Chapter II-1

1484 Kata
“Gimana rasanya jadi pemain Triple T?” Gilang yang baru tiba di kampus Arajaya langsung mengalungkan tangannya di bahu Fajar pagi itu. Setelah kemarin Fajar resmi dikontrak klub basket yang cukup terkenal bernama The Titan Tribe, atau lebih sering disebut sebagai Triple T. Meski terlihat agak lelah, Fajar tetap tersenyum menyambut antusias temannya. “Baru perkenalan sih, aku bahkan belum mulai latihan,” jawabnya. “Tapi itu klub elit, kan? Nggak nyangka banget kamu bisa direkrut Triple T. Hhh … kapan ya bakatku dilirik juga? Pasti seru banget kalau kita bisa main bareng di liga basket pro.” Waktu itu, mereka sama-sama tertawa membayangkan masa depan yang gemilang sambil sesekali saling mengolok dengan canda dan gurauan. Gilang tak pernah menyangka, itu adalah awal dari tragedi yang menimpa Fajar. Perlahan, teman baiknya itu mulai terlihat seperti orang yang energinya terkuras setiap kali ia muncul di kampus. Jika diibaratkan tanaman, awalnya Fajar selalu segar dan menyenangkan hati setiap orang yang melihatnya. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu selama ia menjadi bagian dari Triple T, Fajar semakin terlihat seperti tanaman yang layu dan kering, membuat siapa saja yang melihatnya akan berpikir bahwa tanaman itu sebentar lagi akan mati. Waktu itu Gilang sama sekali tak tahu apa yang terjadi pada Fajar, ia mengira setelah menjadi pemain basket pro – seperti yang selama ini selalu mereka cita-citakan – Fajar pasti bahagia karena telah berhasil mencapai salah satu milestone dalam hidupnya. Namun, semuanya terbongkar ketika Gilang berhasil menebak kata sandi hp Fajar. Pada salah satu aplikasi chatting, ada satu group chat yang berisikan para anggota Triple T. Gilang ingat bagaimana Fajar bercerita padanya tentang dirinya yang diundang dalam sebuah group chat oleh rekan-rekannya di Triple T. “Awalnya kukira mereka benci sama aku,” curhat Fajar sore hari itu di lapangan basket kampus, “tapi nggak nyangka ada yang ngundang aku masuk ke grup chat mereka. Mungkin ini bisa jadi langkah awal buat berteman lebih akrab dengan mereka semua.” Fajar sangat gembira saat ia menceritakan itu kepada Gilang dan Wisnu. Ia tampak seperti orang yang akhirnya berhasil menemukan cahaya setelah sekian lama berada di dalam terowongan yang gelap. Tapi tentu saja, itu tak bertahan lama. Hanya beberapa hari setelahnya, Fajar menjadi sangat terpuruk dan frustasi sambil mengatakan bahwa ia sudah mencoba untuk keluar dari group chat itu namun mereka terus-menerus mengundangnya masuk kembali. Setiap kali Gilang bertanya tentang apa saja yang dibicarakan di dalam group chat itu, Fajar selalu mengatakan bahwa mereka semua hanya bercanda, namun Fajar mengakui bahwa candaan mereka tidak cocok dengannya, itu yang membuatnya tidak nyaman dan ingin keluar. Hanya setelah kepergian Fajar, Gilang baru tahu apa saja yang terjadi kepada Fajar selama ia bergabung di The Titan Tribe. Sebagian besarnya terungkap melalui isi dari group chat yang berhasil ditemukan Gilang itu. Mereka sering menjadikan Fajar sebagai pusat obrolan, tapi tentu saja bukan obrolan yang menyenangkan. Mulai dari mengkritik permainan basket Fajar, menyuruhnya membeli parfum karena ia dianggap bau, hingga mengomentari kaos kakinya yang masih dipakai meskipun sudah robek. Umumnya mereka akan menertawakan semua itu bersama-sama, memaksa Fajar untuk ikut tertawa dan menerima itu sebagai candaan. Puncaknnya adalah ketika seorang mahasiswi Arajaya bernama Jessica tiba-tiba mendekati Fajar dan mengaku sebagai penggemar. Fajar sempat dekat dengat wanita itu dan mereka beberapa kali jalan bareng, ia bahkan bermaksud menyatakan perasaannya karena merasa suka dan sangat cocok dengan Jessica. Namun, para pelaku bullying biasanya akan merasa bosan dengan metode bullying yang sudah sering mereka lakukan, dan akan selalu mencari cara baru untuk menyakiti targetnya. Itu sebabnya anggota group chat itu merasa harus menaikkan level bullying mereka, dengan cara mempermainkan perasaan Fajar. Jessica ternyata adalah adik Arya, salah satu pemain Triple T yang tadi ada di dalam rombongan SMA Soetomo. Arya membagikan screenshot percakapan Fajar dan Jessica ke group chat, mengatakan bahwa saat ini Fajar sedang dekat dengan adiknya. Para anggota Triple T menggoda Arya dengan mengatakan bahwa sebentar lagi ia akan menjadi saudara ipar Fajar. Hal itu tentu saja sangat mengganggu bagi Arya dan ia mati-matian membantah. Hanya sehari setelahnya, Arya kembali membagikan screenshot percakapan, kali ini antara Jessica dan dirinya sendiri. Namun apa yang dikatakan Jessica pada obrolan itu adalah hal yang mungkin sangat menyakitkan bagi Fajar. “Aku cuma penasaran, orangnya kayak gimana sih. Ternyata biasa aja. Kampungan banget, sumpah. Masa’ diajak clubbing nolak melulu. Sok jual mahal. Padahal aku juga malu jalan sama dia. From head to toe, it screams poverty. Please, he looks like a beggar. Lol.[1]” Jessica mengaku bahwa ia tak pernah serius dengan Fajar. Arya juga kembali menegaskan bahwa tidak mungkin adiknya menyukai Fajar dan meminta Fajar untuk sadar diri. Segera saja setelahnya, group chat itu dipenuhi dengan berbagai macam stiker tertawa, disertai dengan komentar-komentar yang mengejek dan merendahkan Fajar. Padahal, Gilang berani bersumpah, penampilan Fajar tidak seburuk itu. Ia hanya tak mengenakan barang-barang branded, semua yang ia kenakan adalah sesuatu yang wajar bagi mahasiswa normal. Fajar memang tak terlihat kaya, tapi ia sama sekali tak berpenampilan compang-camping. Fajar sangat jarang mengetik apapun di group chat, tapi hari itu ia mengirimkan sebaris pertanyaan. “Ini lucu bagi kalian?” Begitu mendapatkan reaksi dari Fajar, member group chat pun terlihat semakin bersemangat. Dan template yang paling sering mereka gunakan adalah “kami cuma bercanda”. “Hei … Kita kan cuma bercanda.” “Fajar emang anaknya nggak seru banget.” “Dibawa nyantai aja, Jar.” “Why so serious?” “Ikut kita hang out yuk, Jar. Nanti malam.” “Ide bagus.” “Ayolah, Jar … sekali-sekali. Kamu nggak pernah mau sih kalau diajak hang out, makanya kamu jadi nggak asyik.” “Iya, kaku banget si Fajar kayak kanebo kering.” “Ayolah … Ya? Nanti malam, ya?” Setelah beberapa kali Fajar menolak ajakan mereka, malam itu ia akhirnya setuju untuk ikut. Itu adalah pertama kali dalam hidupnya, menginjakkan kaki di klub malam. Dalam hati ia menyimpan sedikit harapan bahwa mungkin setelah ini ia bisa diterima menjadi bagian dari mereka. Fajar merasa bahwa mungkin para pemain profesional memang menganggap hiburan malam adalah hal yang biasa, dan jika ia tak ikut serta maka akan sangat sulit baginya untuk berbaur. Malam itu adalah pertama kalinya ia mencicipi minuman beralkohol, namun tak ada satu orang pun berada di pihaknya. Mereka mendesaknya minum sampai mabuk, hingga kemudian seorang wanita mendekati dan menggodanya. Rekan-rekan Triple T yang mengundang Fajar sangat menikmati hiburan itu dan mereka merekam semuanya. “He’s definitely a virgin.” Salah seorang pemain asing Triple T berkomentar sambil tertawa ketika melihat Fajar tampak canggung menghadapi godaan seorang wanita. “Man … he’s h***y. Look at him!” Dan seorang lainnya menambahkan sambil menunjuk ke bagian tertentu di balik celana Fajar. “Kelihatannya lugu, padahal aslinya liar juga nih anak kampung.” Celetukan-celetukan seperti itu terdengar bersamaan dengan suara tawa di dalam video rekaman berdurasi 7 menit itu. Seolah mereka sedang menonton pertunjukan komedi. Hingga saat wanita itu mencium Fajar, ia yang memang sudah mabuk akhirnya muntah dan membuat wanita itu memekik sambil mendorong Fajar. “Ewh …! Jijik banget sih!” Wanita seksi itu berusaha membersihkan roknya yang terkena muntahan. Namun suara tawa di sekeliling mereka malah semakin menjadi. Kejadian itu direkam dan dibagikan di grup chat untuk ditertawakan bersama-sama. Pada akhirnya, Fajar semakin menyadari bahwa apapun yang ia lakukan, mereka tak akan pernah mengakuinya sebagai salah satu pemain elite The Titan Tribe. Mereka hanya butuh seseorang yang bisa dijadikan target bullying untuk meningkatkan ego masing-masing atau sekadar menjadi bahan hiburan untuk menghilangkan rasa bosan, dan mereka sudah memutuskan bahwa Fajar adalah orangnya. Gilang sangat marah saat ia membaca isi dari obrolan di group chat itu, dan langsung menyerahkannya ke polisi. Namun entah bagaimana prosesnya, laporan itu hanya berakhir dengan hukuman denda dan tak ada satupun dari mereka yang dipenjara. Mereka diminta untuk meminta maaf kepada keluarga Fajar karena apa yang mereka lakukan hanya dianggap sebagai bercandaan yang keterlaluan. Meski Fajar sampai harus kehilangan nyawa karena perbuatan mereka, tapi tak ada dasar hukum yang bisa digunakan untuk menjerat mereka dengan hukuman berat. Akibatnya, anggota group chat itu hanya dijatuhi hukuman atas kejahatan pelecehan verbal atau pelecehan nonfisik, dan semuanya selesai hanya dengan membayar denda serta meminta maaf kepada keluarga korban. Saat anak-anak Triple T dihadapkan dengan keluarga Fajar untuk menyatakan permintaan maaf, Gilang tak bisa menahan dirinya sendiri. Dibutuhkan lebih dari dua orang untuk menahan Gilang agar tak menyerang mereka semua. Ia masih mengingat jelas wajah mereka satu per satu. Waktu itu, meski beberapa di antara mereka terlihat tulus merasa bersalah, tapi beberapa yang lainnya tampak tak begitu peduli – seolah tragedi yang menimpa Fajar tak ada hubungannya dengan mereka dan mereka hanya datang untuk sekadar bilang maaf. Gilang merasa sangat tidak puas. Itu sebabnya saat ia tahu Arya sedang mengunjungi Jessica di kampus, Gilang langsung menghampirinya dan keributan pun terjadi. . ___ ___ ___ ___ ___ [1] Terjemahan: Dari ujung rambut hingga ujung kaki, ia terlihat sangat miskin. Tolong, dia terlihat seperti pengemis. Hahaha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN