“Aku dengar kalian itu cenderung nggak berbakat. Tapi kalian suka menutupi hal itu dengan sesumbar dan banyak omong,” pungkas Noah datar.
Wajah Samir berubah kaku dan memerah, ia persis seperti udang rebus.
Menyadari hal itu, Haris buru-buru menimpali dengan tawa canggung.
“Hahaha … kamu pintar bercanda ya.” Ia nyengir sambil sedikit menyikut lengan Samir sebagai kode agar rekannya itu segera mengendalikan diri.
“Ngomong-ngomong, kamu di sini sebenarnya lagi nungguin siapa?” tanya Haris mengalihkan pembicaraan.
Tapi Noah tak bersedia bekerja sama. “Kayaknya aku nggak perlu jawab pertanyaanmu. Teman juga bukan,” ketusnya sambil lalu melekatkan hp di telinganya setelah membuat panggilan telepon.
Hanya berselang beberapa detik, seseorang sudah menjawab panggilan telepon itu.
“Halo, Noah. Ada apa? Tumben.” Terdengar suara yang tak asing dari seberang sana. Orang yang baru saja dihubungi Noah adalah Gilang.
“Nggak … aku penasaran aja,” jawab Noah sambil mengerling wajah-wajah yang ada di hadapannya, “katanya kamu ngotot ngajak seseorang masuk jadi anggota Red Phantom? Udah nggak perlu aku lagi jadi orang keempat?”
Wajah Yohan dan Damar mulai terlihat panik. Mereka saling bertukar pandangan dengan pertanyaan yang sama sedang berputar-putar di kepala mereka; apakah Noah sedang membual atau jangan-jangan dia memang orang keempat Red Phantom yang masih kelas 10 SMA itu?
Sementara itu, Noah masih membeberkan kepada Gilang tentang Damar dan Yohan, sesuai dengan apa yang diceritakan Samir tadi.
Hingga kemudian Noah – dengan senyum kemenangan di wajahnya – mengubah panggilan telepon ke mode speaker. “Nih, ada yang mau ngomong,” katanya sambil lalu menyerahkan hp ke hadapan Damar.
“Ha-halo …” Damar agak tergagap sambil mendekatkan hp ke depan mulutnya.
“Kapan aku pernah ngajak kamu masuk Red Phantom? Aku bilang kamu cukup berbakat dan bisa membentuk tim Street Basket-mu sendiri, kan?” Gilang langsung menyambar inti pembicaraan tanpa basa-basi. Ia jelas tak mau kalau Noah sampai salah paham.
“Ma-maaf … ini siapa? Kak Gilang?” Damar hampir 100 persen yakin, tapi dia masih ingin memastikan bahwa orang yang dihubungi Noah adalah benar sang Kapten Red Phantom.
“Bukan, ini bapakmu. Ya iyalah ini aku!” hardik Gilang tanpa ampun, “jangan sembarangan kamu nyebar gosip! Noah itu orang keempat Red Phantom dan kami nggak punya niat menggantinya. Paham kamu?!”
“I-iya … iya, Kak. Maaf. Saya nggak tahu.”
“Dan itu siapa yang namanya Yohan itu?! Jangan macam-macam kalian, ya! Aku juga anak Arajaya. Ayo ketemu di Arajaya. Sok hebat banget baru jadi mahasiswa aja. Kamu tahu siapa Noah? Dia itu …”
Tuuuutttt ….
Noah langsung merampas hp dari tangan Damar dan mendadak menyudahi panggilan, sebelum Gilang membeberkan lebih banyak dari yang seharusnya.
“Sorry, aku nggak nyangka dia bakal semarah itu,” kata Noah kepada Yohan dan Damar. “Nanti pas ketemu dia, aku bakal jelasin kalau kalian cuma bercanda. Permisi.”
Noah menyudahi perdebatan tak terduga ini dan bermaksud ingin pergi. Tapi kemudian sudut matanya mendapati pergerakan Samir yang merampas bola dari dekapan Eri dan melemparnya jauh ke luar lapangan.
“Main di tempat lain sana! Kami mau pakai lapangannya!” bentak Samir kemudian.
Mendapati bahwa dua senior kebanggaannya ternyata masih “membungkuk-bungkuk” di hadapan kenalan Noah, Samir tak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya.
Noah mengurungkan niatnya untuk pergi dan kembali berhadapan dengan Samir. “Ini kan lapangan umum. Memangnya Arajaya dan Bima Sakti nggak punya lapangan basket?” tegurnya tegas.
“Kak Damar dan Kak Yohan udah biasa latihan di sini. Lagipula, latihan kami jauh lebih penting dibandingkan anak kecil yang iseng main-main.” Samir melipat tangan di depan dadanya, seolah ingin menantang Noah.
Eri yang tahu diri pun akhirnya melangkah lunglai menuju ke bolanya yang sudah berhenti menggelinding sampai di bagian sudut taman kota itu.
Noah dengan cepat menangkap lengan Eri hingga bocah itu kaget. “Mau ke mana? Katanya kamu punya bakat genius. Masa’ digertak sedikit aja udah ciut? Segini doang nyalinya?”
Eri manyun dan hampir menangis. Dia yang selama ini selalu dibangga-banggakan pelatih dan teman-temannya karena bisa bermain basket lebih baik dari anak-anak lain di sekitarnya, baru saja dikalahkan telak oleh Noah. Ditambah lagi sekarang di hadapannya muncul empat pemain basket hebat lain, yang lebih pantas jadi rival Noah.
Selama ini Eri hanya menjadi ikan besar di akuarium kecil. Saat ia dipindahkan ke akuarium yang lebih besar dan menemukan kenyataan bahwa ada banyak ikan-ikan lain yang lebih besar dari dirinya, Eri merasa sangat kecil dan tak ada apa-apanya.
“Ambil bolanya. Ayo kita tanding lawan mereka,” ajak Noah tiba-tiba.
Eri mendongak menatap Noah dan hampir tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Maksud kamu … eh … maksud Kakak, kita main satu tim? Kakak sama aku?”
Noah mendengus menahan tawa. Akhirnya bocah sombong ini mau juga memanggilnya “kakak”.
“Iya, udah sana cepat ambil bolanya.” Noah memberikan tepukan pelan di punggung Eri seolah ingin memberinya dorongan untuk kembali bersemangat.
“Wah … si paling hebat Noah akhirnya mau meladeni kita nih,” cibir Samir.
Hanya Haris yang menanggapi cemoohnya, sementara Damar dan Yohan sudah memasang wajah kecut; tak mau terlibat lebih jauh lagi dengan Noah.
Mereka sepakat untuk skor maksimal 3 poin; yang lebih dulu mendapatkan 3 poin adalah pemenangnya[1]. Dan dari hasil mengundi dengan suit, Noah dan Eri kalah, jadi mereka harus bertahan sementara Haris dan Samir akan menyerang.
Samir memulai dengan dribble ringan, dan Eri yang menjaganya. Tapi tentu saja Samir meremehkan penjagaan Eri.
Haris mengangkat tangan saat ia sudah berada di low post, setelah berhasil mengecoh Noah dengan berlari ke sana kemari.
Samir melihatnya dan langsung melakukan passing kuat yang lewat tepat di samping wajah Eri, seolah ingin menekankan bahwa ia sama sekali tak menganggap Eri ada.
Haris menangkap operan Samir dan Noah mengikutinya. Lalu dengan teknik dribble yang tampak sangat ingin mempermalukan Noah, ia berhasil lewat dan langsung melompat untuk memasukkan bola.
.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Perhitungan skor untuk pertandingan setengah lapangan biasanya hanya 1 untuk tembakan di dalam garis 3 poin, dan 2 untuk tembakan di luar garis 3 poin.