Every Winner Was Once a Loser

1241 Kata
“Sore, Kak Andi,” sapa Luna ramah saat mereka berpapasan di jalan itu. “Oh … Luna, sore,” balas Andi tak kalah ramah. Di ujung kalimatnya, ia mengerling Noah dan menyempatkan diri untuk mengirim senyuman yang lebih mirip seringai. Noah memutar bola matanya sambil memalingkan wajah ke arah yang berlawanan dengan Andi. “Hari ini nggak ada latihan?” tanya Luna setengah basa-basi. “Iya … soalnya hari ini giliran klub futsal yang pakai aula,” jawab Andi agak memelas. “Maklum lah … karena klub bulu tangkis nggak disediakan aula sendiri, kami harus membagi waktu latihan dengan klub yang lain.” “Kalau lapangan nggak bisa dipakai kan kalian bisa latihan fisik di luar,” timpal Noah sambil lalu. “Anak-anak nggak terlalu antusias sih kalau latihan fisik, makanya agak susah ngajaknya.” Andi berusaha memberikan pembelaan sepantasnya. “Lagipula kalau harus latihan di lapangan outdoor, mereka selalu mengeluh karena banyak angin. Berbeda dengan bola basket yang nggak akan terpengaruh dengan cuaca berangin, shuttlecock badminton itu memang lebih baik digunakan di dalam ruangan.” “Kamu kaptennya, kan.” Noah kembali menimpali sembari mengamati Andi dari ujung rambut hingga ujung sepatunya. “Masa’ ngatur anggota sendiri aja nggak bisa. Pantas klubnya jadi salah satu klub yang nggak diperhitungkan di Cendana,” lanjutnya tanpa ampun. Luna menyikut lengan Noah, lalu mencoba memberi alasan agar Andi tidak tersinggung dan memaklumi Noah. “Sorry, Kak. Noah ini memang anaknya agak susah diatur. Bukan cuma sama Kakak, bahkan kepada sesama anggota klub juga lidahnya beracun.” “Haha … aku maklum kok.” Andi tertawa bak seorang bijaksana yang sama sekali tak merasa tersinggung dengan gonggongan chihuahua. “Sepertinya Ahsan juga kerepotan dengan para ju.ni.or.nya, ya? Biasanya memang orang kalau populer dengan cara yang terlalu instan, akan berdampak ke perilakunya.” Itu merupakan balasan yang halus, namun cukup menusuk. Dalam hati, Noah semakin menyadari bahwa Andi bukan orang sembarangan yang emosinya akan langsung meledak ketika menghadapi provokasi, seperti yang baru saja Noah lakukan. Noah sudah tak peduli lagi. Ia malas menghadapi lawan yang mahir mengendalikan emosinya, jadi ia memilih untuk lebih dulu meninggalkan tempat itu. “Aku pamit duluan, ya. Berbeda dengan klub kalian yang senggang, jadwal latihan kami padat,” celetuk Noah sambil menatap jam tangannya dan mulai bergerak melewati Andi. Saat berpapasan, ia sengaja membiarkan lengannya berbenturan dengan lengan Andi, membuat kapten klub bulu tangkis itu terdorong hingga mundur selangkah dari pijakannya. “Oh … sorry.” Noah langsung meminta maaf. “Padahal cuma kesenggol sedikit. Kakak nggak apa-apa, kan?” tanyanya berlagak prihatin, meski wajahnya tampak terhibur. Ekspresi Andi sempat berubah selama sepersekian detik, tapi kemudian ia kembali mengumbar senyum. “Nggak apa-apa. Latihan yang rajin, ya. Cendana menaruh harapan besar pada tim basket tahun ini.” Kalimat itu dimaksudkan untuk memberi beban tekanan kepada Noah, karena reputasinya yang digadang-gadang akan membawa nama baik Cendana. “Tentu saja,” sahut Noah santai, “rencananya kalau kami berhasil menyapu bersih semua gelar juara tahun ini, kami akan meminta Kepala Sekolah membuat Jacuzzi[1] di ruang ganti,” tambahnya sambil tertawa. Noah cukup puas ketika melihat rahang Andi berangsur mengatup ketat. Setelah memastikan bahwa ia adalah pihak yang memberi ‘pukulan terakhir’, Noah pun akhirnya berbalik dan berlalu. “Kak Luna, sampai ketemu di aula,” serunya sambil melambaikan tangan tanpa menoleh lagi. . Ketika tiba di aula, sudah cukup banyak anggota klub basket yang berkumpul. Namun, Noah menyadari ada beberapa anak baru yang sudah tak terlihat lagi batang hidungnya sejak latihan pagi tadi. Memasuki bulan kedua sejak pertama kali para anggota baru menginjakkan kaki di aula ini, sepertinya satu per satu dari mereka sudah mulai menyerah. Dari 20an anggota baru yang mendaftar, sekarang hanya tersisa belasan orang saja, dan sepertinya jumlah itu juga akan semakin berkurang seiring berjalannya hari-hari latihan. Mereka yang tidak serius dengan basket akan mulai merasakan beratnya menu latihan yang diberikan. Tentu saja itu adalah hal yang wajar, Cendana menargetkan juara nasional, tidak ada waktu untuk mereka yang bergabung cuma karena ikut-ikutan, atau sekadar ingin kelihatan keren dengan menjadi bagian dari salah satu klub beken di Cendana. “Kalau niatnya cuma setengah-setengah, kalian nggak akan bisa sampai kemana-mana,” pikir Noah dalam hati. Saat Noah baru saja akan menguak pintu ruang loker, ia mendengar perbincangan dari dalam ruangan itu. “Aku mau coba voli aja, deh,” kata seseorang yang namanya tidak diketahui Noah, tapi sepertinya ia mengenal suara itu sebagai salah satu anggota kelas 10 yang suka berkumpul di sudut aula sambil bicara tentang game online. “Mumpung masih awal semester, masih banyak waktu untuk memilih klub. Dulu aku kira karena badanku cukup tinggi, aku cocok main basket. Tapi kayaknya pemain voli juga banyak yang jangkung kan, ya?” sambung orang itu lagi. “Eh? Tunggu dulu. Serius kamu mau berhenti basket?” tanya temannya kaget. “Iya … mau gimana lagi,” sahut orang yang pertama membuka suara tadi. “Lihat aja, anak-anak yang kelihatan jago waktu tes kemampuan, udah diperlakukan berbeda oleh senior. Kalau tetap berada di klub ini, bisa-bisa aku cuma jadi tim hore-hore sampai tamat SMA.” “Halah, kamu dari dulu emang gitu. Waktu SMP dulu juga sok ikut-ikutan sepak bola, abis itu alasan capek … nggak seru, padahal udah banyak beli perlengkapan sepak bola. Akhirnya bola yang kamu beli mahal-mahal, malah jadi pajangan di lemari.” “Itu kan dulu, namanya juga masih remaja labil. Sekarang ini aku memang mau serius, tapi kayaknya basket nggak mungkin deh.” “Iya sih … persaingannya terlalu ketat. Jangankan jadi pemain inti, jadi penghangat bangku cadangan aja rasanya hampir nggak mungkin. Orang-orang kayak kita …” “… Orang-orang gagal kayak kita, dilihat pelatih aja rasanya udah bersyukur banget. Anggota baru yang berbakat kayak Noah dan Igris itu berbeda dengan kita. Mereka itu level fokusnya udah sampai ke strategi untuk memenangkan pertandingan, sementara kita masih di level yang harus khawatir, apakah kita akan dimainkan di pertandingan atau nggak.” “Haha … ya jangan disamakan dengan mereka. Terlalu berat. Kalau kayak kita ini, biar latihan sampai gempor juga ujung-ujungnya bakal jadi anak buangan yang bertugas jadi pasukan tepuk tangan dari pinggir lapangan.” “Masih mending kalau kita bisa nonton dari pinggir lapangan, itu berarti kita termasuk dalam formasi pemain tetap. Eh … boro-boro, palingan juga kita nonton dari tribun sama anak-anak buangan lainnya.” BRAK! Tanpa sadar, Noah menguak pintu selebar-lebarnya hingga daun pintu itu membentur dinding dan menimbulkan suara yang cukup keras. Dua orang anggota basket yang sedang mengobrol tadi pun tersentak kaget. Dengan mata yang penuh tanda tanya, mereka menatap Noah yang berdiri menjulang di mulut pintu. Noah sangat ingin mengatakan sesuatu kepada dua orang anak baru itu, tapi ia tak tahu bagaimana caranya agar ia tak terkesan kasar, ia khawatir perkataannya nanti malah akan membuat mereka tersinggung dan salah paham. Bagaimana kalau Noah kembali menciptakan “Abi” yang lainnya? Bagaimana kalau perkataan dan tindakannya malah akan membuat mereka semakin putus asa dan semakin membulatkan tekad untuk meninggalkan basket? “Kalian …” Noah baru mengeluarkan satu kata, tapi Yuda sudah muncul di belakangnya dan bertanya panik. “Suara apa itu barusan?!” ___ ___ ___ ___ ___ [1] Jacuzzi adalah sebuah merek produk, namun sering digunakan untuk mendefinisikan sebuah bak yang menggunakan sistem jet bawah air untuk memijat tubuh (digunakan untuk hidroterapi dan relaksasi). Jacuzzi umumnya ditemukan di hotel atau tempat spa, dan harganya yang cukup mahal membuat kolam ini hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN