Chapter II-5

1835 Kata
"Berhenti menyebut tindakan bullying kalian itu sebagai bercanda," geram Gilang sambil berusaha keras untuk tak memukul lelaki di hadapannya itu. “Aku udah sadar sekarang kalau dulu itu aku memang bodoh dan sombong,” Arya terdengar memelas nyaris memohon, “aku nggak tahu dengan anak-anak Triple T yang lain, tapi aku benar-benar menyesal. Aku minta maaf …” “Untuk apa kamu minta maaf sama aku?!” amuk Gilang lagi. “Memangnya dengan kamu minta maaf ada yang berubah? Apa gunanya kamu menyesal sekarang? Apa itu bisa ngembaliin Fajar?!” Arya kembali tertunduk dan tak berani berkata-kata lagi. Lisa semakin mengeratkan cengkraman tangannya sementara Wisnu akhirnya memutuskan untuk berdiri di antara Arya dan Gilang. “Kalau bisa, mulai sekarang jangan tunjukkan mukamu di depan kami lagi,” ujarnya – jauh lebih tenang dari Gilang. “Kalau nggak, aku nggak tahu apa yang bakal dilakukan Gilang ke kamu. Aku bukan khawatir terjadi apa-apa sama kamu, aku cuma khawatir teman baikku jadi penjahat gara-gara kamu. Ngerti? Peringatkan adikmu juga.” “Adikku … Jessica, adalah alasan terkuat yang membuatku sangat menyesali perbuatanku,” gumam Arya kemudian. “Tolong maafkan dia juga … dia mengidap kanker dan sekarang kondisinya …” “Kau kira aku peduli?!” Gilang kembali menyergah tanpa ada secuil pun rasa simpati di suaranya. “Kau dan adik jalangmu itu …” “Ada apa?” Suara Noah dari arah belakang, membuat Gilang refleks menoleh dan menghentikan sumpah serapahnya. Ternyata para pemain Cendana dan Soetomo sudah meninggalkan arena pertandingan dan bersama-sama menuju ke parkiran bus, kecuali kedua pelatih dan kapten, serta beberapa pemain senior yang sepertinya masih harus tinggal untuk postgame press conference. “Bukan apa-apa.” Wisnu bertindak cepat mengendalikan situasi. Ia sedikit mendorong Gilang untuk menghampiri Noah sembari mengkamuflasekan gerakan yang sebenarnya ingin menjauhkan Gilang dari Arya. Taufik pun memberi kode agar Arya segera pergi menyusul anak-anak Soetomo ke bus yang sedang terparkir tak jauh dari mereka. “Kalian bertengkar?” tanya Noah polos. “Emangnya itu tadi siapa?” Tapi tak ada yang menjawab pertanyaan Noah. Wisnu dan Taufik malah sibuk mengalihkan pembicaraan dengan membahas pertandingan final barusan, hingga akhirnya Noah pun lupa dengan apa yang ingin ia tanyakan. Ditambah lagi, ada seorang wartawan yang tiba-tiba muncul entah dari mana dan menghampiri bus Cendana. Noah mendengar pria berkacamata dengan kamera yang menggantung di lehernya itu bicara dengan Luna. Ia ingin mewawancarai Igris, tapi Luna mengatakan bahwa tim Cendana tidak bisa diwawancarai tanpa seizin pelatih. Dengan wajah kecewa, pria itu berbalik dan melangkah meninggalkan bus. Kemudian secara tak sengaja ia berpapasan dengan Noah, wajah wartawan itu pun kembali cerah seolah menemukan harapan baru. “Noah, boleh ngobrol sebentar?” tanyanya sambil mempersiapkan perekam suara di hp-nya. Lisa bersama ketiga rekan Red Phantom Noah pun mengambil langkah mundur sambil nyengir, seolah mengatakan bahwa mereka tak ingin mengganggu. “Rakyat jelata sebaiknya minggir dulu, ada yang lagi mau diwawancara,” canda Gilang disambut dengan suara cekikikan Wisnu, Taufik dan Lisa. “Apaan sih?” Setengah menggerutu, Noah melempar lirikan dongkol ke arah teman-temannya itu, sebelum akhirnya ia menjawab si wartawan. “Bapak nyasar? Postgame Press Conference-nya di dalam GOR, bukan di sini,” tutur Noah datar tanpa nada sinis. “Oh … nggak. Teman saya sudah di dalam. Saya ke sini memang mau mewawancarai duet pemain kelas 10 Cendana yang tampil cemerlang sepanjang Liga Rookie.” “Kalau gitu, maaf, tadi manager kami juga udah jelasin, kan? Cuma Pelatih, Kapten dan anggota yang udah dapat izin aja yang boleh diwawancarai.” “Sedikit aja … anggap aja ngobrol-ngobrol santai sambil nunggu konferensi pers selesai.” “Maaf, ya. Saya nggak berani.” Dengan sopan Noah menolak dan bermaksud meninggalkan wartawan itu. Tapi, satu kalimat dari si wartawan membuat Noah mengurungkan niatnya. “Menurut survei, Igris lebih banyak disukai dibandingkan Noah. Bagaimana tanggapanmu?” Wartawan itu sengaja melontarkan pertanyaan yang cukup provokatif untuk menarik perhatian Noah. Dan sepertinya ia berhasil. Noah mengernyit jengkel. “Maksudnya?” Ia tak bisa menyembunyikan rasa kesal di nada suaranya. “Iya … kami melakukan semacam voting online dan Igris memegang suara terbanyak sebagai pemain muda berbakat dengan attitude terbaik.” “Oh ya? Baguslah,” sahut Noah cuek. Matanya mulai mencari keberadaan Gilang dan yang lainnya, berharap mereka segera mendekat agar ia bisa terpisah dengan wartawan ini. “Kamu cuma kalah tipis kok dari dia,” komentar si wartawan seolah ingin menghibur Noah. Di saat yang bersamaan, Noah menemukan keberadaan Lisa dan rekan Red Phantom-nya di dekat mobil Gilang yang terparkir tak jauh dari bus Cendana. Menyadari tatapan Noah yang mengisyaratkan minta tolong, rekan-rekannya itu pun menyudahi keusilan mereka dan memutuskan untuk menghampiri Noah. “Noah, siapa pemain basket favoritmu?” Wartawan itu tahu waktunya sudah hampir habis, jadi ia menyempatkan diri bertanya lagi. Ia bertekad untuk mendapatkan judul berita yang bisa diterbitkan meski hanya berdasarkan satu atau dua baris kalimat saja dari Noah. “Eka Fajar Pamungkas.” Di luar dugaan, Noah menjawab pertanyaan wartawan itu dengan tegas kali ini. “Wah … siapa itu? Main di klub apa?” Penuh antusias, lelaki berkacamata itu mencatat nama yang disebutkan Noah dengan menggunakan hp-nya. “Kalau Anda nggak kenal Fajar, mending tambah wawasan dulu sebelum jadi wartawan,” ketus Noah akhirnya. “Dia adalah pemain dengan attitude terbaik yang pernah kukenal.” “Noah, beli minuman yuk, aku yang traktir.” Gilang muncul, berlagak ingin mengalihkan pembicaraan. Entah barusan ia mendengar pembicaraan Noah dengan si wartawan atau tidak, tapi yang pasti ia bisa melihat wajah Noah yang sudah sangat tidak ramah dan merasa kalau Noah harus segera dibawa pergi dari hadapan orang itu. “Maaf ya, Bapak Pers. Kami pinjam Noah-nya dulu.” Lisa segera menggandeng tangan Noah dan setengah menyeretnya pergi meninggalkan si wartawan yang masih speechless akibat perkataan Noah tadi. *** Sehari setelah pertandingan final Liga Rookie yang kembali membuat nama SMA Cendana meroket, guru pelajaran Bahasa Inggris baru saja meninggalkan kelas 10-S, dan Noah langsung memanfaatkan waktu singkat sebelum guru pelajaran berikutnya datang untuk mengecek beberapa video yang berkaitan dengan pertandingan kemarin. Ia baru saja mengeluarkan hp-nya saat tiba-tiba terdengar suara pengumuman melalui pengeras suara sekolah. “Andika Pratama kelas 12-S, diminta untuk segera ke ruangan Kepala Sekolah. Terima kasih.” Sontak Rihan yang duduk di meja paling depan menoleh ke belakang dan bertemu mata dengan Noah. Meski wajah Rihan tampak lega, Noah masih merasa ini semua belum selesai. Setidaknya ia harus tahu hukuman apa yang akan dijatuhkan kepada Andi, baru mungkin ia akan bisa merasa tenang. Selang beberapa menit setelah pengumuman tadi diulang kembali, terdengar panggilan yang berbeda kali ini. “Rihan Rizky Wibowo kelas 10-S, diminta untuk segera ke ruangan Kepala Sekolah. Terima kasih.” Rihan kembali menoleh ke arah Noah yang ternyata sudah berdiri dari kursinya. “Ayo,” ajaknya langsung. Ia bermaksud menemani Rihan ke ruangan Kepala Sekolah. “Tapi kamu kan nggak dipanggil,” tolak Rihan sambil setengah tertawa, “tenang aja. Aku yakin semua bakal selesai dengan baik.” Noah memegangi kedua bahu Rihan dan menatapnya lekat-lekat sebelum memberikan petuah. “Jangan mau kalau kamu disuruh minta maaf. Jangan mau disuruh berdamai. Jangan katakan apapun yang bisa meringankan kejahatan Andi. Apapun yang terjadi, pastikan hasil akhirnya Andi nggak bakal pernah bisa ngulangin perbuatannya lagi. Pokoknya jangan …” “Noah … apa kamu punya cita-cita jadi pengacara?” Tawa Rihan terdengar sedikit lebih lepas kali ini. “Pokoknya kamu tenang aja. Aku nggak bakal ngasi Andi kesempatan buat ngulangin perbuatannya lagi. Ok?” Melihat Rihan yang tampak kalem dan tidak tertekan, Noah pun ikut merasa tenang. Ia akhirnya melepaskan tangannya dari pundak Rihan dan membiarkan teman pertamanya di SMA itu berjalan keluar kelas. “Benar. Semuanya pasti akan baik-baik aja, kan?” batin Noah, kembali berusaha menenangkan dirinya sendiri. Berhubung karena guru pelajaran berikutnya belum datang, Noah kembali menyempatkan diri melakukan penelusuran pada browser di hp-nya untuk mencari video postgame interview[1] pertandingan final kemarin. Ia ingat, bagaimana dirinya tiba-tiba disodorkan mikrofon tanpa persiapan apapun sebelumnya. Ya, tepat setelah pertandingan selesai, pelatih dan para pemain di bench langsung menghambur ke dalam lapangan untuk merayakan kemenangan dengan lima pemain inti yang bermain di kuarter terakhir. Mereka saling berpelukan, saling menepuk punggung dan berteriak mengepalkan tangan ke arah para pendukung di tribun penonton. Di tengah riuhnya euforia kemenangan itu, Noah tiba-tiba saja diarahkan ke pinggir lapangan di mana ada wartawan yang sudah menunggu dengan mikrofon dan kamera untuk melakukan postgame interview kepada tim pemenang. “Noah, gimana perasaannya setelah kembali berhasil memenangkan trofi Liga Rookie?” tanya pewawancara wanita dengan senyum yang sangat lebar di wajahnya. Noah tampak agak bingung dan sedikit berpikir sebelum kemudian menjawab dengan jujur. “Menang kembali? Ini pertama kalinya bagiku.” “Ah … iya, maksud saya, setelah Cendana berhasil kembali keluar sebagai pemenang hari ini. Bagaimana perasaanmu?” Senyum lebar si pewawancara mulai menyusut canggung. “Ya … senang, tentu saja,” jawab Noah. Dalam hati Noah berpikir, apa mereka tak salah menyeret orang untuk diwawancarai? Karena rasanya akan lebih cocok kalau mereka mewawancari salah satu dari pemain inti Cendana. Seingat Noah, setiap kali ia menonton postgame interview, atlet yang diwawancarai akan kelihatan masih berkeringat dan terengah-engah setelah pertandingan selesai. Sedangkan Noah? Ia bahkan tidak main di kuarter terakhir. “Dunk di kuarter ketiga tadi sangat luar biasa. Bagaimana kamu bisa melompat setinggi dan selama itu berada di udara?” “Pertanyaan macam apa ini?” pikir Noah dengan dahi yang mengernyit. “Aku … latihan.” Ia memutuskan untuk kembali menjawab dengan singkat, jujur dan seperlunya saja. “Haha … iya, pasti dong, haha …,” pewawancara itu semakin tampak salah tingkah karena reaksi Noah yang ia anggap terlalu datar dan wawancara yang berjalan tidak sesuai ekspektasinya. Namun dengan cukup profesional, wanita itu kembali berusaha melemparkan pertanyaan lain. “Oh iya, soal dunk yang …” “Sebentar,” Noah menyela pertanyaan itu, “aku rasa seharusnya kalian melakukan interview ini kepada para seniorku di tim inti. Lagipula, basket itu nggak dimainkan satu orang. Dunk yang kulakukan di kuarter ketiga juga sebenarnya nggak terlalu banyak berkontribusi untuk kemenangan Cendana. Jadi sebaiknya, kalian jangan cuma ngomongin soal itu melulu. Tanya yang lain aja.” Noah memutar pandangan ke sekitarnya sebelum kembali melanjutkan. “Itu Kak Yuda lagi nganggur … oh … Kak Wahyu juga ada tuh. Mereka mengumpulkan poin lebih banyak, sebaiknya kalian wawancara mereka aja. Terima kasih,” tutupnya sambil sedikit membungkuk untuk pamit undur diri kepada si pewawancara dan lelaki yang memegang kamera, kemudian ia melangkah pergi begitu saja. Hari ini, saat Noah menonton hasil dari wawancara singkat itu dan membandingkannya dengan postgame interview Igris, ia menjadi semakin paham kenapa orang-orang tidak menyukainya. Benar. Noah menonton postgame interview Igris, karena sistem algoritma aplikasi yang digunakannya membuat video Igris muncul tanpa dicari, tepat di bawah video wawancara Noah. ___ ___ ___ [1] Postgame interview adalah wawancara singkat yang biasanya dilakukan kepada para atlet di lapangan, tepat setelah selesai pertandingan. Berbeda dengan postgame press conference yang diadakan di area khusus media, lengkap dengan meja panjang dan backdrop/banner yang dipenuhi logo para sponsor sebagai latar belakangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN