Chapter II-2

1625 Kata
Saat mengetahui bahwa Arya sedang berada di kampus Arajaya, Gilang langsung menghampirinya. Lalu tanpa banyak bicara, ia mendaratkan tinju di wajah Arya sekuat tenaga. “Apa-apaan kamu?!” pekik Jessica sambil berdiri di hadapan Arya untuk melindunginya. Andai saja saat itu tidak ada teman-teman mereka, mungkin Gilang sudah akan menghajar Arya sampai ia tak bisa main basket lagi. “Puas kamu, ha?!” hardik Gilang bersamaan dengan seorang teman Arya yang mendorongnya menjauh. Tapi itu tak menghalangi Gilang untuk kembali meluapkan amarahnya. “Puas kamu udah berhasil bunuh orang?!” Arya meludah untuk membuang darah di mulutnya. “Gila kamu, ya?! Datang-datang main pukul aja,” balas Arya meski nyalinya tampak agak ciut, “aku nggak tahu apa-apa. Apa yang menimpa temanmu nggak ada hubungannya denganku. Jatuh cinta dan patah hati itu hal yang biasa. Kalau cuma gara-gara itu dia memilih mati itu berarti memang mentalnya aja yang lemah …” “Anjing!” Gilang menerobos teman Arya – yang berdiri sebagai tameng di depannya – dan menerjang Arya sampai ia jatuh terjerembab, lalu kembali menghujani pukulan ke wajah lelaki itu. Di situ hanya ada Jessica bersama seorang teman wanitanya dan satu seorang lelaki lainnya yang merupakan teman Arya. Namun, tenaga mereka bertiga tetap tak mampu untuk menarik Gilang dan memisahkannya dari Arya. Gilang tak peduli berapa lama waktu yang harus ia habiskan di penjara gara-gara perbuatannya itu. Ia hanya ingin mengeluarkan rasa frustasi yang terus merajalela di dalam dirinya sejak kematian Fajar. Semua emosi yang seolah akan membuatnya gila jika ia tak melampiaskannya. Meski tangannya masih memukul membabi buta, kubangan air tetap saja muncul dan menggenang di kelopak matanya. “Mentalnya lemah, kau bilang?!” Gilang mencengkram kerah baju Arya yang sudah terbaring babak belur di atas tanah. “Kau nggak akan pernah tahu betapa kuatnya dia selama ini menanggung bully-an kalian! Semua kritik dan komentar negatif dari fans klub b*****t itu! Semua tekanan yang diberikan padanya selama ini! Ia selalu bertahan dan menanggung semuanya!” Saking kerasnya Gilang berteriak di depan wajah Arya, tenggorokannya terasa seolah terparut. Tapi itu tak menghentikan Gilang. “Tapi selama dia masih berdiri, kalian nggak akan pernah puas, kan?! Kalian bakal selalu nyari cara yang lebih ekstrim untuk menghancurkannya! Terus memojokkannya sampai ke ujung, sampai dia gak punya pilihan lain selain melompat dan mengakhiri hidupnya! Apa kalian sadar?! Perbuatan kalian itu sama aja dengan kalian yang udah mendorongnya dari atap gedung!” Seolah sedang dirasuki sesuatu, mata Gilang yang merah dan berkilat basah itu pun akhirnya tak mampu membendung air matanya. Tapi ia tak menyadari itu. Gilang bahkan tak sadar ketika bajunya sudah melar kesana kemari dan tasnya terlempar entah kemana. “A-aku minta maaf …” gumam Arya akhirnya, “ka-kami cuma iseng. Kami nggak bermaksud membuat semuanya jadi begini. Nggak ada yang nyangka ...” “Anj —” Gilang memaki sambil kembali menyiapkan tinjunya, tapi seseorang menangkap pergelangan tangannya dari belakang. Saat Gilang menyentak lepas tangannya dan bersiap mengalihkan pukulan ke orang yang baru saja mencegahnya, ia menemukan Wisnu di belakangnya. Orang yang barusan menghentikannya adalah Wisnu … temannya sendiri, dan wajahnya terlihat sangat prihatin. Wisnu berhasil menenangkan Gilang dan membawanya pergi dari tempat itu. Jessica mengancam akan melaporkan Gilang ke polisi, tapi Wisnu memberinya peringatan. “Jangan kira ini udah selesai.” Suara Wisnu terdengar tenang, tapi sebenarnya ia juga sedang sangat murka. Matanya menatap tajam ke arah Arya dan Jessica sebelum kemudian setengah menyeret Gilang, memaksanya meninggalkan tempat itu. Hanya setelah mereka sampai di belakang gedung fakultas yang jaraknya sudah cukup jauh, Gilang kembali meluapkan kekesalannya. Napasnya terasa sangat sesak. Bahunya naik turun menahan emosi dan ia tak bisa berhenti bergerak kesana kemari, seakan ada lahar panas yang sedang terperangkap di dalam dirinya dan membakarnya dari dalam. “Ngapain kamu ikut-ikutan, hah?!” bentaknya kepada Wisnu, masih dengan mata yang merah dan berkilat basah. “Kau dengar tadi dia ngomong apa? Iseng katanya?! Dia bilang dia cuma iseng!” Gilang akhirnya meninju tembok di sampingnya dan berteriak sekeras-kerasnya. Ia hanya berteriak tanpa mengatakan apapun. Namun teriakannya itu terdengar seperti lolongan hewan yang terluka. Samar terdengar suara tangisan di dalam raungan teriakan itu, ada amarah … tapi juga ada rasa sakit yang amat sangat. Tangan Gilang bergerak mencengkram baju di depan dadanya. Semua yang ada di balik rongga dadanya seperti remuk. Luar biasa sakitnya. Seolah ada sesuatu yang sedang menggerogoti setiap inci di dalam tubuhnya dan ia tak tahu bagaimana cara meredakan rasa sakit itu. Dan tangisan itu menular … Wisnu pun tak bisa mencegah air mata yang juga mulai membasahi pipinya. Ketidakberdayaan yang membuat mereka frustasi, karena tak ada yang bisa dilakukan selain meratapi semua yang sudah terjadi. “Beeeeppp…!” Suara bel berakhirnya kuarter kedua membuyarkan lamunan Gilang. Jiwanya seakan dibawa kembali ke kursi penonton pertandingan final Liga Rookie hari ini. Gilang menoleh ke tribun di sisi lain aula itu, tempat di mana anak-anak Soetomo sedang duduk berkumpul, dan ada Arya di sana. Sepertinya dia tidak menyadari keberadaan Gilang dan Wisnu di antara para siswa Cendana. Sehari setelah kejadian ngamuknya Gilang waktu itu, Jessica mendatanginya di kantin kampus dan memintanya untuk bertanggung jawab atas luka-luka Arya. Gilang yang kondisinya memang sudah uring-uringan langsung menyiramkan mangkuk baksonya ke wajah perempuan itu. Untung saja kuah bakso itu sudah tak terlalu panas, kalau tidak wajah Jessica pasti sudah melepuh. Berani-beraninya dia meminta Gilang bertanggung jawab hanya karena luka seperti itu. Apa mereka bisa bertanggung jawab setelah merundung orang lain hingga putus asa dan mati? Kondisi Gilang memang semakin memprihatinkan sejak kematian Fajar. Ia mengalami insomnia parah, tak bisa fokus mengikuti kuliah di kelas, dan sama sekali tak punya selera makan. Kesehatannya pun menurun drastis. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengambil cuti kuliah sementara, agar ia bisa menenangkan diri. Berada di rumah membuat Gilang memiliki banyak waktu luang. Ia pun mencari caranya sendiri untuk bisa membalas para pem-bully Fajar. Gilang akhirnya menyebar isi obrolan di dalam group chat Triple T itu ke media sosial. Ia membuat sebuah judul besar untuk postingannya: Triple T, The Titan Tribe, adalah Sarang Bully. Gilang menyusun sebuah kronologis untuk menggambarkan dampak bullying yang dilakukan Triple T kepada Fajar. Menunjukkan perubahan Fajar dengan foto-foto dokumentasi. Dimulai dari hari pertama ia bergabung dengan Triple T – di mana ia terlihat masih sangat bahagia – hingga ke foto-foto terakhir yang memperlihatkan betapa terkurasnya energi Fajar, baik fisik maupun mental, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menyudahi semuanya. Wisnu bahkan ikut membantu dengan membayar beberapa pemilik akun sosial media yang memiliki banyak follower, untuk membagikan postingan yang dibuat Gilang itu. Usaha mereka membuahkan hasil ketika cerita tentang kematian Fajar dan klub The Titan Tribe menjadi viral hingga menjadi bahan pembicaraan publik. Orang-orang pun mulai memboikot Triple T. Setiap kali bertanding, lebih dari separuh kursi penonton mereka kosong, bahkan sponsor pun mulai mundur satu per satu. Beberapa bulan setelahnya, kepemilikan klub The Titan Tribe berpindah tangan, dan namanya pun berubah menjadi The Emperors. Nyaris semua staff diganti dengan yang baru dan para pemainnya yang terlibat dalam group chat itu juga dikeluarkan dari klub, termasuk Arya. Gilang tak tahu apakah orang-orang itu berpindah ke klub basket lain, atau memutusan untuk berhenti menjadi pemain basket profesional. “Nggak usah dipedulikan,” celetuk Wisnu tiba-tiba dari sebelahnya. Ternyata sejak tadi – saat ia hanyut dalam ingatan masa lalu – Lisa yang duduk di tengah mereka sudah meninggalkan kursinya dan berdiri di pinggir pagar tribun agar ia bisa melihat Noah lebih jelas. Gilang menoleh dan menemukan Wisnu sedang menatapnya dengan mata prihatin yang sama seperti waktu itu, waktu Gilang mengambil cuti kuliah sementara dan harus menjalani psikoterapi karena ia mengalami depresi. “Aku udah nggak apa-apa kok,” sahut Gilang kemudian. Di saat yang bersamaan, matanya tertancap pada papan skor. Skor di akhir kuarter kedua adalah 46 – 23 untuk keunggulan Cendana. Gilang bersiul takjub. “Gila. Skornya langsung di-double,” komentarnya. “Untuk regional ini, Cendana masih belum terkalahkan sih kayaknya,” timpal Taufik. “Pemain inti Cendana itu monster semua,” tambah Wisnu lagi. “Aku jadi penasaran, kalau Red Phantom ngelawan mereka siapa yang bakal menang, ya?” “Kalau Red Phantom yang beranggotakan kita bertiga diperkuat Noah dan Fajar, aku yakin kita yang bakal menang,” celetuk Gilang dengan senyum lebar di wajahnya. Butuh waktu lama baginya untuk bisa mengucapkan nama Fajar sambil tersenyum mengingat kenangan mereka. Kalau setahun yang lalu, alih-alih tersenyum bahagia, setiap kali ingatan tentang Fajar terlintas yang ia rasakan hanya kesedihan yang membuat dadanya seolah menyempit, sesak dan frustasi karena rasa marah yang bercampur dengan penyesalan. Taufik dan Wisnu pun saling bertukar tatapan lega, tadinya mereka cukup khawatir dengan kondisi Gilang karena tiba-tiba bertemu kembali dengan Arya. Tapi sepertinya sekarang sudah tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Gilang sudah terlihat baik-baik saja. . “Coach, saya main di kuarter terakhir aja, ya?” pinta Noah; hanya beberapa saat sebelum kuarter ketiga dimulai. “Kenapa? Kamu masih ngerasa nggak enak badan?” tanya Coach Adam yang baru saja akan memanggil Luna di ujung kalimatnya. Tapi Noah buru-buru mencegah sang pelatih. “Nggak, bukan gitu, Coach,” sanggahnya. Sudut mata Noah diam-diam melirik ke arah bangku cadangan Soetomo. Abi tampak sedang bersiap-siap untuk dimainkan di kuarter ketiga ini. Awalnya Noah memang merasa sangat menanti-nantikan berada dalam satu lapangan lagi dengan Abi. Sebelum ia teringat kembali tentang bagaimana ia – tanpa sengaja – menghancurkan semangat dan rasa percaya diri sahabatnya sendiri. Saat ini Soetomo sedang kalah, dan kemungkinan besar skor mereka tak akan pernah mengungguli Cendana sampai di akhir pertandingan nanti. Jika Noah harus berhadapan dengan Abi di saat-saat seperti ini, ia khawatir akan mengulangi kejadian yang sama. Bagaimana kalau Abi memutuskan untuk berhenti main basket untuk selama-selamanya, gara-gara Noah? “Noah,” panggilan Coach Adam membuat perhatian Noah kembali fokus pada pelatihnya itu. “Jangan jadi pengecut,” sambung Coach Adam lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN