Communication is the Lifeline of Any Relationship.

1917 Kata
Ketika sebulir air mata berhasil lolos dari kubangan di matanya, Noah langsung mengusap wajahnya cepat dan menunduk dalam-dalam. Ia merasa setiap kali ingin melakukan hal yang benar, semuanya malah berakhir menjadi kesalahan. Noah sudah tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan, mengira bahwa mungkin pada akhirnya semua orang akan membencinya karena memang sifatnya yang tak baik. “Ini gawat, aku udah biarin airnya masuk,” pikir Noah dalam hati. Ia sedang mengingat kembali perkataan Fajar waktu itu, tentang kapal yang tak boleh membiarkan air masuk jika tidak ingin tenggelam. Tapi semua ini di luar kendalinya. Ia tak bisa mencegah pikiran-pikiran buruk yang seakan ingin menenggelamkannya. Sementara Noah sibuk menghindari tatapan orang, semua mata yang sejak tadi mengamati sudah terlanjur menyaksikan seorang Noah yang selama ini selalu tampil kokoh tanpa celah ternyata juga bisa menangis cuma karena kata-kata dari Dewa. Noah sadar, ia pasti kelihatan sangat konyol saat ini. Rasanya ia ingin menghilang dari hadapan mereka semua. “Maaf,” gumamnya kemudian, “mungkin memang saya nggak enak badan. Saya izin nggak ikut ke venue.” Setelah mengatakan itu – tanpa mengangkat wajahnya – Noah berbalik dan bermaksud untuk pergi kembali ke asrama. Tapi tanpa diduga, Ahsan dengan cepat menangkap tangannya. “Kamu bilang pas bangun pagi ini kamu udah sembuh, kan? Kalau gitu kamu harus ikut ke venue,” tuturnya sambil agak menyeret Noah untuk ikut dengannya menaiki bus. Noah tak menolak dan hanya mengikuti tanpa mengatakan apapun. Ahsan memilih kursi paling depan, tepat di belakang supir, sudah ada Wahyu yang duduk di situ. Tapi saat melihat Ahsan datang sambil membawa Noah, ia pun pindah tanpa diminta. Noah duduk di kursi yang baru ditinggalkan Wahyu, sementara Ahsan duduk di sebelahnya. Beberapa saat mereka lalui dengan diam dan situasi di dalam bus juga cukup canggung, Dewa duduk di kursi paling belakang, lumayan merasa tak enak hati. Ia tak menyangka Noah akan menangis cuma karena omelan-omelan yang ia anggap biasa; karena Dewa memang sudah biasa mengatakan kalimat-kalimat pedas tanpa ampun kepada rekan dan juniornya di tim. “Hayoo … Kak Dewa bikin Noah nangis.” Yuda berbisik jahil sambil mengintip dari kursi di depan Dewa. “Aku bu –” “Sstt …” Belum sempat Dewa mengatakan sesuatu untuk membela diri, Yuda buru-buru menyuruhnya diam. Karena suasana hening yang tak biasa di dalam bus itu membuat sedikit suara saja akan terdengar dari depan sampai belakang. Hanya beberapa menit setelahnya, bus akhirnya meninggalkan halaman sekolah dan melaju menuju ke GOR di mana pertandingan final Liga Rookie akan diselenggarakan. Berhubung letak SMA Cendana yang cukup terpelosok dan lokasi venue pertandingan yang letaknya memang di kota, kemungkinan perjalanan mereka pagi ini akan memakan waktu dua sampai tiga jam. “Kemarin aku nggak sengaja baca artikel di internet ....” Ahsan akhirnya buka suara setelah beberapa saat berlalu dan suasana di dalam bus pun mulai mencair; mulai terdengar suara-suara obrolan dari kursi di belakang, ada juga yang saling bertukar makanan dan sebagainya. “Ternyata kamu gabung di tim 3 x 3[1] juga, ya?” tanya Ahsan memastikan. “Iya, Kak. Tapi saya janji itu gak bakal ganggu kegiatan klub di Cendana.” “Bukan … bukan gitu. Nggak masalah sih kalo kamu main 3 x 3. Tapi kudengar pertandingan-pertandingan 3 x 3 itu sering diadakan nggak resmi. Apa nggak berbahaya?” Noah tahu, Ahsan pasti bicara tentang rumor yang sering beredar, bahwa 3 x 3 dan Street Basket sering melibatkan perjudian dan hal-hal negatif lainnya. Memang awalnya 3 x 3 cuma olahraga yang dimainkan di halaman belakang rumah dan cuma buat ngabisin waktu senggang, hingga berkembang menjadi ajang taruhan. Tapi sekarang 3 x 3 sudah mulai diakui dan bahkan sudah ada beberapa liga formalnya. “Nggak kok, Kak. Pertandingan yang pernah kami ikuti semuanya resmi. Nggak macam-macam,” balas Noah. Awal mula Red Phantom dibentuk hingga beberapa saat setelah Noah bergabung sebagai orang keempat, Red Phantom memang sering mengikuti pertandingan Street Basket yang melibatkan taruhan uang. Tapi, sejak Fajar direkrut tim nasional, Red Phantom tak ingin terlibat dengan Street Basket “liar” lagi. “Aku juga pernah dengar gosip-gosip tentang para pemain Street Basket,” sambung Ahsan, “beberapa dari mereka bahkan tergabung dalam timnas dan klub-klub profesional. Kalau nggak salah sekitar setahun yang lalu ada yang meninggal karena bunuh diri. Kabar yang beredar, dia terlibat hutang karena sering main di Street Basket. Ada juga yang bilang dia mengalami …” “Dia di-bully,” sambar Noah cepat, “namanya Eka Fajar Pamungkas dan dia 'dibunuh' oleh para pem-bully.” Ahsan agak kaget mendengar Noah menyela kalimatnya dengan informasi seperti itu. Tapi saat ia menoleh dan bertemu mata dengan Noah, ia tahu bahwa bagi Noah ini bukan hanya gosip tentang orang random yang terkenal. “Fajar cuma mahasiswa dari kampung yang suka main basket dan kebetulan berbakat. Dia ... memilih mengakhiri hidupnya karena nggak tahan menghadapi bullying di klub-nya, dan para netizen yang menganggap diri mereka hebat cuma karena mereka bisa bicara sesuka hati dibalik keyboard.” Noah menambahkan. Hanya dengan menyebut nama Fajar saja, paru-paru Noah rasanya mau meledak, apalagi jika mendengar rumor-rumor aneh tentang kematiannya. Rasanya Noah ingin berteriak di depan wajah Ahsan dan menyuruhnya diam karena ia tak tahu apa-apa. “Kamu kenal orang itu?” tanya Ahsan akhirnya. Noah melempar tatapan pada lantai bus di depannya sebelum kemudian mengangguk. Perjalanan menuju venue masih panjang. Noah memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Ahsan. Walau bagaimanapun, Noah tak ingin dibenci juga di tim basket sekolahnya kali ini. Dulu pernah, saat Noah melihat Raka yang selalu punya teman kemanapun ia pergi, Noah meminta saran tentang bagaimana caranya melakukan itu. Dan meskipun Raka sempat tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan polos Noah, namun pada akhirnya ia tetap memberikan nasihat yang masih diingat Noah sampai sekarang. “Gimana sih? Kamu ini kan main basket. Basket itu olahraga tim, masa’ nyari teman aja susah,” komentar Raka waktu itu. “Pasti kamu suka nyimpan-nyimpan dalam hati gitu, kan? Ada sesuatu misalnya, kamu nggak mau ngomong dan malah disimpan sendiri. Yang kayak gitu kadang malah jadi masalah, tahu?!” “Sebenarnya simple aja,” lanjut Raka lagi, “komunikasi di dalam suatu hubungan itu penting banget. Kalau sebuah hubungan diibaratkan sebagai tanaman yang harus kita jaga, maka komunikasi itu adalah air. Tanpa air, tanaman apapun itu, pasti akan mati.” Tanpa komunikasi, tak akan ada yang paham. Naif sekali jika Noah berharap bisa dimengerti tanpa mengatakan apa-apa. Jadi Noah memutuskan untuk menceritakan kepada Ahsan, tentang apa yang mengganggunya belakangan ini. Tak ada alasan bagi Noah untuk merahasiakannya. Sebagai kapten tim, Ahsan berhak tahu kondisi fisik maupun mental anggotanya, yang bisa berpengaruh terhadap performa tim. “Pantesan …,” Ahsan mulai memberikan tanggapan setelah Noah sampai di akhir cerita, “belakangan ini di kelas, aku sering dengar Andi dan teman-temannya bicara tentang kelas 10-S. Beberapa kali aku dengar namamu disebut, tapi kupikir itu cuma obrolan biasa. Aku gak nyangka ada masalah kayak gini.” “Saya tahu, menjadikan masalah pribadi sebagai alasan performa yang buruk di dalam tim itu adalah hal yang egois. Harusnya saya bisa lebih …” “Lebih profesional?” Ahsan menyambung ujung kalimat Noah sebelum kemudian tertawa pelan. “Ngaco kamu. Ini cuma tim SMA, bukan tim pro. Kalau mau ngomong gitu, nanti aja pas kamu udah jadi pemain pro.” “Tapi tetap aja, Kak. Saya mengganggu tim, seperti kata Kak Dewa.” “Nggak usah didengarin si Dewa itu,” sela Ahsan lagi, “memang bagus kalau kamu udah punya pikiran sedewasa ini. Tapi … Noah, SMA itu cuma 3 tahun, dan itu singkat banget. Nggak terasa nanti udah lewat gitu aja. Aku mau kamu menikmati masa remajamu. Bersikap profesional itu memang baik, bagus untuk melatih mentalmu. Tapi kamu tetap nggak boleh lupa untuk menikmati basket SMA-mu.” Ahsan menepuk-nepuk pelan lutut Noah di sebelahnya. “Dari sini, aku harap kamu semakin paham. Dalam sebuah kerja sama tim, diam itu bukan emas, diam itu malah akan mematikan.” Ahsan menambahkan sambil lalu mengucek rambut Noah sambil tersenyum hangat. “Thanks ya, udah mau cerita.” Seketika, apa yang menumpuk di d.a.d.a Noah dan membuatnya sesak belakangan ini menguap entah kemana. Noah merasa udara di sekitarnya tak lagi pekat hingga ia tak bisa mencegah senyum yang merekah di wajahnya. “Makasih ya, Kak, udah mau dengarin,” ujarnya kemudian. “Anytime,” jawab Ahsan ramah. Ia lalu beranjak dari kursinya sambil mengatakan, “Aku bakal bicara sama Coach dan membujuknya supaya membiarkanmu main hari ini. Sementara itu, kamu berdamai sama Dewa, ya?” Belum sempat Noah membalas perkataannya, Ahsan sudah berbalik dan berjalan menuju Coach Adam yang duduk di dekat pintu belakang bus. Di saat yang bersamaan, ia memberikan kode kepada Dewa yang langsung dimengerti oleh si senior galak itu. Dewa pun beranjak dan melangkah menuju kursi yang tadi baru saja ditinggalkan Ahsan. “Boleh duduk di sini?” tanyanya kepada Noah yang buru-buru mengiyakan dengan canggung. . Coach Adam memutuskan untuk memainkan Noah di pertandingan ini, meskipun ia belum memberitahu secara detail pada kuarter berapa Noah akan main. Tapi setidaknya Noah cukup merasa lega. Perasaan Noah sangat plong. Ia bersyukur karena sudah memutuskan untuk terbuka pada kaptennya. Dewa juga sebenarnya tidak berniat buruk, dengan kikuk ia meminta maaf dan menjelaskan kenapa Noah membuatnya kesal. Permintaan maaf Dewa memang disertai berbagai macam alasan dan komplain, tapi perasaanya cukup tersampaikan. Bus baru saja memasuki lapangan parkir venue. Masih ada waktu satu jam lagi sebelum pertandingan dimulai, tapi halaman GOR sudah penuh dengan orang-orang yang akan menonton pertandingan final hari ini. Di antara ramainya orang-orang itu, Noah melihat Lisa bersama Gilang, Taufik dan Wisnu sudah berdiri di pinggiran area parkir, menunggu kedatangan bus Cendana. Saat melihat wajah Noah di balik kaca jendela bus, Lisa langsung melompat-lompat dan melambaikan tangan ke arahnya agar ia menyadari keberadaan mereka. Hanya sesaat setelah bus Cendana terparkir, tampak bus Soetomo masuk dari gerbang yang sama. Ternyata lawan Cendana hari ini juga baru saja tiba. Satu per satu anggota tim Soetomo menuruni bus dan mengeluarkan barang-barang bawaan mereka, begitu juga dengan Cendana. Noah ikut membantu apa yang bisa ia bantu, tapi Luna mencegahnya, “Kamu kan lagi nggak fit. Nggak usah ngelakuin apa yang gak perlu. Banyak-banyakin istirahat aja dulu. Jangan dipaksakan.” “Kak, aku nggak pa-pa. Udah sembuh, beneran!” tegas Noah yang mulai jengkel diperlakukan seperti ranting rapuh. “Ha? Noah nggak enak badan?” Lisa dan para anggota Red Phantom yang sudah lebih dulu menghampiri sebelum Noah mendatangi mereka, tak sengaja mendengar pembicaraan Noah dan Luna. “Ck! Nggak, orang-orang ini aja yang pada berlebihan," sanggah Noah kesal. “Ngapain kalian pada datang semua?” Pertanyaan Noah dibalas dengan Gilang yang langsung mengalungkan lengannya di leher Noah. “Ya buat nonton pertandingan finalmu, buat apa lagi?” Namun, saat rombongan kontingen Soetomo melintas di dekat bus Cendana untuk menuju ke pintu masuk GOR, perhatian Gilang dan Wisnu teralihkan kepada seseorang yang berada di dalam rombongan itu. Wajah itu juga tampak asing bagi Noah; karena lelaki itu tidak ada saat latih tanding beberapa waktu lalu. “Kamu kenal?” tanya Noah pada Gilang yang ekspresi wajahnya langsung mengeras. Rahangnya merapat seolah ia sedang kesulitan menahan diri untuk tak menyerang orang itu. . ___ ___ ___ ___ ___ [1] Bola basket 3x3 (diucapkan 3 on 3 atau 3x3) adalah variasi bola basket yang hanya menampilkan tiga pemain di setiap tim, menggunakan setengah lapangan dan satu ring basket. Hanya ada satu pemain cadangan (pemain keempat), yang dapat memasuki permainan kapan saja selama situasi bola mati; dengan syarat melakukan kontak fisik dengan rekan yang keluar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN