Chapter II-7

1618 Kata
Andi berjalan cepat menghampiri Noah dengan wajah yang terlihat sangat marah. Tepat saat ia sudah berada di depan Noah, ia langsung menyambar dan mencengkram kerah seragam Noah. “Kamu pikir ini udah selesai, ha!?” Andi mengancam dengan gigi rapat menahan emosi. “Kak, ada apa ini?” Igris mencoba melerai tapi beberapa teman Andi langsung menahannya agar tetap berdiri di pinggir dan membiarkan Andi bicara dengan Noah. “Oh … jadi ini belum selesai?” Noah tak gentar sama sekali. Ia membiarkan kerah bajunya dicengkram tapi matanya tetap membalas tatapan Andi. Tak ada ketakutan di sana. “Aku bisa aja mengakhiri karirmu di basket dan bikin kamu nggak bisa main basket lagi seumur hidup.” Andi mengetatkan cengkraman tangannya, sekuat tenaga menahan diri agar tak meninju wajah Noah. “Apa kamu nggak pernah berpikir kalau bisa aja sekarang aku sedang merekam kejadian ini dengan kamera tersembunyi di balik bajuku?” Kalimat Noah itu membuat Andi tersadar bahwa Noah tidak sedang memberikan ancaman kosong, mengingat bagaimana Noah suka menyimpan bukti rekaman bahkan berkomplot dengan Rihan untuk menyembunyikan kamera dan merekam semua kejadian di ruangan klub badminton waktu itu. Perlahan cengkraman tangan Andi melonggar dan Noah langsung menepis tangan kapten klub badminton itu dari hadapannya. “Terserah kalau kamu ngancam mau mengakhiri karirku di dunia basket,” ujar Noah sambil merapikan kembali kerah seragam sekolahnya, “tapi aku janji aku bakal memastikan kamu juga ikut jatuh bersamaku.” Andi tak habis pikir. Ia merasa tak pernah melakukan kesalahan apapun kepada Noah, malah sepertinya Andi selalu bicara sopan padanya. Tapi kenapa Noah memusuhinya seperti ini? “Aku nggak pernah cari masalah sama kamu, ya! Anak kurang ajar! Dibiarin malah ngelunjak!” Andi mengangkat kepalan tangannya dan bersiap untuk memukul kepala Noah, namun sebuah suara lantang dari arah belakangnya membuat tinju Andi menggantung di udara. “Ada apa ini?!” Suara itu adalah milik Ahsan, kapten klub basket. Andi menoleh dan menemukan teman sekelasnya itu sedang berjalan cepat menghampiri mereka, sampai akhirnya ia berdiri di antara Noah dan Andi. “Kamu nggak usah ikut campur,” gerutu Andi kali ini kepada Ahsan. “Nggak bisa. Noah anggotaku. Mana mungkin aku nggak ikut campur,” balas Ahsan lagi, “kamu pasti punya alasan yang jelas kan buat ngelakuin semua ini?” Ahsan sebenarnya sudah tahu tentang apa yang terjadi antara Andi, Noah dan Rihan, itu sebabnya ia yakin bahwa Andi tak akan berani mengatakan alasan penyerangannya ini terhadap Noah. “Anggotamu ini nggak tahu sopan santun sama senior. Kurang ajar.” Andi mencoba memberi alasan yang masuk akal. “Memangnya apa yang udah dilakuin Noah ke kamu? Kalau memang Noah bersalah, aku pastiin Noah akan minta maaf dan aku juga akan ikut minta maaf.” Tapi tentu saja perkiraan Ahsan terbukti benar, karena mulut Andi terkunci saat ia diminta menjelaskan secara detail tentang kesalahan Noah kepadanya. “Dengar ya, Ahsan, jangan sok hebat kamu.” Kali ini Andi malah mengalihkan ancamannya kepada Ahsan. Ahsan mengangkat dagunya sambil lalu bergerak maju selangkah ke hadapan Andi hingga jarak mereka menjadi sangat dekat. Karena tubuh Ahsan yang lebih tinggi dari Andi, tatapan matanya jadi terlihat seperti sedang meremehkan orang di hadapannya. “Kamu pikir aku takut?” Ahsan tak perlu meninggikan intonasi suaranya, tapi sebaris kalimat yang ia keluarkan itu sudah mampu memberi tekanan yang cukup untuk membuat nyali Andi ciut. Gigi Andi bergemeretak dan tangannya terkepal hingga pembuluh darahnya menyembul, tapi ia tak mengatakan apa-apa lagi. Hingga akhirnya ia berbalik dan melangkah pergi begitu saja. “Ayo pergi!” katanya sambil lalu meninggalkan tempat itu, diikuti oleh rekan-rekannya yang lain. Sementara itu, Igris masih kebingungan menatap Andi, Noah dan Ahsan secara bergantian. “Sebenarnya ini ada apa sih?” tanyanya kemudian. . Setiap tim yang masuk peringkat 3 besar dalam Liga Rookie di tiap regional hanya memiliki waktu kurang lebih 3 bulan mempersiapkan diri untuk Kejurnas, termasuk Cendana. Itu sebabnya menu latihan yang diberikan Coach Adam lebih padat dari biasa. Mereka berlatih strategi, mempertajam skill, menonton dan menganalisa video pertandingan lawan, dan yang paling penting adalah meningkatkan stamina. Noah hampir tak punya waktu memikirkan hal lain. Ia hanya ingin fokus menghadapi Kejurnas dan mewujudkan mimpi para senior kelas 12 untuk mengangkat trofi di ajang itu. Tapi sepertinya, untuk fokus pada Kejurnas saja, saat ini akan sedikit sulit dilakukan. “Noah,” panggil Ahsan tepat setelah Coach Adam membubarkan latihan sore itu. “Iya, Kak?” sahut Noah sambil agak berlari kecil menghampiri sang kapten. “Hari ini giliranmu piket?” tanya Ahsan ketika Noah sudah berada di hadapannya. “Nggak, giliran saya besok.” “Ok, ada yang mau aku omongin. Sambil jalan aja ke asrama … Kami duluan, ya! Juan tolong urus sisanya.” Ujung kalimat Ahsan ditujukan kepada pemain kepercayaan nomor 2 di tim basket Cendana, Juan. Center kebanggaan Cendana itu pun paham dan mengacungkan jempol sebagai jawaban. “Ambil barang-barangmu di loker, aku tunggu di pintu keluar.” Kali ini Ahsan kembali bicara kepada Noah yang langsung mengangguk dan buru-buru menuju ke ruang loker. Beberapa saat setelahnya, Noah sudah berjalan di sebelah Ahsan menuju asrama. Noah tak tahu apa yang ingin disampaikan Ahsan padanya, tapi melihat Ahsan masih belum memulai pembicaraan meskipun mereka sudah meninggalkan aula basket, Noah berinisiatif untuk membuka suara. “Aku dengar Kakak udah dapat banyak tawaran beasiswa dari berbagai universitas, ya Kak?” “Jangan sok tahu kamu. Dapat berita dari mana?” Ahsan mencoba berkelit. “Nggak usah merendah deh, Kak. Semuanya juga udah pada tahu kok,” tambah Noah sambil tersenyum jahil, “karena Kakak udah mau lulus, wajar aja semua pada sibuk ngerebutin seorang Ahsan Setiawan.” Ahsan hanya tersenyum menanggapi pujian dari juniornya itu. “Itu nggak ada apa-apanya, Noah. Nanti pas kita tanding di Kejurnas, kamu bakal sadar kalau masih banyak yang lebih hebat dari seorang Ahsan Setiawan. Dan juga tim-tim yang kemampuannya setara – jika tidak lebih baik – dari Cendana.” Jantung Noah berdebar dua kali lebih cepat dari normal. Rasanya semakin tak sabar ingin bertanding di Kejurnas. Ada perasaan gugup dan cemas, tapi juga ada semangat yang menggelora, bercampur dengan antusiasme dan ambisi untuk segera menghadapi lawan-lawan yang kuat. Karena Noah tak mengatakan apapun lagi setelah kalimat terakhirnya, Ahsan menoleh untuk mencari tahu ekspresi Noah di sebelahnya. Dan ia cukup terkejut melihat bibir Noah yang melengkung membentuk senyuman, tapi matanya seolah memancarkan aura predator yang siap mencabik-cabik mangsanya. Agak bergidik, Ahsan bisa merasakan gairah yang menggebu-gebu dari dalam diri juniornya itu. Ia sudah sangat siap untuk bertanding dan merebut trofi Kejurnas tahun ini. “Noah …” panggil Ahsan lagi, ketika mereka sudah hampir tiba di area asrama; dan sebentar lagi akan berpisah jalan karena Ahsan berada di asrama yang berbeda dengan Noah. “Hati-hati dengan Andi,” sambung Ahsan kemudian, “dia kenal banyak orang dan koneksinya juga gak terbatas pada para atlet saja. Aku mengenalnya sejak kelas 10, dia orang yang ambisius. Kalau diibaratkan kereta api, Andi itu memang nyaris nggak bisa dihentikan. Dia bakal menabrak dan menghancurkan apa saja yang menghalangi jalannya.” Sesaat Noah terperangah dengan penjelasan Ahsan sebelum kemudian ia mendengus setengah tertawa. “Ah. Kak Ahsan sampai segitunya,” ujarnya meragukan, “dia memang orang yang menyebalkan. Tapi masa’ iya dia seberbahaya itu?” Ahsan menatap Noah serius, seolah ingin menegaskan bahwa ia sedang tidak main-main. “Dia itu orangnya cenderung nggak suka kalau ada yang dipuji lebih dari dia di klubnya,” jelas Ahsan lagi. “Tapi dia kan Kapten Klub. Harusnya dia senang dong kalau anggotanya bagus.” “Badminton itu berbeda dengan basket,” sela Ahsan lagi. “Mereka nggak bermain dalam tim … oke, mereka main dalam regu, tapi bukan tim kayak kita. Mereka cenderung bersaing satu sama lain karena banyak kemungkinan mereka akan saling berhadapan dan saling mengalahkan. Kemenangan seseorang bukan berarti akan dirayakan semua anggota klub.” “Iya, aku paham soal itu, Kak …” “Nggak, dengar dulu. Memang umumnya semua Kapten dari olahraga manapun pasti bakal senang melihat anggotanya yang berbakat, tapi Andi berbeda. Dari kelas 10 dulu, kalau ada yang berpotensi mengunggulinya di klub badminton, orang itu kalau nggak dikeluarkan dari Kelas S, pasti dikeluarkan dari klub.” “Tapi kan belum tentu itu ada hubungannya dengan Andi.” “Noah,” Ahsan meletakkan tangan di kedua pundak juniornya itu lalu menatapnya lekat-lekat, “percaya deh, aku tahu. Kami udah tiga tahun sekelas. Kamu kira aku nggak punya teman kayak si Rihan itu di kelasku dulu? Aku pernah punya teman di klub badminton dan sekarang dia udah pindah ke sekolah lain.” Sebenarnya Noah tahu Ahsan tak mungkin mengatakan semua ini untuk menakut-nakutinya, tapi sejak tadi Noah hanya berusaha menampik fakta yang disodorkan kaptennya itu. Ia ingin tidak percaya bahwa saat ini … mungkin ia dan Rihan sedang terancam bahaya. “Pokoknya kamu harus selalu berhati-hati, ok?” nasihat Ahsan lagi. “Dia bisa datang dari arah mana aja. Sabotase, fitnah, ancaman, atau bahkan konfrontasi langsung, dia pernah melakukan semuanya. Jadi kamu harus selalu waspada, ngerti?” Noah akhirnnya mengangguk sambil membalas tatapan mata Ahsan, untuk meyakinkan bahwa ia benar-benar mendengarkan apa yang disampaikan oleh sang kapten. “Kalau ada apa-apa, jangan ragu ngomong ke aku atau siapa aja yang kamu percayai di sekolah ini. Jangan merasa bisa mengatasinya sendirian, ok?” tambah Ahsan. “Ok, Kak,” jawab Noah cukup tegas. Ahsan pun kemudian menepuk-nepuk pundak Noah dengan senyum lega di wajahnya. Selama ini, Noah memang cukup membuatnya khawatir, karena betapa tertutupnya Noah kepada orang-orang di sekitarnya. Ditambah lagi, sikap Noah yang kalau ngomong suka blak-blakan dan cenderung tak peduli dengan hierarki, membuatnya menjadi sangat mudah mengumpulkan musuh. Noah itu – tanpa ia sadari – bisa diibaratkan seperti percikan api las yang sewaktu-waktu bisa menimbulkan kebakaran besar jika tidak ditangani dengan benar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN