Tangan kecilnya terangkat, memukul d**a pria itu supaya memberinya waktu mengambil napas. Rindu bernapas lega. "Ayo kita cari makan." Ajaknya begitu melepas ciumannya. "Nggak mau, nanti aja." "Kau belum lapar?" "Belum." katanya menunduk, menggambar bentuk hati dengan ibu jarinya di atas pasir lalu ombak kecil menghapusnya hingga tanpa jejak. Di wajahnya tersirat kesedihan, mengenai dirinya yang masih belum siap melepas diri pada pemiliknya sementara doa dan harapan dipanjatkan oleh orang-orang yang mengasihinya, menyayanginya dalam keluarga itu. Berharap lebih ia bisa memberi kebahagian di keluarga kecilnya. "Kenapa, Hun?" Suaminya melihat kesedihan di wajah itu, ia menarik dan membawanya ke dalam pelukannya. "Rindu sangat egois kan, kak?" Air matanya sudah menitik. Begitu cengen

