“Kamu kenal?” tanya Noah pada Gilang yang tiba-tiba terlihat sangat marah.
Tapi belum sempat Gilang mengatakan apa-apa, kapten tim Soetomo menyapa saat melintas di belakang bus Cendana.
“Hei, Cendana!” Ilyas, sang Kapten yang selalu tampak ceria itu menyempatkan diri bertegur sapa meski tanpa menghentikan langkahnya menuju pintu masuk GOR.
Ahsan mengangkat tangannya sebagai balasan. “Sampai ketemu di lapangan,” sahut sang kapten Cendana itu ramah.
“Nanti kalian tepuk tangan yang kencang ya, waktu kami angkat trofi,” sambung Ilyas lagi sambil lalu.
“Sama-sama!” Yuda setengah berteriak membalas ucapan Ilyas karena rombongan Soetomo sudah hampir meninggalkan area parkir hingga yang terlihat hanya punggung-punggung mereka saja. Tapi, masih terdengar suara tawa Ilyas dan beberapa temannya dari depan sana.
Cendana dan Soetomo memang memiliki rivalitas yang sehat. Kedua tim tak keberatan untuk saling memberi masukan, namun juga tak segan-segan mengerahkan kemampuan maksimal mereka untuk menang. Itu sebabnya kedua tim sama-sama menikmati psywar[1] melalui obrolan-obrolan kecil yang memang sering terjadi sebelum pertandingan dimulai.
.
Noah bertekad bahwa ia hanya akan melihat hp-nya setelah pertandingan hari ini selesai. Ia tak ingin konsentrasinya terganggu lagi, kali ini Noah janji untuk fokus hanya pada pertandingan dan selalu siap kapanpun Coach Adam memanggilnya untuk masuk menggantikan pemain yang sedang berada di lapangan.
“Noah, kamu main di awal,” instruksi Coach Adam beberapa saat sebelum mereka memasuki aula area pertandingan.
Itulah sebabnya kenapa saat ini Noah ikut berbaris bersama Igris, Dirga, Ello dan Evan, ketika nama mereka berlima dipanggil satu per satu sebagai Starting five tim Cendana.
Sementara Cendana menurunkan lima pemain lapis keduanya, Soetomo sudah all out sejak babak pertama. Seluruh pemain utama mereka dimainkan sejak awal.
“Kayaknya Cendana menganggap pertandingan final kali ini juga bakal menang mudah.”
“Mereka bahkan nggak menurunkan satu pun pemain intinya.”
“Mungkin sebenarnya mereka malas banget ngeladenin Soetomo dan pengen buru-buru main di Kejurnas.”
Begitulah kira-kira komentar para pengamat yang ada di dalam aula hari ini, termasuk di antara mereka adalah para wartawan yang sudah mulai sibuk mengetik artikel yang akan mereka terbitkan hari ini juga.
Sekilas Noah melihat Lisa bersama tiga rekan Red Phantom-nya duduk di tribun yang berada tepat di atas bench Cendana. Sementara orang yang tadi sempat menyita perhatian Gilang dan Taufik di area parkir, duduk di tribun tepat di atas bench Soetomo; bersama beberapa siswa Soetomo yang sepertinya juga bagian dari tim basket namun tak terpilih ke dalam skuad.
Lalu perhatian Noah beralih ke kursi cadangan Soetomo, dimana Abi sedang duduk bersama empat pemain cadangan lainnya. Sempat bertemu mata dengan Noah, mereka pun saling bertukar senyum.
Walaupun mungkin kedua teman lama itu tak bisa berada di lapangan yang sama hari ini, tapi setidaknya Noah merasa lega karena Abi sudah memutuskan untuk kembali bermain basket lagi. Ia bahkan mampu bersaing dengan pemain lain di tim Soetomo dan terpilih masuk dalam barisan skuad Liga Rookie mewakili sekolahnya.
.
Pertandingan berjalan lancar seperti yang sudah diduga semua orang, skor Cendana mengungguli Soetomo sejak menit awal. Namun, saat kuarter pertama hanya tersisa satu menit lagi, Noah mulai merasakan ada yang salah.
Skor saat ini hanya 12 – 7 untuk keunggulan Cendana. Padahal Cendana dikenal sebagai tim yang sangat agresif menyerang. Biasanya Cendana sudah bisa mengumpulkan puluhan poin di kuarter pertama, tapi kali ini mereka ditahan di skor rendah.
Selain karena sistem pertahanan Soetomo yang gila-gilaan, mereka juga memakai strategi delay offense[2] yang membuat pertandingan berjalan sangat lambat.
“Wah … gila sih ini,” komentar Gilang sambil mengamati para pemain di lapangan.
“Kenapa?” tanya Lisa yang penasaran.
“Soetomo nekat banget pakai pertahanan full-court press[3] di kuarter pertama,” timpal Wisnu.
“Nekat kenapa?” Kali ini Lisa menoleh ke arah yang berlawanan karena kebetulan posisi duduknya pas di antara Wisnu dan Gilang. Akibatnya ia semakin kelihatan seperti orang bingung, menanti jawaban dari dua orang jangkung di samping kiri dan kanannya itu.
“Full court press itu luar biasa menguras stamina, jadi itu nggak lazim dipakai di awal-awal pertandingan.” Taufik akhirnya berbaik hati menjelaskan kepada Lisa. “Defense Soetomo sangat efektif. Kayaknya mereka udah benar-benar mempelajari cara main Cendana dan udah menyiapkan strategi yang tepat buat membungkam si juara bertahan.”
“Tapi delay offense itu juga nyebelin banget loh,” timpal Wisnu.
“Iya, apalagi untuk tim kayak Cendana yang tipenya main cepat. Ngadepin serangan yang ditunda-tunda gitu butuh kesabaran dan konsentrasi yang kuat kalau nggak mau kecolongan.”
“Soetomo benar-benar bertekad buat menekan perolehan angka di final kali ini. Kalau kuarter berikutnya masih kayak gini juga, nggak usah heran penonton bakalan berkurang separuh di akhir pertandingan nanti.”
“Lihat tuh, defense mereka juga pakai kombinasi.” Gilang menunjuk kepada Noah yang baru saja mendapatkan bola dari Dirga, tapi ia langsung ditempeli dua pemain Soetomo.
“Gimana Cendana mau nyerang, coba? Sebaik bola masuk, langsung ditekan. Kalau passing sembarangan, bola bakal direbut.”
“Emangnya boleh main kayak gitu?” protes Lisa. “Itu kasar banget. Noah sampai nggak bisa bergerak ditempeli kayak gitu.”
“Basket ya emang gitu, Non. Selama defender nggak ngelakuin pelanggaran, ya sah-sah aja.”
Nyaris tak ada celah bagi Noah untuk masuk ke tengah. Dua pemain Soetomo yang melakukan double team berhasil menahannya hingga ia hanya bisa bergerak maju sambil tetap berada di area sideline.
Akhirnya Noah tak punya pilihan selain membuang bola keluar dengan memantulkan bola ke kaki pemain lawan yang sedang menjaganya.
“Hohoho … pemain keempat Red Phantom memang nggak mengecewakan.” Gilang mengangguk-angguk bangga.
“Pemain cerdas memang nggak ada lawan sih,” tambah Taufik lagi.
Tiga orang pemain Red Phantom itu menonton aksi Noah dengan cengiran lebar di wajah mereka.
Sementara itu, Cendana kembali melakukan lemparan ke dalam.
Kali ini Cendana mencoba lepas dari jebakan dengan bergerak lebih cepat. Bola dioper ke sana kemari dan kelima pemain Cendana terus bergerak seperti tikus.
Sistem pertahanan Soetomo mulai kacau, salah satu penyebabnya juga karena stamina mereka yang mulai menurun. Waktu Cendana untuk menyerang hanya tersisa 5 detik lagi, bola ditembak dari luar garis 3 poin oleh Ello, namun karena terburu-buru, targetnya melenceng dan bola membentur bibir ring.
Evan tak mampu merebut bola di bawah ring, tapi ia tahu apa yang harus dilakukan. Bola yang tak mampu ia tangkap dipukul ke luar dari area low post dan berhasil ditangkap Noah. Ia menemukan Igris sudah siap di salah satu corner three[4]. Tanpa membuang waktu, Noah pun langsung mengoper bola kepada Igris yang dengan cepat melakukan jump shoot tepat sebelum Cendana terkena shot clock violation, atau pelanggaran 24 detik.
Blush!
Bola masuk melewati mulut ring dengan mulus, tanpa menyentuh apapun. Tembakan 3 poin itu menjadi titik balik permainan Cendana. Mereka berhasil lolos dari jebakan sistem pertahanan Soetomo yang sejak tadi seolah membekukan skor pertandingan.
Kuarter pertama pun berakhir dengan skor 16 – 12, masih untuk keunggulan Cendana.
Meski perolehan angka Cendana masih memimpin, tapi untuk standar Cendana, itu sama saja dengan kalah di babak pertama.
Tak satu orang pun di dalam hall itu yang terlihat puas dengan hasil akhir kuarter pertama. Tidak skuad Cendana, tidak juga para penonton.
“Cendana kenapa sih?”
“Dari tadi Noah di-double team[5] melulu, jadi serangannya melempem.”
“Mesin pencetak skor Cendana nggak bekerja dengan baik.”
“Iya, padahal biasanya Cendana selalu menang mudah dan perolehan poin-nya selalu banyak.”
“Nggak menarik. Kenapa pelatih Cendana nggak ngeluarin 5 pemain inti mereka?”
“Bosan. Final macam apa ini?”
Terdengar kasak-kusuk penonton yang mulai mengeluhkan pasif-nya permainan Cendana di kuarter pertama barusan.
Tapi tidak dengan bench Cendana. Coach Adam terlihat tenang dan cukup puas dengan permainan anak-anak didiknya.
“Kalian suka skornya?” tanya Coach Adam kepada lima pemainnya yang tampak cukup kelelahan meskipun mereka baru bermain satu kuarter.
Semuanya menekuk wajah dan merasa bersalah, terutama Dirga. Sebagai playmaker, ia tak berhasil menemukan ide ataupun inisiatif untuk mengubah pola permainan demi menghadapi defense Soetomo yang ngotot tadi.
“Dirga?” Coach Adam meminta jawaban dari siswa kelas 11 itu.
“Sorry, Coach.” Hanya itu yang keluar dari mulut Dirga, tanpa berani mengangkat wajahnya.
Coach Adam menghela napas, namun dengan senyum di wajahnya. Ia tahu Dirga adalah anggota klub basket kelas 11 yang paling banyak merasakan tekanan. Disebut-sebut sebagai pengganti Ahsan tahun depan, Dirga merasa kemampuannya tak akan pernah cukup untuk memenuhi ekspektasi semua orang.
“Kamu jangan terlalu keras sama dirimu sendiri,” kata Coach Adam akhirnya. “Dengar, sedikit banyak aku udah bisa menebak pertandingan hari ini akan menghadapi defense yang berat. Aku juga udah bisa memprediksi hasil pertandingan hari ini.”
Seluruh anggota tim Cendana yang mengelilingi Coach Adam, menatapnya takjub. Pelatih mereka itu terlihat sangat percaya diri.
“Betul. Di akhir pertandingan nanti, Cendana akan keluar sebagai pemenang.”
“Coach, nggak boleh takabur …” sahut Yuda berlagak menasehati.
“Loh? Ini prediksi loh, bukan takabur. Kalian harus bisa bedakan orang sombong dan orang percaya diri. Sekarang dengarkan – kita nggak punya banyak waktu, serahkan kuarter kedua kepada Ahsan dan pemain inti lainnya. Kalian duduk manis aja di bench dan amati baik-baik permainan di kuarter kedua.”
Melihat wajah Dirga dan yang lainnya tampak semakin suram, Coach Adam buru-buru menambahkan. “Tenang aja, di kuarter ketiga aku bakal kasi kalian kesempatan buat main lagi.”
Terdengar suara helaan napas lega dari Dirga dan yang lainnya, padahal sejak tadi kelima pemain itu terlihat sangat lesu seperti baru mendapatkan vonis hukuman mati. Termasuk Noah, ia sudah pasrah jika permainannya hari ini harus selesai di kuarter pertama. Tapi ternyata Coach Adam masih akan memberikannya kesempatan lagi.
“Penampilan kalian tadi cukup baik kok. Soetomo juga cukup baik mengantisipasi serangan-serangan kita, mereka bermain bagus. Tapi sayangnya, lawan mereka adalah kita. Jujur, kita masih lebih unggul. Kalau nggak ada faktor irregular di sisa pertandingan ini, maka aku yakin kita akan tetap angkat trofi di akhir pertandingan nanti.”
Jantung para pemain Cendana berdetak lebih cepat dari biasanya, saking cepatnya seolah organ tubuh mereka itu akan melompat keluar dari balik d**a mereka. Selain menjadi motivasi, perkataan sang pelatih juga menjadi momok yang menakutkan bagi mereka semua. Bagaimana tidak? Coach Adam sudah menetapkan targetnya dan akan sangat salah rasanya jika mereka tak berhasil mewujudkan itu.
“Jangan cemas. Percaya diri dalam olahraga itu seperti pedang bermata dua,” sambung Coach Adam lagi, “bisa membuat kalian besar kepala dan malas-malasan, bisa juga membuat kalian jadi semakin bersemangat untuk memenuhi ekspektasi yang ada di kepala kalian.”
Waktu jeda yang diberikan sudah selesai, tampak para pemain Soetomo sudah mulai meninggalkan bench meski ada beberapa orang yang masih menerima instruksi dari pelatih mereka.
“Kalian tahu kenapa aku bisa sangat percaya diri seperti ini?” tanya Coach Adam lagi, memanfaatkan secuil waktu yang tersisa.
“Kalian,” sambungnya sambil mengumbar senyum bangga, “aku punya sesuatu yang nggak dimiliki Soetomo dan tim yang lain. Yaitu kalian, anak-anak luar biasa yang bisa mewujudkan semua strategi dan permainan yang kususun di dalam kepalaku. Aku rasa, para pelatih basket SMA dari seluruh penjuru negeri ini pantas merasa iri padaku. Karena aku punya kalian.”
Coach Adam menatap wajah sepuluh pemain yang masih berdiri mengitarinya di pinggir lapangan itu, hingga wasit memanggil Cendana untuk segera masuk ke lapangan.
“Ahsan, Dewa, Juan, Wahyu, Yuda …,” Coach Adam menepuk pundak Ahsan dan Juan yang kebetulan ada di kiri dan kanannya, “tunjukkan kepada Soetomo bahwa masih terlalu cepat 10 tahun bagi mereka kalau mau mengalahkan kita.”
Ahsan dan Juan hanya tersenyum mendengar kalimat sombong dari sang pelatih, Wahyu masih miskin ekspresi seperti biasa, sementara Yuda dan Dewa mengeluarkan teriakan khas mereka untuk memompa semangat sebelum bertanding – dan selalu terdengar mengintimidasi.
Coach Adam menatap punggung kelima pemain inti kebanggaannya yang memasuki lapangan, melepas mereka dengan kalimat penutup dan senyum di wajahnya, “Pergi ke sana dan mengamuklah sepuas kalian.”
.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Psywar (Psychological Warfare) atau perang urat syaraf kerap terjadi di dalam dunia olahraga. Biasanya sering digunakan jelang pertandingan dengan tujuan untuk mengganggu persiapan bertanding dan merusak fokus tim lawan.
[2] Delay offense adalah pola serangan yang secara sengaja memperlambat alur permainan dengan menunda serangan dan hanya melakukan shoot di ujung waktu 24 detik yang diberikan.
[3] Full court press defense adalah jenis pertahanan agresif dimana para pemain bertahan menempel ketat pemain penyerang tak hanya di daerah pertahanan sendiri (setengah lapangan) tapi di seluruh lapangan.
[4] Corner three adalah area tembakan 3 poin yang berada di sudut paling ujung atau pojok luar area perimeter
[5] Double team adalah defense yang menjaga satu pemain lawan dengan dua pemain sekaligus.