Chapter II-11

1088 Kata
“Aku boleh minta tolong sesuatu, nggak?” Noah memulai rencana untuk melibatkan sang Ayah dalam pertarungannya menghadapi Andi. Mumpung hubungan mereka sebagai ayah dan anak sedang mencair. “Apa? Kamu mau minta Ayah datang ke pertandingan basketmu? Nggak! Jangan harap!” sanggah Nirwan cepat. Padahal Noah belum sempat mengatakan apapun. “Bukan … bukan itu kok,” tukas Noah sambil cengengesan, “sebenarnya di sini ada senior yang suka bully–” “Siapa?! Siapa yang berani mem-bully kamu?!” potong Nirwan berapi-api, bahkan sebelum Noah menyelesaikan kalimatnya. “Ayah, dengarin dulu kenapa sih?” sela Noah. “Bukan aku yang di-bully. Tapi temanku. Cuma karena aku ikut campur untuk membantu temanku, sekarang si senior itu kayaknya malah mau menjadikan aku targetnya.” “Siapa namanya?” “Nama temanku?” “Nama si tukang bully-nya.” “Kalau aku kasih tahu namanya, Ayah mau ngapain?” “Aku akan coba menghubungi beberapa kenalanku supaya dia segera ditendang keluar dari sini. Ah! Atau … ini malah jadi alasan yang tepat buat kamu pindah sekolah ke Arajaya.” “Udah deh Ayah nggak usah mulai lagi. Aku nggak bakal pindah dari Cendana,” sanggah Noah tanpa basa-basi, “aku punya banyak teman dan aku suka di sini.” “Ya mana tahu kamu berubah pikiran.” Noah melempar tatapan jengkel melalui sudut matanya, sebelum kemudian ia kembali ke pembicaraan untuk memastikan bahwa Ayahnya benar-benar bisa membantu menyelesaikan masalah ini. “Anyway, emangnya Ayah bisa ngelakuin itu?” tanya Noah ragu, “mengeluarkan anak orang dari Cendana. Apa bisa semudah itu? Dia anak yang cukup berprestasi di bidang olahraga, loh.” “Kamu jangan sepele sama Ayah. Kamu nggak tahu Ayahmu ini siapa, ha?” Lagi, Noah menyerang lelaki di hadapannya itu dengan menatapnya melalui ekor mata, memberi kesan mencibir. “Intinya …,” sambung Noah lagi, “aku mau dia mendapatkan tekanan supaya dia nggak merasa selalu berada di atas angin. Ayah tahu? Selama ini dia selalu berpikir kalau nggak akan ada yang bisa menyentuh dan menghukumnya. Makanya dia bertindak sesuka hati.” “Ayah akan melakukan yang terbaik supaya dia dikeluarkan dari sekolah ini,” tegas Nirwan. Mendengar hal itu, Noah jadi berpikir ulang. Apa perlu ia berbuat sejauh itu? Andi sudah kelas tiga dan dia – katanya – cukup berbakat. Masa iya Noah dengan kejam menghancurkan masa depan seseorang? Lalu apa bedanya ia dengan para pem-bully itu? “Sebenarnya, asalkan dia nggak berulah lagi, dia nggak perlu dikeluarkan dari sekolah,” imbuh Noah dengan intonasi suara yang tak seteguh tadi. “Kalau tindakan kita terlalu ekstrim, takutnya nanti malah ada apa-apa. Pokoknya … minimal aku mau wewenangnya dikurangi, kalau bisa, dia diberhentikan aja dari jabatannya sebagai kapten klub badminton. Dan minta supaya pihak sekolah lebih serius mengawasi dia.” “Terus kalau Ayah bantu kamu, balasannya untuk Ayah apa?” “Orang tua macam apa Ayah ini?!” “Loh? Masa’ kamu bisa minta macam-macam sama Ayah, giliran Ayah yang minta sama kamu buat pindah sekolah atau buat berhenti basket, kamu nggak pernah mau nurut.” “Ada benarnya juga sih,” pikir Noah. “Pokoknya kalau Ayah memang peduli sama aku, dan menganggap aku dan Raka sebagai darah daging ayah – bukan cuma sebagai aset untuk mencapai ambisi Ayah – maka Ayah harus membantuku.” “Berikan padaku nama dan kelas seniormu itu. Ayah akan segera mengurusnya.” Noah tak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya, mendengar kalimat pamungkas yang sudah ia tunggu-tunggu akhirnya keluar dari mulut ayahnya. Jika masalah Rihan dan Andi sudah selesai, Noah merasa ia bisa sedikit tenang dan lebih fokus menghadapi Kejurnas. * * * “Pokoknya harus datang!” Begitu bunyi sebaris kalimat ngotot yang dikirimkan Raka kepada Noah melalui pesan suara. Pesan itu juga yang membuat Noah Minggu pagi ini menunggu seseorang sambil duduk di sebuah kursi panjang, di salah satu sisi lapangan basket taman umum kota. Alih-alih menghabiskan weekend-nya di rumah, Noah malah melakukan perjalanan ke pusat kota, di mana Raka akan tampil bersama band-nya pada sebuah konser malam nanti. Raka menyuruh Noah untuk menunggu di taman kota dan tepat jam 10 nanti ia akan datang untuk menjemput Noah, lalu bersama-sama ke lokasi konser. Katanya, ia ingin Noah menemaninya selama gladi resik. “Ngapain sih? Mending aku datang pas konser aja.” Noah sempat menolak permintaan konyol Raka. “Jangan. Kamu harus datang sebelum acara. Temani aku gladi resik,” balas Raka melalui panggilan telepon, “biar kamu tahu betapa kerennya kakakmu ini.” Sebenarnya Noah kesal, tapi mengingat bagaimana Raka yang beberapa kali datang ke pertandingan basketnya, Noah merasa kali ini ia harus menuruti permintaan Raka. Dalam hati Noah berpikir, mungkin memang Raka adalah orang yang paling butuh pembuktian saat ini. Mungkin dia memang ingin dilihat dan diakui, bahwa dia juga memiliki bakat yang bisa dibanggakan, dan dia juga bisa tampil keren. Pemikiran itu yang membuat Noah rela menunggu sendirian di taman kota pada hari libur ini. Setidaknya hari ini perasaan Noah juga bisa sedikit lega setelah berhasil meminta bantuan ayahnya kemarin. Tiba-tiba ada sebuah bola basket yang menggelinding melewati Noah dan cukup menarik perhatiannya. Bola yang menggelinding itu berasal dari lapangan basket yang ada di hadapan Noah. “Woi!” Sebuah suara membuat Noah menoleh dan mencari si pemilik suara. Seorang anak laki-laki berusia sekitar 11-12 tahun, tampak sedang berkacak pinggang sambil lalu menunjuk ke arah bola yang sudah menggelinding cukup jauh dari posisi Noah saat ini. “Apa salahnya diambilin kek? Padahal bolanya gelinding pas di dekat kakimu. Malah dibiarin aja,” omel si bocah, “orang dewasa zaman sekarang nggak ada peka-pekanya.” “Bocah kurang ajar,” pikir noah jengkel. Tapi ia memutuskan untuk mengabaikan si bocah dan malah memasang earphone sambil lalu fokus ke layar hp di tangannya. Mau tidak mau, bocah berambut keriting itu harus berjalan sendiri melewati Noah untuk memungut bola basketnya yang sudah berhenti menggelinding tepat di tepi got. Namun dalam perjalanannya kembali ke lapangan – dengan bola yang sudah dikepit di bawah ketiaknya – bocah itu berhenti di hadapan Noah. “Mukamu kayaknya nggak asing, pernah lihat di mana ya?” Setengah bergumam, ia masih mengamati Noah yang bahkan sama sekali tak tertarik menatapnya. “Kamu orang terkenal ya?” tanyanya kepada Noah. Tapi tentu saja Noah tak menanggapinya. Padahal sebenarnya tak ada suara musik atau apapun yang membuat Noah tak mendengar si bocah; karena ia hanya mengenakan earphone tanpa memutar musik. Ia memang sering menggunakan earphone hanya sebagai alasan untuk tak berurusan dengan orang yang tidak ia inginkan, seperti bocah yang tidak sopan ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN