The Questions With No Answers

1462 Kata
“Kenapa? Murung amat?” tanya Gilang, seorang mahasiswa Teknik Sipil tahun ketiga di Universitas Arajaya. “Teman-teman satu tim-mu di Cendana nggak asyik?” Seorang mahasiswa lain muncul sambil menjepit bola basket di bawah lengannya. Itu Wisnu, anggota Red Phantom juga. Noah menghela napas sambil beranjak dan merampas bola dari tangan Wisnu, lalu masuk ke lapangan dan melakukan tembakan 3 point yang gagal. Tapi ia langsung berlari mengejar bola yang memantul dari ring itu, kemudian memaksanya masuk ke dalam keranjang dengan sebuah dunk keras. Taufik – anggota Red Phantom yang direkrut setelah kepergian Fajar – memutuskan untuk meninggalkan bola yang baru saja dilemparkannya masuk ke keranjang dan memantul ke pinggir lapangan, sosok lelaki berkacamata itu melangkah menghampiri dua rekannya yang sudah lebih dulu rehat. “Anak itu ada masalah lagi di sekolahnya?” tanya Taufik sambil menyeka keringatnya tanpa mengalihkan pandangan dari Noah yang sedang berlarian dan melompat sendiri di setengah lapangan basket milik Fakultas Teknik kampus itu. “Padahal baru jadi anak SMA, masa’ udah dikucilkan lagi?” Wisnu ikut menyuarakan keheranannya. “SMA Cendana lagi. Kurang elite apa coba?” celetuk Taufik. “Justru itu,” timpal Gilang, "biasanya di mana ada banyak bintang berkumpul, di situ juga kemungkinan untuk saling bertabrakan semakin besar.” “Hhh … kasihan. Dulu di SMP, dia juga harus melalui masa sekolah yang nggak mudah,” tambah Taufik lagi. “Kayaknya masa-masa sekolah anak itu nggak pernah menyenangkan.” “Risiko anak prodigy,” celetuk Wisnu. “Jadi anak berbakat itu seperti pisau bermata dua.” Ketiga mahasiswa yang tergabung dalam tim Red Phantom itu pun hanya bisa saling bertukar kata sambil mengamati Noah yang seperti kerasukan sesuatu di lapangan basket itu. Ia sama sekali tak mengambil jeda dan seorang diri berlarian menggiring bola, melakukan tembakan ke ring, menangkap bola rebound dan langsung menembak kembali, sambil sesekali juga diselingi dengan dunk dan lay up biasa. Meski tahu kondisi hati Noah sedang tidak baik-baik saja, tak ada yang bisa dilakukan ketiga orang itu selain menunggu Noah bercerita dengan sendirinya. Pada dasarnya Noah memang orang yang kurang supel. Satu-satunya teman seusia yang pernah ia miliki hanyalah Abi, setelah itu, Noah hampir tak pernah mempunyai siapapun yang bisa ia sebut sebagai teman dekat. Hal itu yang membuat Noah jadi merasa hanya didengar oleh senior-senior basket di tim Red Phantom, yang biasanya rutin menjadi tempat Noah menumpahkan segala kekesalan yang ia hadapi di dunia sekolah. Ia merasa diayomi. Meski Gilang dan yang lainnya hampir tak pernah memberi solusi, bahkan kadang mereka hanya menertawakan Noah dan menyuruhnya untuk melupakan semua kegelisahan yang tak berguna, lalu mengejeknya dan memaksanya untuk bermain basket dengan serius. . Langit di atas kampus Arajaya sudah mulai kehilangan birunya, digantikan dengan warna senja yang menghiasi cakrawala di ufuk barat. Sekujur tubuh Noah sudah basah bermandikan keringat. Sudah hampir satu jam berlalu sejak Gilang dan dua temannya yang lain memutuskan untuk kembali memasuki lapangan, lalu bermain 2 on 2 dengan Noah. Tak ada yang menghitung skor permainan mereka, tak ada yang tahu siapa yang kalah dan siapa yang menang, tak ada yang meniup peluit tanda berakhirnya waktu permainan. Hanya rasa lelah yang membuat mereka sepakat untuk meninggalkan bola yang menggelinding ke sudut lapangan, lalu bersama-sama duduk menjulurkan kaki di pinggir lapangan sambil mengelap keringat dan menenggak air minum. Noah menghela napas panjang sebelum kemudian merebahkan punggungnya pada rerumputan di pinggir lapangan outdoor itu, lalu matanya menerawang menatap langit yang mulai meremang di atasnya. “Gimana? Udah siap cerita?” Gilang berinisiatif untuk memulai obrolan, agar remaja di hadapannya itu bisa mencurahkan apapun yang sedang mengganggu pikirannya saat ini. “Cerita apa?” tanya Noah yang masih tak mengerti ke mana arah pembicaraan Gilang. “Nggak usah pura-pura, dari dulu kalau kamu lagi ada masalah di sekolah, kamu pasti main basket ke sini.” “Ingat pas pertama kali dia muncul di sini?” Wisnu ikut menimpali dengan nada ringan. “Mau sok ikut-ikutan dunk. Lompatannya sih nyampe, tapi bolanya mental ke luar angkasa,” sambung Gilang sambil lalu tertawa bersama Wisnu, si pencetus ide nostalgia. “Serius?” Taufik yang setahun lebih muda dari Gilang dan Wisnu, baru pertama kali mendengar sejarah pertemuan Noah dan Red Phantom. “Ya ampun, Noah … aku kira kamu udah jago dari awal.” Komentar cowok berkacamata itu dibalas tawa yang semakin keras oleh dua orang rekannya. “Mana mungkin. Ada-ada aja,” Noah merengut protes, “mana ada orang yang udah jago dari awal.” “Ya soalnya aku sempat ngerasa aneh. Gimana ceritanya orang keempat Red Phantom itu anak SMP? Makanya aku kira kamu direkrut karena udah jago banget,” jelas Taufik lagi. “Biar gimanapun kan dia anak SMP,” sahut Wisnu, “walaupun kemampuannya hebat, tetap aja kalau dibandingkan pemain Street Basket lainnya, dia masih anak-anak.” “Kami ngerekrut dia karena kebetulan kurang orang aja, dan kebetulan juga Noah ini anak yang bermental baja. Nggak ada takut-takutnya.” Gilang mengucek rambut basah Noah di balik handuk putih kecil yang sejak tadi sudah menudungi kepalanya. “Iya, padahal lawan-lawannya mahasiswa loh, bahkan ada yang udah jadi pemain pro.” “Tapi kita jarang sih mainin dia di pertandingan. Lebih tepatnya, dulu Noah jadi orang keempat cuma sebagai pelengkap aja.” “Sekitar beberapa bulan jadi penonton, lama-lama dia bosan dan ngotot minta diajak main.” “Kalau nggak salah, pertama kali kita masukin dia ke pertandingan tuh pas di semifinal. Fajar tepar, jadi Noah terpaksa dimainin agak berapa menit gitu buat ngasi waktu Fajar istirahat.” “Hasilnya, Noah keluar lapangan dengan lutut berdarah.” Lagi-lagi Wisnu dan Gilang tertawa satu nada mengenang hari-hari pertama kebersamaan mereka dengan seorang anak SMP nekat bernama Noah. Taufik pun berusaha masuk ke obrolan itu dengan ikut berkomentar. “Aku nonton tuh pertandingan yang itu. Itu pertama kalinya aku tau kalau orang keempat kalian ternyata anak SMP. Aku ingat banget, pas dipapah keluar lapangan, mukanya kayak mau nangis,” komentarnya ikut meramaikan suasana. “Enak aja! Siapa yang nangis?!” Noah langsung protes sambil memukul keras betis Taufik. “Hampir nangis, bukan beneran nangis.” Taufik meluruskan perkataannya sambil nyengir. “Waktu itu kamu emang kelihatan shock banget. Pantesan aja, ternyata itu pertama kalinya kamu ngalamin pertandingan Street Basket. Tapi sebenarnya, kamu termasuk cepat belajar juga, ya. Hebat.” Taufik berusaha mengubah suasana di ujung kalimatnya, soalnya Noah mulai kelihatan kesal karena terus ditertawakan oleh rekan-rekannya. “Iya … gak salah dia disebut genius. Nggak butuh waktu lama, dia udah terbiasa. Terus juga cuma butuh beberapa hari latihan, dunk-nya udah sempurna, nyaris gak pernah gagal lagi.” Gilang melempar tatapan bangga ke arah Noah di sebelahnya. “Waktu itu yang rajin ngajarin dia kan Fajar. Kalau kita cuma rajin ngeledekin doang,” sahut Wisnu sambil masih tergelak. Gilang, Wisnu dan Taufik asyik mengobrol sementara Noah hanya mendengarkan nostalgia mereka dengan pikiran yang menewarang. Tapi tepat ketika nama Fajar disebut, seolah ada pisau tajam yang tiba-tiba muncul dan menyayat sesuatu di balik rongga d.a.d.a Noah. Lagi-lagi … Rasa sakit yang familiar dan tak pernah hilang itu kembali lagi, setiap kali kenangan tentang Fajar melintas di benaknya. “ … Noah.” “Ha?” Noah terlambat menyadari bahwa Gilang sedang mengatakan sesuatu kepadanya. Akibat pikiran Noah yang tidak berada di situ, ia hanya mendengar bagian ujung kalimat Gilang. “Kamu nggak dengar tadi aku nanya apa?” tanya Gilang lagi. “Sorry, Kak,” Noah mengangkat punggungnya dari atas rerumputan dan beranjak duduk, “aku agak ngelamun tadi.” “Kamu nggak apa-apa pulang malam? Gerbang asramamu buka sampai jam berapa?” Gilang mengulangi pertanyaannya. Noah melirik jam tangannya sebelum menjawab, “Batas jam malam sampai jam 9 kok. Masih ada waktu sekitar satu jam. Kalau naik taksi ke sana, dua jam bisa tembus sih.” Gilang dan yang lainnya tak bicara lagi setelah mendengar jawaban Noah. Sebagai gantinya, mereka hanya saling bertukar tatapan. Sebelum akhirnya Taufik mengedikkan dagu ke arah Noah, memberi kode kepada Gilang agar langsung saja melempar pertanyaan intinya. “Kamu mikirin apa? Yakin nggak mau cerita?” Gilang memutuskan untuk sedikit mendesak Noah kali ini, karena remaja itu jelas sedang tak terlihat baik-baik saja. Noah kembali menghela napas panjang, ia tak yakin apakah harus menceritakan permasalahannya dengan Rihan hari ini. Lagipula, kenapa Noah banyak mengeluh? Padahal sebagai mahasiswa, Gilang, Wisnu dan Taufik juga mungkin punya masalah yang jauh lebih serius dari Noah. Kenapa mereka harus repot-repot mendengar curhatan seorang bocah SMA? Bukankah hal seperti ini yang membuat Fajar menjadi enggan menceritakan masalahnya? Karena Noah cenderung hanya menginginkan Fajar sebagai pendengar segala keluh kesahnya, hingga mungkin saja Fajar sampai tak punya kesempatan untuk bicara. “Kak …” Meski satu kata yang diucapkan Noah itu adalah sebuah panggilan, tapi Noah tidak menatap siapapun saat ini. Ia hanya menatap kosong ke arah rumput hijau di dekat sepatunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN