“Noah, kamu nggak apa-apa, kan?”
Suara Zikri kembali masuk ke ruang dengar Noah dan membuyarkan lamunannya, mengembalikan pikiran Noah ke koridor SMA Cendana.
“Kenapa?” tanya Noah balik.
Wajah-wajah yang ada di hadapannya saat ini menatapnya dengan mata yang terlihat khawatir.
“Kamu kok kayaknya sedih banget?” tanya Muklis prihatin.
“Kayak mau nangis,” tambah Bayu.
“Cuma di-skors seminggu kok, nggak apa-apa, anggap aja liburan.” Hamid pun berusaha menghibur.
“Kurang.ajar!” Zikri menggerutu di sebelah Noah. “Awas aja, pokoknya kalau ketemu orangnya, bakal kuhajar!”
Noah mendengus menahan tawa. “Kamu, ngomong aja masih sering gelagapan. Sok mau menghajar orang. Mau dikeluarin dari klub?”
“Eh …? Harusnya kamu mendukungku. Kan aku mau balasin dendammu.”
“Nggak usah sok drama. Dendam apaan? Hamid benar, aku bakal menganggap ini sebagai liburan.”
“Tapi kenapa kamu tadi kelihatan kayak sedih banget?”
“Nggak … Cuma teringat tentang teman main basket dulu.”
“Oh … memangnya kenapa teman main basketmu dulu?”
“Dia bunuh diri.”
Tiga kata itu tak berhasil meninggalkan mulut Noah. Tidak ... lebih tepatnya, Noah berhasil mencegah dirinya untuk tak menjawab seperti itu.
Sebagai gantinya, Noah membalas pertanyaan Zikri dengan lirikan dari ekor matanya. Si Zikri ini, kalau diladenin akan semakin melunjak. Pertanyaan yang ia lontarkan tak ada habisnya.
“Nggak usah banyak tanya,” gerutu Noah akhirnya, “jam istirahat udah mau habis. Aku belum makan siang …”
Ujung kalimat Noah masih menggantung, dan ia tak berniat untuk menyelesaikannya. Karena di saat yang bersamaan, ia melihat Rihan sedang berjalan tergesa-gesa dari arah kantin, sambil membawa dua kantong plastik besar berisi bungkusan makanan.
“Eh, aku lihat teman sekelasku. Duluan, ya.” Noah meninggalkan Zikri, Hamid, Bayu dan Muklis yang hanya bisa bengong sambil memandangi Noah berlalu.
Tapi Noah menghentikan langkahnya dan menyempatkan diri berbalik hanya untuk mengatakan, “Kalian latihan yang rajin. Aku bakal balik lagi ke klub minggu depan,” serunya sambil mengumbar senyum.
Itu adalah senyum yang sangat jarang – bahkan mungkin hampir tidak pernah – diperlihatkan Noah selama ia bergabung di tim basket Cendana.
Anehnya memang Noah tidak terlihat seperti orang yang baru saja kena hukuman skorsing. Ia terkesan cukup ceria dan sama sekali tidak terpukul.
“Ok, pokoknya pas kamu balik, kami bakal makin jago.” Zikri mengepalkan tinjunya penuh tekad.
Tapi Noah membalasnya dengan tawa. “Mana mungkin. Aku cuma istirahat dari klub selama seminggu, bukan setahun.” Ia terkekeh sebelum kembali melanjutkan langkah dan akhirnya benar-benar berlalu pergi.
Selama beberapa saat setelah Noah hilang dari pandangan. Zikri dan yang lainnya masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
“Kita barusan kayak udah jadi teman se-geng gitu nggak, sih?” celetuk Bayu.
“Kurang David, nih,” timpal Muklis.
“Tapi Noah ternyata anaknya asyik, ya.” Hamid menimpali sambil mulai berbalik untuk melangkah menuju ke bagian gedung di mana ruangan-ruangan anak kelas 10 berada.
“Tuh kan, aku bilang juga apa. Orang-orang sebenarnya cuma salah paham aja sama Noah.” Zikri kembali meyakinkan rekan-rekan tim basketnya, tentang apa yang sudah ia yakini terlebih dahulu.
“Menurut kalian dia mau nggak ya ngajarin kita basket? Supaya bisa jago juga kayak dia.”
“Aku pengen juga sih diajarin nge-dunk.”
“Emang dunk bisa diajarin?”
“Ya kalo tinggi atau lompatanmu nggak mencukupi, diajarin kayak gimana juga kamu nggak bakal bisa nge-dunk.”
“Zikri kayaknya bisa.”
"Iya, ya. Badannya tinggi besar gitu."
“Tapi sayangnya, dia kan bodoh.”
“Heh!”
Keempat remaja kelas 10 itu pun masih mengobrol sambil bersenda gurau saat mereka berjalan menuju ke kelas masing-masing.
Sementara itu, yang tidak mereka ketahui adalah bahwa sebenarnya Noah sangat senang ketika menemukan mereka ada di balik pintu ruang rapat tadi. Sepertinya, ini pertama kali bagi Noah, memiliki teman-teman yang peduli dan mengkhawatirkannya.
Seingat Noah, sejak duduk di Sekolah Dasar sampai tamat SMP, ia tak punya siapapun yang bisa disebut sebagai teman akrab di sekolah. Semua orang seolah membuat lingkaran mereka sendiri dan di dalam lingkaran itu hanya bisa diisi oleh teman-teman dekat mereka saja. Meskipun mereka tak menjauhi Noah, tapi Noah tak pernah bisa masuk ke dalam lingkaran itu.
Teman-teman sekolah Noah dulu tak pernah memusuhinya, tapi mereka juga tak pernah memperlakukannya seperti teman.
Dengan kata lain, Noah selalu merasa asing di antara teman-teman sekolahnya. Entah apa yang membuat mereka enggan mengajak Noah mengobrol, atau sekadar duduk bersama Noah di kantin, atau mengajak Noah nongkrong setelah pulang sekolah.
Noah tak pernah mengalami semua itu bersama teman-teman sekolahnya.
Ia sempat memiliki Abi sebagai satu-satunya orang yang bisa disebut sebagai teman dekat. Namun Abi meninggalkannya di tahun kedua saat mereka duduk di bangku SMP.
Setelahnya, meski akrab dengan anggota Red Phantom di Kampus Arajaya – serta beberapa mahasiswa yang sering menjadi teman main basket Noah – tetap saja level mereka berbeda. Dunia dan pergaulannya berbeda. Mereka itu mahasiswa, usianya jauh di atas Noah. Sejujurnya, bukan teman seperti itu yang Noah harapkan.
Ia selalu ingin bisa berbaur di sekolah. Seperti saat ini. Makan di kantin bersama-sama, berjalan berkelompok di sekitaran sekolah, mengobrol dan bercanda tawa hingga saling mengejek tanpa meninggalkan dendam, lalu mengucapkan sampai jumpa satu sama lain.
Sebenarnya, tadi Noah sempat ingin mengucapkan terima kasih kepada Zikri dan yang lainnya. Tapi karena tak ingin membuat suasana jadi canggung, dan karena ia sendiri tak tahu harus menjawab apa, jika nantinya mereka bertanya tentang untuk apa Noah berterima kasih. Akhirnya Noah memutuskan untuk tak menyuarakan rasa bersyukurnya.
.
“Rihan!”
Panggilan Noah membuat Rihan menoleh, tepat sebelum ia berbelok di koridor yang menuju ke bagian kelas 12.
“Noah? Ngapain ke sini?” tanya Rihan bingung.
Dua buah kantong plastik di tangannya terlihat cukup berat, hingga membuatnya harus meletakkan onggokan makan siang itu ke lantai koridor, saat ia berhenti untuk menjawab panggilan Noah.
“Ha? Harusnya itu pertanyaanku. Ngapain kamu di sini?” kata Noah sembari terus melangkah mendekati Rihan.
“Aku lagi mau ngantarin makanan buat senior,” jawab Rihan ragu. Ia tampak gugup seolah baru saja kepergok melakukan kesalahan.
Saat Noah sudah berada di hadapan Rihan, ia langsung menyambar salah satu kantong plastik yang sejak tadi dibawa teman sekelasnya itu.
“Eh? No-Noah … kamu ngapain?” tanya Rihan panik sambil berusaha merebut kembali kantong plastik yang cukup berat itu dari tangan Noah.
“Biar kubantu. Mau diantar ke kelas berapa?”
“Nggak usah repot-repot. Biar aku aja.”
“Udah nggak usah buang-buang waktu,” omel Noah, “jam istirahat udah habis setengahnya nih. Aku juga belum makan. Ayo cepat.”
Noah tidak peduli dengan protes Rihan. Ia berjalan lebih dulu menyusuri koridor bagian senior kelas 12.
Akhirnya, mau tak mau, Rihan pun melangkah di belakang Noah sambil membawa bungkusan makanan yang satunya lagi.
“Habis berapa, nih?” tanya Noah, berusaha meredam rasa kesalnya sebisa mungkin.
“Hampir 100 ribu … tapi pakai uang mereka kok.” Rihan cepat-cepat menambahi di ujung kalimatnya, agar Noah tidak salah paham.
“Uang mereka berapa?” tanya Noah lagi.
“50 ribu.”
“Terus sisanya?”
“Aku talangin dulu, nanti diganti katanya.”
Mendengar jawaban Rihan, Noah menghempas napas seolah ingin menjatuhkan seluruh kekesalan yang menggelayutinya, namun sepertinya ia gagal.
“Si Andi itu, kan?” tebak Noah kemudian.
“Iya … eh, ta-tapi dia itu senior loh, Noah. Dia kapten klub bulu tangkis …”
Noah tak ingin mendengar penjelasan atau alasan apapun lagi dari Rihan. Rasa jengkelnya sudah sampai ke ubun-ubun.
Sebenarnya ia juga malas mencari masalah dan ikut campur urusan Rihan. Tapi, masa iya Noah akan membiarkan hal seperti ini kembali terjadi di depan matanya?