“Kunjungan persahabatan,” jawab Noah kemudian. “Iya kan, Kak Andi?” Ia lalu sengaja meminta persetujuan Andi di akhir pernyataannya.
Jika bukan karena perlakuannya kepada Rihan, Noah sebenarnya cukup mengagumi sifat Andi. Dia sangat cepat menguasai keadaan dan membaca situasi, lalu bertindak setelah mempertimbangkan konsekuensi yang paling kecil kerugiannya.
Andi langsung membalas Noah dengan senyuman dan anggukan ramah. “Noah adalah orang yang sangat pengertian,” ujar Andi sambil lalu mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari dalam dompetnya.
“Rihan, lain kali kalau uangnya kurang, bilang aja, ya? Supaya kesalahpahaman kayak gini nggak terulang lagi.” Andi meletakkan lembaran uang itu di tangan Rihan, disertai dengan senyuman yang hangat. Ia lalu menepuk pelan pundak Noah bak seorang senior yang bijaksana.
“Ahsan, juniormu ini memang luar biasa.” Tak lupa ia menyematkan kata pujian untuk Noah di hadapan kapten klub basket, sebelum akhirnya melangkah menuju tempat duduknya pada barisan kedua di ruangan kelas 12-S itu.
“Kak, aku bisa jelasin permasalahannya.”
Noah langsung ingin meluruskan duduk persoalan kepada Ahsan, yang menjadi penyebab kenapa ia berada di kelas itu dan bersitegang dengan Andi.
Ahsan melirik jam tangannya sebelum membalas, “Sudah mau bel. Sebaiknya kamu segera kembali ke kelasmu,” tuturnya.
“Sedikit banyak, mungkin aku mengerti situasimu saat ini.” Ahsan lalu sedikit memberikan dorongan pelan pada punggung Noah, agar juniornya itu berbalik dan segera meninggalkan tempat itu. “Tapi sebaiknya kamu tidak membuat masalah selama masa skorsing, kita nggak mau semuanya jadi bertambah buruk.”
Sebelah tangan Ahsan yang lainnya juga meraih pundak Rihan, remaja itu pun langsung paham dan membalikkan tubuh dengan sendirinya untuk mengikuti langkah Ahsan dan Noah melewati ambang pintu kelas.
“Kalian sudah makan?” tanya Ahsan lagi.
“Belum, Kak,” jawab Noah datar.
“Masih ada sedikit waktu. Pergi ke kantin dan beli roti atau makanan ringan apapun yang bisa mengganjal perut,” saran Ahsan, “kalau perut lapar, jangan ditahan.”
Noah menurut dan mengangguk paham.
“Terima kasih, Kak. Saya pamit dulu.” Rihan yang ada di sebelah Noah sudah pamit lebih dulu. Ia bahkan sudah melangkah pergi tanpa menunggu Noah.
Noah pun segera berpamitan kepada Ahsan sebelum buru-buru menyusul Rihan.
“Ke kantin dulu, yuk,” ajak Noah saat ia sudah menyamakan langkah dengan Rihan menelusuri koridor.
“Aku langsung balik ke kelas aja, takut telat,” balas Rihan.
Noah menghela napas, sengaja mengambil jeda sesaat sebelum melontarkan pertanyaan terkait kejadian di kelas 12-S barusan.
“Sorry, kamu marah?” tanyanya kemudian.
Rihan tersenyum miris. “Mana mungkin aku marah. Kamu udah susah payah berusaha membantuku,” lirihnya.
“Aku kemarin nggak sengaja mergokin mereka pas mereka iseng buang tasmu ke tempat sampah.” Noah kembali berusaha menerangkan dirinya. “Awalnya aku nggak nyangka juga sih itu tasmu, cuma karena ngerasa ada yang aneh, aku ambil dokumentasi aja buat barang bukti.”
“Noah …” Rihan menyela sambil menghentikan langkah. Ia tampak sangat murung dan terus memandangi lantai di bawahnya, Noah sama sekali tak bisa melihat ekspresi wajahnya saat ini. Tapi ia memutuskan untuk ikut berhenti dan menunggu kelanjutan kalimat Rihan.
“Kita ini adalah dua orang yang sangat berbeda.” Rihan memulai kalimatnya, tapi ia masih saja menunduk di hadapan Noah, seolah memang ingin menyembunyikan wajahnya saat ini.
“Ma-maksudnya?” Perasaan Noah mulai tidak nyaman.
“Tolong lain kali, kamu jangan ikut campur dengan urusanku di klub.”
Noah nyaris tak percaya dengan sebaris kalimat yang baru saja meluncur dari mulut Rihan. Keningnya berkerut bingung, mengharap Rihan memberi penjelasan lebih.
“Aku bukan prodigy[1] kayak kamu,” lanjut Rihan, “aku bukan anak jenius dan berbakat yang akan dipertahankan sekolah jika ada perseteruan dengan kapten klubku. Aku bertahan karena mempertimbangkan itu.”
Suara Rihan mulai terdengar bergetar. Hal itu membuat Noah kembali mempertanyakan dirinya. Apakah dia sudah melakukan kesalahan dengan membela Rihan di hadapan seniornya?
“Aku cuma pengen nyoba buat bantuin kamu …”
“Pengen …,” Rihan bergumam mengulangi salah satu kata yang diucapkan Noah, “orang kayak kamu tentu bisa ngomong soal kamu kepengen ini dan itu. Tapi orang kayak aku nggak akan punya privilege kayak gitu. Pengen nyoba kamu bilang?”
Rihan akhirnya mengangkat wajahnya dan Noah langsung terhenyak melihat wajah Rihan yang sudah basah karena air mata. Bukan hanya itu, ia kelihatan seperti sedang hancur berantakan dan kehilangan semua harapannya.
“Cuma karena kamu pengen nyoba jadi pahlawan, kamu kira apa yang bakal terjadi padaku setelah ini?” Air mata Rihan bergulir bahkan sampai menetes ke lantai koridor.
“Andi itu anak emas, sekolah pasti bakal lebih berpihak padanya. Mana mungkin sekolah mau kehilangan bakat yang menjanjikan seperti Andi. Satu kata saja dari Andi, aku pasti bakal dikeluarkan. Orang tuaku bukan siapa-siapa, Noah. Mereka nggak akan bisa melakukan apapun untuk menolongku. Aku bisa melanjutkan pendidikan dan jadi anak SMA cuma karena beasiswa ini, cuma karena aku sedikit lebih berbakat main badminton, dibandingkan anak-anak lain. Tapi kalau lawannya Andi …”
Rihan tak melanjutkan kalimatnya lagi. Ia tercekat meski sepertinya masih banyak hal yang ingin disampaikannya.
Sedangkan Noah …
Ia hanya bisa terdiam, dihadapan logika yang berdasarkan pada sudut pandang yang bukan miliknya.
Tak ada lagi yang bicara di antara mereka. Sesekali hanya terdengar suara isakan yang lolos dari bibir Rihan. Ia tampak masih berusaha mengeringkan wajah dengan mengelapnya berkali-kali.
Meski Noah ingin membantu, tapi ia tak punya tisu ataupun sapu tangan saat ini. Akibatnya ia hanya bisa membiarkan Rihan berusaha sendiri menghapus air mata dari wajahnya, dengan menggunakan telapak hingga punggung tangan.
“Aku sangat berterima kasih kamu udah peduli sama aku,” sambung Rihan ketika suaranya sudah mulai terdengar agak tenang. “Tapi … masalahnya nggak bakal bisa diselesaikan semudah itu. Malah sepertinya, konsekuensi yang harus kuhadapi bakalan semakin parah. Bahkan saat ini yang terlintas di pikiranku, aku harus mulai mengemas barang-barangku di asrama, karena Andi pasti akan melakukan sesuatu.”
“Tapi …,” akhirnya Noah menemukan suaranya lagi, “nggak mungkin dia bisa mengusir siswa Kelas S segampang itu.”
“Dia kelihatan sangat marah tadi, dia nggak mungkin ngebiarin aku lolos. Masa depanku udah habis, Noah, kamu cuma bisa ngebantu aku sebatas ini … sedangkan aku harus menghadapi akibatnya.”
“Rihan, aku …” Noah tak tahu harus mengatakan apa. Padahal Rihan tidak menyela, tapi ia tetap gagal melanjutkan kalimatnya.
Pelan-pelan Noah mulai menyadari, tindakan yang dilakukannya untuk menolong Rihan hanyalah sesuatu yang bersifat temporary. Dengan kata lain, ia masih hanya membantu setengah-setengah.
Ke depannya, sementara Noah asyik menjalani aktivitas di klub basket, mana mungkin Noah bisa tahu tentang apa yang akan dialami Rihan di klub bulu tangkis. Ia tak mungkin bisa terus mengawasi Rihan dan melindunginya dari perundungan Andi. Ada banyak celah dan kesempatan yang bisa dimanfaatkan Andi untuk mempersulit kehidupan Rihan di Cendana.
Tentu saja Rihan cemas, dan mungkin, kesal dengan campur tangan Noah dalam permasalahan ini. Noah mungkin merasa puas dengan sedikit kebaikan yang sudah ia lakukan, merasa ia sudah membantu teman sekelas yang sedang di-bully.
Padahal kenyataannya ... mungkin Noah hanya memperburuk keadaan …
.
“Hei.”
Seseorang melambai-lambaikan tangan di hadapan wajah Noah, dan membuat remaja 16 tahun itu tersentak kaget.
Seketika Noah baru tersadar, kalau saat ini ia sedang berada di lapangan basket outdoor kampus Arajaya.
Sepertinya, setelah Rihan mengeluarkan uneg-unegnya di koridor sekolah siang tadi, Noah menjalani sisa waktu sekolah hari ini dengan jiwa yang seolah meninggalkan tubuhnya.
Ia bahkan tak ingat bagaimana ia kembali ke kelas, mengikuti sisa mata pelajaran siang tadi, lalu ikut bubar meninggalkan kelas ketika bel pulang berdering, hingga akhirnya sampai di kampus Arajaya sore ini.
Tubuh Noah seperti bergerak dengan sendirinya, seolah ia sudah hapal kemana ia harus pergi ketika mengalami hari yang buruk di sekolah.
“Mikirin apa? Murung amat?” tanya seorang lelaki dengan rambut berkuncir yang basah. Gilang, mahasiswa Teknik Sipil tahun ketiga di Universitas Arajaya.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Prodigy atau child prodigy, adalah seseorang yang pada usia dini telah mengembangkan satu atau lebih keahlian pada tingkat yang jauh melampaui normal untuk usia mereka.