Tampak ada empat orang yang sedang berjalan memasuki lapangan basket. Dua di antaranya terlihat berusia sepantaran dengan teman-teman Red Phantom Noah – atau mungkin lebih tua – sementara dua lainnya kelihatan masih seumuran Noah.
“Kamu nggak malu ngelawan anak kecil aja sampai seserius itu?” tanya orang yang paling depan, rambutnya pirang dan agak gondrong.
“Sayangnya, aku juga anak kecil,” sahut Noah cuek.
Mendengar jawaban dari Noah, mereka saling bertukar pandangan sebelum akhirnya tertawa bersamaan.
“Iya … nggak salah juga sih,” celetuk salah seorang lainnya yang mengenakan tracksuit berwarna ungu tua dengan huruf-huruf tersusun melengkung membentuk tulisan “Bima Sakti” di punggungnya.
“Kamu Noah, kan?” Seorang yang mengenakan t-shirt putih dengan logo kecil bertuliskan Bima Sakti Basketball Team di dekat d.a.d.a kirinya, ikut buka suara.
“Apa aku kenal kamu?” tanya Noah balik.
“Mungkin nggak. Tapi aku dan temanku kenal kamu,” cowok berkaos putih itu mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri, “aku dari Bima Sakti. Namaku Samir.”
Noah menghela napas sebelum membalas uluran tangan cowok bernama Samir itu. “Noah,” balasnya singkat.
“Kalau yang ini namanya Haris.” Samir tak lupa juga memperkenalkan temannya yang mengenakan tracksuit ungu seragam Bima Sakti.
“Salam kenal.” Haris ikut menyodorkan tangan dan Noah tak punya alasan untuk menolaknya.
“Kalau Kakak yang ini namanya Yohan, dia mahasiswa di kampus Arajaya.” Samir berinisiatif memperkenalkan rekannya yang lain, dimulai dari si gondrong. “Kamu tahu Universitas Arajaya? Yah … mana mungkin orang kayak kamu tahu, soalnya itu kampus elite yang ujian masuknya aja nggak sembarangan.”
Samir mengangkat alisnya ke arah Haris, seolah ingin mendapat persetujuan dari pernyataannya barusan.
“Kakak yang ini namanya Damar,” sambung Haris sambil mengulurkan tangannya dengan sopan ke arah lelaki jangkung berkacamata, “kamu pernah dengar nama Damar Herlangga alumni Bima Sakti?”
“Samir … nggak usah disebar-sebarin, aku jadi nggak enak.” Lelaki bernama Damar itu membenarkan letak kacamata di atas hidungnya sambil malu-malu.
“Nggak pa-pa, Kak. Biar dia tahu kalau di atas langit masih ada langit,” sambar Haris sebelum menambahkan, “nama Kak Damar ada di daftar calon pemain Timnas Basket yang akan bertanding di babak kualifkasi Kejuaraan Dunia … Dan kamu tahu tim Street Basket yang namanya ‘Red Phantom’?”
Noah hampir tersedak mendengar nama Red Phantom disebutkan tiba-tiba, tapi dia berusaha terlihat normal dengan hanya mengangkat bahunya sekilas seolah ia tak tahu dan tak mau tahu.
“Hah … udah kuduga kamu pasti nggak tahu. Padahal empat orang anggota Red Phantom itu dikenal dengan julukan monster tak terkalahkan. Bahkan pemain keempat mereka masih kelas 10 SMA. Tim Street Basket sekeren itu ngotot mau ngajak Kak Damar bergabung. Cuma sayangnya Kak Damar punya prioritas, jadi dia terpaksa menolak.”
“Oh ya?” Noah menanggapi acuh tak acuh, “wah … hampir aja aku peduli.”
Noah tak habis pikir, bagaimana mungkin ada kebetulan seperti ini? Ia sedang menunggu Raka, ditantang main basket oleh seorang bocah, bertemu pemain Bima Sakti yang membangga-banggakan kampus milik ayahnya dan tim Street Basket Red Phantom.
Raut wajah Yohan sudah mulai terlihat kesal, entah karena memang ia tak suka melihat Noah atau mungkin karena tanggapan Noah dianggap tidak cukup antusias dan malah terkesan meremehkan.
“Hampir peduli katanya?” gerutu Samir geram. Ia terlihat tak segan-segan menunjukkan rasa jengkelnya. Namun untungnya, Damar yang berdiri di sebelah Samir menyadari hal itu dan menyuruhnya untuk bersikap tenang.
“Tapi … kamu keras juga ya mendidik adikmu,” komentar Yohan. Sepertinya ia ingin bersikap dewasa agar bisa membalas Noah dengan cara yang lebih elegan.
Kalau boleh jujur, sebenarnya Noah ingin sekali mengabaikan mereka. Tapi ia tak tahu bagaimana caranya pergi tanpa menyinggung mereka, karena ia juga tak mau cari gara-gara.
Dan lagi … ia paling malas menghadapi orang yang suka mengumbar-umbar senyum ambigu seperti si Yohan ini. Metode pendekatan Yohan mirip dengan Igris dan Andi. Itu sebabnya Noah merasa tak nyaman.
“Dia bukan adikku,” Noah menjawab Yohan meskipun sebenarnya itu tak perlu. “Namanya Eri, bocah songong nggak sopan yang barusan tadi ketemu di sini.”
Noah menunjuk ke arah bocah yang masih tertunduk lesu sambil memeluk bola basketnya – setelah tadi shoot-nya di-block dengan keras oleh Noah.
“Kalau dia adikku, aku pastikan dia nggak bakal jadi pemain pro dengan sifat seperti itu,” sambung Noah, “aku nggak mau dia menambah panjang deretan para atlet pro yang punya attitude buruk.”
Tak ada yang tahu bagaimana harus menanggapi perkataan Noah barusan, dan karena ada jeda seperti itu, Noah bermaksud pura-pura melihat jam tangannya dan mencari alasan untuk pergi.
Tapi di luar dugaan, Haris malah nyeletuk tiba-tiba, “By the way, kebetulan kita lagi di sini. Main sebentar, yuk.”
“Malas berkeringat. Aku lagi nunggu orang,” balas Noah tanpa basa-basi.
“Masa’ main bentar aja berkeringat,” cibir Samir. “Ayolah … daripada cuma duduk-duduk nunggu, mending kita main bentar. Buktikan kalau kamu memang sesuai rumor yang beredar.”
“Aku memang sesuai rumor yang beredar,” sambar Noah cepat. Ia tak mau lagi membuang satu detik pun untuk meladeni orang-orang ini.
“Iya sih. Dia memang persis seperti rumor yang beredar,” timpal Haris kemudian.
“Tengil,” sahut Samir.
“Arogan,” tambah Yohan.
“Bossy[1].”
“Susah diajak berteman.”
“Bukan susah diajak berteman, tapi memang dia nggak punya teman sih kayaknya.”
Keempat orang itu secara bergantian menyampaikan sifat-sifat yang selama ini dilekatkan orang-orang kepada Noah, sebelum kemudian mereka meledak tertawa bersama-sama.
“Aku juga ada dengar kabar yang beredar tentang anak-anak Bima Sakti,” balas Noah sambil mengeluarkan hp dari saku celananya.
“Oh ya? Kabar apa?” Samir cukup penasaran dengan kalimat lanjutan Noah.
“Aku dengar kalian itu cenderung nggak berbakat. Tapi kalian suka menutupi hal itu dengan sesumbar dan banyak omong,” pungkas Noah datar.
.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Bossy adalah sikap seseorang yang senang memerintah, mengatur, dan mengontrol orang lain sesuai keinginannya sendiri. Bersifat dominan dan cenderung sulit menerima pendapat atau saran dari orang lain.