Setelah selesai makan Pernadi mengajaknya berkeliling di pulau itu. Ia melihat pemotretan prewedding, senyumnya terbit di bibir lalu melirik istrinya. Pernikahan mereka direncanakan begitu sederhana. Saat itu dia melakukannya dengan terpaksa. Tidak ada senyum sedikitpun di wajahnya bahkan saat tangan pendeta menyatukan keduanya. Kini ia menyesali segalanya. "Rin, " "Iya kak," "Ayo kita menikah lagi," "Maksudnya apa?" Rindu berhenti melangkah. Ia mendongak melihat suaminya. Permintaan itu sangat menganggunya. "Aku mau menikah denganmu, Hun. Dari hatiku." Pernadi mengansurkan tangannya membelai rambut Rindu. "Mana bisa begitu, kalau mau nikah berarti kita harus cerai dong. Aku nggak mau kak." ucapnya, wajahnya sudah menyendu. "Kalau begitu, aku mau kita foto prewedding." Rindu

