“Suara apa itu barusan?!” tanya Yuda panik.
Tak ada orang lain di ruang loker itu selain Noah dan dua anak kelas 10 yang mengobrol tadi. Dua orang itu perlahan menggeser bola matanya mengarah ke Noah sebagai jawaban pertanyaan Yuda tadi.
“Sorry … Tadi aku nggak sengaja buka pintunya kekencengan,” ujar Noah akhirnya.
Yuda menghela napas sebelum mengeluh. “Ya ampun Noah … aku tahu kamu itu anak yang kuat dan bersemangat. Tapi tolong ya … tolong banget, kendalikan dirimu sedikit.”
“Maaf, Kak,” kata Noah lagi.
“Kalian nggak bertengkar kan?” Yuda lalu mengutarakan kecurigaannya tanpa basa-basi.
“Nggak,” jawab ketiga siswa kelas 10 itu sigap dan nyaris bersamaan.
“Bagus deh. Ya udah, cepat siap-siap, bentar lagi Coach Adam datang. Kak Ahsan dan senior lainnya juga udah pada ngumpul.”
“Siap, Kak,” jawab para j.u.n.i.o.r itu lagi, kecuali Noah. Ia merasa tak perlu menanggapi perkataan Yuda yang terakhir tadi karena sudah ada dua anak kelas 10 yang mewakilinya. Jadi Noah memutuskan untuk melanjutkan langkah menuju lemari loker miliknya.
Saat melintas di sebelah kedua cowok itu, Noah hanya melempar tatapan kepada mereka dari ekor matanya, tapi ia tak mengatakan apa-apa. Kedua orang itu pun menutup pintu loker mereka sebelum kemudian bergerak untuk meninggalkan tempat itu.
“Kalian suka basket?”
Akhirnya sebaris kalimat pertanyaan itu berhasil diluncurkan Noah, tanpa mengubah posisinya yang sedang membelakangi mereka; sambil melepas tas dan memasukkan semua barang-barang yang tak berhubungan dengan basket ke dalam lokernya.
Dua orang siswa kelas 10 itu tampak bingung sambil saling bertukar pandang, seolah sedang mempertanyakan pendengaran mereka sendiri.
Apa tidak salah? Noah baru saja mengajak mereka bicara.
Meski Noah masih membelakangi mereka dan sibuk beres-beres di depan loker, tapi kalimat pertanyaan barusan tadi sudah pasti ditujukan kepada mereka berdua, karena tidak ada orang lain di dalam ruangan itu.
Salah seorang dari mereka yang berwajah oriental, menyikut temannya yang lain, agar menjawab pertanyaan Noah barusan.
Temannya yang memiliki tubuh jauh lebih jangkung dari si wajah oriental pun lalu berdehem. “Suka. Kalau nggak, mana mungkin kami gabung di sini,” jawabnya kemudian.
“Kalau suka, kenapa mau pindah klub?” tanya Noah lagi sambil mulai mengganti kemeja putihnya dengan baju kaos untuk latihan; masih tanpa membalikkan badannya.
Lagi-lagi kedua orang itu saling menatap sebelum salah satunya menjawab, “Soalnya di sini sudah banyak yang jago. Kayaknya nggak mungkin kami bisa bersaing.”
Noah menghempas napas untuk meredakan kekesalannya. Kenapa selalu saja ada orang-orang yang berpemikiran seperti mereka?
Rasanya Noah sudah sering melihat tipe orang seperti itu, mereka cenderung memulai segalanya dengan gaya-gayaan dulu. Membeli perlengkapan olahraga yang keren dan mahal, mulai dari sepatu sampai ke tumbler minuman, hanya untuk membuat diri mereka terlihat lebih baik dari orang lain. Tapi pada akhirnya, mereka tidak benar-benar menekuni olahraga itu sendiri.
Lalu, semua perlengkapan olahraga seperti bola basket, tongkat baseball, raket, dan sebagainya, hanya akan menjadi pajangan yang tak terpakai di sudut ruangan. Dan akan terlupakan saat mereka menemukan hobi baru.
“Lalu menurut kalian anggota klub lain itu nggak ada yang jago, makanya kalian bisa bersaing di sana?” balas Noah lagi sambil masih berkutat di depan loker dan tetap tidak menatap wajah lawan bicaranya.
“Nggak juga sih … cuma kayaknya di klub lain, kemungkinan untuk main di pertandingan itu masih ada. Sedangkan kalau di sini …”
“Aku juga dulu pernah seperti kalian,” sela Noah sambil melipat seragamnya dan meletakkan kemeja putih itu di dalam loker. “Semua shoot yang kubuat gagal, dribble-ku gampang direbut, para senior menertawakanku. Tapi … saat pertama kalinya bola yang kutembakkan berhasil masuk, aku mulai percaya, pasti ada atlet yang terlihat hebat di TV padahal dulunya dia juga payah dalam olahraga. Hal seperti itu, bukan cuma ada di film-film.”
Noah menutup pintu lokernya sambil lalu membawa celana traning yang akan ia pakai untuk latihan hari ini menuju ke salah satu bilik shower. Sebelum hilang di balik tembok yang membatasi ruang loker dan ruang shower, Noah akhirnya menoleh dan masih menemukan dua orang rekan sebayanya itu terpaku di depan pintu keluar.
“Aku juga nggak jago dari lahir kok,” tambahnya lagi. Lalu tanpa menunggu respon dari lawan bicaranya. Noah berlalu begitu saja.
Selama beberapa saat, kedua orang yang diajak bicara oleh Noah tadi, masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya baru saja terjadi. Noah yang selama ini bahkan tak pernah bertukar kata dengan mereka, tiba-tiba mengajak mereka bicara. Dan itu juga bukan sekadar pembicaraan kosong, melainkan lebih menyerupai sebuah motivasi.
“Dia barusan ngasih kita semangat, ya?” tanya si jangkung, dan dibalas dengan anggukan polos temannya. Mereka lalu tersenyum sambil agak menahan tawa.
“Kurasa dia sebenarnya orang baik,” kata si cowok berwajah oriental.
“Iya, ya. Aku kira dia tipe tuan muda berbakat yang songong. Tapi kayaknya bakal seru deh kalo kita bisa ngobrol lebih akrab sama dia.”
“Nggak nyangka dia mau nyemangatin kita, padahal kelihatannya dia nggak peduli.”
“Mungkin malah dia nggak tahu nama kita.”
Kedua sahabat itu pun kemudian meninggalkan ruang loker sambil bertukar komentar, di sela suara tawa yang terdengar lebih ringan.
.
Latihan sore selesai saat langit biru sudah berubah menjadi senja. Ada peraturan tak tertulis yang memang sudah dipahami oleh setiap anggota tim basket Cendana. Bahwa biasanya, anggota kelas 10 dan 11 akan menunggu para senior kelas 12 untuk lebih dulu menggunakan shower.
Ruang loker itu memang cukup besar, tapi jika semua anggota tim basket putra masuk sekaligus setelah latihan, bayangkan bagaimana penuhnya ruangan itu, ditambah lagi dengan berbagai macam bebauan yang membaur menjadi satu, tentu saja kondisinya akan menjadi kurang nyaman.
Biasanya, saat Ahsan dan senior kelas 12 lainnya menggunakan bilik shower, para pemain reguler yang tergabung dari beberapa angkatan akan berada di ruang loker sambil berkemas dan mengobrol satu sama lain. Sementara anak-anak baru yang umumnya terdiri dari anak kelas 10 masih akan berada di aula untuk merapikan peralatan latihan dan membersihkan lapangan.
Jika pun ada satu atau dua orang anak baru yang tidak sedang piket, biasanya mereka lebih memilih untuk tetap berada di aula karena bergabung bersama senior di ruang loker akan terasa agak canggung; meskipun sebenarnya tak ada yang melarang jika mereka ingin berbaur.
“Sampai jumpa lagi besok.”
Terdengar suara Dewa yang bersahut-sahutan dengan para anggota tim Cendana.
“TTDJ[1], Kak,” balas Dirga dan beberapa anak kelas 11 lainnya. Sebagian dari mereka memutuskan untuk mengikuti para senior kelas 12 meninggalkan aula lebih dulu, sementara sebagian lainnya baru saja akan menggunakan shower.
Noah dan anak kelas 10 masuk ke ruang loker paling akhir dengan beberapa senior yang masih tersisa di ruang shower.
Saat Noah membuka lokernya, ia tak bisa menyembunyikan ekspresi kaget di wajahnya. Sepertinya seseorang sudah menyemprotkan minuman bersoda dari tiga baris lubang udara yang ada pada bagian atas dan bawah setiap pintu loker.
Cairan yang membasahi tas, baju seragam dan jaket Noah itu juga meninggalkan noda yang tampaknya cukup lengket. Untung saja hp Noah berada di paling bawah, sehingga bisa lolos dari cipratan air.
Zikri yang ada di sebelah Noah bereaksi lebih dulu dan malah jauh lebih heboh dari Noah.
“Si-siapa? Siapa yang berani ngotorin loker Noah?!” teriaknya ke seisi ruangan.
Beberapa di antara mereka terlihat saling bertukar pandangan sebelum kemudian mulai mengangkat bahu, menandakan mereka tak tahu apa-apa.
“Apa bukan minuman Noah sendiri yang tumpah di dalam loker?” celetuk salah seorang dari mereka.
___ ___ ___ ___ ___
[1] TTDJ adalah singkatan yang sering digunakan untuk mengatakan hati-hati di jalan.