Saat tiba di lantai 2 Asrama Raven. Noah dikagetkan dengan kondisi koridor yang sudah ramai, tak jauh dari kamarnya.
“Ada apa?” tanya Noah dari belakang kerumunan.
Sontak sekumpulan penghuni Asrama Raven itu pun menoleh ke arah Noah. Noah – masih dengan ekspresi wajah bertanya-tanya – melanjutkan langkahnya untuk menuju ke kamar No.27, kamarnya bersama Igris, yang ternyata adalah pusat dari kerumunan ini.
Ada Mbah Marwan dan Ilham, Ketua Asrama Raven, tepat di depan pintu kamarnya.
“Noah, kamarmu tadi hampir kebakaran,” terang Ilham tanpa basa-basi. “Setrikaan di atas tempat tidur kayaknya lupa dimatikan, jadi kasurnya udah terbakar separuh.”
Kaget, Noah melongok ke dalam kamar dan melihat setengah kasur Igris sudah menghitam. Air menggenang sampai becek di lantai sekitar tempat tidur itu.
“Untungnya kejadian ini cepat diketahui sebelum api membesar dan merembet ke mana-mana,” imbuh Mbah Marwan.
“Aku tahu ini bukan kecelakaan yang disengaja,” timpal Ilham lagi, “tapi kamu dan teman sekamarmu harus tetap menghadap ke Pembina Asrama, Pak Beni.”
“Ntah kenapa aku lebih yakin kalau ini pasti kerjaan Noah,” tuduh salah seorang penghuni asrama yang kamarnya tepat di sebelah Raven-27.
“Kalau nggak biasa melakukan pekerjaan rumah, harusnya kamu lebih hati-hati,” celetuk seorang lainnya.
“Kalau gini kan bisa membahayakan semua orang.”
“Iya. Lagian, bisa-bisanya lupa matiin setrikaan.”
“Kebiasaan anak orang kaya kan begitu. Apa-apa tinggal perintah. Sekalinya hidup sendiri, jadi serba berantakan.”
“Hei.” Noah tak meninggikan intonasi suaranya, tidak juga ia membentak. Tapi semua orang yang sejak tadi bersahut-sahutan menyalahkannya langsung terdiam.
“Kalian nggak lihat itu yang terbakar kasur siapa?” sambung Noah lagi, masih dengan suara yang datar dan terdengar sangat dingin; seolah ia ingin membekukan semua mulut yang ada di situ.
“Ada apa ini ramai-ramai?” Terdengar suara yang tak asing dari arah tempat Noah datang tadi, sebelum akhirnya si pemilik suara itu muncul setelah menyelinap masuk dari sela-sela kerumunan.
“Ya ampun! Ini kenapa?!” tanyanya kaget saat melihat kondisi kamar.
Ya, itu Igris yang baru saja kembali dari klub basket.
Noah melempar tatapan muak ke arah roomie-nya itu. “Dia memang nggak tahu, pura-pura lupa, atau gimana?” batin Noah kesal.
Kembali terdengar suara bisik-bisik dari sekeliling Noah.
“Lihat tuh, Igris aja nggak tahu apa-apa.”
“Nggak mungkin lah anak sebaik Igris seceroboh itu, sampai membahayakan orang lain pula.”
“Mungkin memang Noah yang nyetrika di atas kasur Igris, atau jangan-jangan dia sengaja biar Igris yang disalahin.”
“Lihat tuh mukanya si Noah lempeng aja kayak nggak merasa bersalah sama sekali.”
“Nggak ada nyesal-nyesalnya udah ngerepotin satu asrama juga.”
Noah menghempas napas menenangkan diri. Matanya masih tertancap kepada Igris, mengamati ekspresi wajah dan gerak-geriknya, menunggu cowok itu mengatakan sesuatu untuk mengakui perbuatannya.
Tapi tidak. Igris tak mengatakan apapun. Ia hanya masuk ke dalam kamar dan sibuk berberes-beres, mengabaikan orang-orang yang berkerumun di depan kamar Raven-27 itu.
“Kamu nggak bakal ngomong apa-apa soal kejadian ini?” tanya Noah akhirnya kepada Igris yang langsung kaku di tempatnya berdiri.
“Noah, jangan kebiasaan kamu, melempar kesalahan ke orang lain.”
“Kamu yang jangan kebiasaan nuduh orang sembarangan.” Noah akhirnya membalas komentar salah seorang penghuni asrama Raven itu.
Suasana langsung hening ketika suara Noah sedikit meninggi. Tapi itu tak menghalangi Noah untuk mengungkapkan kekesalannya sejak tadi.
“Ya, aku lahir dari keluarga yang berkecukupan. Terus kenapa? Kalian mau jadikan itu alasan membenciku? Terserah. Tapi aku kasih tahu ya, dengar baik-baik, aku nggak pernah cuci dan setrika pakaianku di asrama. Aku selalu bawa ke luar dan laundry cuci-setrika.”
Orang-orang di Cendana selama ini melihat Noah sebagai anak yang sangat jarang sekali mengucapkan kalimat beruntun seperti itu, apalagi dengan emosi yang kentara. Itu sebabnya, saat ini mereka sudah menyadari kalau Noah sedang marah.
“Aku nggak pernah pakai setrikaan di asrama ini. Kenapa kalian nggak tanya aja sama orang yang satu lagi, yang sama-sama tinggal di kamar Raven-27?” Kali ini Noah jelas-jelas mengalihakn perhatian semua orang kepada Igris yang pura-pura sibuk di dalam kamar.
“Hei! Kayaknya udah saatnya kamu ngomong sesuatu!” hardik Noah jengkel.
“Ng … aku,” Igris terlihat panik dan bahkan tak berani mengangkat wajahnya, “aku rasa iya. Aku yang lupa tadi pagi. Maaf ya.”
Dengan rasa kesal yang semakin memuncak, Noah melempar tatapan tajam ke beberapa orang yang – ia tahu – sejak tadi mengatakan hal-hal yang menyudutkannya.
Tapi untungnya, Noah segera sadar kalau percuma saja ia marah-marah kepada mereka. Noah capek dan malas memperpanjang masalah ini. Ia pun melangkah masuk ke kamar sambil mengeluarkan hp-nya untuk menghubungi seseorang.
“Malam ini aku bisa numpang tidur nggak?” tanya Noah kepada seseorang yang ia telepon. “Nggak … nggak. Semalam ini aja … Nggak masalah, aku bisa tidur di lantai kok. Serius, aku nggak mau terlalu ngerepotin.”
Noah mengabaikan situasi di sekitarnya. Ia mulai memasukkan beberapa barang ke dalam duffel bag sambil masih bicara dengan seseorang melalui hp-nya.
“Iya … di sini terlalu bau,” kata Noah lagi sembari menyandangkan tas.
Igris masih berdiri di tempatnya. Tapi saat Noah mulai berjalan meninggalkan kamar, ia bahkan tak mau repot-repot bertemu mata dengan Igris.
“… Bau busuk.” Noah menambahkan di ujung kalimatnya sambil berlalu begitu saja.
Kerumunan memberi ruang untuk Noah lewat. Lalu saat berpapasan dengan Mbah Marwan dan Ilham, Noah menyempatkan diri untuk mengatakan, “Udah jelas kan siapa orang yang harus bertanggung jawab? Aku juga korban di sini dan aku nggak mau direpotkan karena kejadian ini. Nanti aku akan menghadap ke Pak Beni dan aku akan minta pindah kamar. Permisi.”
Tanpa menunggu jawaban, Noah pun berlalu pergi tanpa menoleh lagi. Tapi ia masih bisa mendengar suara-suara yang sepertinya ingin menghibur atau menenangkan Igris.
“Udah, nggak usah khawatir. Kami paham kok, kamu pasti nggak sengaja.”
“Kadang kecelakaan kayak gini emang bisa terjadi tanpa diduga-duga.”
“Untungnya nggak sampai jadi kebakaran. Jadi kamu tenang aja.”
“Nggak usah dipikirin omongan Noah.”
Noah tak tahu apa yang membuat image-nya selalu buruk jika dibandingkan dengan Igris. Apakah karena ia tidak miskin? Apakah karena ia bukan pemain basket yang bertubuh pendek? Atau karena Noah tak banyak menebar senyum seperti Igris?
Noah sudah lama menyadari kalau apapun yang ia lakukan, orang-orang akan selalu menemukan kesalahannya. Namun biasanya Noah tak peduli dengan pandangan orang yang ia anggap tidak penting dalam kehidupannya.
Tapi belakangan ini muncul sebuah keinginan di dalam diri Noah untuk bisa diterima orang lain. Dan sekarang ia merasa sangat bodoh karena menginginkan hal itu.
***
“Noah …” Igris mencoba menyapa pagi ini, di kelas 10-S. Tapi Noah memilih untuk mengabaikannya.
Tadi malam Noah menumpang di kamar Rihan, dan untungnya teman sekamar Rihan tidak keberatan. Walaupun sebenarnya, jika menginap di asrama lain harus ada pemberitahuan terlebih dahulu kepada ketua asrama. Tapi, teman sekamar Rihan bilang kalau Ketua Asrama Falcon orangnya agak sulit, jadi sebaiknya Noah menginap diam-diam saja.
Pagi-pagi sekali, saat semua orang belum bangun, Noah meninggalkan Asrama Falcon. Ia kembali ke Raven-27 dan Igris tak ada di kamar itu. Noah tak begitu memikirkannya dan lanjut mandi, bersiap-siap untuk berangkat latihan pagi di klub basket.
Saat Noah sudah selesai dan baru saja akan meninggalkan kamar, ia berpapasan dengan Igris. Tapi Noah bahkan tak memperlambat langkahnya – seolah Igris hanya udara yang tak terlihat – Noah tidak juga memandang wajahnya sama sekali.
Sebenarnya Igris sangat ingin mengajak Noah bicara. Tapi Noah tak memberikannya kesempatan, bahkan saat latihan di klub basket.
Itu sebabnya Igris memutuskan untuk menyapa Noah pagi ini di kelas, sebelum guru datang.
“Ng … tadi malam aku numpang di kamar Kak Ilham dan Kak Yuda.” Igris menjelaskan tanpa diminta. “Aku nggak pakai tempat tidurmu. Aku juga udah bilang ke Kak Ilham kalau aku bakal ganti rugi untuk kasur asrama yang terbakar.”
Noah yang sedang duduk di kursinya sambil main hp, masih tak menanggapinya sama sekali. Meskipun begitu, Igris tetap meneruskan penjelasannya.
“Noah … maaf ya. Kamu pasti kesal karena aku udah hampir membuat kebakaran di kamar kita,” ujar Igris pelan, nyaris memelas.
“Sebenarnya aku bukan kesal karena itu,” balas Noah akhirnys – meskipun ia masih tak mau memandang Igris. “Itu kecelakaan, bukan hal yang disengaja, jadi aku maklum aja.”
“Kalau gitu kenapa kamu masih kelihatan marah dan mengabaikanku? Waktu latihan tadi juga.”
Noah masih tak mengalihkan pandangannya dari layar hp, meskipun ia sudah tak bisa fokus lagi. Ia hanya scrolling beranda media sosialnya tanpa membaca apapun, untuk membuatnya terlihat seperti tak begitu peduli dengan pembicaraan ini.
“Aku kesal karena kamu sepertinya bermaksud membuatku menjadi kambing hitam,” kata Noah akhirnya.
“Ha? Nggak kok. Mana mungkin aku ngelakuin itu ke kamu,” bantah Igris.
Noah menyingkirkan hp dari depan wajahnya dan mulai melempar tatapan tajam kepada Igris. “Kalau gitu kenapa kamu nggak ngejelasin dari awal? Tadi malam, waktu orang-orang mulai nyalahin aku, kenapa kamu baru ngaku waktu aku menyuruhmu bicara?”
“A-aku terlalu panik. Pikiranku cuma fokus ke kamar yang berantakan dan aku pengen buru-buru membereskannya. Aku takut kamu marah karena udah seharian capek dan pas balik ke kamar malah ada kejadian itu.”
“Normalnya orang kalau dihadapkan dengan kejadian kayak gitu, pasti akan langsung minta maaf dan menjelaskan. Apalagi ketika melihat orang lain yang nggak tahu apa-apa jadi tertuduh akibat kesalahan yang kamu buat,” imbuh Noah lagi, “kecuali kamu memang berniat untuk melempar tanggung jawabmu ke aku.”
“Aku benar-benar nggak bermaksud gitu …”
“Kamu dengar, kan? Kata-kata mereka tentang aku tadi malam? Nggak mungkin kamu nggak dengar.”
“Aku … nggak terlalu menyimak …”
Noah mendengus sinis sambil kembali mengalihkan perhatian ke layar hp-nya, seolah ingin mengatakan kalau pembicaraan mereka ini tak ada gunanya.
“Aku udah hapal tabiat orang-orang oportunis kayak kamu,” lanjut Noah lagi. “Aku nggak peduli gimana kamu mau menjalani kehidupanmu di Cendana. Terserah kamu mau memanfaatkan siapa, jadi parasit atau apa, itu urusanmu. Tapi kalau kamu sampai melibatkanku demi keuntungan pribadimu, aku nggak bakal tinggal diam.”
Selama beberapa saat, Igris hanya diam dan menunduk. Meski terlihat seperti ingin mengatakan banyak hal, tapi pada akhirnya Igris tak bisa menemukan kalimatnya hingga guru pelajaran pertama masuk ke kelas itu.
Sebenarnya Noah cukup kecewa. Padahal ia mengira sudah bisa sedikit menerima Igris dan mungkin bisa menjadi teman seiring berjalannya waktu.
Tapi hari ini mata Noah kembali terbuka. Igris – entah sadar atau tidak – adalah orang yang akan selalu memanfaatkan kesempatan apapun demi keuntungan pribadinya. Dan Noah tahu itu. Jadi Noah mengambil kesimpulan, kalau sepertinya … ia dan Igris tak akan pernah bisa menjadi teman.