Noah berjalan cepat menuju ke salah satu ruangan kelas yang ia duga adalah tempat di mana otak dari perundungan Rihan berada.
Kelas 12-S.
Kebetulan, ia baru saja di-skors dari kegiatan klub. Kepalang tanggung. Sekalian saja dia labrak si Kapten klub bulu tangkis itu. Bahkan jika Noah harus mendapat hukuman skors full sampai ke kegiatan belajar di kelas pun, tak masalah baginya.
Ketika Abi mengalami perundungan di SMP Pelita, Noah hanya berdiam diri dan pura-pura tidak tahu, karena egonya. Lalu ketika Fajar mengalami kesulitan, juga akibat perundungan, Noah terlalu muda untuk memahaminya. Ia tak melakukan apa-apa untuk membantu orang yang sangat ia idolakan sekaligus ia segani itu.
Noah tak ingin merasakan penyesalan itu lagi. Kali ini, ia bertekad untuk melakukan sesuatu, agar nanti di masa yang akan datang ia tak perlu mengatakan “seandainya …” lagi.
“Noah …” Rihan yang mengikuti di belakang Noah, masih berusaha mencegahnya.
Tapi tekad Noah sudah bulat. Ia berjanji akan membuat Andi menyadari, dengan siapa ia sedang berhadapan.
Noah baru saja melewati pintu masuk kelas 12-S, tapi ia sudah bisa menemukan sosok si pemilik senyum rubah itu. Ia sedang duduk sambil mengobrol dan bersenda gurau dengan teman-teman sekelasnya.
“Oh …” Andi tampak takjub ketika menemukan Noah berdiri di ambang pintu sambil membawa satu plastik besar berisi beberapa porsi makan siang.
“Ada apa ini? Kunjungan persahabatan? Baik sekali bintang basket ju.nior mau bantuin bawa makanan kita,” serunya sambil berdiri untuk menghampiri Noah.
“Ini semua punya kalian?” tanya Noah tanpa nada ramah di suaranya.
“Iya, kebetulan Rihan bilang ia sedang senggang dan bersedia dititipin makan siang.”
“Setiap hari?”
Pertanyaan ketus Noah kali ini tak langsung dijawab oleh Andi. Meski memudar, tapi senyum khas itu masih betah bertengger di wajahnya.
“Adik kecil, harap dipahami, setiap klub itu berbeda dan punya aturannya masing-masing.” Intonasi suara Andi terdengar mengayomi, tapi sebenarnya ia sedang meledek Noah.
“Apa bullying juga termasuk dalam aturan klub kalian?” tambah Noah lagi.
“Wuidih … songong amat. Berani ngomong gitu ke Andi.” Rekan-rekan Andi seolah tak percaya, ada anak kelas 10 yang nekat masuk ke kelas 12 dan menantang senior.
Andi sedikit memiringkan kepalanya untuk menatap Rihan yang masih berada di belakang Noah. Hanya dengan gerakan sederhana seperti itu, Rihan sudah gemetar ketakutan.
“Noah … aku nggak apa-apa, kok. Beneran, ini aku yang mau.” Rihan kembali berusaha meyakinkan Noah, dan bermaksud untuk mengambil kantong plastik yang masih ada di tangan teman sekelasnya itu.
Alih-alih menyerahkan bungkusan yang ada di tangannya, Noah malah merampas bungkusan plastik besar yang ada di tangan Rihan. Lalu ia mengangkat keduanya untuk diletakkan di atas meja.
Karena Noah meletakkannya dengan kasar – bahkan nyaris menghempas – makan siang yang dikemas dengan styrofoam dan ditumpuk itu pun penyet pada bagian bawah hingga beberapa di antaranya tampak berantakan; ada lauk dan nasi yang berhamburan keluar.
“Ini anak dibiarin ngelunjak, ya?!” Salah seorang teman sekelas yang sejak tadi berada di belakang Andi, terpancing emosinya.
Wajahnya tidak asing bagi Noah, namanya Yanang. Dia sempat beberapa kali muncul di TV sebagai penjaga gawang tim nasional sepak bola U-16, yang berhasil menjadi Runner Up di Piala Asia dua tahun lalu.
Sepertinya lingkaran pertemanan Andi bukan orang sembarangan, mungkin itu yang membuatnya jadi merasa bebas melakukan apa saja kepada orang yang ia anggap bukan apa-apa.
Tapi Noah tidak gentar. “Lain kali kalau mau titip makanan, kasi uang yang cukup,” tegasnya pada Andi, “dan bikin giliran. Jangan cuma nyuruh satu orang aja. Memangnya anggota kelas 10 kalian cuma Rihan?”
“Loh … ini emang Rihannya yang mau kok,” Andi dengan santai membela diri, “dia sendiri yang bilang tadi. Iya kan, Rihan?” Di ujung kalimatnya, Andi sengaja meminta pembenaran dari Rihan. Ia tahu Rihan tak mungkin menyangkal perkataannya.
Noah tak mau menghabiskan waktu lebih lama lagi di kelas itu. Karena waktu istirahat yang sudah hampir habis, kelas itu sudah semakin dipenuhi dengan para senior yang baru saja kembali dari istirahat siang mereka.
Beberapa di antara mereka adalah para atlet muda nasional yang sudah beberapa kali menorehkan prestasi di bidangnya masing-masing. Saat memasuki kelas, mereka tampak saling berbisik sambil memandangi Noah.
“Kelihatan kok anaknya memang tinggi hati. Berbakat sih berbakat, tapi kalau sifatnya buruk.”
“Di dunia olahraga profesional, berbakat aja nggak cukup. Kalau suka nyari masalah, ujung-ujungnya juga pasti ditendang.”
“Atlet model begitu nggak bakal dipakai di manapun.”
“Mendingan anak yang satu lagi kan, walaupun badannya kecil.”
“Siapa?”
“Yang namanya Igris.”
Perlahan, bisik-bisik para senior penghuni kelas 12-S itu terdengar semakin jelas. Seolah mereka memang sengaja mengeraskan suaranya agar didengar oleh Noah.
Rihan pun semakin panik, ia mulai menarik bagian belakang baju Noah agar segera mundur dan meninggalkan kelas itu.
Tapi lagi-lagi Noah tak mempedulikannya. Ia mengeluarkan HP dari saku celananya sambil lalu mencari-cari file yang ada di folder foto.
Detik berikutnya, Noah sudah menemukan video yang ia cari. Lalu Noah menaikkan volume suara HP-nya sampai maksimum, hingga perlahan suara kasak-kusuk di ruangan kelas itu mulai menghilang digantikan dengan suara yang berasal dari HP Noah.
“Oh … itu tas kalian?”
Suara Noah terdengar dari dalam video yang sedang diputar di HP-nya itu.
“Aku bilang bukan urusanmu, kan?! Minta dihajar nih anak songong.”
“Ngapain kamu?!”
“Ngambil barang bukti …”
“Apa sih, b******k!”
Suara-suara dari dalam video rekaman itu masih terdengar, tapi Noah menyudahinya, walaupun masih ada durasi video yang tersisa.
Hari itu, sebenarnya Noah sudah memulai rekaman video dari dalam saku celananya. Meski tak ada gambar, tapi suara para anggota klub bulu tangkis terdengar cukup jelas.
Waktu Noah mengeluarkan HP dan berpura-pura mengambil foto untuk barang bukti, sebenarnya kamera HP itu sudah memulai rekaman video bahkan sebelum dikeluarkan dari dalam saku celana trainingnya.
Menyadari bahwa Noah ternyata masih menyimpan barang bukti, Wajah Andi mulai tampak kehilangan warna. Namun ia masih mencoba untuk tetap tenang.
“Bukannya waktu itu kamu udah setuju untuk menghapus dokumentasi yang kamu ambil?” tanyanya sabar.
“Oh … aku lupa kalau file foto dan video di HP-ku biasanya masih tersimpan di folder ‘recently deleted’. Jadi walaupun sudah dihapus, masih bisa di-restore sebelum 30 hari,” jawab Noah tak kalah tenang.
“Lalu?” tantang Andi, dengan air muka yang sudah terlihat keruh.
“Lalu … aku bisa hapus file-fle itu secara permanen, tanpa perlu sampai ke Kepala Sekolah, tergantung sikapmu,”
“Kamu ngancam?”
Noah mengedikkan bahu sambil mengerucutkan bibirnya seolah ia tak peduli.
"Bukannya apa ...," Andi masih ingin berkelit, "aku memintamu untuk menghapus dokumentasi itu, supaya nggak menimbulkan salah paham."
"Salah paham ..." Noah mendengus menahan tawa, sebelum kemudian mendekatkan wajahnya ke sebelah telinga Andi dan berbisik, “Sebenarnya durasi video itu lebih panjang lagi, Kapten.”
Setelah menyampaikan sebaris kalimat itu, Noah kembali menegakkan tubuhnya. Dan kali ini ia sudah bisa mengumbar senyum, mengisyaratkan bahwa ia sedang berada di atas angin.
“Noah?”
Suara yang tidak asing terdengar dari arah pintu masuk kelas.
Ahsan, Kapten tim basket yang juga merupakan siswa kelas 12-S, sepertinya baru kembali dari istirahat siang dan dikejutkan dengan kehadiran Noah di kelas itu.
“Ahsan, anggotamu berani banget bikin masalah di kelas senior,” adu salah seorang siswi berkacamata yang sepertinya sejak tadi sudah risih dengan keberadaan Noah.
Meski tak tahu masalah apa yang sebenarnya sedang terjadi di antara Noah dan Andi – karena suara rekaman dari HP Noah tadi tidak menjelaskan apapun – tapi yang pasti, yang tampak jelas di hadapan para siswa kelas 12-S itu, adalah Noah yang datang ke kelas senior dan mencari gara-gara.
“Noah, kamu ngapain di sini?” Ahsan langsung menghampiri Noah dengan wajah cemas.
Ia khawatir kalau-kalau juniornya yang temperamen itu baru saja membuat masalah di kelasnya. Apalagi, ia juga baru mendengar kabar bahwa Noah di-skors dari kegiatan klub basket.
“Kunjungan persahabatan.” Noah mengulangi perkataan Andi saat pertama kali melihatnya di kelas itu tadi. “Iya kan, Kak Andi?” tanyanya kemudian meminta pengesahan dari sang kapten klub bulu tangkis.