“Noah,” panggilan Coach Adam membuat perhatian Noah kembali fokus pada sang pelatih. “Jangan jadi pengecut. Kamu sebenarnya sedang mengkhawatirkan apa?”
Melihat Noah yang tampak gelisah menghadapi pertanyaan itu, Coach Adam kembali menghela napas dan melanjutkan kalimatnya. “Aku dengar sedikit ceritanya dari Ahsan. Kelihatannya kamu memang lagi banyak pikiran. Tapi kamu mau sampai kapan begitu?”
Noah merasa agak tertampar dengan pertanyaan pelatihnya itu. Ya … pertanyaan yang sama juga muncul di kepala Noah; sampai kapan Noah akan terus seperti ini?
Ia menjadi sangat takut menyakiti hati orang lain. Ia takut, bahkan hanya dengan tindakan kecil dan tanpa ia sadari, ia bisa melukai mental seseorang. Dan yang paling ia takutkan adalah jika luka yang ia tinggalkan itu bisa menyebabkan orang lain merasa terpojok dan putus asa lalu berakhir seperti Fajar.
“Atau kamu merasa kasihan dengan lawan kita sekarang?”
Bingo! Kurang lebih memang tebakan Coach Adam itu benar. Pelatih Cendana itu memang sangat tajam, entah bagaimana ia bisa sampai pada kesimpulan itu.
Noah tampak agak ragu-ragu sebelum akhirnya ia memutuskan untuk sedikit menjelaskan.
“Di situ ada teman lama saya,” ujarnya pelan, “dulu dia pernah marah sama saya karena merasa ‘ditinggalkan’. Dia juga sempat berhenti basket. Tapi sekarang dia udah nyoba untuk mulai main lagi … saya khawatirnya nanti …”
“Ok, cukup,” sela Coach Adam. Ia kembali menghempas napas dan meletakkan tangannya di bahu Noah. “Saya nggak nyangka di balik penampilanmu yang seperti ini, ternyata di dalamnya kamu terlalu lunak. Cara berpikir macam apa itu?”
Sepertinya Noah akan mulai dimarahi. Ia seolah mengerut ditempatnya berdiri, merasa semakin tak enak hati.
“Berdiri yang tegak!” Tiba-tiba saja Coach Adam membentaknya hingga menyita perhatian semua pemain yang masih berada di pinggir lapangan, termasuk para pemain Soetomo.
Noah pun refleks membenarkan sikap berdirinya dan menatap lurus ke depan, meski jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
“Ini pertandingan final, Noah! Mana ada orang yang mikirin hal-hal nggak berguna kayak gitu di tengah pertandingan penting kayak gini!”
“Maaf, Coach!” sahut Noah tegas, mencoba menstabilkan suaranya. Ia merasakan pandangan mata orang-orang yang ada di sekitar situ saat ini sedang tertuju padanya.
Apa yang mereka pikirkan?
Apa ia akan dianggap anak yang bermasalah lagi dan tak pernah cocok berada di dalam tim? Egois? Selalu ingin dianggap istimewa dan diperlakukan spesial? Sebagaimana selama ini orang-orang menilai Noah sebagai anak berbakat yang sombong.
“Fokus!” hardik Coach Adam lagi. “Lihat mereka!” Ia lalu menunjuk ke arah para pemain Soetomo yang tampak cukup kaget menyaksikan Noah sedang dimarahi. “Apa kamu lihat mereka udah menyerah? Apa kamu pikir mereka bakal main malas-malasan di sisa dua kuarter ini?”
Coach mendekatkan diri ke hadapan Noah yang hanya menatap lurus ke depan sambil sebisa mungkin berusaha menghindari mata pelatihnya itu.
“Kamu sering dengar, kan? Kekalahan itu adalah kemenangan yang tertunda,” kali ini Coach Adam memelankan suaranya seolah apa yang ia katakan memang ditujukan hanya untuk Noah, “tapi kemenangan itu juga kekalahan yang tertunda. Ingat itu baik-baik. Cendana masih bisa kalah dan situasi masih bisa berbalik. Semua ini bukan cuma tentang kamu, Noah. Semua ini tentang tim. Singkirkan dulu hal-hal yang seharusnya baru bisa kamu pikirkan nanti, kalau kita sudah mengangkat trofi hari ini.”
“Si-siap, Coach,” jawab Noah lagi. Sudut matanya kembali melirik ke para pemain Soetomo yang tak jauh dari bench pemain Cendana. Mereka terlihat sangat serius, benar-benar fokus untuk membalikkan keadaan. Mereka tak punya waktu untuk memikirkan hal lain.
Sementara Noah? Apa yang ia lakukan? Mengasihani Abi dan kawan-kawannya? Memikirkan bagaimana para pemain Soetomo akan hancur karena untuk kesekian kalinya kembali dikalahkan oleh Cendana, padahal itu belum tentu terjadi.
Noah merasa dirinya sangat konyol.
“Kalau kamu udah paham, masuk sana ke lapangan!” Lagi-lagi Coach Adam meninggikan suaranya. “Masuk ke sana dan kalahkan mereka! Karena lawanmu belum menyerah, jadi kamu juga harus mengerahkan seluruh kemampuanmu untuk mengalahkan mereka! Jangan beri ampun! Pastikan Cendana masih belum terkalahkan di Liga Rookie!”
“Siap, Coach!” Kali ini Noah menjawab dengan suara yang tak kalah lantang. Ia lalu meninggalkan tempatnya berdiri dan bersiap untuk masuk ke lapangan, memastikan bahwa tahun ini pun, Cendana lah yang akan kembali keluar sebagai pemenang.
Coach Adam memutuskan untuk membiarkan Ahsan, Wahyu dan Juan tetap di lapangan. Ia hanya mengistirahatkan Dewa dan Yuda dengan memasukkan duet kelas 10, Noah dan Igris.
Sementara itu, Soetomo tampak mengganti seluruh pemain intinya di awal kuarter ketiga ini. Mungkin mereka bermaksud untuk menyimpan tenaga para pemain andalannya agar bisa main habis-habisan di kuarter terakhir nanti.
Tapi tentu saja, pelatih Cendana sudah mempertimbangkan kemungkinan itu dengan menyuruh Noah dan Igris untuk fokus menyerang dan menambah angka. Jadi, meskipun Soetomo kembali dengan kekuatan penuh di kuarter akhir, poin mereka sudah tertinggal jauh.
Noah mendapat operan pertama dari Ahsan, tapi Abi langsung menjaganya. Tak hanya Abi, ada satu pemain Soetomo lain yang juga membantu.
Noah kembali dihadapkan dengan double team di awal kuarter ketiga ini. Ia memutuskan untuk menggiring bola maju, tapi defense Abi dan rekannya terlalu ketat.
Lalu dari belakang Abi, tampak Igris yang meminta bola. Noah mundur selangkah, ia lalu melompat seolah akan melakukan shoot dari jarak yang masih sangat jauh dengan ring.
Penjagaan pun mengendur karena Abi dan rekannya mengira Noah akan melakukan shoot untung-untungan dari jarak sejauh itu. Padahal itu hanyalah gerakan tipuan yang dilakukan Noah untuk mengoper bola kepada Igris.
Passing yang dilakukan Noah cukup tinggi dan tak ada yang bisa menyentuh bola hingga sampai di tangan Igris.
Soetomo terlambat melakukan double team kepada Igris yang dengan mudah bisa melalui seorang pemain lawan, ia lalu melempar bola ke dekat ring. Tapi itu bukan shoot, itu adalah operan yang langsung disambut oleh Wahyu.
Senior kelas 11 itu seolah berhenti di udara saat telapak tangannya menyentuh bola dan hanya dengan menggerakkan pergelangan tangan saja, bola pun terdorong masuk melewati ring.
Skor bertambah lagi untuk Cendana. Tapi Soetomo tak ingin membuang-buang waktu. Dengan cepat mereka kembali mengoper bola masuk ke lapangan dan memulai serangan.
Taktik pertahanan Cendana adalah 2-2-1, dengan Juan berada di dekat ring sementara duet pemain kelas 10 di paling depan agar bisa cepat melakukan serangan balasan ketika berhasil mencuri bola atau mendapatkan rebound.
Tapi, baru saja Noah menempati posisinya, Soetomo sudah berada di area pertahanan Cendana dan bola pun sudah dioper ke sana kemari dengan sangat cepat.
Hingga akhirnya seorang pemain Soetomo tampak melakukan jump shoot yang berhasil di-blok oleh Ahsan. Sayangnya, saat Ahsan baru saja mendarat dari lompatannya, seseorang memukul bola ditangannya.
Cukup keras, tapi itu bukan pelanggaran karena pukulan itu tidak mengenai tangan Ahsan.
Bola liar itu kemudian berhasil dipungut oleh Abi dan ia langsung melakukan tembakan di tempatnya berdiri. Tak ada yang sempat menghalangi karena Abi berada cukup jauh dari garis 3 poin – hampir di tengah lapangan.
Tapi tembakan itu masuk dan tiga angka pun bertambah untuk Soetomo.
Melihat Abi yang mengepalkan tangannya penuh semangat untuk merayakan tembakan 3 poin itu, entah kenapa ada senyuman yang muncul di wajah Noah.
Ya … ini yang ingin dilihat Noah. Abi yang kembali hidup dan bersemangat. Seperti waktu dulu dia mengenalkan basket kepada Noah dan mengajari Noah banyak hal.
Meskipun sebenarnya dulu Abi cuma ingin menyombongkan pengetahuannya tentang basket dan pada akhirnya malah merasa malu sendiri karena Noah jadi lebih berbakat dari dirinya. Tapi tetap saja, Noah bersyukur memiliki teman seperti Abi.
Setelah mendapatkan serangan super cepat barusan, Noah pun sadar, Soetomo belum menyerah dan keadaan bisa berbalik kapan saja.
Coach Adam benar, Noah terlalu lunak. Mengkhawatirkan lawan di tengah pertandingan final? Konyol sekali.
Noah baru saja mendapat operan, tapi lagi-lagi ia kesulitan bergerak. Sejak awal ia selalu ditempeli dua defender setiap kali memegang bola, akibatnya Noah jadi lebih memilih untuk mengoper bola daripada menyerang sendirian.
“Oi! Noah!” Terdengar teriakan Dewa dari pinggir lapangan. “Dunk! Dunk! Mana dunk kebanggaanmu?! Sini kamu balik aja ke kursi cadangan!”
“Berhenti mengoper bola ke orang lain!” tambah Yuda yang berdiri tepat di sebelah Dewa. “PG[1] Cendana itu Kak Ahsan, bukan kamu! Sejak kapan kamu jadi penakut, hah?!”
“Apa karena dia terlalu sering dikatain pemain egois yang cuma mau main sendiri, ya?” Kali ini Dewa bergumam sambil melipat tangan di depan dadanya; mengamati Noah yang memang sejak awal main tampak seperti orang yang tak mau terkena spotlight dan cuma mau menjadi pemain pendukung saja.
“Ya ampun … padahal dia biasanya gak peduli dengan omongan orang. Kenapa belakangan ini dia jadi kacau gitu, ya?” balas Yuda menanggapi.
Soetomo kembali melakukan Fast break[2] dan para pemain Cendana tampak kewalahan kembali ke posisi bertahan.
Untungnya, yang kewalahan bukan hanya Cendana. Soetomo juga tampak cukup kehilangan fokus akibat kelelahan di pertengahan kuarter ini.
Wajar saja stamina mereka terkuras, Soetomo melakukan defense yang sangat ketat dan berkali-kali melakukan serangan cepat.
Tembakan 3 poin yang dilepaskan Abi kali ini membentur bibir ring dan gagal. Saat Juan dan shooting guard Soetomo sama-sama melompat untuk merebut bola rebound, Noah berlari dari area high post dan langsung melompat menyambar bola yang memantul itu.
Lalu saat Soetomo belum sempat menyadari apa yang sedang terjadi, Noah berlari cepat menggiring bola menuju ke area pertahanan Soetomo yang masih kosong.
Tapi pemain center Soetomo cukup cepat menyusul, ia berdiri di tengah untuk menghalangi Noah.
Noah tampak memperlambat tempo dribble-nya, namun sebenarnya itu adalah gerakan change of pace[3]. Saat lawan mengira Noah akan berhenti, ia tiba-tiba melesat cepat melewati pertahanan terakhir Soetomo itu.
Sendirian tanpa ada yang menghalangi di bawah ring, Noah sempat berpikir petunjukan dunk apa yang akan membuat rahang penonton terjatuh saking takjubnya. Dalam waktu yang singkat itu, Noah sudah melompat di depan ring dan karena ia kehabisan akal, ia memutar tubuhnya 360 derajat di udara sebelum akhirnya menghujamkan bola dengan kedua tangannya.
Bola yang dipaksa melewati ring dengan keras pun membentur lantai lapangan hingga menimbulkan suara yang menggema ke seluruh penjuru hall pertandingan, bahkan sampai membuat beberapa penonton yang sedang terkantuk-kantuk jadi terbangun kaget.
Sesaat suasana sempat hening, hingga akhirnya penonton berdiri dan bersorak sambil bertepuk tangan atau meninju udara penuh semangat. Seolah panasnya pertandingan menjalar ke sekujur tubuh mereka setelah menyaksikan dunk 360 barusan.
“Itu kincir angin! Itu dunk 360!” Komentator pertandingan berteriak di depan microphone-nya. Ia bahkan sampai mencengkram kerah baju rekan sesama komentator yang duduk di sebelahnya.
.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Point Guard
[2] Fast Break yaitu pola serangan yang dilakukan dengan sangat cepat sehingga lawan tidak sempat untuk menempati area pertahanannya.
[3] Change of pace merupakan teknik dribble yang dilakukan dengan memperlambat tempo gerakan hingga lawan mengira pemain seolah-olah akan berhenti. Teknik ini berguna untuk mengecoh lawan.