"Gimana udah puas bolak balikin tubuh aku kayak ikan bakar?" tanya Sena dengan bibirnya yang mengerucut. Dialta memandang wajah cantik istrinya yang saat ini merebahkan tubuhnya di atas tubuh besarnya. Bermain dengan jari lentiknya menggambar pola samar di d**a yang masih naik turun karena sisa permainan itu. "Tidak cukup jika itu mengenai dirimu, Arsena." "Masak nggak cukup sih? Capek tau. Emang mau minta lagi kamu-nya?" Mulai lah kecomelan seorang Sena. Tuan putri yang begitu disayang oleh keluarga Bramasta. "Maka'nya jangan suka mancing suamimu." Dialta merapikan anak rambut istrinya. "Kok nyalahin aku? Kamu-nya aja yang baperan. Muarahan sekali burung kamu." Cebik Sena. "Sebentar, kenapa kamu nggak bilang sayang?" Dialta menatap intens sang istri yang juga menatapnya. "Bi

