Setelah itu Greisy pergi, dan Arthur juga kembali ke perusahaan dengan hati senang. Dirinya akan dapat menghindari perjodohan yang dibuat oleh ibunya.
Sedangkan di perusahaan Emril menunggu di lobby dengan panik. Bagaimana tidak panik, meeting harusnya di mulai 30 menit yang lalu tapi bosnya belum juga nampak batang hidungnya.
“Asisten Emril” panggil wanita yang tidak lain adalah sekertaris Arthur.
“Apa Tuan Arthur belum datang? Tuan Luis sudah mulai marah.” lanjut Veronika panik.
Tadi Veronika juga sempat di marahi oleh Luis karena kepergian Arthur.
“Saya sudah menghubunginya namun tidak di jawab.” Ucap Emril.
Ting...Ting...Ting
Emril yang tadinya lega berubah pucat, dia kira yang menghubungi adalah Arthur ternyata yang menghubunginya adalah Luis, ayah Arthur.
“MEETING DIBATALKAN!” ucap Luis di sebalik telepon, belum sempat Emril merespon, panggilan tersebut di akhiri.
“Meeting batal” ucap Emril pada Veronika. Veronika kemudian menepuk jidatnya keras
Jika meeting batal seperti ini maka Arthur akan membuat mereka berdua lembur.
Tak berselang lama, dengan wajah yang cerah dan nampak tak berdosa Arthur berjalan dengan santainya
“Wei, kenapa kalian berdua di lobby?” tanya Arthur
“30 menit yang lalu anda seharusnya meeting, Sir” ucap Emril menekan kekesalannya.
“Meeting apa?” Tanya Arthur, sepertinya Arthur lupa kalau aka nada meeting
“Meeting bersama Tuan Luis, Sir. Mengenai project baru.” Ucap Veronika.
Arthur langsung lari menuju ruangan ayahnya.
“Mati aku” batin Arthur
Tanpa mengetuk pintu Arthur langsung masuk ke ruangan ayahnya.
Arthur di sambut dengan wajah dingin ayahnya. Jantung Arthur serasa akan copot. Ia tahu ayahnya pasti sangat marah karena dia tidak datang saat meeting tadi.
Luis jarang marah tapi sekalinya marah akan sangat menakutkan.
“Em pap- eh Tuan Luis maaf saya terlambat datang saat meeting tadi.” Ucap Arthur
“Anda bukan hanya terlambat Tuan Arthur. ANDA TIDAK DATANG. Pergi kemana ?” tanya Luis.
Arthur bingung menjawab apa, jika dia jujur pergi untuk mengambil lukisan pasti dirinya akan dimarahi habis habisan oleh ayahnya.
“Menemui kekasihku” cicit Arthur pelan dan bohong.
Lagipula mana mungkin Arthur mendapat kekasih jika hatinya masih tertambat pada Annastasya Sabella.
“Ya Tuhan Arthur, bisakah kau membedakan jam kerja dan jam pacaran.” ucap Luis heran
“Tapi dia baru saja pulang dari luar negeri, aku hanya merindukannya. Dia juga hanya sebentar di sini.” Ucap Arthur, sangat pandai bukan Arthur dalam membuat alasan kebohongan
“Astaga Arthur, bukankah Mamimu sudah melarang kamu untuk berhubungan dengan wanita itu. Wanita itu tidak cocok untukmu.”ucap Luis,
Bagaimana bisa putranya menjadi bucin seperti ini untuk wanita yang tidak baik.
Bella lagi Bella lagi titik permasalahan Arthur hanya terletak pada Bella. Apa sih yang membuat Arthur sangat mencintainya.
“Astaga papi, kekasihku itu bukan Bella.”ucap Arthur.
“Jadi lebih baik papi bilang ke Mami untuk membatalkan perjodohan itu karena aku sudah punya kekasih.” Ucap Arthur lalu pergi dari ruangan Ayahnya.
Arthur masuk ke ruangannya tersenyum menang.
Pasti ayahnya akan memberitahu ibunya bahwa aku memiliki kekasih dan wala perjodohan batal.
Arthur kemudian menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk di meja.
Oh iya, Arthur baru mengingat bahwa dirinya tidak memiliki nomor ponsel milik Greisy.
Akhirnya Arthur menelpon Sarah.
“Mau apa lu?”
“Galak amat, gua mau minta nomor Greisy.” ucap Arthur
“Buat apaan?”
“Ada urusan bisnis gue.” ucap Arthur
“Bisnis apaaan? Jangan macem macem lu Thur sama adek gue.”
Sebisa mungkin Sarah tidak akan membiarkan adiknya dekat dengan Arthur.
“Ga usah bawel, cepet kirimin aja.” ucap Arthur,
Sarah langsung mematikan ponselnya. Sebelum mengirimkan nomor ponsel adiknya ke Arthur,
Sarah lebih dulu mengkonfirmasi pada Greisy terlebih dahulu dan ternyata Greisy memperbolehkan nomornya diberikan pada Arthur.
Setelah mendapat nomor Greisy, Arthur langsung menyimpannya dan dia melanjutkan lagi pekerjaannya.
Hingga waktu pulang kantor, Arthur pun tidak langsung pulang, dirinya mampir ke sebuah caffé yang sering dia kunjungi.
Arthur memesan Black Ivory Coffe, saat pesanannya datang tak sengaja Arthur melihat kedatangan seseorang yang namanya masih terukir di hatinya, Annastasya Sabella.
Walaupun Bella menggunakan masker,topi dan jaket untuk menutupi dirinya tetap saja Arthur dapat melihat dengan jelas bahwa itu Bella.
Bella datang bersama seorang pria paruh baya yang Arthur ketahui itu adalah seorang sutradara film.
Mereka berdua memasuki privat room. Hati Arthur rasanya kebas, melihat tambatan hatinya itu.
Arthur bukan orang yang bodoh hingga tidak tau apa yang Bella lakukan. Namun bagaimanapun sikap Bella ia tetap mencintainya.
Minatnya untuk menyesap kopi di depannya hilang. Arthur memanggil pelayan meminta bill. Selesai membayar kopi yang sama sekali tidak di minumnya ia pergi dari tempat itu.
Tidak sengaja dirinya menabrak seorang wanita yang sedang membawa beberapa berkas.
“Maaf“ ucap wanita itu tanpa melihat Arthur
“Kamu” ucap Arthur agak kaget,
Karena wanita yang di tabraknya adalah Greisy.
“Sorry, saya tidak memperhatikan jalan tadi.” Ucap Greisy mengakui kesalahannya.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Arthur
“Tempat ini miliku”ucap Greisy, Arthur menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Tanpa kata lagi, Greisy meninggalkan Arthur. Namun ucapan Arthur menghentikan langkah kakinya.
“Ayo makan malam bersama.” Ucap Arthur
Greisy menyerit heran, ini masih jam 5 sore dan dia diajak makan malam.
“Anda ga waras.” ucap Greisy sambil menggeleng.
“Kita bisa jalan dulu, kamu mau?” ucap Arthur, entah pikiran dari mana dia ingin pergi bersama Greisy
“Wait” ucap Greisy lalu pergi meninggalkan Arthur.
Arthur bingung, Greisy mau atau tidak jalan dengan dirinya,
Tak berselang lama Greisy kembali menghampiri Arthur.
“Yuk.” ucap Greisy pergi mendahului Arthur.
Sopir Greisy diminta untuk pulang. Greisy mengabari Mama nya kalau dirinya akan pulang setelah makan malam.
Greisy kini berada di dalam mobil Arthur.
“Mau kemana?” Tanya Greisy pada Arthur.
“Mall?” tawar Arthur pada Greisy, dan Greisy menggeleng.
“Ke sini aja, saya jamin anda tidak akan menyesal.” Ucap Greisy sambil menunjukkan poselnya.
“Pantai?” Arthur memastikan dan Greisy mengangguk sebagai jawaban.
Tak butuh waktu lama, mereka sampai di pantai yang Greisy tunjukkan lewat ponselnya tadi. Senja yang indah, dengan angin pantai yang semilir.
Mereka berdua hanya diam tidak ada kata apapun yang di ucapkan. Greisy nampak menikmati suasana ini, sudah sangat lama saat terakhir dia pergi ke pantai.
“Aku baru tau, Sarah mempunyai adik perempuan.” Ucap Arthur memecah keheningan
“Aku jarang di sini, dan aku tumbuh juga bukan di sini.” Ucap Greisy
Satu hal yang Arthur sadari, Greisy sudah tidak menggunakan kata “saya”.
“Kenapa?” Tanya Arthur penasaran
“Dari kecil aku selalu mengerjakan semua hal sendiri, jadi dari umur 12 tahun menetap di luar negeri, sendirian” Ucap Greisy sambil menerawang jauh
“Aneh, saat kecil aku pernah beberapa kali ke mansionmu kenapa kita tidak pernah bertemu? Yang selalu aku temui hanya ada Sarah dan Charles” ucap Arthur heran
“Mungkin timingnya tidak tepat, sudah ku bilang bukan aku jarang di sini, bahkan dari kecil aku bukan tinggal di mansion. Aku tinggal di mansion hanya sesekali.” Ucap Greisy
"Harusnya saat kamu lahir, kami di kabari untuk mengunjungimu tapi aku rasa kami tidak pernah diberi tahu tentang kelahiranmu"ucap Arthur
"Aku tidak lahir disini, dan aku sudah bilang kan aku tidak tinggal di mansion."tanggap Greisy
“Lalu saat kecil dimana kamu tinggal dan bagaimana bisa Mama Papa mengizinkanmu hidup di luar negeri saat dibawah umur?” tanya Arthur,
Setaunya Diego dan Cassandra adalah orang yang sangat menjaga anaknya, dan sangat sulit untuk mengizinkan anaknya pergi tanpa pengawasan.
Bahkan setaunya sampai saat ini Sarah dan Charles masih terus dipantau kegiatannya
Apakah Greisy adalah anak angkat sehingga Diego dan Cassandra memberi izin dengan mudah?
“Mama papa?” Tanya Greisy bingung
“Mama Cassandra dan Papa Diego, mereka dari dulu memintaku memanggilnya dengan sebutan itu.” ucap Arthur mengerti kebingungan Greisy.
“Aku mendapat izin dengan segala syarat dan ketentuan yang berlaku saat itu. Dan mereka selalu menempatkan bodyguard untuk menjagaku dari jauh. Dan setiap bulannya bodyguard yang menjagaku akan terus bertambah selama aku masih dibawah umur.” ucap Greisy, mungkin.
Karena dirinya juga tidak yakin dijaga sebegitunya. Dia tau itu juga karena Sarah keceplosan berkata pada dirinya.
“Oh begitu, tapi kenapa Sarah dan Charles tidak pernah membahas kamu, Mama dan Papa juga tidak pernah menyebutmu? Dan jika jauh dari keluargamu tidakkah kamu rindu dengan mereka?” tanya Arthur, dan Greisy membalas dengan menaikkan bahunya.
Baginya dibahas atau tidak kehidupannya oleh keluarganya itu tidaklah penting. Yang penting dirinya bahagia dengan apa yang sedang dijalaninya saaat ini.
Tentang rindu, mungkin dia sudah mati rasa sejauh apapun perginya dia tidak pernah merindukan keluarganya.
Lama mereka bertukar cerita hingga tak sadar mereka berada di pantai hingga waktu makan malam.
Mereka kemudian menuju resto yang ada di pantai tersebut, untuk makan malam.
Arthur ingin memesan privat room, tapi Greisy tidak setuju. Greisy ingin makan malam di tepi pantai. Ia ingin menikmati angin malam di pantai. Tidak tau kenapa hari ini Arthur menurut pada Greisy.
Mereka berdua makan dengan tenang, tanpa ada perbincangan apapun. Setelah selesai makam malam di resto tersebut, Arthur lalu mengantar Greisy pulang.