Chapter II-12

1018 Kata
“Kamu orang terkenal ya?” tanya si bocah berambut keriting. Meski sebenarnya Noah mendengar pertanyaan itu. Tapi ia memutuskan untuk tak menjawab, dan berpura-pura mendengarkan musik melalui earphone-nya. Karena diabaikan, bocah itu melengos pergi dan kembali bermain basket sendirian di lapangan. Namun, hanya beberapa saat setelahnya, bola kembali menuju ke arah Noah, dan kali ini nyaris mendarat di wajahnya. Untung saja Noah refleks menepis bola yang melayang ke arahnya itu, hingga bola terlempar sampai mengenai pagar pembatas taman. “Oh! Aku ingat sekarang!” Bukannya merasa bersalah, kejadian itu malah membuat si bocah jadi mengingat identitas Noah. “Kamu adalah pemain terbaik di tingkat SMP tahun lalu, kan?!” Bocah itu kini mulai melangkah mendekati Noah dengan penuh semangat. “Namaku Eri. Siapa namamu? Aku lupa,” sapanya masih dengan gaya yang sombong. Tapi Noah bukanlah tipe orang yang pintar menyembunyikan perasaan, apalagi setelah nyaris dicium bola basket barusan. “Berapa umurmu?” tanyanya datar tanpa nada ramah sedikitpun. “Bulan lalu 12 tahun,” jawab bocah bernama Eri itu dengan bangga. “Harusnya kan kamu manggil kakak ke aku?” “Yaelah … kaku amat jadi orang. Biasa aja lah, cuma beda berapa tahun juga.” Eri menjawab santai seolah ia sudah kenal lama dengan Noah. Hal itu membuat Noah merasa semakin kesal. Agar tidak menimbulkan masalah, Noah memutuskan untuk beranjak dan berpindah tempat sambil melirik jam tangannya. Raka sudah terlambat 15 menit. Noah mulai berpikir untuk meninggalkan tempat itu dan membatalkan niatnya bertemu dengan Raka. “Eh … mau kemana? Tunggu dulu.” Di luar dugaan, Eri malah menarik ujung baju Noah dan mencegahnya pergi. “Ayo kita main sebentar. Mumpung ada kamu di sini, temani aku main dulu.” “Dari awal juga kenapa kamu main sendirian? Nggak punya teman, ya?” balas Noah setengah mengejek. “Enak aja! Aku punya teman, tahu?! Makanya ayo main sebentar. Biar aku bisa pamer ke mereka kalau aku ketemu pemain MVP dan berhasil mengalahkannya.” “Kamu mau ngalahin aku?” Noah berdiri melipat tangan, menatap Eri tanpa menurunkan dagunya. “Iya. Kalau nggak percaya, ayo main satu bola[1]. Kamu yang jaga. Aku yakin aku bisa ngelewatin kamu. Kamu kan cuma jago pamer dunk, defense dan yang lainnya pasti payah.” Ada urat yang menyembul di pelipis Noah, tapi ia masih berusaha mengendalikan emosi sambil terus mengingatkan diri sendiri bahwa saat ini ia sedang berhadapan dengan bocah. “Satu bola. Aku yang defense. Ok, ambil bolanya,” putus Noah akhirnya. Ia melirik jam tangannya lagi sebelum menginjakkan kaki ke area lapangan, sementara Eri sedang berlari mengambil bola basket yang terlempar tadi. Eri mulai melakukan dribble dari tengah lapangan dan Noah hanya berdiri tak jauh di hadapannya. Saat Eri menggiring bola ke kanan, Noah juga bergeser sedikit ke kanan. Bocah itu kemudian memamerkan skill dribble-nya, mulai dari memindahkan bola dari tangan kanan ke tangan kiri melewati sela-sela kakinya hingga reverse dribble[2]. Padahal Noah sama sekali tak mencoba menghalanginya. Tapi si bocah berambut kriwil itu bergerak ke sana kemari seolah ingin memamerkan gerakan cepat dan teknik menggiring bolanya. Noah membiarkan Eri lewat karena tak mau mengagetkannya dengan blocking keras, dan Eri tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung masuk dan mendapatkan satu bola dengan lay up. “Yay …! Aku menang! Aku menang dari pemain MVP!” Eri berseru sambil berlari mengelilingi Noah dengan loncat-loncatan kecil. “Ok, sekarang kamu bisa cerita ke teman-temanmu kalau kamu berhasil mengalahkanku. Kamu senang?” Noah menyilangkan tangan di depan dadanya sambil memberi tatapan yang terkesan seperti menyepelekan. Senyum di wajah Eri pun memudar. “Kamu nggak serius ngelawan aku?!” “Kalau aku serius, kamu bakal kepental jatuh, boro-boro dapat satu bola.” “Sekali lagi!” “Aduh … gimana ya?” Noah kembali melirik jam tangannya sembari menyusun rencana untuk menyemprot Raka habis-habisan karena membiarkannya menunggu selama ini. “Pokoknya sekali lagi!” Eri memberikan bola ke tangan Noah dan memintanya mengembalikan bola itu sebagai tanda dimulainya ronde kedua. Mood Noah semakin buruk. Ia berpikir kalau dalam lima menit Raka tak juga muncul, maka ia akan meninggalkan tempat itu dan membatalkan janjinya dengan Raka. Ditambah lagi, bocah keras kepala bernama Eri ini membuat rasa kesal Noah semakin bertumpuk. “Kamu gak serius melawanku karena diam-diam kamu pasti takut dikalahkan sama anak kecil, kan?” Eri mencibir sambil melakukan dribble di tempat. “Aku juga dijuluki bakat genius, bukan cuma kamu. Jadi jangan besar kepala karena selama ini kamu selalu dipuji-puji orang.” Setelah menyelesaikan kalimatnya, Eri menusuk masuk dari arah kanan dan Noah mengikutinya. Tapi ternyata itu hanya gerakan tipuan karena Eri dengan cepat mengubah arah dan berbalik menyerang dari arah kiri Noah. Karena Noah agak tertinggal, Eri mengira ia sudah lolos dari penjagaan Noah. Dengan senyum lebar di wajahnya, ia melompat untuk menembakkan bola ke arah ring. Tapi tentu saja Noah tak akan membiarkannya menang semudah itu. Eri bahkan tak menyadari saat Noah tiba-tiba saja sudah muncul di hadapannya dengan sangat cepat sambil langsung memukul keras bola yang baru saja ditembakkan Eri. Bola yang ditepis kuat saat berada di udara itu pun terpental ke lantai, tepat di sebelah Eri. Saking kerasnya, bola sampai memantul lebih tinggi dari tubuh si bocah. Suara yang ditimbulkan dari blocking keras itu membuat Eri mengernyit seolah seseorang baru saja menembakkan peluru shotgun ke lantai di sebelahnya, Sementara tubuh bocah itu masih agak gemetar karena kaget, Noah berdiri menjulang di hadapannya dengan wajah datar yang terkesan angkuh dan tak peduli. “Bukannya kamu bilang mau ngalahin aku?” cibirnya kemudian. “Wah, wah, wah … sama anak kecil juga nggak ada ampun ya?” Sebuah suara tiba-tiba muncul dari arah luar lapangan, tepat di belakang Noah. Saat Noah menoleh, ia menemukan sekelompok orang sedang berjalan memasuki lapangan untuk menghampiri Noah dan Eri. . ___ ___ ___ ___ ___ [1] Istilah “satu bola, dua bola dan seterusnya” adalah hitungan poin berdasarkan berapa kali bola dimasukkan ke dalam keranjang, bukan menghitung poin seperti di dalam pertandingan resmi. [2] Reverse dribble adalah teknik menggiring bola mengganti arah dengan cara memutar tubuh ke belakang dan memantulkan bola dari satu sisi ke tangan yang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN