Cahaya matahari pagi mulai menyelinap malu-malu melalui celah gorden beludru yang berat, menyinari sisa-sisa "pertempuran" semalam yang terekam jelas di atas sprei yang berantakan. Dialta, yang sudah terbangun lebih dulu, menyangga kepalanya dengan satu tangan sambil menatap wanita yang ada di sampingnya dengan intensitas yang tak dapat ia sangkal begitu saja. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang besar itu menyibakkan helai rambut pirang pendek Sena yang menutupi wajah cantiknya. Dialta mengecup lama kening wanita itu, menghirup aroma tubuh Sena yang kini bercampur dengan aromanya sendiri—sebuah perpaduan yang selalu mampu mematikan logika pria itu. "Maafkan jika pembunuh ini jatuh cinta padamu, Arsena," bisiknya lirih, suaranya parau mengingat apa yang sudah dia lakukan dulu. "Apa

