Coach Adam melirik jam tangannya sebelum akhirnya memutuskan untuk menengahi.
“Sebenarnya ini hanya masalah sepele,” ujarnya malas. “Maklum saja, anak laki-laki seumuran mereka kalau sudah berkumpul pasti kelakuannya suka yang aneh-aneh dan cenderung suka iseng. Cuma soal seragam dan perlengkapan sekolah yang kotor, bisa dibersihkan, kan?”
Coach Adam menatap Noah saat melempar pertanyaan itu.
“Noda yang ditinggalkan susah hilang,” sahut Noah, “jadi saya membuangnya dan membeli yang baru.”
Sudut bibir Heru berkedut menahan rasa kesal. “Kamu bisa ngomong begitu karena yang kotor cuma seragam, tas dan buku-buku. Sedangkan aku!? HP-ku basah dan rusak karena air kotor yang kamu siram pakai tempat sampah itu!”
“HP apa? Nanti kubelikan yang baru,” balas Noah cuek.
Coach Adam nyaris saja gagal menahan tawanya. Tapi Reza terlihat tidak terkesan.
“Anak ini …,” gerutu Reza jengkel, “Punya orang tua kaya bukan berarti kamu bisa bertindak semaunya.”
Noah baru saja membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tapi matanya menangkap Coach Adam menggeleng pelan, mengisyaratkan agar Noah berhenti membalas perkataan Reza agar semua ini bisa cepat selesai.
“Ya sudah, jadi bagaimana kalian ingin menyelesaikan ini?” tanya Coach Adam lagi kepada Heru dan Noah.
“Saya ingin Noah dikeluarkan dari tim basket. Saya nggak yakin tim kita bisa kompak selama ada Noah di dalamnya,” tegas Heru tanpa ragu.
“Noah?” Kali ini Coach Adam melempar pertanyaannya kepada Noah.
“Saya hanya ingin main basket dan berlatih dengan tenang, tanpa ada orang iseng yang mengotori barang-barang di loker saya.” Suara Noah masih terdengar datar tanpa ekspresi.
Coach Adam menatap ke arah Reza, menunggunya mengatakan sesuatu berdasarkan dari dua pernyataan yang disampaikan Heru dan Noah.
Reza tampak sedang menimbang-nimbang selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia bersuara. “Sayang sekali, dengan berat hati saya tidak bisa mengabulkan keinginanmu, Heru,” katanya kemudian. “Noah adalah siswa Kelas S, untuk mengeluarkannya dari klub olahraga adalah hal yang tidak bisa dilakukan dengan mudah. Banyak pihak yang akan terlibat, termasuk Kepala Sekolah.”
Reza mengambil jeda sejenak sambil berusaha menusuk Noah dengan tatapannya yang tajam. “Noah, kamu di-skors dari kegiatan klub basket selama satu minggu ke depan.”
Noah tak berkomentar apa-apa terhadap hukuman yang dijatuhkan kepadanya. Tapi ia berharap Heru juga mendapatkan hukuman yang serupa. Karena dalam kasus ini, bisa dikatakan bahwa bukan hanya Heru, tapi Noah juga korban.
“Bagaimana dengan dia?” Karena sepertinya Reza tak mengatakan apapun tentang Heru, Noah berinisiatif untuk bertanya.
“Dia akan menjalankan kegiatan klub seperti biasa. Dia tidak bersalah,” jawab Reza.
“Tapi dia …”
“Noah …” Coach Adam menyela Noah dengan sigap. Ia tak ingin sikap Noah malah akan membuat hukumannya semakin parah. “Ada banyak orang yang melihat apa yang kamu lakukan kepada Heru. Sementara tak ada satu pun orang melihat siapa yang mengotori lemari lokermu.”
Setelah penjelasan Coach Adam itu, Noah jadi bisa lebih menerima situasinya sekarang. Memang benar, apa yang dikatakan Coach Adam sangat masuk akal. Tak ada saksi yang melihat perbuatan Heru, sementara Noah membiarkan nyaris semua pemain kelas 10 melihat perbuatannya terhadap Heru di ruang loker kemarin.
“Baiklah,” kata Noah akhirnya. Ia lalu menghempas napas sambil melirik jam tangannya. “Apa saya udah boleh pergi?”
Reza mengibas-ngibaskan tangannya, mengisyaratkan bahwa ia tak peduli jika Noah ingin pergi dari hadapannya sekarang juga.
“Permisi,” pamit Noah sambil lalu bebalik dan berlalu pergi. Sementara Heru sepertinya ingin membuat jarak dengan tinggal sedikit lebih lama dari Noah.
Tepat saat Noah membuka pintu ruang rapat, ia langsung menemukan wajah-wajah yang tidak asing di hadapannya.
Zikri, Bayu, Hamid dan Muklis sepertinya sampai beberapa saat tadi sedang berusaha menguping pembicaraan yang terjadi di dalam ruang rapat itu.
“Gimana?” tanya Zikri waswas.
“Di-skors satu minggu,” jawab Noah sambil lalu. Ia melangkah meninggalkan ambang pintu, diikuti keempat rekan tim basketnya itu.
“Wah … parah juga, ya,” keluh Hamid prihatin.
“Noah, jangan khawatir, kami akan berusaha menyelidiki siapa yang udah berbuat iseng sama kamu.” Zikri berusaha menenangkan.
“Bukannya di aula ada CCTV, ya? Gimana kalau kita minta cek CCTV, siapa yang udah masuk ruang loker pada waktu semuanya sedang latihan.” Bayu memulai inisiatif.
“Benar juga. Pasti bisa kelihatan kalau waktunya kita sesuaikan,” tambah Muklis lagi.
Sementara itu, Noah sudah tak terlalu mendengarkan diskusi mereka. Pikirannya saat ini sedang melayang ke kampus Arajaya, tempat di mana biasanya ia menghabiskan waktu untuk bermain basket. Noah baru ingat, ia belum sempat berkunjung ke kampus itu lagi sejak ia menjadi pelajar SMA.
Dengan di-skorsnya Noah dari kegiatan klub selama satu minggu, ia jadi punya waktu senggang setiap pulang sekolah. Ini kesempatan Noah untuk kembali bertemu dengan rekan-rekan Red Phantom-nya.
… … …
“Kak, asyik nggak jadi atlet basket profesional?”
Pikiran Noah kembali ke hari itu, sekitar seminggu sebelum Fajar meninggalkannya. Di lapangan basket outdoor Universitas Arajaya. Noah dengan polosnya melontarkan pertanyaan kepada Fajar, .
“Hm … gimana, ya …” Fajar mengambil jeda cukup lama sebelum menjawab, ia bahkan masih sempat mengelap keringat dan meneguk minumannya. Entah ia berniat untuk menjawab pertanyaan itu atau tidak.
Tapi, saat Noah masih menantikan jawaban Fajar, Gilang – rekan seangkatan Fajar yang juga anggota Red Phantom – menyudahi latihan shoot-nya lalu datang menghampiri Fajar dan Noah di pinggir lapangan.
“Jar, gimana yang kemarin itu? Mending langsung kita laporin aja. Udah keterlaluan banget soalnya,” ujar Gilang sambil menyambar handuk kecil yang tergeletak di atas tasnya.
“Biarin aja lah, orang bebas berpendapat,” balas Fajar tenang.
“Kenapa, Kak?” Noah tak bisa menahan rasa penasarannya. Meski Fajar terlihat tenang dan tersenyum, tapi itu adalah senyum yang murung.
“Komentar-komentar di sosial media Fajar,” Gilang mulai menerangkan dengan emosi yang menggebu-gebu, “lama-lama makin keterlaluan. Tiap akhir pertandingan, points[1] yang berhasil didapatkan Fajar bakal jadi perhatian utama. Kalau timnya menang dan dia cuma nyumbang sedikit poin, para haters pasti langsung menyerang sosial medianya. Begitu pun kalau timnya menang dan dia nyumbang banyak poin, tuduhan kalau dia pemain egois juga bakal muncul. Itu kalau menang, apalagi kalau timnya kalah, bakal lebih parah. Kayak semua kesalahan tuh pasti ditimpakan ke Fajar …”
Gilang masih mengoceh panjang lebar, tapi Noah sudah tak terlalu mendengarkan. Perhatiannya kini terfokus pada Fajar, yang hanya menatap udara kosong sambil sesekali meneguk air mineral dari tumbler-nya.
Ah … iya, benar. Waktu itu Fajar sedang tidak baik-baik saja.
Kenapa Noah baru mengingatnya sekarang?
Apa mungkin Noah yang dulu masih terlalu muda untuk menyadari kesulitan yang dialami Fajar?
Fajar, mahasiswa berprestasi dan berwajah ramah itu, mengalami perundungan di klub basket profesional tempat ia bermain. Sebagai salah satu pemain muda yang berbakat, dengan nilai kontrak yang cukup tinggi, ia mendapat tekanan berat dari dalam maupun dari luar tim.
Kepopulerannya juga sama sekali tak membantu, dan malah menjadi boomerang baginya. Setiap apa yang ia lakukan menjadi sorotan publik.
Sebagai seorang ace (pemain andalan) yang dibayar mahal, sebagian orang menuntutnya untuk selalu menampilkan yang terbaik, sebagian lagi selalu siap menunggunya jatuh untuk dicela dan ditertawakan.
Belakangan ini … Noah mulai berpikir, mungkin tanpa sadar Noah sudah menjadi bagian dari mereka yang menekan Fajar, yang selalu memandang Fajar dengan ekspektasi tinggi, dan selalu menuntut Fajar untuk menjadi sempurna.
Seandainya Noah menyadari arti dibalik senyum murung itu, seandainya Noah menyadari adanya perubahan di dalam diri Fajar, seandainya saja Noah melakukan sesuatu untuknya …
Mungkin hari ini, Fajar masih tetap ada di dunia ini.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Pts (Points) adalah produktivitas angka yang dimiliki oleh pemain melalui keberhasilan tembakan dua angka, tiga angka, maupun tembakan bebas (free throw).