Chapter II-9

1634 Kata
“Jadi kamu mau minta pindah kamar?” tanya Said pas jam istirahat di kantin, Sabtu siang ini. Hanya ada Noah, Zikri, Said, Rihan dan Hamid di meja itu. Sedangkan Muklis, David dan Bayu katanya sedang ada urusan dan tak bisa makan bersama-sama di kantin. “Iya, tapi Ketua Asrama menyuruhku mencari orang yang mau tukar kamar, karena nggak ada lagi kamar kosong katanya,” jawab Noah sambil lalu menyeruput teh manis dinginnya. “Hm … kalau pindah asrama boleh, nggak?” Hamid ikut memberi masukan karena kebetulan dia dan David memang penghuni Asrama Hawk. “Soalnya di Hawk kayaknya masih ada kamar yang kosong.” “Tukeran sama roomie-ku aja, Noah. Nanti aku coba ngomong sama dia.” Zikri pun secepat kilat dan penuh semangat menawarkan diri. “Si Zikri mah, kalau demi Noah, dia rela menyingkirkan semua orang,” celetuk Said. “Iya, aku masih ingat gimana waktu itu pas kantin lagi ramai-ramainya, dia ngelupain kami dan malah ngasih kursi ke Noah,” timpal Hamid. “Itu pertama kali kita semua ketemu, terus ngumpul dan ngobrol bareng ya.” Said bernostalgia mengenang pertemuan pertama mereka, seolah itu adalah kejadian yang sudah sangat lama. Sementara itu, Rihan yang baru saja bergabung dengan geng Noah dan yang lainnya, hanya bisa senyum-senyum sambil mendengarkan. “Aku harap aku bisa ngebantu kamu, Noah,” komentarnya kemudian. “Kamu udah cukup ngebantu dengan memberikanku tempat menginap tadi malam,” sahut Noah ramah. “Kalau aku perhatikan …,” Zikri tiba-tiba bergumam sambil menatap Noah dan Rihan bergantian, “Noah kalau ngomong ke Rihan tuh baiiiikkk banget. Beda kalau dia ngomong ke aku. Kenapa ya?” Tapi pertanyaan Zikri itu malah memancing yang lain untuk membercandainya. “Mungkin karena kamu orangnya gragasan,” celetuk Hamid. “Mungkin Noah risi aja sama kamu,” timpal Said. “Nggak lah, itu cuma perasaanmu aja kali.” Rihan mencoba sedikit menghibur. “Aku nggak tahu kenapa, tapi kayaknya kalau aku memperlakukanmu sama seperti Rihan, kamu bakal besar kepala.” Tambahan paling akhir dari Noah berhasil membuat Said dan Hamid tertawa lepas, sementara Zikri langsung manyun dan Rihan masih agak takut-takut untuk ikut tertawa. Zikri berlagak ngambek sambil menggertak dengan gerakan seolah ingin melempar botol minuman ke Said dan Hamid yang tertawa paling keras. Noah selalu merasa senang kalau sudah berkumpul dengan Zikri dan yang lainnya. Entah kenapa, bicara dengan mereka, bercanda tanpa arah lalu tertawa bersama, membuat Noah bisa melupakan semua hal yang memberatkannya. Namun, itu tak berlangsung lama. Saat Noah mendapat pesan yang dikirimkan ke hp-nya, senyum di wajahnya berangsur hilang. “Noah, minggu ini pulang?”tulis Raka melalui aplikasi chatting. Noah mulai mengabaikan obrolan di meja itu dan fokus untuk membalas pesan Raka. “Iya, kenapa?” ketiknya. Detik berikutnya, Raka pun langsung membalas: “Mending minggu ini nggak usah pulang aja. Suasana di rumah lagi nggak enak.” “Kenapa lagi?” balas Noah cepat. “Biasa lah …” Raka hanya mengetik singkat untuk menanggapi Noah, sebuah jawaban yang sama sekali tak mengandung jawaban. Meskipun begitu, sepertinya Noah paham dengan apa yang ia maksud “biasa”. “Ketemu yuk,” ajak Noah akhirnya. Namun kali ini, Raka tak langsung menjawab. Hal itu membuat Noah jadi khawatir. Ia baru saja akan menelepon saudara kandung satu-satunya, sebelum sebuah pesan lain masuk dan notifikasi di layar hp menunjukkan kalau pesan itu dari ayahnya. “Aku akan mengunjungimu setelah jam sekolah. Luangkan waktumu.” Begitu bunyi pesannya. . Pukul 4 sore, Noah sudah meminta izin kepada Ahsan untuk datang terlambat karena ayahnya datang berkunjung. Ahsan sangat mengerti dan mengatakan kalau ia akan menjelaskan alasan keterlambatan Noah kepada Coach Adam. Sang Kapten bahkan menawarkan agar Noah melewatkan saja latihan hari ini karena biasanya jika ada orang tua murid yang berkunjung, pasti ada suatu hal yang penting atau cukup serius. Itulah sebabnya saat ini Noah sedang duduk berhadap-hadapan dengan ayahnya di lounge asrama Raven. “Keluar dari sini dan masuk ke SMA Arajaya.” Tanpa basa-basi, Nirwan, ayah Noah dan Raka langsung masuk ke alasan inti terkait kedatangannya hari ini. “SMA Arajaya?” Noah sempat bingung sesaat sebelum kemudian ia ingat bahwa dulu ayah dan bundanya pernah bicara soal membentuk sebuah yayasan yang akan menjadi sekolah berjenjang. Saking jarangnya Noah berinteraksi dengan orang tuanya, ia bahkan tak tahu kalau ternyata sekarang Arajaya bukan hanya sebuah universitas, tapi juga sudah ada sekolah SMA-nya. “Iya. Aku mau kamu berhenti main-main. Sudah cukup Raka saja yang nggak bisa diatur. Kamu jangan ikut-ikutan,” kata Nirwan lagi. “Aku sekolah baik-baik kok. Memangnya siapa yang main-main? Nilai-nilaiku juga masih di atas rata-rata,” bantah Noah. “Itu nggak cukup. Untuk apa kamu buang-buang waktu di sini? SMA Arajaya lebih fokus pada bidang akademis. Sekolah itu juga mempersiapkan pelajar yang akan berkompetisi di olimpiade sains. Kamu pasti bisa lebih berkembang di sana.” “Maksud Ayah apa? Memangnya siapa yang mau ikut olimpiade sains?” “Itu makanya aku bilang kecerdasanmu jadi sia-sia di sini.” “Aku nggak tahu gimana Ayah memandang Cendana, tapi sekolah ini baik-baik aja,” tukas Noah lagi. “Lagipula aku nggak mau kehidupan SMA-ku dihabiskan untuk urusan akademis melulu. Aku nggak punya cita-cita jadi profesor, ilmuwan atau apa. Selama nilaiku bagus, seharusnya aku bebas melakukan apa aja, kan?” Lelaki dengan beberapa rambut putih yang sudah menyembul di kepalanya itu, menunda responnya terhadap bantahan Noah barusan. Ia hanya membisu sambil menatap lurus ke arah sepasang mata anak muda di hadapannya, sebelum akhirnya ia menghela napas seolah berusaha menelan segala emosi dan rasa kesal. “Noah, apa sedikit pun kamu nggak mau membantu orang tuamu ini?” tanyanya kemudian, setengah memelas. “Ayah sendiri? Apa sedikit pun Ayah nggak mau membantuku? Masa remajaku ini cuma sebentar dan ini nggak akan pernah terulang lagi. Aku nggak melakukan hal yang buruk. Aku sekolah dengan baik dan juga berprestasi di dunia olahraga. Jadi sebenarnya masalah Ayah apa? Bukannya seharusnya Ayah bangga padaku? Seperti orang tua lain pada umumnya?” Argumen Noah seolah menyenggol sesuatu yang sensitif di dalam diri Nirwan. Ia pun meninggikan suaranya dan membalas, “Aku ingin kamu jadi … !” Tapi lelaki itu berhenti di tengah kalimat, karena tiba-tiba saja perkataan istrinya di hari pertengkaran itu, terngiang kembali di benaknya. “… kenapa semuanya jadi tentangmu dan keinginanmu? Yang kita bahas adalah hidup anak-anakmu, tapi kenapa kamu begitu egois?” “Aku ingin … supaya kamu nggak menyesali semuanya nanti,” Nirwan kembali menurunkan intonasi suaranya, “kamu sendiri tahu kalau masa remajamu ini cuma sekali dan nggak akan terulang lagi. Jadi aku nggak mau kamu menyesal nantinya, akibat mengambil langkah yang salah sekarang.” “Aku janji aku nggak akan menyesalinya,” sanggah Noah cepat. “Aku menyukai apa yang aku lakukan sekarang. Dan ini adalah hal yang positif, jadi aku masih belum ngerti kenapa Ayah sangat menentang hobiku. Apa semua ini cuma karena Ayah mau aku meneruskan bisnis Ayah sebagai seorang akademisi sekaligus juga sebagai pemilik institusi pendidikan? Apa cuma karena itu?” “Aku kenal seseorang yang sepertimu, lalu berakhir dengan menyesali pilihannya. Hanya karena ia terlalu muda untuk mengerti dan nggak ada yang memperingatkannya.” Kali ini Noah yang menghela napas karena merasa sudah kehabisan cara untuk menjelaskan dan meyakinkan ayahnya tentang apa yang ia lakukan saat ini. Suasana hening selama beberapa saat sebelum kemudian Nirwan kembali melanjutkan penjelasannya. “Temanku dulu juga bilang kalau ia menyukai apa yang ditekuninya. Ia bilang, ia nggak akan menyesali pilihannya untuk serius menjadi seorang atlet. Dia sangat berbakat, semua orang mengira kalau di masa depan ia akan menjadi atlet yang membanggakan. Tapi suatu hari ia mengalami kecelakaan yang cukup fatal saat sedang latihan. Lalu ia divonis untuk tak bisa lagi melakukan olahraga kegemarannya. Karirnya selesai, ia tak pernah bisa berjalan normal lagi dan semua orang melupakannya.” Nirwan mengambil jeda sejenak, matanya menatap ke arah permukaan meja tapi sepertinya pikirannya sedang menerawang ke masa lalu, mengingat kembali kejadian yang ia anggap sebagai tragedi. “Semua orang … yang awalnya mengelu-elukannya, tak satu pun dari mereka yang sekarang masih mengingatkannya. Ia dilupakan dan ia digantikan dengan atlet-atlet baru yang terus muncul dan mengubur semua prestasi yang pernah ia dapatkan.” Kembali, Nirwan menghentikan ceritanya dan Noah memberinya waktu. Tapi kemudian Nirwan memutuskan untuk menyudahi cerita tentang masa lalu yang pahit itu. Sesaat berikutnya, wajah Nirwan terangkat untuk menatap Noah, anak bungsu kebanggaannya. “Aku takut kamu akan mengalami hal yang sama dan tak bisa bangkit lagi setelahnya,” imbuh Nirwan lagi, “aku semakin takut ketika mendengar berita tentang kematian temanmu yang memutuskan untuk bunuh diri karena tekanan dan bullying …” “Ayah …” Noah buru-buru menyela. Ia tak ingin ayahnya membawa-bawa nama Fajar untuk mendukung kekhawatirannya atas nasib dan masa depan Noah. Ia tak ingin Fajar dikenang dengan cara seperti itu. “… Percaya sama aku,” kali ini suara Noah terdengar lebih lembut seolah ingin menenangkan lelaki di hadapannya. “Aku nggak bakal ngebiarin apa yang terjadi pada Fajar terulang lagi kepada orang-orang di sekitarku, terlebih lagi kepada diriku sendiri.” Noah lalu menatap ayahnya dengan tatapan yang lebih membujuk kali ini. “Kami … aku dan Raka nggak akan mengecewakan Ayah. Kami akan merawat baik-baik Arajaya, melanjutkan semua visi dan misi Ayah. Jadi, Ayah nggak perlu khawatir, bilang aja apa yang Ayah mau, kami akan berusaha meraihnya untuk Ayah … Tapi bukan sekarang.” “Noah … Raka itu …” “Raka itu anak yang baik. Bisa dibilang dia bahkan lebih memahami Ayah dibandingkan aku,” tambah Noah lagi. “Tapi kasih kami waktu, Ayah. Kami juga masih punya banyak hal yang ingin dilakukan. Soal mengambil alih Arajaya itu bisa dilakukan nanti, kalau Ayah udah nggak di sini lagi, dan itu juga harusnya masih sangat lama. Atau … apa mungkin Ayah berpikir untuk meninggalkan kami dalam waktu dekat?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN