“Prof. Nirwan, bagaimana perasaan Anda setelah berhasil mematenkan penemuan Anda yang ke-11 ini?” tanya seorang wartawan kepada sosok lelaki betampang serius yang baru saja keluar dari gedung kantor kementrian.
“Tentu saja saya merasa puas karena mendapatkan hasil dari kerja keras saya,” jawab Nirwan sambil menuruni undakan di bagian depan gedung itu. Ia bahkan tak melihat ke arah kamera dan para wartawan yang terus mengikutinya.
“Penemuan Anda kali ini adalah sebuah teknologi nano yang dianggap bisa menjadi kunci bagi perkembangan sains dan rekayasa di masa depan. Bagaimana Anda bisa memiliki ide cemerlang seperti itu?”
“Saya cuma ingin menciptakan sesuatu yang berguna dan hemat energi, idenya datang dari keinginan itu,” jawab Nirwan sambil terus berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir. “Kalian nggak perlu mengikuti saya seperti ini. Nanti akan diadakan konferensi pers untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan kalian, seperti yang sudah-sudah.”
Ya … ini memang bukan yang pertama kalinya Nirwan mendapatkan hak paten atas penemuan risetnya yang berkaitan dengan eksperimen berstruktur nano. Ia sudah berhasil mematenkan penemuan pertamanya di bidang interdisipliner ilmu elektronika saat usianya masih 25 tahun.
Tapi, tak peduli sudah berapa kali ia mendapatkan perhatian dari media karena pencapaiannya, Nirwan tak pernah merasa terbiasa dengan kondisi seperti ini.
“Anda adalah seorang genius yang sudah berkali-kali mendapatkan penghargaan dan prestasi Anda sudah diakui di dunia Internasional,” seorang wartawan masih berusaha mendapatkan judul untuk artikel kejar setoran yang harus di tulisnya di laman berita, “apakah kedua putra Anda yang saat ini masih duduk di bangku SMA akan meneruskan jejak Anda?”
Pertanyaan itu berhasil membuat langkah Nirwan terhenti, tepat saat ia hanya tinggal beberapa meter saja dari mobilnya.
Melihat Nirwan berhenti seakan-akan ingin meladeni pertanyaan mereka, para wartawan pun semakin semangat mendesaknya dengan pertanyaan yang mereka anggap cukup menarik perhatian Nirwan.
“Apakah Raka sebagai anak sulung memiliki potensi yang sama?”
“Kita beberapa kali mendengar prestasi dari si bungsu, tapi bagaimana dengan anak sulung Anda, Prof? Mungkin Anda bisa berbagi sedikit informasi tentangnya?”
“Saya dengar Noah malah lebih memperlihatkan prestasi yang luar biasa di bidang olahraga. Tapi, walaupun berprestasi di bidang olahraga, Noah juga anak yang sangat cerdas bahkan berhasil masuk Top 10 ranking nasional untuk lulusan SMP tahun ini. Bagaimana Anda menanggapi hal itu?”
Setelah pertanyaan itu, suasana mendadak hening. Nirwan tak mengatakan apapun, bahkan setelah satu menit berlalu. Ia hanya terdiam sambil menatap wajah si penanya.
“Prof. Nirwan …?” salah seorang dari wartawan itu berinisiatif untuk menyadarkan Nirwan bahwa saat ini mereka sedang menantikan jawabannya.
“No comment,” jawab Nirwan akhirnya. Dan seolah ingin menyudahi semuanya, ia langsung berjalan cepat menuju mobilnya. Lalu tanpa mengatakan apapun lagi, ia masuk dan melaju pergi meninggalkan tempat itu.
Dalam perjalanannya pulang ke rumah, di tengah suasana hati yang sedang kalut, ia mendapatkan pesan suara dari Raka.
“Ayah, aku di rumah tapi nggak ada orang. Minggu depan aku akan tampil sebagai band pembuka untuk konser band rock favorit Bunda. Ayah datang ya sama Bunda. Tiketnya aku taruh di meja makan. Selama seminggu ini aku nggak akan pulang, karena kami mau fokus latihan. Tapi tenang aja aku nggak bolos sekolah kok. Aku nginap di rumah Angga, temanku yang waktu itu pernah aku ajak main ke rumah. Sampai ketemu minggu depan.”
Tangan Nirwan yang menggenggam setir semakin mengerat bersamaan dengan rahangnya yang mengetat. Entah sejak kapan keluarganya menjadi seperti ini. Meskipun Raka dan Noah masih sangat menghormati kedua orang tuanya, dan berperilaku seolah tak ada yang salah di dalam rumah itu. Tapi … tak bisa dipungkiri, semua orang dalam keluarga itu sibuk dengan urusannya masing-masing.
Seolah bereka berempat selalu berjalan ke arah empat mata angin yang berlawanan, hanya sesekali menoleh dan menyapa, tapi mereka tak pernah mendekat. Semakin hari mereka malah semakin menjauh antara satu sama lain.
Pikiran itu yang membuat Nirwan akhirnya memutar balik arah mobil dan memutuskan untuk mengunjungi sekolah Noah. Demi apapun, ia tak mau menjadi semakin jauh dengan anak bungsu kebanggaannya itu. Setidaknya, Nirwan harus mulai bicara serius dengan Noah.
Itulah sebabnya kenapa sekarang ia berada di hadapan Noah. Menghadapi sebuah pertanyaan yang dilontarkan Noah kepadanya: “Ayah nggak berpikir untuk meninggalkan kami dalam waktu dekat, kan?”
Kening Nirwan berkerut seolah otaknya sedang bekerja mencerna kalimat pertanyaan Noah sekaligus mengalkulasikan jawaban apa yang harus ia berikan.
“Apa maksudmu aku mau pergi dalam waktu dekat?” tanyanya curiga.
Tapi Noah membalasnya dengan tawa renyah. “Maksudku, Ayah masih sangat muda dan sehat, tapi Ayah bersikap seperti kakek tua yang ajalnya udah di depan mata,” terangnya di sela tawa.
Nirwan pun melepas sandal slippers – yang memang disediakan di depan lounge asrama – dari kakinya sebelum kemudian memukul lutut Noah dengan benda itu. “Nggak sopan kamu ngomongin ajal di depan orang tua,” gerutunya kemudian.
“Maaf … maaf, habisnya Ayah sih nggak sabaran,” Noah mengusap-usap lututnya sambil nyengir, “nanti kalau aku berontak baru tahu rasa.”
“Awas aja kalau kamu berani.” Nirwan menggertak, mengambil ancang-ancang seolah ingin melepas sandalnya lagi untuk memukul Noah.
Noah pun buru-buru menenangkan ayahnya dan mengatakan kalau ia hanya bercanda.
Suasana di antara mereka sudah mencair. Pembicaraan pun menjadi semakin ringan.
Sebenarnya Noah sama sekali tak membenci orang tuanya. Walau bagaimana pun juga, ayah dan bundanya adalah orang tua yang hebat dan bertanggung jawab. Ia juga tahu karakter ayahnya yang keras dan pantang goyah. Lelaki itu cenderung mengatakan apa yang ada di pikiran, tanpa mau repot-repot menyaring atau membungkus kalimatnya dengan yang manis-manis.
Kalau sedang marah, kata-kata Nirwan sering membuat lawan bicaranya sakit hati, dan tak jarang juga ia berakhir dengan menyesali apa yang sudah ia katakan. Namun sayangnya, bak anak panah yang sudah terlanjur dilepaskan, ucapan-ucapan menyakitkan itu tak akan bisa ditarik kembali.
Semuanya diperparah dengan sifat Nirwan yang sangat keras kepala. Harga dirinya yang terlalu tinggi membuat ia menjadi sulit mengakui kesalahan, meskipun sebenarnya ia sangat ingin minta maaf. Hal itu yang membuatnya kadang menjadi tertekan oleh rasa frustasinya sendiri.
“Gimana keadaan di rumah?” Noah memulai topik pembicaraan baru setelah berhasil membuat atmosfer menjadi lebih santai.
Nirwan mendengus sambil melipat tangan dan melempar tatapannya ke sudut ruangan. “Aku nggak tahu kenapa bundamu itu jadi berubah. Rasanya dulu dia sangat memahamiku. Tapi sekarang dia selalu saja marah.”
“Apa Ayah udah minta maaf?”
“Ha?”
“Iya … apa Ayah udah minta maaf sama Bunda?” ulang Noah lagi.
Mulut Nirwan merenggang, tapi tak ada satu katapun yang keluar.
Benar … sejak pertengkaran hari itu, ia sama sekali tak memperbaiki hubungannya dengan Dian. Bagaimana mungkin ia berharap istrinya itu bisa bersikap baik-baik saja seperti sedia kala, jika ia tak berusaha membujuknya?
Meskipun di dalam hati Nirwan menyadari bahwa ucapannya hari itu menyakiti Dian, namun egonya terlalu besar untuk mengakuinya.
“Kenapa aku yang harus minta maaf? Padahal hari itu Bundamu yang menamparku,” sanggahnya kemudian.
Noah mengela napas sambil menggaruk-garuk tengkuknya. Ia sudah kehabisan akal, mencoba untuk membuat sang ayah memahami dan mengakui kesalahannya.
“Tapi … apa Ayah ingat waktu itu apa yang Ayah bilang sebelum Bunda memukul Ayah?”
Pertanyaan Noah kembali membuat Nirwan diam seribu bahasa. Tentu saja ia ingat dengan jelas apa yang ia katakan kepada istrinya waktu itu.
Noah pun memutuskan untuk menyudahi serangan faktanya. Ia tahu lelaki di hadapannya itu sudah menyadari dimana letak kesalahannya, tapi sepertinya memang dia butuh waktu.
Jadi Noah mencoba mencari alasan agar bisa mengakhiri pertemuan ini dengan cara senatural mungkin. Ia pun mulai merogoh hp di saku celana trainingnya.
Dengan berpura-pura mengecek notifikasi, Noah bermaksud mengatakan bahwa tak terasa waktu berlalu begitu cepat, ia harus segera bergegas mengikuti latihan sore klub basket.
Tapi saat melihat notifikasi pesan dari Rihan di layar hp-nya, ia langsung menyadari ada yang sedang terjadi dengan temannya itu.
“Noah, aku gak tau lagi harus gimana. Padahal kamu udah banyak bantu aku.”
Rihan biasanya tak pernah seperti itu. pasti terjadi sesuatu lagi.
“Ayah, bentar ya aku telepon temanku dulu.” Noah meminta izin sebelum menekan beberapa icon di layar hp-nya untuk membuat panggilan suara.
“Ada apa? Andi lagi?" tanya Noah langsung saat Rihan mengangkat telepon.
“Ah … sorry. Aku kira kamu lagi latihan. Aku gak nyangka kamu langsung baca pesannya. Tapi bukan masalah penting kok, nanti aja ...," jawab Rihan dari seberang.
“Nggak pa-pa ngomong sekarang aja, yang bukan masalah penting itu apa?”
“Itu … kamu tahu kan, di klub badminton biasanya kami saling bertanding satu sama lain untuk menentukan peringkat. Tapi aku nggak tahu apa yang terjadi, aku diminta untuk gak ikut turnamen apapun selama setahun ini. Mereka bilang, cedera tanganku adalah alasan utamanya. Padahal dokter bilang, kurang dari satu semester aku udah bisa main lagi dan pemulihanku juga bagus.”
“Mu-mungkin memang pemulihanmu baik, tapi untuk ikut pertandingan masih akan sulit,” Noah mencoba menghibur. “Kamu sabar aja, tahun depan Andi kan udah lulus, kamu bakal bisa menjalani hari-hari yang normal lagi di klub.”
Entah kenapa setelah perkataan Noah ini, Rihan malah terdengar semakin down. Setengah panik, Noah pun bertanya-tanya apa yang membuat Rihan jadi seterpuruk ini.
“Noah … kalau aku nggak ikut turnamen apapun selama setahun penuh, udah dipastikan aku akan dikeluarkan dari Kelas S.”
Oh iya … Noah hampir saja lupa, mereka punya peraturan itu untuk Kelas S.
“Aku dengar dari para senior …,” suara Rihan terdengar semakin parau, “katanya ini semua akibat dari kesalahanku sendiri. Harusnya dari awal aku diam aja, harusnya aku gak melawan Andi … aku … selama masih berada di Cendana, mereka akan memastikan untuk mengubur mimpiku menjadi atlet badminton. Mereka gak akan memberikanku kesempatan di klub, mereka juga akan membuatku kehilangan kursi di Kelas S … kalau aku harus pindah ke kelas reguler, orang tuaku nggak akan sanggup membiayai sekolahku di sini.”
Di ujung penjelasan Rihan, tak ada lagi yang bicara di antara mereka. Hanya Noah yang terdiam sambil menggenggam erat hp-nya dan Rihan yang terdengar sedang berusaha keras menahan isak tangisnya.
Andi. Si b******k itu memang sudah menghentikan segala macam bentuk perundungan kekanak-kanakan yang selama ini ia lakukan kepada Rihan. Ia pun tak pernah melukai atau menyerang secara fisik lagi. Tapi keadaan Rihan sepertinya tak banyak berubah, perundungan itu masih ada dan Andi sudah menemukan cara untuk membalas Rihan tanpa melanggar surat pernyataan yang sudah ia tanda tangani.
“Hati-hati dengan Andi … kalau ada yang berpotensi mengunggulinya di klub badminton, orang itu kalau nggak dikeluarkan dari Kelas S, pasti dikeluarkan dari klub … Aku pernah punya teman di klub badminton dan sekarang dia udah pindah ke sekolah lain.”
Peringatan dari kapten klubnya tiba-tiba terngiang di telinga Noah. Ya … Ahsan sudah memperingatkan Noah. Seharusnya Noah tak menyepelekan Andi.
“Noah … kamu bicara sama siapa?” tanya Nirwan yang mulai penasaran melihat anak bungsunya sedang serius berbicara dengan seseorang.
Mendengar suara ayahnya, Noah pun mendadak mendapatkan ide. Ia lalu menyudahi percakapannya dengan Rihan.
“Nanti malam aku numpang nginap lagi di kamarmu, ya? Kamu tenang aja, aku bakal nyari cara untuk menghentikan Andi. Dia harus dibuat sadar kalau gak semuanya bisa berjalan seperti yang dia rencanakan.”
Noah menutup telepon setelah mendengar jawaban “OK” singkat dan tanpa semangat dari Rihan. Ia lalu mengalihkan perhatiannya dari hp ke wajah lelaki di hadapannya sebelum kemudian mengatakan:
“Ngomong-ngomong ... Ayah, aku boleh minta tolong sesuatu, nggak?”