnya orang-orang tak peduli dengan masalahnya, tak mungkin ada orang yang mau mendengarkan cerita Noah. Karena semua orang juga pasti punya masalah mereka sendiri; yang mungkin saja malah lebih parah dari masalah yang sedang dihadapi Noah. Pikiran-pikiran seperti itu yang membuat Noah menjadi semakin tertutup dan sulit untuk dekat dengan orang lain, termasuk dengan keluarganya sendiri. Sejak awal ia memang tak begitu dekat dengan ayahnya, ia juga enggan bercerita kepada Raka ataupun ibunya, karena Noah tahu mereka sudah cukup kesulitan menghadapi permasalahan hidup mereka sendiri. Noah tak mau menambah beban mereka. Ia tak mau lagi memperlakukan orang lain seperti bagaimana dulu ia selalu memperlakukan Fajar. Ia tak mau mendapat kabar tiba-tiba lagi, tentang seseorang yang ia pikir ia kenali dengan baik, namun memutuskan untuk pergi begitu saja. “Noah,” Wisnu membuka suara setelah beberapa saat hening, “kamu tahu? Gilang juga sempat mengalami depresi setelah kepergian Fajar. Dia bahkan harus mengambil cuti 1 semester. Gilang menyalahkan dirinya sendiri …” “Wisnu ….” Gilang menyela kalimat Wisnu dengan sangat lirih. Meski begitu, Wisnu paham bahwa ia harus menghentikan ucapannya, dan ia tak bisa melanjutkan topik itu. Suasana kembali hening selama beberapa saat. Keempat anggota Red Phantom itu duduk bersama di pinggir lapangan basket, tapi mata mereka menatap kosong ke arah langit senja yang sangat jauh di ujung sana, memikirkan seseorang yang tidak sedang berada bersama mereka saat ini. “Fajar memang keterlaluan,” gerutu Wisnu tiba-tiba, “aku juga sempat ngerasain hal yang sama persis kayak kamu. Aku juga nggak habis pikir, kenapa dia nggak pernah ngomong apa-apa sama kami? Apa kami ini bukan temannya?” Wisnu ngomel, tapi tatapannya lurus ke arah pucuk-pucuk pohon eukaliptus yang berbaris rapi di ujung kampus. Seolah ia tak ingin menatap mata siapapun saat ini. “Padahal Gilang itu teman sekelasnya. Teman satu jurusan, satu tim juga di Red Phantom,” lanjut Wisnu lagi. “Aku ini juga udah kenal dia sejak lama, dari kami masih SMA. Tapi tetap aja dia milih buat mendam semua sendirian. Terus memangnya kami ini apa? Memangnya kami nggak peduli sama dia? Padahal katanya teman. Dasar Pengkhianat. Bodoh.” Suara Wisnu agak bergetar di ujung kalimatnya, ia hampir gagal menguasai diri. Tapi saat ia menoleh menatap Noah, ada senyum lebar di wajahnya. “Kamu mikir gitu juga, kan?” tanya Wisnu kemudian. “Kamu marah sama Fajar, kan?” Intonasi suara Wisnu terdengar cukup ceria untuk orang yang matanya sedang berkaca-kaca menahan air mata. “Nggak,” bantah Noah cepat, “mana mungkin aku marah sama Kak Fajar. Aku cuma ngerasa kalau … sedikit banyak … aku juga ikut bersalah …” “Ha?!” sela Wisnu keras sampai Noah pun tersentak kaget dibuatnya. “Kamu merasa bersalah?” Nada suara Wisnu meninggi, terdengar marah. “Anak kecil kayak kamu merasa bersalah? Hei, Noah, jangan salah paham, ya. Kamu itu cuma anak baru di kehidupan Fajar. Dibandingkan kami, kamu itu bukan siapa-siapanya dia. Kalau sama kami aja dia nggak ngomong apa-apa, mana mungkin dia ngomong ke kamu. Kalau kami aja nggak bisa ngebantu apa-apa, bisa apa anak kecil kayak kamu?!” Noah membeku. Matanya melebar dengan bibir yang merenggang, seolah waktu sedang berhenti di sekitarnya. Setiap sel di tubuhnya menggeliat. Ia merasa sedang ditampar berkali-kali, dan seolah ada tangan besar yang sedang meremuk jantungnya. Terasa luar biasa nyeri. Tanpa aba-aba. Tanpa sepatah kata pun. Noah beranjak dan menyambar tasnya, lalu berlari sekencang mungkin, meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi. Ketiga anggota Red Phantom yang tersisa di pinggir lapangan outdoor itu pun hanya memandangi punggung Noah yang semakin menjauh, tanpa berkomentar apa-apa. Hanya beberapa saat setelahnya, Gilang menghela napas sambil lalu beranjak. Ia meregangkan otot sejenak sebelum kembali membungkuk untuk memungut handuk putih Noah yang tertinggal saat ia menghambur pergi tadi. “Good job, Wisnu. Sisanya biar aku yang urus.” Gilang melambaikan tangan singkat sambil berjalan menuju ke gerbang kampus, ke arah Noah menghilang sesaat yang lalu. “Tolong, ya,” sahut Wisnu kemudian, “jangan lupa ambil foto plat nomor taksinya dan tinggalin pesan ke supirnya supaya antar sampai ke gerbang sekolahnya.” Gilang tak mengatakan apapun untuk membalas Wisnu, tapi ia mengacungkan jempol di atas kepalanya, tanpa menoleh ataupun menghentikan langkahnya. Taufik yang sejak tadi menunggu saat yang tepat untuk ikut berkomentar, akhirnya menemukan kesempatan untuk buka suara, saat ia hanya tinggal berdua saja dengan Wisnu. “Di antara kalian semua, mungkin aku yang paling asing sama Fajar…,” ujarnya sambil ikut beranjak dan membersihkan celana trainingnya dari rerumputan kering yang menempel. Taufik bukan teman satu kelas Fajar, bukan juga anggota Red Phantom sejak awal. Taufik adalah teman dari Gilang dan hanya pernah beberapa kali mengobrol dengan Fajar. Makanya setiap kali obrolan sensitif tentang Fajar muncul, ia tak berani sembarangan ikut campur. “Tapi … entah kenapa saat ini aku merasa agak marah,” tambah Taufik sambil meraih handuk Wisnu dari atas tasnya. “Kalau Fajar ada di sini, mungkin aku akan memukulnya.” Wisnu menyerahkan handuk itu ke hadapan wajah Wisnu yang ternyata sudah basah karena air mata. Sejak tadi ia berusaha keras agar tetap terlihat tegar, karena tak ingin menambah suram suasana, terutama di hadapan Noah dan Gilang. Tapi … satu tahun bukanlah waktu yang lama. Itu bukanlah waktu yang cukup bagi orang-orang yang ditinggalkan Fajar untuk bisa beradaptasi dengan ketiadaannya. “Bisa-bisanya dia ninggalin begitu banyak teka-teki yang harus kalian pecahkan sendiri, ngebiarin kalian kebingungan sementara dia asyik bersantai di alam sana.” Suara Taufik terdengar tenang, tapi ada rasa kesal di sana. “Aku gak peduli dia sebaik apa, dia udah gak di sini, aku gak perlu jaga perasaannya. Yang perlu kujaga adalah apa yang masih ada di dunia ini. Aku cuma mau kalian tau, aku bukan orang yang baik dan sabar. Kalau kalian ninggalin aku dengan cara yang sama dengan dia, aku janji aku bakal gali kuburuan kalian dan menghajar kalian sampai mayat kalian pun gak bisa dikenali lagi.” Wisnu tertawa meski air mata masih bergulir dari sudut matanya. “Jangan ngomong kayak gitu tentang orang yang udah nggak ada, nanti kamu kualat.” “Bodo amat. Aku serius.” Pundak Wisnu bergetar kali ini, tapi itu karena ia sedang menahan tawa sambil masih menangis. Entahlah, Taufik bahkan sudah tak bisa membedakan emosi apa yang sedang dirasakan Wisnu saat ini. Tapi Wisnu tampak mulai mengelap matanya disertai dengan helaan napas yang berat dan panjang. “Astaga … umur segini …,” keluhnya parau, “masih nangis kayak bocah.” “Hei … itu wajar,” tukas Taufik cepat. “Ditinggalin tiba-tiba kayak gitu, sama orang yang sangat dekat dengan kita, itu gak mudah. Si Fajar itu memang keterlaluan.” “Berhenti ngomelin temanku. Kau mau dihajar, ya?!” Wisnu mengacungkan tinjunya ke depan hidung Taufik, tapi cowok berkacamata itu malah mendengus tertawa sambil menghindari tangan Wisnu. “Lima bola lagi!” serunya sambil lalu menyambar bola yang sejak tadi tergeletak di pinggir lapangan dan memutuskan untuk melanjutkan kembali latihan basket mereka. Wisnu mengisi penuh paru-parunya sebelum kemudian menghempas napas, berusaha menata ulang hati setelah beberapa saat lalu ia diseret kembali ke dalam ingatan tentang Fajar. Memang tak bisa dipungkiri, kepergian Fajar meninggalkan trauma bukan hanya pada Noah, tapi juga pada dirinya dan Gilang. Tapi, tentu saja ia dan Gilang masih jauh lebih baik dari Noah yang tak punya siapa-siapa untuk menceritakannya kegundahannya. Karena itu, sudah lama sekali Wisnu ingin mencari cara untuk menyelamatkan Noah dari pikiran-pikiran buruknya. Itu sebabnya hari ini ia cukup lega, karena setidaknya ia bisa sedikit mendorong Noah untuk bergerak maju, meninggalkan kubangan lumpur yang sudah lama menjebaknya pada rasa bersalah yang tak beralasan. “Lima bola?” sahut Wisnu akhirnya sambil sedikit melompat untuk menangkap bola yang baru saja gagal dimasukkan Taufik. “Make it double!” tambahnya sebelum kemudian menusuk masuk ke bawah ring untuk langsung berhadapan dengan defense Taufik. Mereka memutuskan untuk melanjutkan latihan sore itu dengan pertandingan 1 on 1 sambil menunggu Gilang kembali dari mengantarkan si bungsu Red Phantom.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN