“Itu kincir angin! Itu dunk 360!” Komentator pertandingan berteriak di depan mikrofon sambil mencengkram kerah baju rekan sesama komentator di sebelahnya.
“No … no, kayaknya itu cuma dunk 360.”
“Entahlah, aku rasa aku harus melihat siaran ulang. Tapi, walaupun tanpa windmill[1], dunk 360 di Liga Rookie tingkat SMA!? Itu saja sudah luar biasa!”
“Betul. Dunk 360 biasanya hanya sering muncul di kontes dunk. Ini gila. Noah membuat gerakan itu jadi kelihatan mudah.”
“Aku rasa ini pertama kali dalam sejarah.”
“Sebenarnya banyak pemain lain yang posturnya lebih tinggi, tapi kenapa Noah bisa melakukan itu? Anak ini memang pantas disebut genius.”
“Kekuatan lompatan, ditambah dengan tinggi badannya. Aku rasa pengalaman juga membentuk tubuhnya menjadi sangat ringan dan terbiasa melakukan gerakan-gerakan yang – bisa dibilang – bahkan pemain profesional pun sulit melakukannya.”
“Pengalaman apa yang dimiliki anak SMA hingga membuatnya bisa bergerak seperti itu?”
Kedua komentator itu kembali bertukar kalimat pertanyaan dan pernyataan setelah mereka berhasil mengendalikan diri dari euforia dunk 360 barusan.
Sementara itu, kursi cadangan Cendana juga geger, bahkan Coach Adam tampak mengacungkan dua jempol tangannya ke arah Noah.
Tribun di atas mereka yang berisikan anggota klub basket Cendana, serta beberapa siswa yang datang untuk memberi dukungan, ditambah 3 pemain Red Phantom dan Lisa, tampak tak kalah gemparnya.
“Noah! b*****t! Anak kurang ajar! Sejak kapan kau bisa melakukan itu, ha?!” teriakan Gilang tenggelam dalam riuhnya suara tepuk tangan, siulan dan teriakan dukungan dari seisi arena pertandingan.
Tapi Noah sendiri tak begitu tahu apa yang baru saja ia lakukan. Ia hanya kehabisan akal dan merasa kalau memutar tubuh saat melompat sebelum memasukkan bola akan terlihat bagus.
Noah tak menyangka ia malah melakukan gerakan yang dinamakan dunk 360; dunk itu bahkan termasuk dalam kategori yang cukup sulit.
“Soetomo! Fokus!”
Terdengar teriakan dari arah bench Soetomo, di mana pelatih dan para pemain inti sedang berusaha mengimbangi suara penonton agar bisa memberi semangat kepada para pemain mereka di lapangan.
“Nggak usah dipikirin! Dunk itu cuma dapat dua angka! Nggak ada yang spesial!”
“Jangan terpengaruh!”
“Balas! Kalian cuma perlu balas serangan mereka!”
Para pemain dan pelatih Soetomo di pinggir lapangan membuat gerakan kibasan tangan yang mengisyaratkan agar kelima pemain mereka segera meninggalkan area pertahanan dan bergerak ke ring Cendana untuk melanjutkan permainan, karena saat ini giliran Soetomo yang menyerang.
Dunk memang hanya menghasilkan dua angka, namun pengaruhnya terhadap mental lawan cukup mengerikan. Itu sebabnya, kelima pemain Soetomo harus segera disadarkan dari shock akibat dunk Noah barusan.
Namun, pada akhirnya pertandingan final ditutup dengan skor 86 – 51 untuk kemenangan Cendana.
Meski ini adalah hasil yang sudah bisa ditebak oleh banyak orang, tapi pertandingan final hari ini luar biasa seru dan semua orang yang menonton terlihat sangat puas. Bahkan saat mereka sudah keluar dari venue, obrolan tentang pertandingan barusan masih terdengar dari segala arah.
“Soetomo patut diapresiasi, sampai akhir juga mereka masih ngotot.”
“Tahun depan, Soetomo bisa jadi kandidat juara nih. Cendana harus hati-hati.”
“Aku masih kebayang dunk 360 di kuarter ketiga tadi.”
“Gila. Aku sampai merinding. Sayangnya tadi gak sempat rekam.”
“Si Noah itu kayaknya kalo nggak nge-dunk belum sah, ya.”
“Tapi seru sih. Jarang banget bisa ngelihat aksi kayak gitu di pertandingan anak sekolah.”
“Lihat tadi pas Noah dimarahin pelatihnya? Aku kira dia tipe pemain sombong yang bakal melengos pergi kalo ditegur gitu. Apalagi di depan banyak orang.”
“Tapi dia kelihatan kayak anak penurut, ya.”
“Bentar. Yang pertama kali bilang Noah itu sombong siapa sih?”
Ya ... sepertinya semakin lama orang-orang menonton pertandingan Noah, semakin kenal mereka dengan karakter asli Noah. Bahwa sebenarnya Noah hanya terlihat keras di luar saja. Aslinya, dia anak yang sangat perasa.
Sementara itu, para pemain dari kedua tim masih berada di sekitar arena pertandingan.
Setelah selesai penyerahan trofi, benda yang diperebutkan itu pun dioper kesana kemari agar setiap orang di Cendana bisa berfoto dengan trofi kemenangan mereka dan di-upload di media sosial. Tentu saja, belakangan ini hal itu menjadi sangat penting.
Noah biasanya tak begitu peduli dengan postingannya di media sosial. Tapi hari ini ia juga ingin berpose bersama trofi, bukan tanpa alasan.
Noah tampak sedang memutar pandangan ke sekitar, di antara para pemain Soetomo dan Cendana yang asyik berfoto bersama, bertukar aksesori seperti wristband dan segala macamnya, Noah menemukan sosok Abi yang sedang membantu rekan-rekan seangkatannya untuk membereskan barang-barang tim mereka.
“Abi,” panggil Noah sambil melangkah mendekati teman lamanya itu.
Melihat Noah menghampiri bench Soetomo sambil membawa trofi. Abi tampak gugup, begitu juga dengan rekan-rekannya yang lain.
Mereka bertanya-tanya, kenapa salah seorang pemain bintang Cendana mendatangi mereka dengan trofi di tangannya? Apa Noah ingin mengolok-olok Soetomo yang kalah?
Tapi, saat Noah sudah tiba di hadapan Abi, ia langsung memberikan hp yang sudah ia persiapkan sebelumnya kepada salah seorang teman Abi. “Tolong fotoin dong,” pinta Noah kemudian.
Mulut Abi merenggang tak percaya. Meski begitu, ia menurut saja waktu Noah berdiri di sampingnya dan membuatnya menghadap ke arah kamera hp yang dipegang rekannya.
“Abi, pegang trofinya, siapa tahu bisa jadi lucky charm. Kamu bisa ketularan juara,” kata Noah lagi.
Abi tertawa sambil ikut memegang trofi bersama Noah. Setelah dua kali jepretan, Noah berjabat tangan dengan Abi dan keempat pemain cadangan Soetomo yang tadi bermain melawannya di kuarter ketiga.
“Kalian bermain sangat baik. Kami sampai kewalahan,” ujar Noah kepada Abi dan rekan-rekannya.
“Iya … cuma kewalahan. Tetap aja kami belum bisa ngalahin kalian,” balas salah seorang teman Abi diikuti dengan tawa cengengesan teman-temannya.
“Tapi di pertemuan berikutnya kami yang akan menang,” timpal Abi kemudian, sambil mengumbar senyum penuh rasa percaya diri kepada Noah.
Noah pun menyambut deklarasi dari Abi dengan senyum lebar di wajahnya. “Di Kejurnas? Sebaiknya kalian nggak gugur sebelum nanti ketemu kami di sana.”
“Lihat aja nanti. Pokoknya, walaupun mungkin kita nggak ketemu di Kejurnas, kalian harus tetap hati-hati dengan Soetomo, karena trofi Liga Rookie tahun depan bakal kami rebut,” kata Abi lagi.
Noah tertawa sambil kembali memamerkan trofi di tangannya. “Coba aja kalau bisa,” balasnya kemudian.
Namun, akhir kalimat itu dibalas tawa oleh mereka semua. Tak ada yang tersinggung dengan obrolan itu, meskipun kedua pihak saling tak mau mengalah.
Kesan yang didapat memang lebih hangat. Tak ada unsur merendahkan atau mengejek. Noah dan kelima pemain cadangan Soetomo itu hanya ingin menunjukkan bahwa mereka akan sama-sama memberikan yang terbaik di pertandingan berikutnya.
“Ngomong-ngomong, Noah. Aku juga boleh foto bareng kamu, nggak?” Tiba-tiba salah seorang teman Abi bertanya dengan canggung.
“Oh, boleh. Kenapa nggak? Mau sama trofi juga boleh.” Noah langsung merangkul pemain Soetomo itu dengan akrab dan memposisikan trofi di tengah mereka sambil menghadap ke kamera hp yang sudah siap dipegang oleh Abi.
“Noah! Pinjam trofinya! Aku mau foto bareng kak Dewa!” Yuda mendadak muncul entah dari mana. Tapi untung saja Abi sudah sempat mengambil foto rekannya itu dengan Noah, sebelum Yuda masuk ke dalam frame.
Menyadari bahwa ternyata Noah sedang foto-foto dengan lawan mereka barusan. Yuda langsung berseru, “Wah! Noah foto bareng anak Soetomo!”
“Ayo sekalian semuanya aja foto bareng!” Ahsan yang mendengar itu kemudian mengajak para pemain Cendana dan Soetomo untuk berfoto bersama.
Tentu saja semuanya menganggap itu ide yang bagus.
Satu per satu mereka mulai berkumpul di titik yang tadinya hanya ada Noah dan Abi. Kini, wajah mereka bahkan nyaris ketutupan yang lain. Hingga akhirnya ada yang berinisiatif untuk menyusun barisan, agar semuanya tak berebutan masuk frame.
Final Liga Rookie hari itu diakhiri dengan kedua tim berfoto bersama dengan trofi yang dipegang oleh kedua Kapten tim, Ahsan dan Ilyas, di tengah para pemain lainnya.
Semua wajah tampak cerah, dan Noah bersyukur di pertandingan final kali ini tak ada yang ia sesali.
.
Gilang dan yang lainnya baru saja meninggalkan gedung GOR dan bermaksud untuk menunggu Noah di area parkir bus. Tak disangka mereka malah dipertemukan kembali dengan rombongan Soetomo yang selama pertandingan tadi berada di tribun.
Tentu saja, di antara mereka ada Arya. Lelaki itu tampak kaget ketika melihat wajah yang dikenalnya. Gilang juga sebenarnya merasa tak nyaman, tapi mereka sudah terlanjur bertemu mata dan tak sempat lagi menghindar.
Melihat senior mereka bertemu dengan temannya, anak-anak Soetomo pun berinisiatif meninggalkan Arya dan berjalan menuju bus lebih dulu.
“Udah lama nggak kelihatan di kampus,” Taufik menyapa duluan untuk mencairkan suasana, “kamu berhenti atau ambil cuti?”
“Ng … aku udah selesai teori, tinggal nyusun skripsi,” jawab Arya. Ia tampak gelisah berusaha menghindari mata Gilang dan Wisnu.
“Oh … main di klub mana sekarang?” tanya Taufik lagi, “atau sekarang kamu jadi asisten pelatih anak SMA?”
“Aku … nggak gabung di klub lagi … ng … kebetulan aku alumni Soetomo, kadang-kadang diminta datang untuk sedikit mentoring dan ngasi support.”
Gilang mendengus sambil melempar pandangannya dan mencibir, “Mentoring? Mentoring apa? Tata cara mem-bully orang?”
Di luar dugaan, Arya tak membalas. Ia hanya menunduk dengan wajah yang tampak merasa bersalah.
“Apa kamu juga bikin group chat mentoring yang isinya tukang bully?" Gilang masih melanjutkan cibirannya. "Kali ini siapa anak yang namanya kalian simpan di hp dengan sebutan ‘anak kampung’, ‘udik’, ‘country bumpkin’, ‘pushover’, ‘target’ dan sejenisnya?”
Sontak Arya mengangkat wajahnya dan menatap lurus kepada Gilang. “Aku tahu dulu anak-anak Triple T memang keterlaluan bercandanya …”
“Berhenti menyebut tindakan bullying kalian itu sebagai bercanda,” geram Gilang. Rahangnya tampak mengeras dan urat di pelipis matanya pun menyembul.
Lisa mencengkram pergelangan tangan Gilang yang tremor di samping tubuhnya. Ia tak tahu ada masalah apa di antara para mahasiswa Arajaya itu. Tapi yang pasti Lisa melihat Gilang sedang berusaha keras untuk mengendalikan diri agar tak mendaratkan tinjunya di wajah lelaki bernama Arya itu.
.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Windmill atau kincir angin adalah jenis dunk yang dilakukan dengan menggerakan bola dari bawah pinggang sesuai dengan panjang lengan pemain, kemudian melakukan gerakan melingkar seperti perputaran kincir angin untuk membanting bola masuk ke dalam ring.