Bully Me If You Can (2)

1204 Kata
Noah mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, semua orang terlihat sama kagetnya dengan Zikri dan beberapa di antara mereka tampak seperti sedang berbisik satu sama lain, seperti sedang menduga-duga siapa pelakunya. Saat tatapan mata Noah terhenti pada seseorang pada barisan loker yang berseberangan dengan loker Noah, orang itu terlambat menyembunyikan tawa di wajahnya karena terlalu asyik berbisik dengan rekan sesama kelas 10 di sebelahnya. “Aku nggak minum soda, dan sepertinya ini juga bukan cuma sekadar minuman bersoda. Baunya mirip air got,” sahut Noah sambil menutup kembali pintu lokernya. Samar terdengar suara cekikikan dari arah yang sama dengan orang yang tadi sempat Noah lihat berbisik sambil tertawa. Noah langsung berbalik untuk kembali memergokinya, tapi sepertinya kali ini dia tidak berusaha menyembunyikan ekspresi senangnya. Itu Heru dan Steven. Menyadari tatapan Noah yang tertancap pada mereka, Steven tampak mulai risih dan ia menyikut Heru dari belakang. Tapi sepertinya Heru tak berniat untuk mundur. Ia terlihat sangat ingin menantang Noah. Noah mulai melangkah mengitari bangku panjang yang memisahkan barisan lokernya dengan barisan loker di mana Heru berada. Sambil lewat, Noah mengambil air minum mineral dari tangan Zikri yang masih berisi setengahnya, lalu sengaja mengambil jalan ke ujung dan tidak melangkahi bangku karena ia ingin “menjemput” sebuah tempat sampah kecil di sudut ruangan. Masih dengan langkah yang stabil, Noah menyambar tempat sampah kecil itu sambil lewat. Ia lalu menuangkan minuman milik Zikri tadi ke dalam tempat sampah yang dibawanya, sembari tetap berjalan mendekati Heru dan Steven. Menyadari bahwa sesuatu akan terjadi, Steven terlihat mulai panik dan tanpa sadar ia bergerak mundur selangkah dari Heru yang ada di hadapannya. Sementara Heru malah tampak seperti siap baku hantam, ia membenarkan posisi berdirinya yang tadinya menghadap ke loker, kini benar-benar berhadapan dengan Noah yang sedang berjalan mendekatinya. Noah tiba tepat di hadapan Heru, dan Steven tampak sudah semakin menjauhi punggung rekannya itu. Sudut mata Noah menatap ke arah loker Heru yang pintunya masih terbuka, lalu detik berikutnya, tanpa peringatan apapun, Noah melempar tempat sampah kecil yang sudah berisi air di tangannya itu ke dalam loker Heru. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu terperanjat kaget. Tindakan Noah sangat mendadak dan tak ada yang menduga kalau ia juga akan mengotori loker Heru. “Heh! Kurang.ajar! Ngapain kamu?!” Heru bergerak menerjang Noah, tapi sebelum ia sempat mendaratkan satu pukulan pun, ia sudah ditahan oleh Steven dan Igris. Sementara Zikri dan Bayu menarik Noah untuk mundur menjauhi Heru. “Kenapa marah? Bukannya itu lucu?” Noah membalas kemurkaan Heru dengan sebuah pertanyaan simple sambil melepaskan diri dari rengkuhan Bayu dan Zikri. “Lucu apanya?! b******k! Jangan sembarangan nuduh kalau nggak tahu siapa pelaku sebenarnya!” Heru masih berusaha membela diri dan tetap bertahan pada pendapatnya bahwa saat ini ia sudah menjadi korban salah sasaran dari Noah. “Aku nggak nuduh, aku cuma lihat kamu tertawa. Sepertinya bagimu ini lucu. Jadi kuputuskan untuk melakukan hal yang sama, supaya kita bisa tertawa bersama.” Heru tak menemukan kata-kata lagi untuk bisa membalas perkataan Noah. Igris yang berada di belakangnya, memilih untuk tak berkomentar apa-apa, tapi ia terus mengamati. Noah sempat bertemu mata dengannya, dan Igris memberinya senyuman. Entah apa maksud senyuman itu. Detik berikutnya, Ello keluar dari ruang shower dan menemukan suasana di ruang loker tampak sedang tidak baik-baik saja. Semua orang terlihat tegang. “Ada apa ini?” tanyanya tegas. “Kalian bertengkar?” “Seseorang mengira bahwa mengotori barang-barang di loker adalah hal yang lucu,” jawab Noah sambil menatap Heru melalui ekor matanya, seolah ingin membekukan orang itu dalam hitungan detik. “Sudah kubilang bukan aku pelakunya!” Heru masih ngotot. “Tapi kau tertawa, kan?” timpal Noah cepat. “Berarti benar, kau menganggap ini semua lucu. Jadi nggak ada salahnya kalau lokermu juga dikotori.” Heru menendang pintu lokernya menutup kemudian langsung menyambar tasnya dan melangkah kesal meninggalkan ruang loker itu. Steven masih sempat melempar tatapan kepada Noah, seolah ingin mengatakan sesuatu untuk membela diri. Tapi saat Noah mengatakan, “Apa?” dengan suaranya yang dingin, Steven pun berbalik lalu mengikuti Heru meninggalkan ruangan. * * * Kebetulan mata pelajaran sebelum jam istirahat adalah mata pelajaran Coach Adam. Jadi tepat setelah bel istirahat berdering dan ketika ruangan kelas dipenuhi suara obrolan diselingi suara kursi-kursi yang bergeser, Coach Adam memanggil Noah dari mejanya di depan kelas. “Noah, ikut saya ke ruangan guru,” katanya datar. Noah beranjak dan melangkah menuju ke pintu keluar kelas. Saat melalui meja Igris, cowok itu mengatakan sebaris kalimat kepada Noah. “Tenang aja, kamu nggak salah apa-apa kok,” tuturnya ramah. Noah menoleh menatapnya tanpa menghentikan langkah. “Kamu nggak perlu mengingatkanku tentang hal yang udah diketahui semua orang,” ujar Noah setengah menggerutu. Tapi lagi-lagi Igris hanya membalasnya dengan senyuman. . Pelatih Utama, Reza, meminjam salah satu ruang rapat yang sedang kosong untuk menyidang Noah dan Heru pada jam istirahat siang itu. Ia mengetuk-ngetuk jari telunjuk di atas meja sambil menatap Noah dan Heru bergantian, sementara Coach Adam berdiri di sebelahnya. “Langsung saja, siapa yang mulai duluan?” tanyanya tanpa basa-basi. “Pak, waktu itu …” “Bukannya seharusnya Bapak bertanya dulu tentang apa yang terjadi?” Noah menyela kalimat pembelaan Heru dengan pertanyaan yang terdengar sinis. “Kamu tak perlu mengajariku, Diaz Noah Arakha,” ketus Reza. “Sebenarnya permasalahan kecil seperti ini bisa ditangani Pak Adam tanpa perlu melibatkan saya. Tapi karena ini tentang kamu, semua orang jadi repot.” “Nggak ada yang nyuruh kamu ikut-ikutan repot,” batin Noah dongkol. “Noah, kenapa kamu melempar tempat sampah kotor ke dalam loker Heru?” Coach Adam mengambil alih pembicaraan dan langsung menuju pada intinya. “Sebelumnya, Bapak harus tahu bahwa sehabis latihan, lemari loker saya juga …” “Jawab aja pertanyaannya, dasar anak badung!” sambar Reza lagi. “Nggak usah mutar-mutar. Apa yang ditanya, itu yang kamu jawab!” Sesuatu yang panas seolah sedang menggeliat dari dalam diri Noah, tapi ia mencoba untuk tetap tenang. “Karena dia yang lebih dulu mengotori lemari loker saya,” jawab Noah kemudian. Singkat, padat, dan jelas. “Mana buktinya?!” hardik Heru yang sedang berdiri tepat di sebelah Noah. Ia sempat mundur selangkah menjauhi Noah sebelum bersuara keras, seolah itu insting untuk melindungi diri. “Kalau semua kejahatan ada buktinya, maka penjara akan penuh dalam waktu singkat.” “Walaupun begitu, kamu nggak bisa seenaknya aja menuduhku tanpa bukti!” “Kenapa kamu tertawa?” tanya Noah masih dengan suara yang tenang dan terkendali, sangat bertolak belakang dengan Heru yang berbicara keras nyaris berteriak. “Kenapa waktu melihat lokerku kotor, kamu tertawa?” Noah kembali memperjelas pertanyaannya. Tapi Heru sudah tergagap dan kehilangan kata-kata. Salahnya waktu itu adalah ia mengira bisa membuat Noah semakin tertindas, dengan menertawakan kejadian buruk yang menimpanya itu. “Hei, kau tidak bisa menuduh orang sembarangan hanya karena ia menertawakanmu.” Reza menyela dengan kalimat yang bermaksud membela Heru dan menyudutkan Noah. “Pak, umumnya orang tertawa karena suatu hal yang lucu atau menyenangkan.” Noah tak gentar menghadapi tekanan dari Reza. “Jika kotornya loker saya bisa membuat Heru tertawa, itu berarti dia menganggap kejadian itu lucu atau menyenangkan. Jadi harusnya nggak ada masalah kan kalau hal yang sama juga terjadi padanya?” Setelah serangkaian kalimat penjelasan Noah, ruang rapat itu pun berubah menjadi hening.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN